
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Thamuz jika hari ini ternyata benar-benar akan tiba. Hari dimana dia sendiri yang justru akan disiksa oleh orang lain dan merasakan nasib yang sama dengan korban-korban penyiksaannya.
Apalagi sosok yang menyiksanya saat ini hanyalah seorang bocah manusia. Sungguh sangat memalukan. Jika saja raja iblis melihat hal sekonyol ini, sudah dipastikan Thamuz benar-benar akan dialih tugaskan menjadi tukang bersih-bersih di neraka.
Thamuz yang tidak bisa berbuat apa-apa saat disiksa oleh Akira hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Matanya tidak bisa melihat seberapa senangnya Akira menikmati penderitaannya. Hanya telinganya saja yang masih bisa mendengar tawaan Akira yang memperlihatkan seberapa gilanya manusia yang satu ini seolah-olah menyiksa adalah sebuah kesenangan.
"Manusia...jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu... aku bersumpah akan membalas perbuatanmu seribu kali lebih menyakitkan dari yang kau lakukan sekarang...ingat itu manusia…" Thamuz berkata dengan nafas tersengal-sengal selagi menahan nyeri di setiap bagian tubuhnya yang dipenuhi luka sayatan.
"Dan saat itu tiba, aku akan lebih dulu menyiksamu, iblis dungu..." Akira terkekeh menanggapi kepercayaan diri Thamuz.
"Kau lihat saja nanti, manusia..."
"Tenang saja, aku akan setia menunggu sampai waktu itu tiba."
Akira kembali menyiksa Thamuz, menikmati penderitaannya sambil tertawa, sampai beberapa menit berlalu dia pun akhirnya menghentikan aksinya karena menyadari mode berserkernya tidak akan bisa bertahan lama lagi.
Akira menghela nafas berat lalu berkata, "Sepertinya sudah saatnya aku mengakhiri penderitaanmu…."
Akira kemudian menusukan belatinya itu tepat di bagian jantung Thamuz.
"Argh..." Thamuz sudah tidak memiliki suara yang cukup keras lagi untuk menjerit. Tubuhnya pun sudah terasa sangat lemas. Thamuz merasa berterima kasih pada Akira karena akhirnya dia mengakhiri penderitaannya juga.
Thamuz memperlihatkan senyumannya pada Akira, "Manusia...aku baru ingat...ada satu hal yang perlu kau ketahui...kau tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini bersamanya..."
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya." Akira terkejut mendengar Thamuz mengetahui sesuatu yang hanya diketahui olehnya.
Thamuz terkekeh menanggapi reaksi terkejut Akira, "Karena sebelum aku berada di tempat ini... dia sempat berpesan padaku...bahwa hanya akan ada satu orang saja yang bisa keluar dari tempat ini..."
Akira mematung dalam posisinya saat mendengar pernyataan Thamuz yang begitu mengejutkan. Jika apa yang Thamuz katakan adalah sebuah kebenaran itu berarti tidak ada satupun cara untuk bisa mengeluarkan Charla dari tempat ini.
'Yang benar saja…'
Thamuz kembali terkekeh menyadari Akira sangat terpukul mendengarnya, "Jadi, selamat nikmati penderitaanmu disini... Pasti akan sangat menyakitkan bukan... membunuh sosok yang kau sayangi dengan tanganmu sendiri, Hahaha!" Thamuz tertawa lepas di detik-detik kematiannya.
"Diam!"
Dalam satu tendangan, Akira menghentikan tawa Thamuz yang memuakkan itu bersamaan dengan kepalanya hancur berceceran.
{Anda mendapatkan 350000 EXP}
{Anda mendapatkan 50000 Orb}
__ADS_1
{Anda mendapatkan 150000 BP}
{Level up}
{Level up}
{Level up}
"Aku yakin pasti ada cara. Aku akan mencarinya. " Akira bertekad dalam hatinya dengan tangan terkepal erat.
Akira kemudian mencabut semua senjatanya itu lalu turun dari tubuh Thamuz. Secara perlahan Akira kembali lagi ke wujud asalnya. Tubuh Thamuz pun perlahan memudar menjadi partikel cahaya.
{Fatigue : 91 }
Mode berserker yang dipakai terlalu lama membuat tingkat kelelahan Akira meningkat pesat.
Memang benar, efek lain dari mode berserker ini bukan hanya menguras MP miliknya saja tapi stamina beserta HP-nya juga ikut terkuras.
Beruntungnya dengan level statusnya sekarang hal itu bukanlah suatu masalah yang besar. Dan Akira masih mampu menggunakan mode ini dalam jangka waktu yang lama.
Akira terduduk lemas dengan tumpuan kedua tangan di belakang, nafasnya memburu serta keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh.
"Akira-san! "
Akira menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia melihat Charla tengah berlari menghampirinya dan pada saat jaraknya dekat secara tiba-tiba Charla memeluknya dengan sangat erat sambil menangis.
"Syukurlah Akira-san baik-baik saja…" Charla tidak mendengarkan perkataan Akira. Dia tadi sempat merasa cemas saat mendengar teriakan Akira. Namun ketika melihat Akira baik-baik saja rasa cemas itu pun seketika hilang diganti rasa lega.
"Ya. Semua ini berkatmu juga, Charla." Akira mengelus kepala Charla sebentar kemudian melepas pelukan itu sambil tersenyum, "Terimakasih…"
Charla menyeka air matanya dan membalas senyuman Akira, "Aku lebih suka melihat Akira-san tersenyum seperti ini."
Mendengar pernyataan Charla, Akira membuang muka sambil memanyunkan bibirnya merasa jengah, "B-Benarkah." Wajahnya pun memerah
Charla menahan tawa melihat sikap Akira sebelum memeluknya lagi, "Iya."
Akira kali ini tidak melepaskan pelukan Charla. Dia mempersilahkan Charla untuk meluapkan perasaanya karena dia tahu kejadian tadi—pada saat melihatnya menderita—pasti sangat membuatnya terpukul.
Selagi menunggu Charla melepas pelukannya, Akira melihat kembali panel di sampingnya serta membuka panel map untuk mengamati situasi dan keadaan sekalian mencari cara untuk bisa mengeluarkan Charla dari tempat ini.
{2/100} {0 hari| 3 jam| 21 menit| 12 detik}
'Tinggal tersisa tiga jam lagi. Apa benar tidak ada cara untuk membebaskannya dari tempat ini...'
Selama beberapa saat Akira berpikir dia masih tidak menemukan jawaban yang memungkinkan.
'Sial, apapun itu kumohon beritahu aku.' Akira mengumpat kesal dalam hatinya. Rasa cemas mulai mengisi perasaannya.
__ADS_1
Pandangan Akira bergeser ke panel map dan mendapati zona merah tengah menyusut lumayan cepat hingga kini hanya tersisa 80 km lagi. Sementara keberadaannya sekarang berada di titik pusat zona putih sehingga dia tidak perlu berpindah tempat lagi.
Akira menghela nafas sambil memijat keningnya yang mulai terasa pusing dengan segala hal yang terjadi. Ditambah dia juga tadi sempat menghantam-hantamkan kepalanya di batang pohon sampai berdarah.
Charla melepas pelukan itu sendiri. Dia bertanya saat melihat raut wajah Akira seperti sedang gelisah, "Ada apa Akira-san? Apa ada masalah?"
"Bukan apa-apa." Akira menggeleng pelan menunjukkan senyum terpaksa.
Tidak ingin memperdulikannya, Charla bertanya kembali, "Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya nya berseri-seri.
Akira menghela nafas, tidak menjawab pertanyaan Charla, membuat senyumannya pun memudar. Dia bangkit dari posisinya dan berjalan ke salah satu arah.
"Kita istirahat saja dulu disini."
Charla bisa melihat raut wajah Akira barusan sama seperti tadi. Dia mengetahui Akira saat ini pasti sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit, meskipun sebenarnya dia sudah tahu apa itu namun Charla masih belum bisa mempercayai jika sesuatu yang masih bersifat praduganya ini adalah benar.
*~*
Akira menghabiskan sisa-sisa waktunya bersama Charla. Dia membeli satu set meja makan lalu mengeluarkannya berserta dengan hidangan-hidangannya yang kemudian dia tata satu persatu.
"Wah...Akira-san banyak sekali..." Charla melebarkan mulut dan matanya saat melihat Akira kali ini mengeluarkan banyak sekali hidangan makanan.
Akira terkekeh menanggapi reaksi Charla, "Kenapa? Kalau kau tidak sanggup, aku akan memakan semua ini seorang diri."
"Jangan begitu. Aku juga mau..." Charla mengembungkan pipinya.
Akira tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Dia kemudian menata hidangan itu kembali.
Charla meneteskan air liurnya saat mencium aroma yang begitu lezat dari setiap hidangan tersebut. Perutnya terus berbunyi, sepertinya nafsu makannya akan meningkat beberapa kali lipat.
"Yosh! Waktunya makan," kata Akira setelah selesai menata semua hidangan tersebut.
"Waktunya makan." Charla mengikuti.
Mereka berdua menyantap semua hidangan lezat itu bersama.
Suasana menyantap makanan kali ini terasa sangat berbeda. Jauh lebih berwarna. Tidak seperti sebelumnya, Akira kali ini lebih banyak tersenyum di hadapan Charla. Sesekali Akira juga menjahili Charla dengan hidangan miliknya sambil tertawa.
Suasana kali ini di satu sisi membuat Charla merasa senang. Namun entah kenapa di sisi yang berbeda ada sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Begitupun dengan Akira, dia juga merasakan hal yang sama dengan yang Charla rasakan, yakni rasa takut akan kehilangan.
Mereka berdua akhirnya selesai menyantap semua makanan itu meski masih ada beberapa makanan yang tersisa.
"Ah...Aku sudah kenyang." Akira bangkit kemudian keluar dari posisinya.
"Akira-san mau kemana?" tanya Charla saat melihat Akira hendak pergi meninggalkannya.
"Tidak kemana-mana. Aku hanya ingin buang air kecil saja. Tidak perlu mengikutiku. Kau tunggu saja disini." Selagi berkata demikian, Akira sudah berjalan ke salah satu arah meninggalkan Charla yang masih berada di posisinya.
__ADS_1
Charla merasa penasaran ingin mengikutinya, dan rasa penasaran itu semakin besar saat menyadari Akira tak kunjung kembali juga. Charla pun akhirnya memutuskan untuk ikut menyusul Akira untuk mencari tahu apa yang sedang dia lakukan.