
Semua penduduk desa menahan nafas dan emosinya saat mendengar apa yang mereka berikan ternyata masih belum cukup bagi Zero. Jika bukan karena mereka tahu seberapa menakutkan bocah di depannya ini mereka ingin sekali mencabik-cabiknya.
Charla dan lainnya pun tidak mengira Zero akan berkata kalau semua itu masih kurang.
Melihat tatapan-tatapan tidak suka mengarah padanya, Zero tersenyum sambil bersilang tangan di dada, "Bagaimana kalau begini saja. Aku mempunyai penawaran yang bagus untuk kalian dan juga imbalanku," kata Zero dengan nada angkuh.
"Sebagai buktinya kalian boleh mengambil semua benda kalian ini kembali. Aku tidak membutuhkannya." Zero menunjuk semua benda di depannya.
"Kalau boleh tahu apa itu?" Kepala desa yang penasaran memutuskan bertanya.
Langsung saja pada intinya, Zero menawarkan kepada mereka semua untuk ikut bergabung bersama kerajaannya dan menyuruh mereka bekerja disana untuk menebus imbalan atas apa yang telah dia lakukan. Setelah membutuhkan beberapa kali usaha mereka pun akhirnya mau menerimanya.
Charla dan lainnya pun ikut membantu meyakinkan mereka semua. Sebelumnya mereka merasa bodoh karena telah salah mengira atas apa yang tadi Zero lakukan. Nyatanya Zero melakukan semua itu hanya untuk menguji mereka apakah pantas untuk bergabung dengan kerajaannya atau tidak.
"Tenang saja, aku pastikan kalian semua akan mendapatkan kehidupan yang layak disana." Zero menutup penjelasannya. Semua penduduk desa menaruh harap semoga yang Zero katakan benar.
"Kalian semua disini rata-rata bekerja sebagai peternak bukan?" Zero sebelumnya sempat mengamati keadaan desa tersebut dan menemukan ada beberapa tempat peternakan.
"Benar." Mereka semua membenarkan.
"Kebetulan sekali. Aku membutuhkan tenaga kalian untuk mengembangkan bisnis peternakan seperti ini di kerajaanku." Zero berpikir mereka bisa menjadi sumber penghasilan yang menguntungkan.
"Ah benar, kalian pasti membutuhkan tempat untuk ternak-ternak yang akan kalian bawa dan juga perbekalan untuk sampai ke sana."
Zero langsung saja mengeluarkan semua hal yang diperlukan untuk keberangkatan mereka. Semua penduduk desa hanya bisa tercengang menyaksikan aksi yang Zero lakukan.
"Segera kemasi barang dan ternak kalian," titah Zero menyadarkan lamunan mereka.
"Baik!"
Semuanya segera berkemas diri menyiapkan berbagai hal untuk meninggalkan desa kelahiran mereka. Meski berat, semuanya sudah sepakat memutuskan untuk tinggal di kerajaan yang Zero maksud.
Charla dan lainnya ikut membantu mereka semua sekalian meyakinkan mereka kalau Zero bukanlah orang jahat.
"Ambil saja sebagian koin emas ini…"Zero menyerahkan separuh koin emas itu pada kepala desa.
"Terima kasih, Tuan." Kepala desa dengan senang hati menerimanya. Dia merasa dibalik sikap Zero yang menyebalkan seperti tadi ternyata Zero bukan orang yang buruk.
Zero meninggalkan mereka semua yang masih sibuk berkemas menuju ke tempat yang sepi.
'Apa kau mendengarku?' Zero menggunakan skill Message-nya menghubungi pemimpin regu pengintai.
'Aku mendengarnya.' Regu pengintai merespon.
'Bagaimana dengan penduduk desa yang kemarin? Apa mereka sudah sampai di sana?'
'Mereka sudah sampai, Tuan. Mereka semua baik-baik saja dan sekarang mereka sedang saling bekerja sama membantu dan mengakrabkan diri dengan yang lain,' jelas regu pengintai.
'Baguslah kalau begitu. Sekarang aku memintamu untuk menyuruh beberapa orang yang siap menjadi pengawal menuju ke desa Sonery. Ada penduduk desa lain yang juga ingin ikut bergabung.' Zero memberi perintah.
'Laksanakan, Tuan.' Regu pengintai segera menjalankan perintahnya.
Setelah memberitahukan hal itu, Zero kembali lagi ke tempat mereka yang masih sibuk berkemas.
__ADS_1
Zero mengamati mereka semua satu persatu sampai pandangannya tertuju pada anak-anak sepantaran dengannya yang dia kenali. Dia lalu menghampiri mereka yang kini tengah ikut membantu yang lain berkemas.
"Yo, kalian bisa akur seperti ini rupanya." Zero muncul di hadapan mereka.
"Mengejutkan saja…" Mereka terkejut melihat kehadiran Zero yang tiba-tiba.
"Coba lihat tangan kalian," titah Zero pada kakak-kakak tidak tahu diri yang waktu pernah membully adiknya.
Mereka memperlihatkan telapak tangannya pada Zero. Di sana masih terlihat simbol kutukan yang Zero buat waktu itu untuk menakut-nakuti mereka.
"Apa kalian pernah melanggar janji kalian?" Zero memastikan.
"Tentu tidak. Kami tidak pernah melakukannya." Mereka menggeleng keras.
"Mereka sekarang sudah memperlakukanku dengan baik, Tuan," kata adik terkecil mereka meyakinkan Zero.
"Benarkah?"
"Benar."
"Kami sudah mengakui kesalahan kami selama ini, Tuan. Kami sekarang sedang berusaha menjadi kakak yang baik bagi adik-adik kami," kata kakak tertua mewakili yang lainnya. Zero melihat mereka tidak sedang berbohong.
"Bagus, teruslah hidup akur seperti ini. Suatu saat simbol di tangan kalian itu akan hilang dengan sendirinya." Zero memberi nasihat pada mereka.
"Baik!"
*~*
Butuh beberapa jam sampai akhirnya mereka selesai mengemasi semua hal yang perlu dibawa untuk pindah ke tempat tinggal baru mereka.
"Baik, Tuan." Mereka semua mengangguk paham.
"Sementara kau…" Zero menunjuk pemilik kereta kuda itu, "Kau boleh mengambil kereta kudamu kembali, tapi sebelum itu kau antarkan dulu kami ke kota Belius," kata Zero.
"Terima kasih, Tuan." Pemilik kereta kuda itu dan yang lainnya sangat senang mendengar hal itu. Dia segera menaiki kereta kudanya saat itu juga.
Zero dan yang lainnya pun ikut menaiki kereta kuda itu dan bersiap melanjutkan perjalanan.
"Kalau begitu kami berangkat…" Zero dan yang lainnya berpamitan pada mereka semua.
"Hati-hati di jalan," kata mereka semua serempak.
Pria itu mulai memacu kudanya untuk berjalan. Zero bersama yang lainnya kini melanjutkan perjalanan menuju kota Belius dengan menggunakan kereta kuda.
"Akhirnya…" Zero menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata kemudian menghela nafas lega.
"Uwek…uweek…"
Zero membuka matanya saat mendengar suara itu.
"Eh?" Zero melihat suara itu berasal dari Charla yang duduk di sampingnya dan terlihat seperti ingin muntah.
"Charla jorok," kata Fluffy terlihat jijik.
__ADS_1
"Charla kau mabuk kendaraan?" Zero segera berdiri menjauhkan diri karena takut terkena muntahan Charla.
"Heheh, iya, Zero-sama…" Charla tersenyum lemas, malu mengakuinya.
Sherria yang duduk bersebrangan dengannya hanya mendengus geli sambil tersenyum. Dia sudah mengira ini akan terjadi.
"Cepat sekali. Padahal ini baru beberapa meter jalan." Zero beralih duduk di dekat Fluffy, meninggalkan Charla sendirian disana.
"Nee-san memang suka mabuk seperti itu, Zero-sama. Itulah alasan kenapa dia tidak suka keluar desa." Sherria terkekeh pelan.
"Sherria jangan bilang seperti itu…" Charla membaringkan tubuhnya, terbaring lemas di bangku kereta sendirian sambil mual-mual.
"Tunggu dulu, bukannya waktu kau menaiki Flo, kau tidak mabuk kendaraan seperti ini?" Zero mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Flo bukan kendaraan, Zero-sama..." Suara Charla terdengar lemas sebelum dia mual-mual kembali.
"Benar juga..." Alasan Charla masuk akal.
Zero menghela nafas melihat Charla terus-terusan mual seperti itu. Dia pun memutuskan membeli obat untuk orang yang suka mabuk kendaran seperti Charla.
"Minumlah ini…" Zero menyerahkan obat yang dia beli.
"Apa ini, Zero-sama?" Charla mengambil obat yang Zero serahkan.
"Antimo."
"Antimo?"
"Ya. Cepat minum supaya kau tidak mual seperti itu lagi."
"Baik." Charla segera meminum obat itu.
Namun selama beberapa menit kemudian tidak ada tanda kalau Charla sembuh dari penyakit mabuk kendaraannya.
"Percuma, Zero-sama…" Charla mual-mual kembali membuat Zero menghela nafas untuk kesekian kali dan Sherria menggeleng pelan.
"Aku bisa membantu menyembuhkannya, Tuan," kata Fluffy.
"Benarkah?"
"Emm!"
"Baik, sembuhkan dia. Kasihan melihat dia terus-terusan seperti itu," ejek Zero.
Menuruti kemauan Zero, Fluffy menyerahkan slime di pelukannya pada Zero kemudian mendekati Charla lalu menempelkan tangannya pada kening Charla untuk menyembuhkan penyakit mabuk kendaraannya.
"Yatta! Aku sembuh!" Charla bangkit setelah tidak merasa mual lagi.
"Terima kasih, Flo… uwek..." Sayangnya efek dari sihir yang Fluffy berikan tidak bertahan lama untuk seorang mabuk kendaraan kelas berat seperti Charla.
"Ehh~! Kenapa sihirku tidak bekerja." Fluffy tidak mengerti apa penyebabnya.
"Sudah biarkan saja, Flo. Sihirmu tidak akan berpengaruh untuk orang sepertinya." Zero menyerah memikirkan cara untuk mengobati penyakit mabuk kendaraan yang dialami Charla. Sherria yang mengenal penyakit mabuk kendaraan kakaknya dari awal sudah menyerah lebih dulu.
__ADS_1
Perjalanan mereka masih terus berlanjut diiringi tawa dan canda dalam hangatnya suasana siang. Kereta kuda itu membawa mereka semua menuju kota Belius. Dengan kecepatan kereta kuda itu mereka akhirnya bisa sampai di kota itu lebih cepat.
"Kita sudah sampai, Tuan."