
Cara Zero berperilaku di depan raja menurut semua orang di ruangan itu sudah sangat keterlaluan. Bagaimana mana tidak, sosok raja yang mempunyai kedudukan tertinggi di tempat itu Zero perlakukan dengan begitu hina seolah sosoknya bukan siapa-siapa.
Apa sosok pemuda yang mereka lihat ini sudah gila? Kenapa dia berani mencari masalah dengan orang tertinggi di kerajaan? Dari mana kepercayaan dirinya itu didapat?
Semua orang yang ada di ruangan itu sepakat jika orang seperti Zero tidak pantas diberi ampun dan bahkan perlu diberi siksaan yang begitu pedih agar dirinya menyesali perbuatannya tersebut.
Raja yang mendengar Zero menyuruhnya untuk berlutut di depannya seketika merasa harga dirinya terkoyak-koyak. Emosi yang sejak tadi dia bendung kini pecah melihat kearogansian Zero yang menurutnya sudah kelewat batas.
"Kau!! Berani sekali kau bersikap seperti ini di depanku! Jangan harap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup!" teriaknya menunjuk Zero dengan penuh emosi sampai urat-urat di wajahnya keluar.
"Kalian semua, bawakan aku kepalanya sekarang! Aku akan menggantungnya di depan semua orang agar tidak ada lagi yang berani bersikap arogan seperti ini saat di hadapanku!" Raja yang sudah naik pitam menyuruh semua penjaga di ruangan itu untuk menangkap Zero.
Sayangnya para prajurit dan ksatria suci di sana hanya bergerak mengepungnya dari jarak jauh, tidak ada yang berani mendekati Zero karena takut berakhir seperti prajurit yang tewas mengenaskan tadi.
"Hei, apa kalian tidak mendengarnya? Kalian diperintahkan olehnya untuk menangkapku, bukan mengepungku seperti ini." Zero tersenyum mengejek mereka yang kini mengepungnya.
Di saat Zero melihat tidak satupun dari mereka yang berani mendekatinya, seorang ksatria suci bintang tiga tiba-tiba muncul di sampingnya dan langsung menyerangnya dengan belati.
"Matilah…" Ksatria suci itu tersenyum saat berpikir serangannya ini akan berhasil membunuh Zero.
Akan tetapi, sebelum belati itu berhasil mendarat di lehernya, Zero dengan cepat menggerakkan tangannya untuk menampar wajah ksatria suci itu hingga membuatnya terpental
Zero melakukan itu tanpa sedikitpun mengubah posisi duduknya seolah yang dilakukannya barusan seperti sedang menampar seekor nyamuk yang mencoba hinggap di tubuhnya.
*~*.
"Bagaimana bisa kau menyadarinya…" Ksatria suci itu terkejut mengetahui Zero mampu menyadari serangannya. Padahal teknik menghilangkan diri dan keberadaannya barusan sangat sulit untuk disadari, bahkan untuk orang yang kekuatannya jauh lebih tinggi darinya.
Rekannya yang masih berada di samping raja pun berpikiran sama dengannya. Seharusnya barusan Zero sudah tewas oleh serangannya, tapi nyatanya Zero dapat menyadari serangan tersebut dengan begitu mudah.
__ADS_1
Baik dia, raja, dan yang lainnya yang menyaksikan itu sedikit kecewa mengetahui jika serangan tersebut gagal.
"Harus kuakui kemampuanmu barusan memang mengerikan, tapi sayang itu tidak berlaku padaku," kata Zero melirik ksatria suci itu dengan senyuman kemenangan,"Semoga setelah ini kau masih hidup, ya…" kata Zero terdengar seperti mengisyaratkan sesuatu
Sampai ketika ksatria suci itu baru menyadari kalau di pipinya kini ada secuil api merah kelam yang perlahan tapi pasti bertambah besar menggerogoti wajahnya.
Saat menamparnya tadi, Zero mengeluarkan sedikit api merah kelamnya untuk memberikan pelajaran yang berarti pada ksatria suci tersebut karena.
"Api seperti ini tidak akan mungkin membunuhku…" Ksatria suci itu percaya dengan kemampuan pemulihan dirinya.
"Benarkah begitu?" Zero menaikkan sudut alisnya sambil tersenyum menanggapi kebodohan ksatria suci itu yang tidak menyadari bahwa apinya bukanlah api biasa.
Kepercayaan diri ksatria suci itu seketika hilang setelah dia mencoba beberapa kali untuk menghilangkan api itu dengan sihir pemulihannya tapi usahanya tidak membuahkan hasil apapun. Dia pun menjadi panik dibuatnya.
"Sial, Kenapa api ini tidak mau hilang! Sial! Apa-apaan api ini!" Ksatria suci itu mengusap-usap wajahnya yang terus di lahap oleh api sambil mengerang kesakitan dan terjatuh ke lantai.
Hingga akhirnya semua orang bisa menyaksikannya, api yang semula hanya secuil itu kini melahap habis wajah ksatria suci bintang tiga.
Orang-orang di sana hanya bisa menyaksikan tanpa tahu harus membantu dengan cara seperti apa untuk menolongnya. Api itu baru padam setelah wajah ksatria suci itu hangus sekaligus membuatnya tewas.
Orang-orang di tempat itu terkejut mengetahui Zero mampu membunuh ksatria suci bintang tiga dengan begitu mudah. Hal itu menunjukkan seberapa menakutkannya sosok Zero di mata mereka.
"Andai saja kau tidak ceroboh seperti itu, kau pasti bisa bertarung sedikit lebih lama denganku. Tapi aku beruntung dengan kecerobohanmu itu aku bisa menghemat sedikit waktuku." Zero memandang mayat ksatria suci itu dengan senyuman seolah kasihan.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi tegang. Raja yang menyaksikan salah satu pengawalnya tewas kini dibanjiri keringat dingin. Sementara pengawal di sampingnya masih membeku karena belum bisa menerima kematian rekannya yang tewas dengan cara menyedihkan seperti itu.
Para prajurit dan ksatria suci yang mengepung Zero tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Pemikiran mereka sama, jika mereka bergerak mendekat Zero kemungkinan saat itu juga nasibnya akan sama dengan orang-orang yang tewas di tangannya.
Para menteri dan staf kerajaan yang menganggap sosok Zero sebagai ancaman di tempat itu segera memutuskan untuk keluar menyelamatkan diri.
__ADS_1
Namun, sebelum mereka bisa keluar dari ruangan itu, seorang pemuda yang lain tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan mengejutkan semua orang yang melihatnya.
Yang membuat mereka terkejut cuma satu. Pemuda itu masuk ke dalam ruangan dengan kondisi bersimbah darah seperti baru membantai banyak orang.
"Tuan, semuanya sudah selesai," kata pemuda yang datang itu yang tak lain adalah Gladius.
"Kerja bagus…" Zero hanya mengangkat satu jempolnya tanpa berbalik melihat Gladius.
"Aku yakin dalam beberapa jam ini tidak akan ada yang bisa mengganggu Tuan."
Zero tersenyum mendengar Gladius telah menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya dengan baik. Dengan begitu, dia bisa lanjut melancarkan aksinya.
"Kalau begitu sekarang kau urus mereka semua. Usahakan jangan ada satupun dari mereka yang kabur," kata Zero setelah berdiri dari singgasananya.
Perintah Zero pada pemuda itu membuat para menteri dan staf kerajaan menjadi ketakutan. Mereka tidak bisa melangkah keluar karena satu-satunya pintu keluar dari ruangan itu dijaga oleh Gladius.
"Hentikan ini sekarang juga! Jika kau berani berbuat lebih dari ini kau akan menyesal! Kau tahu kerajaan ini mempunyai kekuatan yang tidak bisa kau kalahkan! Kerajaan ini mempunyai puluhan orang kuat yang jauh lebih kuat darimu! Kau tidak akan bisa selamat dari mereka!" teriak raja yang sudah tidak tahan dengan situasinya sekarang.
Zero menanggapi ancaman raja dengan senyuman santai tanpa rasa takut sedikitpun. "Oh, maksudmu para ksatria suci itu, ya. Tenang saja, mereka sekarang sedang sibuk mengurus pasukan ku. Jadi tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian di sini…" kata Zero yang berhasil membuat orang-orang yang ada di ruangan itu semakin takut.
Zero kemudian mengeluarkan belasan undead di ruangan itu untuk memperlihatkan pada mereka kalau dia mempunyai pasukan yang tak bisa diremehkan.
Raja yang melihat kemunculan belasan undead itu mendadak tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan tersungkur ke belakang dengan ekspresi yang sangat buruk seolah melukiskan ketakutan yang sangat mendalam dari ekspresinya tersebut.
"Kau...siapa kau sebenarnya..." Raja menunjuk Zero dengan tangan bergetar.
"Kau yakin ingin mengetahui siapa diriku?" Zero menyunggingkan senyuman sinis sebelum memperlihatkan wujud aslinya yang tak lain hanyalah seorang bocah.
"Aku Venom, sosok yang selama ini kalian cari."
__ADS_1