Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Beberapa hari sebelum gelombang monster dimulai


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke penginapan, Zero dan Charla melihat ada banyak petualang beramai-ramai menuju ke suatu tempat. Rona wajah mereka tampak bersemangat sekali seolah ada sesuatu yang menarik di sana. 


Melalui ekspresi mereka, Zero bisa menebak kalau mereka semua pasti sedang menuju ke guild petualang di kota itu, mengingat dalam beberapa waktu sebelum gelombang monster dimulai, beberapa guild petualang yang ada di kerajaan itu akan kebanjiran permintaan dari berbagai tempat yang membutuhkan bantuan para petualang saat gelombang monster nanti.


"Wahh! Ramai sekali! Mereka semua hari ini sangat sibuk ya, Zero-sama."


Zero dan Charla mendapati beberapa toko yang menjual perlengkapan dan persenjataan pun kini tengah dibanjiri permintaan.


"Ya. Di balik buruknya gelombang monster ini, ada peluang yang sangat menguntungkan yang bisa dimanfaatkan oleh sebagian dari mereka yang sedang mencari peruntungan." Zero ikut menyapu pandangannya, mengamati kesibukan orang-orang di sekitarnya.


"Tidak hanya mereka, semua orang yang ada di kerajaan ini atau lebih tepatnya semua orang yang ada di dunia ini pun sekarang pasti sedang sibuk mengurusi berbagai hal terkait gelombang monster yang akan terjadi beberapa hari lagi," kata Zero sambil melirik ke arah para ksatria suci dan prajurit yang sedang berlatih di suatu lapangan. Dia pun menemukan para staf kerajaan sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. 


"Oleh karena itu Charla, kita juga tidak boleh kalah dengan mereka. Kita harus memperlihatkan hasil yang terbaik di gelombang monster nanti. " Zero tersenyum optimis pada Charla yang kemudian dibalas anggukan penuh semangat darinya. 


Setibanya di penginapan, Zero segera mengumpulkan para anggotanya untuk melakukan diskusi. Setelah semuanya duduk di bangkunya masing-masing, Gladius membuka diskusi dengan menanyakan apa yang akan dilakukan oleh mereka saat gelombang monster nanti. 


"Kita akan membagi kelompok," jawab Zero.


"Kelompok…" Mereka saling berpandangan mendengar keputusannya.


"Benar. Kita akan membagi dua kelompok." Zero kemudian membuka sebuah gulungan peta dan melebarkannya di meja. Yang lain mengamati apa yang akan Zero tunjukkan.


"Berdasarkan quest yang sebelumnya kita terima, kita disuruh untuk melindungi kota ini..." Zero menunjuk salah satu kota besar yang ada dalam peta, "Kota ini menjadi salah satu titik di mana monster-monster tingkat tinggi akan muncul. Kemungkinan itulah alasan mereka meminta bantuan kita," lanjutnya menjelaskan. Semuanya memperhatikan kota yang Zero tunjuk dengan seksama.


"Jadi kita akan bertempur di sana..." Charla melihat kota itu lebih dekat, "Kota Bul...dovia..."  Sampai seketika matanya melebar karena terkejut saat membaca nama kota itu seolah ada sesuatu yang menakutkan di sana.


Sherria di sampingnya jauh lebih terkejut saat mengetahui nama kota itu. Kenangan traumatis yang pernah dialaminya dulu satu persatu terlintas di pikirannya.


"Nee-san...kota itu..." Sherria mencengkram bawahan baju Charla saking takutnya dengan kenangan yang pernah dialaminya di kota tersebut.

__ADS_1


Zero yang melihat reaksi kedua kakak beradik itu mengerti dengan apa yang mereka pikirkan, terutama Sherria, karena dia pernah menceritakan masa lalunya di kota itu padanya. Jujur, dia juga awalnya sempat terkejut saat mengetahui ternyata kota itu yang meminta bantuannya.


"Sherria, aku tahu kau mempunyai kenangan yang buruk di kota ini." Zero tersenyum pada Sherria, mencoba menenangkan ketakutannya, "Tapi kau tidak perlu takut karena kalian berempat tidak perlu ikut bersamaku untuk bertempur di sana," lanjut Zero sambil menunjuk Charla, Sherria, Fluffy, dan Rimuru.


Mereka berempat terkejut saat mendengar keputusan Zero. Begitupun dengan Gladius. Dia penasaran, ada masalah apa sebenarnya Sherria dengan kota itu. Namun dengan situasi sekarang, Gladius tidak ingin dulu membahasnya.


"Eh, kenapa kita berempat tidak boleh ikut, Tuan? Padahal aku ingin sekali membantu, Tuan. Memangnya Sherria mempunyai masalah apa dengan kota ini sampai kita berempat tidak boleh ikut?" Fluffy tidak setuju dan juga tidak mengerti dengan keputusan Zero.


"Zero-sama tidak perlu memikirkanku. Aku sekarang baik-baik saja. Aku tidak keberatan kalau Zero-sama memintaku untuk pergi ke kota itu. Aku juga ingin ikut andil membantu, Zero-sama." Sherria bersikap tegar, mencoba menutupi rasa takutnya. Dia merasa tidak enak jika mereka bertiga tidak jadi ikut gara-gara dirinya.


Zero menggaruk belakang kepalanya dan berkata, "Bukannya aku tidak ingin mengajakmu, Flo. Dan juga kau tidak perlu tahu masalah apa yang dialami Sherria di kota itu. Kemudian Sherria, alasanku tidak ingin mengajakmu dan juga kalian bukan hanya karena masalah itu. Ada alasan lain yang lebih penting." Zero mencoba meluruskan.


"Apa itu, Zero-sama?" tanya Charla.


"Aku berpikir akan lebih baik kalau kalian berempat membantu orang-orang di kerajaan kita. Aku yakin kekuatan kalian sekarang pasti akan sangat dibutuhkan di sana. Masalah di kota ini biar aku dan Gladius saja yang mengurusnya." Zero mengutarakan keputusan terbaiknya pada mereka.


"Benar, kita berdua saja sudah cukup. Lagi pula kota ini juga sudah meminta bantuan beberapa kelompok lain yang sama kuatnya dengan, Tuan. Jadi kalian tidak perlu khawatir meskipun kota ini menjadi salah satu titik di mana monster tingkat tinggi muncul." Gladius ikut meyakinkan mereka dan mereka merasa keputusan tersebut sudah sangat tepat. Sherria pun kini tidak lagi merasa tidak enak hati pada yang lain.


Fluffy mengangguk mantap. "Emm! Yang Tuan katakan benar. Levi dan yang lain pasti sangat membutuhkan bantuan kita, jadi kita harus membantu mereka."


Mereka berempat akhirnya setuju dengan keputusan tersebut.


"Baik, kalau begitu kalian nanti akan pergi ke sana bersama, Flo. Kalian sanggup melakukannya?" tanya Zero memastikan.


"Serahkan pada kita!" jawab mereka serempak.


"Bagus! Aku mengandalkan kalian!"


*~*

__ADS_1


Di salah satu bangunan megah ibukota kerajaan Blue Diamond terdapat sebuah aula khusus yang menjadi tempat untuk memantau situasi gelombang monster yang akan terjadi dalam beberapa hari lagi. Belasan orang berpakaian layaknya biarawan/biarawati terlihat sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, di antaranya mereka yang merupakan seorang ahli nujum.


Ahli nujum merupakan panggilan bagi penyihir tipe support yang mempunyai kemampuan memperkirakan atau meramalkan bencana yang akan terjadi di suatu wilayah tertentu. Merekalah yang mempunyai peranan penting dalam setiap gelombang monster yang terjadi.


Di dalam aula tersebut, beberapa ahli nujum sedang mengamati sebuah lacrima berbentuk bola besar dan berisikan gambaran peta wilayah kerajaan. Dari gambaran peta itu terlihat ada banyak titik merah tersebar di beberapa wilayah, dari yang ukurannya kecil hingga yang terbesar. Besar kecilnya titik merah tersebut menggambarkan tingkat bahaya bencana yang akan terjadi.


Sementara di samping bola besar itu terdapat dua buah jam pasir yang ukurannya tidak kalah besar besar, dengan masing-masing di atasnya tercantum hitungan waktu dari detik, menit, jam hingga tahun. Waktu di jam pasir tersebut menunjukkan kapan dan berapa lama gelombang monster akan terjadi.


"Bagaimana menurut kalian perkembangan hasil pengamatan kali ini? Apa gelombang monster kali ini sama dengan yang tahun lalu atau mungkin berbeda?" tanya seorang staf kerajaan yang bertugas memantau situasi gelombang monster.


"Kemungkinan gelombang monster kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa dikatakan akan jauh lebih sulit. Apalagi gelombang monster kali ini akan berlangsung selama tiga hari," jelas salah satu ahli nujum yang menjadi pemimpin di sana sambil menyerahkan data yang diperoleh dari hasil pengamatannya.


"Begitu, ya..." Staf itu melihat data hasil pengamatan tersebut.


"Memang benar. Sepertinya gelombang monster kali ini akan jauh lebih sulit. Terbukti dari banyaknya titik merah yang muncul di tahun ini. Ditambah titik merah yang ukurannya besar kini tersebar di kota-kota penting kerajaan," kata staf itu berdasarkan data laporan tersebut.


"Aku meminta laporan siapa saja yang ditempatkan untuk menjaga kota-kota ini. Bawakan laporan itu sekarang, " titahnya pada petugas di sana.


Segera saja salah satu yang bertugas di sana mengambil data laporan yang diminta dan menyerahkannya pada staf kerajaan itu.


Staf kerajaan yang bertugas di situ kemudian mengamati satu persatu mereka yang ditempatkan untuk menjaga setiap kota penting itu, baik anggota militer kerajaan maupun para petualang.


"Tidak buruk..." Begitu menurutnya.


Staf itu terus mengamati setiap orang yang tertera di laporan itu sampai dia pun berhenti di salah satu petualang yang menarik perhatiannya.


"Kota yang menjadi salah satu sumber penghasilan utama dari kerajaan ini sering menjadi langganan monster tingkat tinggi. Tidak heran mereka yang ditugaskan di sana adalah orang-orang terpilih. Tapi kali ini aku penasaran, siapa anggota baru yang ditugaskan untuk menjaga kota ini? Aku baru pertama kali ini mendengar namanya," katanya sambil menunjukkan satu nama asing di dalam laporan itu pada pemimpin proyek di sana.


"Oh dia, ya. Dari rumor yang beredar, kudengar dia merupakan petualang pangkat diamond yang belakangan ini sedang naik daun," jelasnya. 

__ADS_1


"Seberapa kuat menurutmu orang ini?" Staf itu semakin penasaran dengan identitas petualang itu. 


Pemimpin itu kemudian menjelaskan semua hal yang dia ketahui tentang petualang pangkat diamond itu. Staf kerajaan itu beberapa kali tercengang dan tidak percaya mendengar setiap penjelasannya yang begitu mengejutkan. 


__ADS_2