Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Permainan Budak


__ADS_3

Delapan puluh budak yang dikurung di dalam satu tempat itu terlihat sedang bersandar di pinggiran tembok tanpa tahu harus melakukan apa selain menunggu seseorang datang membebaskan mereka.


Kaki, tangan, dan leher mereka terbelenggu oleh rantai yang saling terhubung satu sama lain dengan pusatnya berada di tengah-tengah tembok ruangan. Rantai yang mengikat mereka panjangnya hanya berkisar lima meter jadi mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa meskipun tempat itu cukup luas. 


Sejak tadi para budak yang rata-rata orang dewasa itu hanya berdiam dengan ekspresi kosong dan larut dalam lamunannya masing-masing. Akan tetapi, ketika mendengar suara langkah kaki mendekat, mereka bereaksi dan mencari tahu siapa yang kali ini datang. Sampai akhirnya mereka menemukan dua orang pria dewasa dan satu orang bocah berdiri tak jauh di depan pintu kurungan. 


Para budak di sana mengerutkan keningnya, merasa heran karena baru pertama kali melihat seorang bocah datang ke tempat itu. Kening mereka semakin mengerut saat mendengar cukup jelas jika bocah itu meminta penjual budak untuk membuka kurungan dan belenggu yang mengikat mereka. 


Penjual budak sendiri turut mengerutkan keningnya setelah diminta demikian oleh bocah itu. Dia tidak mudah percaya jika bocah yang menjadi pelanggannya ini mampu mengatasi semua budak itu sendiri andaikan belenggu dan kalung budak yang menjerat mereka dilepas.


"Tuan tidak perlu repot-repot menguji mereka. Apalagi itu sangat berisiko. Lebih baik biar saya saja yang membuktikan kalau mereka sesuai dengan kriteria Tuan," kata penjual budak yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan pelanggannya. 


Zero sudah menduga kalau penjual budak itu pasti masih menganggapnya seperti bocah lemah. Andaikan dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya, penjual budak itu pasti akan menarik kembali kata-katanya barusan. 


Tak ingin menanggapi perkataan penjual budak, Zero berjalan mendekati pintu kurungan dan dalam sekali tendangan, pintu tersebut terbuka— atau lebih tepatnya terlepas dari tempatnya. 


"Apa...Tidak mungkin…"  Penjual budak membuka mulut dan matanya setelah menyaksikan bagaimana pintu kurungan yang terbuat dari logam yang sangat kokoh itu hancur dalam sekali tendangan. Apalagi pelakunya ternyata hanyalah seorang bocah yang seharusnya jauh lebih lemah darinya.


Fakta yang terjadi di depan matanya ini sungguh sesuatu yang mengejutkan bagi penjual budak. Detik itu juga dia memandang Zero dengan pandangan yang berbeda, tidak lagi menganggapnya seperti bocah pada umumnya.


Gladius yang melihat reaksi penjual budak setelah menyaksikan itu terkekeh seolah menyukainya. Dia menantikan bagaimana ekspresi penjual budak selanjutnya setelah menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Zero pada budak-budak miliknya. 


"Hei, beritahu aku bagaimana cara melepaskan belenggu yang mengikat mereka." Zero meminta petunjuk pada penjual budak. 


"Tuan yakin bisa mengatasi mereka sendiri? Mereka cukup berbahaya, lho." Penjual budak masih terlihat agak ragu. 


Pasalnya dia mengetahui jika budak-budak yang dikurung di sana semuanya merupakan mantan perampok yang namanya dulu dikenal luas oleh banyak orang. Tidak salah jika penjual budak itu merasa ragu secara sosok yang berniat menguji mereka hanya seorang bocah.


"Berhentilah menganggapku seperti bocah lemah atau kubunuh kau sekarang juga…" ancam Zero menatap penjual budak dengan sangat tajam sampai membuatnya menelan ludah. 


"B-Bukan begitu, Tuan..." Penjual budak menggaruk kepalanya, ragu mengambil tindakan sebelum Gladius di sampingnya meyakinkannya untuk percaya.


"Baiklah, saya akan memberitahukannya. Untuk melepaskan rantai dan kalung budak yang melilit tubuh mereka, Tuan hanya perlu menarik semua tuas yang ada di sana…" Penjual budak memberitahukan petunjuk sambil menunjuk ke tuas yang dimaksud. 


"Jadi itu, ya…" Zero melihat tuas itu sekali dan kembali pada penjual budak. "Kau tunggu saja di sini sebentar dan lihat apa yang akan aku lakukan," titahnya yang dibalas anggukan olehnya. 


"Gladius, awasi dia untuk tidak masuk ke dalam," kata Zero lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki kurungan tempat para budak itu tinggal. 


Para budak yang ada di dalam kurungan itu tadi sempat terkejut melihat bagaimana bocah itu merobohkan pintu masuk kurungan hanya dalam sekali tendangan. Namun, mereka tidak percaya dengan apa yang disaksikannya tadi dan beranggapan pasti bukan bocah itu yang melakukannya, melainkan salah satu di antara dua orang dewasa di sampingnya. 


Meski kali ini mereka bereaksi, budak-budak itu masih belum bisa mencerna situasinya sekarang, terlebih saat melihat bocah itu dengan santainya memasuki tempat mereka seorang diri. Mereka tidak tahu siapa dan apa tujuan dari bocah ini sebenarnya. 


Sampai suatu ketika, mereka tertegun sekaligus terkejut melihat bocah itu tanpa diminta tiba-tiba melepaskan belenggu yang menjerat tubuh mereka satu persatu. 


"Ini bohong, kan?"


"Bocah itu membebaskan kita…" 

__ADS_1


"Mungkinkah ini keberuntungan yang tidak diduga-duga."


Para budak itu saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya sekaligus tidak mengerti dengan maksud bocah itu membebaskan mereka. Terlebih dua orang pria dewasa itu malah seperti membiarkannya melakukan itu, padahal itu jelas bisa merugikan mereka. 


Ekspresi ketidakpercayaan mereka perlahan diganti oleh ekspresi kesenangan karena hari ini mereka mendapatkan peluang untuk bebas dari tempat itu. 


Setelah melepaskan semua belenggu yang menjerat mereka, Zero berjalan menghampiri para budak dengan senyuman santai seolah tidak memperlihatkan rasa takut sedikitpun. 


"Yo, bagaimana kabar kalian? Enak kan tinggal di tempat ini. Apalagi tempatnya luas dan nyaman seperti ini. Kalian pantas saja betah berlama-lama di sini. " Zero menyapa mereka dengan gaya tengilnya. 


Para budak itu menaikkan satu alisnya saat mendengar penuturan Zero yang terkesan menghina. Jujur mereka sedikit kesal mendengarnya sekalipun bocah itu telah membebaskan mereka. 


"Woi bocah, apa maksudmu berkata seperti itu. Jangan bermain-main dengan kita," kata salah satu pemimpin para budak di tempat itu yang memiliki postur tubuh yang besar. 


"Tidak, kalian harus bermain denganku, secara aku sudah repot-repot mau membebaskan kalian." Zero tersenyum santai, bersikap seolah dirinya telah berjasa di sana.


Para budak itu saling berpandangan sambil mendengus geli dan menggeleng kepala setelah mendengar permintaan Zero yang kekanak-kanakan. Mereka melangkah pergi meninggalkannya karena tidak ingin menanggapi seorang bocah sepertinya. 


"Kita tidak tahu alasan dan tujuanmu membebaskan kita, tetapi kita sangat berterima kasih atas hal itu. Jika kau memang ingin bermain dengan kita lebih baik lakukan di luar. Kita akan memperlihatkan padamu permainan yang menarik," kata salah satu dari mereka yang kemudian diikuti tawa yang lainnya. 


Mereka terkesan menganggap Zero selayaknya seorang bocah pada umumnya yang tidak penting untuk ditanggapi. Meski begitu, mereka sangat beruntung karena berkatnya mereka kini bisa kembali menghirup udara segar.


Namun sayangnya harapan mereka tertunda ketika Zero mencegat jalan mereka yang baru beberapa langkah.


"Tidak perlu di luar, aku ingin bermain dengan kalian di sini sekarang juga," kata Zero tersenyum menantang sambil menunjuk tanah di bawahnya. 


"Tidak mau. Aku maunya di sini."


"Bocah, meski kau sudah membebaskan kita, kita tidak akan segan-segan untuk melukaimu.


"Wow... menakutkan..."


Zero masih tidak ingin memberi mereka jalan meskipun mereka mengancamnya dan itu berhasil membuat mereka kesal.


"Lebih baik kau minggir sekarang juga sebelum kita benar-benar akan melukaimu," ancam pemimpin dari para budak yang dulunya merupakan seorang perampok.


"Sudah kubilang aku tidak mau. Jangan membuatku mengulangi perkataan yang sama. Kalau kalian ingin keluar di sini bermain lah sebentar denganku," kata Zero tersenyum dingin menantang mereka.


"Sepertinya kau tidak mendengar apa yang aku katakan barusan," kata pemimpin itu menghela nafas gusar. Pemimpin para budak itu kemudian memberi kode ke salah satu anak buahnya untuk meladeni bocah keras kepala ini. 


"Bocah, kau ingin bermain dengan kita bukan? Kalau begitu aku akan lebih dulu meladeninya. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini dengan seorang bocah," katanya sambil membunyikan jari-jari tangannya seperti bersiap melakukan sesuatu. 


"Kalah begitu coba sebutkan permainan seperti apa yang akan kita mainkan." Zero bersiap memulai aksinya.


"Sederhana, kau hanya perlu menahan pukulanku. Jika kau bisa berdiri setelah menahannya, kau boleh memukulku balik," jelasnya memberitahukan peraturan permainan yang dia buat. Rekan-rekannya terdengar setuju dengan permainan yang diusulkanya.


"Kelihatannya tidak buruk." Zero tersenyum percaya diri dan berhasil membuat para budak itu berkerut dahi karena heran dengan kepercayaan dirinya.

__ADS_1


Mereka hanya beranggapan kalau bocah seperti Zero terlalu bodoh sampai berani mencari masalah dengan mereka


"Bersiap, ya…" Budak itu mulai mengambil ancang-ancang layaknya seorang petinju di arena pertarungan.


Rekan-rekannya berlagak seperti suporter yang sedang mendukungnya. Mereka yakin, Zero akan tumbang setelah menerima pukulannya.


"Lakukan..." Zero merentangkan kedua tangannya dan bersiap menerima pukulan yang akan diterima dari budak tersebut.


Budak itu tanpa pikir panjang langsung memukul ke area perut Zero dengan keras hingga membuatnya terpental ke belakang. 


Semua rekannya tertawa keras menyaksikan hal itu seolah yang mereka saksikan barusan adalah suatu pertunjukkan yang sangat lucu yang sudah lama tidak mereka lihat.


"Gawat, sepertinya aku terlalu keras memukulnya," katanya sambil tersenyum meledek melihat bocah yang dia pukul terkapar dan tidak bangun lagi.


"Kau seharusnya jangan terlalu serius memukulnya. Apalagi dia hanya seorang bocah."


"Benar, bagaimana kalau orang tuanya tahu kalau dia terluka olehmu. Bisa habis nanti kau dicari olehnya." Rekan-rekannya mengolok-oloknya sambil tertawa.


"Maaf, maaf, habisnya aku sudah gatal ingin memukul seseorang. Dan sepertinya barusan aku meluapkan semua rasa gatalku pada pukulan barusan," katanya berpura-pura merasa bersalah setelah memukul bocah itu


Sementara mereka tertawa dengan pertunjukan barusan, pemimpin mereka melihat Zero mulai membangkitkan dirinya kembali dan berjalan mendekati mereka.


"Wah, apa-paan barusan. Itu yang kau sebut sebagai pukulan?" ejek Zero tampak biasa-biasa saja setelah menerima pukulan barusan.


Baik budak yang memukulnya tadi maupun rekan dan pemimpinnya mengerutkan keningnya terkejut karena setahunya barusan budak itu sudah memukul bocah itu dengan sekuat tenaga, tapi bagaimana bisa dia tampak baik-baik saja.


"Aku kira kau sudah mati. Hebat juga kau bisa menahan pukulanku tadi." Budak itu menunjukkan senyuman percaya diri, masih bersikap tinggi di depan Zero. Namun entah kenapa firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini.


"Sesuai dengan peraturan permainannya, kalau aku bisa berdiri setelah menerima pukulanmu, aku boleh memukulmu balik, kan?" tanya Zero tersenyum penuh makna.


"Y-Ya, aku tidak akan berbuat curang dalam permainanku. Pukul saja di mana pun sesukamu. Aku sudah bersiap menerimanya." Untuk menjaga harga dirinya, budak itu mencoba berlaku adil di dalam permainan yang dia buat.


Budak itu merentangkan kedua tangannya, menunjukkan kalau dia sudah siap menerima pukulan dari Zero. Rekan-rekannya tampak masih mengolok-oloknya dan menganggap pukulan Zero pasti tidak akan berpengaruh sedikitpun padanya. Pemimpin mereka tampak memperhatikan secara seksama bagaimana Zero memukul anak buahnya.


Sementara di sisi lain, Gladius yang menyaksikan pertunjukan itu sudah tersenyum lebar melihat bagaimana budak itu akan berakhir di tangan Zero. Penjual budak yang melihat senyuman Gladius mengernyitkan keningnya sebelum kembali menyaksikan apa yang akan terjadi.


"Kalau begitu bersiaplah." Zero mulai berjalan mendekati budak itu dengan tangan terkepal dan senyuman seolah ingin mengartikan rasa kasihan pada budak itu.


"Kalau pukulanmu tidak terasa aku akan memukulmu balik, ya, " kata Budak itu terkesan meremehkan.


Zero tertawa dalam hatinya mendengar dirinya diremehkan seperti itu. Namun tidak apa-apa karena sebentar lagi budak itu bisa mengetahuinya.


Setelah berdiri di depan budak itu, Zero melihat wajah budak itu sekali dan berkata. "Sepertinya aku tidak perlu memukulmu. Sekali jentikkan saja cukup."


"Hah?"


Tepat setelah budak itu ber 'hah', Zero menjentikkan jarinya ke area perut budak itu. Yang terjadi berikutnya membuat semua pasang mata terkejut saat menyaksikan budak itu terpental dengan begitu keras dan berakhir di ujung tembok dalam keadaan yang mengenaskan selayaknya tomat yang hancur.

__ADS_1


"Bagaimana terasa tidak?"


__ADS_2