
Create Undead merupakan skill khusus yang Zero dapatkan dari salah satu class-nya, Necromancer.
Seperti namanya, skill ini memungkinkan Zero untuk menghidupkan kembali makhluk hidup yang sudah mati menjadi undead (mayat hidup).
Perbedaan makhluk hidup yang dihidupkan kembali menggunakan skill Create Undead dan Reawakening terletak pada kemampuan berpikirnya yang dimana undead hanya akan bergerak sesuai dengan perintah tuannya dan hidup hanya untuk melayani tuannya.
Sedangkan makhluk hidup seperti Charla yang dibangkitkan kembali menggunakan skill Reawakening bergerak sesuai pikirannya sendiri dan mempunyai yang namanya perasaan.
Sesudah mengubah pemimpin ogre itu menjadi undead, Zero mengubah ogre-ogre yang lainnya juga. Zero berpikir mungkin suatu saat mereka bisa menjadi pasukan yang dapat diandalkan.
Charla dan yang lainnya hanya bisa mengamati aksi Zero dalam diam sebab mereka tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini. Baik penampilan ogre yang kini berubah menjadi undead maupun aksi Zero benar-benar mengejutkan sekaligus mengesankan menurut mereka.
Para ogre yang sudah menjadi undead itu berbaris rapi lalu bertekuk lutut memberi hormat pada tuannya. Pemimpin ogre memimpin yang lainnya di depan.
"Kalian semua adalah pasukan undead pertama yang aku ciptakan. Mulai sekarang kalian akan tinggal di dalam jiwaku. Aku hanya akan memanggil kalian jika aku membutuhkan bantuan kalian." Zero berbicara pada kelima belas undead ogre di depannya.
Kemudian dalam sekali jentikkan jari, tubuh para undead itu berubah menjadi partikel gelap lalu terbang masuk ke dalam tubuh Zero.
Sebuah panel muncul setelahnya untuk beberapa saat.
——————
Slot Undead:
- Low Tier (14)
- Middle Tier (1)
- High Tier (0)
———————
Undead yang Zero bangkitkan terbagi ke dalam tiga tingkatan yang disesuaikan berdasarkan kekuatannya masing-masing.
Sementara undead yang Zero bangkitkan barusan diantaranya yaitu satu undead Middle Tier yang tak lain pemimpin ogre itu dan sisanya termasuk undead Low Tier.
"Tuanku memang hebat." Gladius memuji kemampuan Zero yang dibalas olehnya dengan senyuman tipis.
"Zero-sama apa tidak apa-apa memelihara monster seperti mereka?" tanya Charla terdengar sedikit khawatir.
"Tenang saja, mereka hanya akan bergerak sesuai perintahku, jadi mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam. Aku yakin mereka kelak bisa menjadi peliharaanku yang berguna," tutur Zero dengan senyuman percaya diri.
"Sudah sekarang kita fokus kembali pada tujuan kita." Zero lalu menengadahkan kepalanya ke puncak gunung kematian, memikirkan cara termudah untuk sampai ke sana.
"Apa kita akan berjalan kaki mendaki gunung ini, Zero-sama?" tanya Sherria melihat ke arah puncak gunung yang tertutupi kabut itu
"Mmm…" Zero merapatkan bibirnya berpikir, "Tidak, akan butuh waktu yang lama dan juga sangat melelahkan untuk bisa sampai ke sana. Kita akan menggunakan cara yang lebih cepat dan mudah," ujar Zero sambil menoleh ke arah Fluffy di sampingnya.
"Kalau boleh tahu seperti apa itu, Tuan?" tanya Gladius.
"Oh, iya, kau belum mengenal siapa Flo sebenarnya, kan?" Zero mengelus-elus kepala Fluffy sambil memandangi Gladius yang penasaran.
Melihat Gladius menggeleng pelan tanda tidak tahu, Zero kembali melanjutkan, "Baiklah, meski aku masih belum sepenuhnya percaya padamu tapi aku akan menunjukkan satu hal yang perlu kau ketahui. Kuharap kau tidak membeberkan rahasia ini pada orang lain," ujar Zero menekan kalimat terakhirnya agar Gladius mengerti.
Gladius memegang sebelah dadanya dan berkata penuh tekad,"Demi rantai yang melilit jantung ini, saya bersumpah tidak akan melakukannya, Tuan," sumpahnya.
Zero memandangi Gladius sejenak, sampai seulas senyuman tipis terlukis di belahan bibirnya. Zero kemudian memalingkan pandangannya kembali pada Fluffy.
__ADS_1
"Flo, berubahlah…" titah Zero.
"Baik, Tuan!" Fluffy mengangguk penuh semangat sambil tersenyum berseri.
Fluffy segera berjalan ke tempat yang sedikit luas untuk berubah wujud ke bentuk aslinya yang tak lain seekor naga.
"N-Naga…" Gladius terkesima saat mengetahui gadis cilik berambut putih itu ternyata jelmaan dari seekor naga putih yang indah.
Sebelumnya dia sudah mengetahui kalau gadis itu bukanlah manusia namun dia tidak berpikir kalau gadis itu ternyata adalah seekor naga, atau makhluk yang dikatakan sudah punah.
"Naga…apa ini sungguh dirinya, Tuan?" tanya Gladius tanpa menutupi raut keterkejutannya.
"Seperti yang kau lihat." Zero menanggapi reaksi Gladius dengan senyuman tipis.
"Luar biasa…! Sungguh makhluk yang luar biasa!" Gladius yang girang mendekati Fluffy.
Fluffy menyambut kedatangan Gladius dengan menggerakkan kepalanya ke dekatnya. Gladius ikut menyambut kepala Fluffy dan mengelus-elus bulu halus yang tumbuh di lehernya.
"Flo-chan...aku tidak menyangka jika ini dirimu...kau mengagumkan sekali…" Gladius tersenyum pada Fluffy yang juga tersenyum.
"Kita akan pergi ke gunung itu bersamanya. Dengannya kita bisa sampai di gunung itu lebih cepat…"Zero dan yang lainnya mendekati Fluffy.
"Flo!" Rimuru yang baru pertama kali ini melihat Fluffy dalam wujud seperti itu langsung memeluk kakinya dengan girang.
Zero mengelus-elus pangkal hidung Fluffy sedangkan Charla dan Sherria mengelus bagian pipinya.
"Tolong bantuannya ya, Flo." Zero tersenyum ringan.
Menuruti kemauan tuannya, Fluffy menurunkan tubuhnya untuk dinaiki oleh mereka.
"Ayo." Zero menaiki punggung Fluffy lebih dulu di bagian terdepan disusul Charla dan yang lainnya di belakang.
Selepas semuanya naik, Fluffy menegakkan tubuhnya seiring melebarkan kedua sayapnya. Dia lalu mengepakkan sayapnya untuk terbang ke udara dan bergerak secara melingkar menuju puncak gunung kematian
"Wah...luar biasa…mengagumkan..." Gladius dan Rimuru yang baru pertama kali merasakan sensasi terbang menaiki naga terkagum-kagum. Sementara Zero, Charla dan Sherria hanya tersenyum karena sudah pernah merasakannya.
Dari atas mereka bisa melihat dengan jelas apa-apa saja yang ada di bawahnya. Monster dan hewan buas yang belum mereka temui tertangkap oleh visi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Mereka serentak menghentikan aktivitasnya saat menyadari ada sesuatu yang meliuk-liuk di atasnya. Terkejut saat mengetahui sosok yang ada di atasnya ternyata adalah seekor naga mereka segera mencari tempat untuk bersembunyi.
Saat menoleh ke arah gunung, Zero dan yang lainnya menemukan, gunung kematian mempunyai struktur yang kokoh, dengan tinggi berkisar sembilan puluh meteran dan diselimuti pepohonan hijau yang rindang.
Di sana juga tampak dipenuhi oleh jebakan-jebakan tersembunyi yang mematikan, seperti contohnya gas beracun yang seiring detik terus menyembur dan tanaman monster yang siap menerkam siapa saja yang dilaluinya.
"Beruntung kita bisa terbang seperti ini jadi kita bisa menghindari jebakan-jebakan yang merepotkan itu." Perkataan Zero disetujui yang lainnya.
Saat sampai di puncaknya mereka hanya menemukan sebagian tempat itu hanya beralaskan lahan datar yang kosong saja tanpa ada satupun tanaman yang tumbuh.
Pandangan mereka tidak dapat melihat dengan jelas semua yang ada di puncak itu sebab terhalangi oleh kabut putih.
"Flo, Sherria, gunakan sihir angin kalian untuk menghilangkan semua kabut ini," titah Zero sambil berdiri di atas punggung Fluffy.
Sherria yang melihat Zero berdiri ikut berdiri dan bersiap menggunakan sihir anginnya untuk membantu menyapu kabut putih tersebut.
Fluffy yang masih melayang di udara menarik nafas panjang, mengumpulkan angin sebanyak mungkin dalam mulutnya. Dan dalam hitungan tiga yang diarahkan oleh Zero, mereka bertiga serempak melancarkan sihir angin milik mereka masing-masing.
Angin yang sangat kuat menyapu bersih semua kabut yang menghalangi pandangan mereka hingga akhirnya mereka bisa melihat dengan jelas semua yang ada di puncak gunung itu.
__ADS_1
Sebagian puncaknya yang datar masih ditumbuhi oleh pepohonan kecil serta bunga-bunga dengan macam warna yang tampak menjalar dari satu pohon ke pohon lain.
Di tengah-tengah tempat itu terdapat tiga pohon rindang yang sangat besar dengan di bawahnya terdapat masing-masing satu tunas pohon yang tingginya hanya sepuluh sentimeter.
Pohon itu tampak tidak biasa lantaran warnanya yang emas serta hanya menghasilkan satu daun saja di pucuknya.
"Itu pasti tumbuhan yang kita cari. Dan lagi tumbuhan itu bukan hanya satu saja! " Zero menunjuk ketiga tunas pohon berwarna emas itu dengan raut wajah penuh kegembiraan.
"Benar. Ciri-cirinya sama seperti itu." Mereka pun merasa demikian.
"Flo, mendaratlah di sana." Zero menunjuk ke salah satu lahan untuk mendarat. Fluffy bergegas mendarat di tempat yang Zero tunjuk.
Mereka segera turun dari punggung Fluffy dan langsung menghampiri tunas pohon berwarna emas yang tak lain tumbuhan obat yang mereka cari.
"Squekk…!"
Namun langkah mereka terhenti saat mendengar jeritan yang sangat keras itu. Yang terjadi berikutnya setelah suara itu menghilang tiga sosok yang menyerupai naga tanpa pernah mereka duga muncul dari belakang gunung dan melayang di atas pohon yang besar itu, mengejutkan mereka semua yang melihatnya.
Fluffy yang masih dalam wujud naga dan menunggu di belakang mereka langsung menatap tajam ketiga makhluk tersebut.
"Naga…" Zero yang pertama kali melihat monster yang menyerupai naga itu berpikir kalau itu naga. Charla, Sherria dan Rimuru pun sependapat dengan Zero.
"Bukan, Tuan. Mereka bukan naga tapi Wyvern. " Gladius mengoreksi. Dia mengenali monster tersebut.
"Wyvern?"
"Ya. Aku pernah bertemu monster seperti mereka. Meski bentuk mereka seperti naga, tapi mereka bukanlah naga," jelas Gladius.
"Wyvern..." Zero memandangi ketiga Wyvern yang terlihat seperti sedang menjaga tiga tumbuhan obat itu.
Ketiga Wyvern berwarna abu-abu itu memiliki ukuran tubuh setengah dari tubuh Fluffy, memiliki tubuh seperti reptil serta ujung buntutnya bergulung.
"Apa kita akan melawannya, Zero-sama?" tanya Charla yang tampak ragu melawan ketiga Wyvern tersebut.
"Tidak ada pilihan lain. Hanya itu cara untuk bisa mendapatkan tumbuhan yang ada di sana," ujar Zero menunjuk tumbuhan yang dimaksud.
"Kalian lawan yang kiri, sisanya biar aku dan Flo yang melawannya. Apa kalian sanggup?"
Zero memastikan Charla, Sherria dan Rimuru yang ragu. Ketiga orang itu saling berpandangan lalu mengangguk mantap pertanda siap.
"Kita akan mencobanya, Zero-sama," jawab Charla mewakili kedua orang lainnya.
"Bagus. Gladius aku serahkan mereka padamu. Arahkan mereka dengan baik." Zero melihat Gladius sudah siap menghadapi ketiga Wyvern itu.
"Baik, Tuan. Serahkan padaku." Gladius menerima perintah Zero.
Gladius dan ketiga orang lainnya bergegas memposisikan diri dan bersiap menghadapi Wyvern di sisi kiri.
Zero lalu berbalik dan melihat Fluffy seperti sudah geram ingin menghabisi mereka seolah mereka adalah musuh bebuyutannya.
"Flo, kau habisi yang kanan! Biar aku sisanya!" seru Zero memberi perintah.
"Squekk..!!" Fluffy mengepakkan kedua sayapnya dan melesat lebih dulu menyerang Wyvern di sisi kanan. Wyvern itu menyambut serangan Fluffy dan memulai pertarungan di udara, menyisakan kedua Wyvern yang masih melayang di tempatnya.
"Baiklah...sepertinya aku perlu sedikit serius menghadapi mereka...jika aku berhasil mengalahkan mereka, mereka bisa menjadi peliharaanku yang berharga..." Zero tersenyum sinis ke kedua Wyvern yang tersisa kemudian memejamkan mata.
Sampai ketika membuka matanya kembali penampilan Zero berubah drastis.
__ADS_1
Selain kulitnya, seluruh tubuh Zero kini di dominasi oleh warna hitam legam yang elegan, dan yang paling mencolok dari semua itu yaitu kedua sayap hitam transparan kini muncul di punggungnya.
"Spriggan…"