
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Meski Akira tidak tahu bagaimana suara-suara tadi bisa muncul dalam pikirannya tapi dia merasa bersyukur karena berkat itu dia kini bisa bangkit kembali dari keterpurukannya.
Dengan membawa ambisi untuk menang, bersama Fluffy, Akira melesat ke tempat Demios tuk melanjutkan pertarungan.
"Flo, apa kau baik-baik saja? Apa kau masih mempunyai tenaga untuk membantuku melawannya?" Akira peduli pada keadaan Fluffy karena sejak tadi dia terus bertarung habis-habisan dan seharusnya kini dia pasti sudah lelah.
"Squekk..." Fluffy memperlihatkan senyumannya pada Akira. Senyumannya itu seolah mengartikan bahwa dia tidak apa-apa.
Akira membalas senyuman Fluffy berharap senyumannya bisa memberinya semangat lebih, "Tunggu sebentar lagi. Aku yakin kita pasti bisa menang. Kita pasti bisa keluar dari tempat ini."
Kurang lebih dua ratus meter lagi tiba, Akira bisa melihat Demios dari kejauhan. Demios kini hanya sendirian dan tampak tengah berdiri siaga tak jauh di dekat pedang yang tertancap itu.
"Kelihatannya dia benar-benar tidak ingin aku mencabut pedang itu." Akira mengamati Demios yang seiring detik semakin terlihat sebelum ketika jaraknya tinggal seratus meter lagi, Akira masuk ke dalam mode Dark Phoenix-nya dan bersiap bertarung.
Akira melambaikan satu tangan kanannya ke samping untuk memanggil busur panahnya dan tangan kirinya untuk memanggil tombak emas yang dia gunakan tadi.
"Jika aku tidak bisa mencabutnya bagaimana jika aku langsung menghancurkan tanahnya saja." Akira berpikir itu rencana yang cukup bagus.
"Low Size…" Akira mengecilkan tombak di tangan kirinya lalu mengaitkannya pada tali busurnya dan menariknya kuat-kuat ke arah Demios.
Seberkas cahaya mulai berkumpul di ujung tombak, menghasilkan kilatan-kilatan kecil di sekelilingnya. Ketika jarak antara dirinya dengan Demios sudah lumayan dekat, Akira langsung melesatkan tombak itu.
"Arrow-Spear Joint Attack - Earth destroyer!"
Swush!
Tombak yang dibuat menjadi anak panah itu melesat cepat membelah udara, meluncur bagaikan rudal menuju ke tempat Demios.
"Full Size." Tombak itu dibalikan ke ukurannya semula saat beberapa meter lagi tiba. Demios yang menyadari ada serangan di atasnya spontan bergerak mundur.
Bum!
Suara seperti bom nuklir meledak bergema keras di tempat itu sewaktu tombak yang diluncurkan menghantam bumi. Hasilnya sebuah cekungan besar terbentuk bersamaan dengan angin kencang dan kepulan debu berterbangan di udara.
Kepulan debu itu menutupi pandangan Akira yang kini tertuju pada pedang yang tertancap, mencoba mencari tahu hasil dari serangan yang dia lepaskan barusan.
Begitu kepulan debu itu menghilang, Akira bisa melihat secara samar-samar seberkas cahaya yang berkilauan. Sampai ketika sesuatu yang berkilauan itu terlihat jelas, mata Akira terbelalak terkejut.
"Mustahil…" Akira menyaksikan pedang itu ternyata masih menancap kokoh di tengah-tengah cekungan yang besar, membentuk sebuah bulatan kecil yang menjadi tempat pedang itu berdiri.
"Sial, kenapa pedang itu masih belum terlepas? Dan kenapa tanahnya tidak ikut hancur?" kesal Akira memandangi pedang di bawahnya dengan penuh rasa tidak percaya.
"Squekk!" Fluffy berteriak ketika melihat Demios kini tengah bergerak ke arahnya, membuat Akira tersadar dan langsung mengalihkan fokusnya ke depan.
Akira turun dari punggung Fluffy dan bergerak maju lebih dulu menghadapi Demios menggunakan kedua pedangnya.
__ADS_1
"Mana bayangannya satu lagi? Kenapa dia tidak menggunakannya." Akira bersama Fluffy kini hanya bertarung dengan satu Demios saja. Mereka tidak melihat tanda-tanda ada Demios lain di sekitarnya.
Berpikir bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk mencabut pedang itu tapi nyatanya Akira tidak bisa melakukannya karena Demios selalu berhasil menghentikan aksinya dan membawanya untuk fokus pada pertarungan.
Biarpun saat ini Demios hanya bertarung seorang diri, tapi entah kenapa mereka berdua sama sekali belum bisa unggul melawannya. Bahkan dari beberapa pertukaran selanjutnya, Demios mulai tampak mendominasi pertarungan, menyulitkan mereka berdua.
Akira segera mengubah posisi —Fluffy dengan cepat mengikuti— Mereka berdua mengkombinasikan serangan menyerang Demios.
Akira bergerak menyerang memberikan beberapa serangan beruntun—Demios menghindar dan menangkis setiap serangan Akira dengan terampil—Fluffy Mengambil kesempatan, menyerang Demios dari arah yang berlawanan—Tapi Demios dengan cepat menyadari dan segera menghindar.
Melihat perhatian Demios terpecah, Akira langsung mengeluarkan bola-bola api dari mulutnya—Demios menoleh ke api itu kemudian memakannya bulat-bulat lalu bersendawa—asap keluar dari mulutnya—Akira mengumpat kesal dalam hatinya.
Fluffy yang tidak mau diam ikut mengeluarkan aumannya— Sayangnya Demios berhasil mundur dengan cepat dan angin kuat yang mengarah ke arahnya itu malah beralih menyapu Akira.
"Sial...!"Akira mengumpat keras sambil merapatkan giginya.
"Squekk!" Fluffy berteriak marah memandangi Demios yang masih dalam tatapan kosong.
Akira bersama Fluffy tidak berhenti menyerang dan terus menggempur Demios dengan tujuan mencoba membuatnya lengah supaya Akira bisa mencabut kembali pedang yang tertancap itu.
Namun sayangnya lagi-lagi kombinasi serangan mereka berdua selalu berhasil dipatahkan oleh Demios, membuat mereka mulai kewalahan. Terutama Fluffy, dia tampak sudah kehabisan tenaga sampai beberapa pertukaran berikutnya akhirnya sebuah pukulan keras berhasil mendarat di tubuh Fluffy sampai melemparnya jauh meninggalkan panggung pertarungan.
"Squekk!" Fluffy tidak bisa terbang lagi setelah kehabisan tenaga hingga akhirnya jatuh ke bawah.
"Flo!" Akira berteriak menyaksikan keadaan Fluffy sebelum pandangannya terpaku lagi pada Demios. Dia menggertakkan giginya menatap Demios penuh kesal dan amarah.
"Kepparaat!!" Dengan membawa perasaan tersebut, Akira menyerang Demios secara membabi buta.
Akira tidak peduli lagi pada rencananya untuk mencabut pedang yang tertancap itu. Dia sudah terlanjur terbawa emosi dan kini dia terus melontarkan serangan demi serangan pada tubuh Demios biarpun hasilnya sia-sia.
"Aggh!" Seteguk darah keluar ketika Akira menghantam tanah.
Demios menyusul Akira ke bawah. Akira yang masih tersulut emosi membangkitkan dirinya kembali dan melesat menyerang Demios.
"Bedebah!!"
Akira mengayunkan pedangnya ke bagian leher Demios.
Tring!
Suara dentingan keras terdengar ketika pedang itu berhasil mendarat di lehernya, dalam artian serangan Akira sama sekali tidak berarti.
Di detik yang sama disaat ada celah yang terbuka lebar, Demios membalas serangan Akira dengan mengayunkan tangannya yang membentuk seperti pisau pada bagian mata Akira,
Srat!
Dilanjut dengan tendangan dan membuat Akira terlempar ke belakang.
"ARGHH!! MATAKU!!" Akira bertekuk lutut, menjerit kesakitan sambil memegangi sebelah matanya yang kini mengucurkan darah.
"Keeppaaraat!!!" Akira menatap Demios dengan tatapan bengis. Rahangnya mengeras, wajahnya bergetar, nafasnya memburu, giginya digertakan dan sebelah matanya memerah.
__ADS_1
"Bunuh...bunuh...bunuh…" Selagi membangkitkan diri, Akira terus menggumamkan kata-kata itu seiring dengan aura hitam pekat terpancar dari tubuhnya.
Wujud Akira perlahan berubah. Sayap di punggungnya menghilang. Tanduk kini muncul di kedua sisi dahi Akira dan setengah tubuhnya mulai diselimuti oleh aura hitam pekat. Sebelah matanya yang tadi tergores dan kini membentuk sebuah garis lurus memancarkan cahaya merah menyala.
"Berserker Second Mode."
Ya, Akira kini masuk ke dalam mode Berserker tahap kedua.
"Keppaaratt...pertama kau sudah membuat temanku terluka. Sekarang kau membuat mataku seperti ini..." Akira menggerakan tangan yang diselimuti aura hitamnya ke samping dan secara perlahan pedang berwarna hitam terbentuk dari aura yang menyelimutinya itu.
"Kupastikan orang sepertimu akan menerima hukuman yang sangat berat dariku…" Akira menghunuskan pedang itu pada Demios. Gagang pedangnya yang pendek dan bilahnya yang tipis memperlihatkan seberapa tajam dan mengerikannya pedang tersebut.
"Bersiaplah…"
Akira maju menyerang Demios dengan penuh nafsu membunuh menggunakan pedang hitam itu, membuat Demios kali ini dipukul balik.
Kekuatan Akira kini meningkat beberapa kali lipat.Jelas sekali hal itu dipengaruhi oleh emosi negatif Akira saat ini yang membuat mode berserkernya semakin bertambah kuat.
Semakin besar energi negatif dalam diri Akira semakin kuat mode berserkernya.
Tak lama Akira memukul balik Demios, akhirnya dia memiliki momentum yang pas untuk mendaratkan serangan yang mematikan.
"Teknik Pedang Kegelapan— keputusasaan!" Akira mengayunkan pedangnya dan tebasan angin berwarna hitam melesat ke arah Demios.
"Mustahil..." Mata Akira terbuka lebar menyaksikan serangannya tidak berpengaruh sedikitpun. Demios masih tampak santai berdiri di depannya setelah terkena serangan barusan yang seharusnya mulai membuatnya putus asa.
"Makhluk apa dia sebenarnya..."
Akira mengayunkan pedangnya lagi menggunakan teknik-tekniknya yang lain.
"Mimpi buruk—Derita—Rasa sakit—ketakutan—Kehampaan."
Percuma, semua teknik yang Akira lepaskan ternyata tidak ada satupun yang berpengaruh.
"Apa dia tidak memiliki perasaan?"
Akira sadar kalau serangan fisik tidak mungkin berlaku pada Demios oleh karena itu dia menggunakan teknik barusan yang berfokus untuk menyerang mental seseorang dan mampu memberikan rasa sakit yang lebih menyakitkan dari luka fisik.
Akira mendengus kesal, memposisikan kuda-kudanya dengan pedang lurus ke depan. Ujung pedangnya mengeluarkan gumpalan aura hitam yang kemudian Akira lesatkan ke arah Demios.
"Teknik Pedang Kegelapan— Kematian!"
Tebasan angin hitam yang sangat besar melesat ke arah Demios, membelah tanah yang dilaluinya, menghasilkan gelombang yang tidak kalah besar.
Begitu angin hitam itu berhasil melalui Demios, hasilnya mulai terlihat ketika debu yang menghalanginya menghilang. Hasilnya? Demios masih dalam keadaan utuh tanpa terluka sedikitpun, bahkan dia sama sekali tidak bergeming dari posisinya.
"Sialan...! Makhluk apa kau sebenarnya! Kenapa tidak ada satupun seranganku yang berpengaruh padamu!" Akira merasa sangat kesal dan frustasi.
Perasaan itu semakin membuncah saat melihat Demios tiba-tiba mengeluarkan aura putih yang menggetarkan udara dalam tubuhnya, membuat ekspresi Akira ikut bertambah kusut.
Demios kemudian melambaikan satu tangannya membuat pedang energi berwarna putih dan maju lebih dulu menyerang Akira.
__ADS_1
"Apa lagi sekarang?" Akira merasa aura serta pedang energi yang Demios keluarkan bukanlah pertanda baik.
Hal itu terbukti, ketika Akira menyambut serangan dari pedang putih Demios untuk yang pertama kali, dia merasakan kekuatan yang cukup besar sampai mampu menekan pedang hitam miliknya saat ini.