Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Pertarungan Dua Mode


__ADS_3

Selama beberapa waktu, keduanya masih bertarung dengan imbang. Kedua belah pihak saling mengakui kekuatan lawan dan tidak bisa saling meremehkan. Kekuatan, kecepatan dan ketahanan mereka setara meski Zero kini belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Gladius yang bersembunyi di kejauhan, tepatnya di atas pohon yang besar, mengamati pertarungan mereka sambil sesekali melihat-lihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang mungkin bisa mengganggu pertarungan yang sangat seru ini.


Gladius tampak senang dan antusias sekali bisa melihat kembali pertarungan Zero dan berharap bisa melihat sesuatu yang menakjubkan lagi darinya. 


Zero dan Lawrence sejak tadi terus bertarung, saling melemparkan serangan dan bertahan, sampai beberapa pertukaran selanjutnya, mereka bergerak mundur untuk mengambil nafas.


"Mungkin kau sudah sering mendapatkan pertanyaan seperti ini…" Lawrence menurunkan pedangnya, tidak ingin dulu menyerang dan hendak menanyakan sesuatu, "Siapa kau sebenarnya? Setahuku sebelumnya aku tidak pernah mendengar tentang dirimu. Dan apa tujuanmu membuat kekacauan di kota ini?" tanya Lawrence penasaran.


Zero menurunkan pedangnya juga, "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah anak kecil yang mengharapkan kedamaian bagi dunia ini dan bercita-cita menjadi seorang pahlawan yang membawa kebahagiaan bagi semua orang dan membawa bencana bagi mereka yang merusaknya, contohnya orang-orang busuk di kota ini..." Zero menanggapi pertanyaan Lawrence dengan setengah candaan dan setengah serius.


"Ucapanmu tidak sesuai dengan tindakanmu, bocah." Lawrence terkekeh pelan mendengar bualan yang Zero ucapkan.


"Itu menurutmu…" Zero balas terkekeh, sebelum sesaat kemudian keduanya kembali mengangkat pedang dan melesat menyerang. 


"Kalau dirimu? Apa yang membuatmu ingin menjadi seorang ksatria suci?" Zero balik bertanya tanpa melemahkan fokusnya pada pertarungannya. 


"Aku ingin menggunakan kekuatanku ini untuk melindungi mereka yang lemah dan juga melindungi sesuatu yang menurutku berharga. Contohnya tempat tinggalku yang kini sudah kau kacaukan." Lawrence berusaha menyudutkan Zero menggunakan teknik berpedangnya. 


"Ucapanmu juga sama, tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya..." Zero balik membalas serangan Lawrence dengan teknik berpedangnya juga.


"Omong kosong. Kau hanya tidak ingin kalah denganku bukan, sampai memutar balikan fakta yang sebenarnya segala." Lawrence tersenyum tipis, masih menyerang Zero dengan pedangnya. 


"Hm...Jika itu tujuanmu bagaimana jika setelah ini aku melukai orang-orang yang kau sayangi, seperti adikmu atau kekasihmu..." Zero berniat memprovokasi Lawrence. 

__ADS_1


Lawrence yang terprovokasi berhenti menyerang dan bergerak mundur. Perkataan Zero seketika membuat Lawrence kini menatapnya penuh kebencian. 


"Sekali saja kau berani menyentuh mereka, bukan kematian lagi yang akan kau terima sebagai balasannya." Suara Lawrence terdengar mencekam. 


"Ho~ Menakutkan…" Zero menanggapi ancaman Lawrence dengan candaan, "Baik, baik, aku bersumpah tidak akan melakukan apapun pada mereka. Asalkan kau mau melepaskanku sekarang." Zero tersenyum dari balik topengnya. 


"Sudah kubilang aku tidak percaya dengan semua ucapanmu. Dan kau seharusnya sadar. Kau tidak akan pernah bisa menyentuh mereka, karena malam ini juga akan menjadi malam terakhirmu…" kata Lawrence sinis seiring mengeluarkan aura yang lain dalam dirinya. Aura berwarna biru gelap keluar dan menyatu dengan aura sihir keputihan miliknya. 


Yang terjadi selanjutnya, satu demi satu armor bermunculan, melayang di sekelilingnya dan menempel di setiap bagian tubuh Lawrence. 


Lawrence yang semula tidak mengenakan zirah kini seluruh tubuhnya tertutupi oleh zirah yang lengkap, dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan telapak tangannya kini semuanya tertutupi oleh zirah yang kokoh berwarna biru gelap. Di tengah-tengah perut dan dahinya terdapat pola bintang berwarna emas, memperlihatkan betapa memukaunya zirah tersebut. 


"Flavorless Armor." Itu nama zirah yang kini Lawrence kenakan. Dengan memakai zirah tersebut, semua kekuatan yang ada dalam dirinya meningkat beberapa kali lipat. 


"Fiuw…" Zero bersiul, terkesan melihat zirah yang Lawrence tampilkan. 


'Kelihatannya ini akan menjadi pertarungan yang sangat melelahkan…' batin Zero menyadari kekuatan Lawrence kini meningkat dari yang sebelumnya.


"Bersiaplah menjemput ajalmu, bocah…" Lawrence mengangkat pedangnya ke arah Zero lalu menghentakkan kaki, melesat menyerangnya. 


Zero melebarkan matanya saat menyaksikan Lawrence mampu bergerak dengan begitu cepat sampai hanya butuh sekali kedipan mata saja untuk sampai di depannya. 


Lawrence yang berdiri di depan Zero langsung mengayunkan pedangnya untuk membelahnya dari atas, tetapi Zero bisa dengan cepat mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan tersebut. 


Sayangnya serangan yang Lawrence kerahkan beberapa kali lipat sampai pedang yang Zero gunakan untuk bertahan hancur menjadi kepingan, beruntungnya sebelum pedang milik Lawrence berhasil menyentuh kepalanya, Zero sudah lebih dulu bergerak mundur. 

__ADS_1


Zero mengatur nafasnya karena terkejut dengan situasinya barusan. Tanpa dia sadari topeng yang dia gunakan tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian, menampilkan wajah aslinya di depan Lawrence. 


"Akhirnya aku bisa melihat wajahmu…" Lawrence tersenyum dari balik helm zirahnya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Zero, terutama sebelah matanya yang tergores yang selama ini telah membuat adiknya menderita. 


Zero menghela nafas pelan, "Ah… jika sudah begini apa boleh buat. Kau yang memaksaku untuk bertarung dengan sungguh-sungguh. Kali ini aku tidak akan bermain-main lagi. Aku akan memberikan sedikit hukuman padamu. .." Zero tersenyum dingin kemudian mengeluarkan aura gelap bercampur merah pekat yang menakutkan dalam dirinya.


Seiring aura itu keluar, wujudnya perlahan berubah menjadi sosok yang mirip seperti iblis dengan setengah wujudnya yang menakutkan kini diselimuti oleh aura gelap. 


"Berserker Second mode…" Zero masuk ke dalam mode berserker keduanya. Aura yang dihasilkan lebih kuat dibandingkan dengan aura milik Lawrence sekarang. 


"Kau sekarang sudah terlihat seperti iblis." Lawrence tersenyum seolah jijik melihat wujud Zero. Dia tidak menyangka jika seorang bocah sepertinya ternyata mempunyai wujud yang begitu menakutkan. 


"Benarkah? Apa kau takut melihatku dalam wujud ini?" ejek Zero sambil melihat tubuhnya sendiri. 


"Tidak, aku justru semakin ingin melenyapkanmu dari muka bumi ini." Lawrence tersenyum percaya diri. 


Di samping lain, Gladius takjub menyaksikan penampilan Zero kini berubah, tapi pada saat yang sama entah kenapa dia merasakan sesuatu yang akrab dengan wujud berserker kedua milik Zero yang hampir serupa dengan yang pertama. 


"Kusarankan agar kau tidak terlalu percaya diri. Aku akan memberikan sedikit hukuman padamu agar kau sadar siapa dirimu. " Zero melambaikan tangannya ke samping, mengeluarkan pedang yang terbuat dari aura gelap yang menyelimuti setengah tubuhnya. Pedang tersebut hanya bisa dia gunakan ketika dalam wujud ini. Kualitasnya sendiri hampir sama seperti harta suci.


"Berhenti mengoceh dan buktikan perkataanmu itu..." Lawrence bersikap percaya diri dengan pedang terhunus menantang. Zero hanya menanggapinya dengan senyuman.


Zero dan Lawrence saling terdiam dalam posisi kuda-kuda bersiap menerjang, sebelum dalam satu hentakan kaki yang membuat tanahnya hancur, mereka melesat secara bersamaan, menyerang menggunakan pedangnya masing-masing.


Saat kedua pedang saling beradu, tercipta gelombang yang sangat besar hingga membuat pepohonan sekitar bergoyang, dedaunan berterbangan, tanah yang menjadi pijakan mereka memberikan dampak cekungan yang besar.

__ADS_1


"Mengaggumkan..." Gladius yang hanya menonton sampai berdecak kagum melihat kekuatan mereka.


__ADS_2