
Belasan monster tumbuhan kini muncul tak jauh di depan Zero, Charla dan Sherria. Ukurannya lumayan besar dengan tinggi kurang lebih tiga meteran serta kuncup bunganya menampilkan deretan gigi yang runcing dan terkesan menakutkan.
Para penduduk desa yang menyaksikan belasan monster tumbuhan muncul ke permukaan terkejut sekaligus takut karena sebelumnya mereka hanya bertemu dengan salah satunya saja.
Charla dan Sherria yang baru pertama kali ini dihadapkan oleh monster seperti itu pun ikut terkejut dan takut, tetapi mereka berusaha meyakinkan diri dan melawan rasa takut itu karena sekarang mereka bukan lagi gadis lemah seperti dulu. Mereka sekarang sudah mempunyai kekuatan untuk bisa berdiri di samping Zero.
"Charla, Sherria aku akan menjadi umpan. Kalian fokus menghabisi mereka saja." Zero memberi arahan pada mereka. Dia berpikir ini mungkin bisa menjadi momen yang pas untuk menguji hasil latihan mereka selama ini.
"Baik, Zero-sama." Mereka berdua mengerti.
"Hati-hati…" Kalimat itu spontan keluar dari mulut mereka.
Zero tersenyum mendengarnya. Dengan kekuatannya sekarang dia tidak perlu merasa dikhawatirkan lagi, namun meski begitu dia senang mendengar kepedulian mereka terhadapnya.
"Ya. Kalian juga…" Zero mengangguk pelan lalu berjalan santai ke tengah-tengah sekumpulan monster tumbuhan itu. Sedangkan Charla dan Sherria segera bersiap memposisikan diri.
"Oh, disana rupanya." Dengan menggunakan skill Deep Eyes-nya, Zero bisa menemukan letak keberadaan titik lemah dari monster tumbuhan itu.
Zero memanggil kedua pedang andalannya dan bersiap memulai permainan. Saat berada di jangkauannya, belasan monster tumbuhan itu segera menyerang Zero secara bergiliran.
Zero yang tidak ingin diam saja mulai mengaitkan satu pedangnya dan berayun dari satu monster tumbuhan ke monster tumbuhan yang lain.
Melihat monster tumbuhan itu sibuk menyerang Zero, Charla dan Sherria segera melontarkan serangan demi serangan pada monster tumbuhan itu.
Dor!
Dor!
Dor!
"Sebagai sumber dari kekuatan alam, aku memerintahkanmu, putar balikan hukum alam dan ubahlah angin dalam diriku menjadi kekuatan—Typhoon!"
Mereka berdua berhasil menumbangkan satu persatu monster tumbuhan sementara Zero yang menjadi umpan masih berayun layaknya kera menggunakan pedangnya yang ditancapkan pada bagian tubuh monster tumbuhan.
Zero tidak hanya menjadi umpan saja. Dia juga ikut andil menghabisi monster tumbuhan agar semuanya cepat selesai.
"Hebat sekali…"
"Luar biasa…"
"Siapa anak itu sebenarnya…"
Para penduduk desa terkagum-kagum melihat aksi mereka dari kejauhan. Terlebih lagi pada aksi Zero yang begitu berani berhadapan langsung di tengah-tengah sekumpulan monster tumbuhan itu seolah tidak ada rasa takut sedikitpun dan bahkan dia tampak seperti menikmatinya.
Tak lama kemudian semua monster tumbuhan itupun akhirnya tewas berkat kerjasama mereka bertiga.
__ADS_1
"Yatta! Kita berhasil, Sherria." Charla dan Sherria senang berhasil melakukanya mengingat ini untuk pertama kalinya mereka melawan monster.
"Masih belum…" Zero tidak melihat hanya dengan mengalahkan monster tumbuhan itu semuanya telah selesai.
Zero menghampiri batang pohon besar itu yang menjadi letak dimana titik lemah tumbuhan parasit tersebut berada.
Saat empat meter lagi sampai, monster tumbuhan lain yang ukurannya tiga kali lebih besar dari yang sebelumnya muncul, melindungi pohon besar di belakangnya.
"Sepertinya kau bossnya…" Zero mengeluarkan api merah kelam di ujung jarinya lalu menjentikkannya ke arah monster tumbuhan itu. Seketika api yang semula hanya seukuran ujung lilin itu kian membesar, mel*mat habis monster tumbuhan itu hingga kering dan mengubahnya menjadi abu.
Charla dan Sherria yang semula sudah memposisikan diri bersiap menyerang saling melemparkan senyuman saat melihat Zero mampu menghabisi monster tumbuhan yang besar itu dengan begitu mudahnya. Sedangkan para penduduk desa tercengang sampai kesulitan berkata-kata menyaksikannya.
"Dengan ini berakhir sudah…" Zero menebas pohon itu hingga tumbang dan menemukan sebuah kristal berwarna hijau di dalam batang bawahnya yang menjadi inti dari tumbuhan parasit itu.
Zero berpikir kristal itu memiliki kualitas harga nilai yang tinggi, oleh karena itu dia mengambilnya.
Charla dan Sherria mendekati Zero dan bertanya saat melihat kristal berwarna hijau gelap itu.
"Kristal apa itu, Zero-sama?"
"Entahlah…" Zero juga tidak tahu benda apa itu sebenarnya.
"Sudah, ayo kita kembali," ajak Zero.
Zero dan lainnya pun kembali ke tempat penduduk desa yang sedang Fluffy sembuhkan.
"Terima kasih Tuan Pahlawan karena sudah mau menolong kami semua," kata kepala desa mewakili yang lainnya.
Semuanya membungkuk hormat, berterima kasih pada Zero dan tiga gadis di sampingnya. Berkat bantuan mereka kini semua penduduk desa bisa kembali pulih seperti semula dan tumbuhan parasit yang mengganggu kehidupan mereka telah tiada.
"Tidak perlu berterimakasih. Sudah cepat sini berikan imbalannya." Zero mengulurkan tangannya pada mereka.
Para penduduk desa saling berpandangan sebelum kepala desa maju dengan membawa sekantong koin emas.
"Maaf, Tuan pahlawan. Kami hanya bisa memberikan tiga ribu koin emas saja. Semua uang kami sebelumnya sudah kami habiskan untuk mereka yang sedang sakit," kata kepala desa terdengar muram.
"Masih kurang, "Zero menolak sekantong koin emas itu kemudian terkekeh pelan, "Kalian pikir bisa membayar semua yang telah kami lakukan hanya dengan tiga ribu koin emas saja? Jangan membuatku tertawa."
Ketiga gadis di sampingnya seperti biasa hanya bisa mengamati dalam diam tanpa ingin menyela perkataan Zero meskipun sejujurnya mereka berharap Zero mau memberikan kemudahan bagi penduduk desa tersebut.
Semua penduduk desa kini terdiam. Mereka telah salah karena mengira bocah di depannya sebagai seorang dermawan. Mereka pikir Zero ikhlas mengulurkan tangannya untuk membantu mereka, tapi nyatanya ternyata Zero ada maunya.
"Kalau Tuan Pahlawan datang lagi kesini kami berjanji akan membayar semuanya," kata kepala desa memohon agar Zero memberikan kemudahan.
"Tidak mau. Aku maunya sekarang," tegas Zero
__ADS_1
"Tapi kami tidak memiliki apapun lagi. Kumohon, tolong pengertiannya..." Kepala desa bersujud, berusaha agar Zero mau memberikan kemudahan bagi semua orang di desanya.
"Ada!" Salah satu penduduk desa berseru dan maju ke depan,"Ada. Kita masih mempunyai sesuatu yang bisa diberikan padanya."
Kepala desa membangkitkan dirinya kembali dan memandangi pria yang sedang berbicara itu. Zero menaikkan sedikit alisnya, penasaran apa yang akan pria itu berikan.
"Kalian para petualang sedang dalam perjalanan bukan?" tanya nya.
"Ya." Zero mengangguk pelan.
"Kalau itu semua masih belum cukup, aku bisa memberikan kereta kudaku untuk kalian," kata pria itu.
Zero tersenyum tipis, merasa imbalan itu lumayan bagus untuk mempercepat dirinya sampai ke tempat tujuannya.
"Tunggu dulu. Bukannya itu satu-satunya benda berharga peninggalan ayahmu. Dan lagi bagaimana nanti kau bekerja jika tidak ada kereta itu." Kepala desa seperti ingin menolaknya.
"Kepala desa, jangan tanggung semua ini sendirian hanya karena kau menganggap ini semua salahmu," kesal Pria itu sambil memegang kerah baju kepala desa.
Perkataan pria itu disetujui oleh yang lainnya. Mereka juga ikut merasa bersalah karena sebelumnya telah setuju agar kepala desa menanam benih tanaman itu.
"Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan mencari pekerjaan lain nanti," tegasnya melepas kerah bajunya kembali.
"Kalau masih kurang, kami juga akan menyerahkan semua barang berharga milik kami!" seru salah seorang penduduk desa di belakang yang segera diikuti yang lainnya.
"Kalian semua…" Kepala desa terharu mendengarnya.
Semuanya yang ingin ikut membantu segera kembali ke rumahnya masing-masing dan mengambil semua benda berharga miliknya untuk diserahkan pada Zero.
"Tunggu aku akan segera membawa kereta kudanya kesini." Pria itu menyusul yang lainnya diikuti kepala desa di belakangnya.
Tidak ada lagi yang tersisa di tempat itu. Semuanya kini sedang sibuk mengambil barang berharga yang mereka punya.
"Zero-sama, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Charla akhirnya bersuara setelah mereka semua pergi. Dia merasa kasihan pada penduduk desa ini. Sherria dan Fluffy pun ikut merasa demikian.
"Begitukah?" Zero tidak terlalu menanggapi perkataan Charla meski mengerti apa yang dirasakannya.
Charla menghela nafas pelan, memutuskan diam dan tidak ingin banyak protes lagi.
Beberapa menit kemudian, semuanya akhirnya berkumpul kembali dengan membawa barang berharganya masing-masing untuk diserahkan pada Zero.
Kepala desa dan pria itu juga kembali dengan membawa kereta yang biasa digunakan untuk memuat barang dan ditarik oleh dua ekor kuda.
Semua benda berharga yang mereka punya diletakkan di depan Zero. Baik perhiasan sampai benda lainnya yang bernilai diserahkan untuk imbalan atas jasa yang telah Zero dan lainnya berikan.
"Bagaimana? Apa semua ini cukup?" tanya kepala desa.
__ADS_1
Zero tersenyum melihat semua barang-barang di depannya sebelum sudut bibirnya meninggi.
"Masih kurang…"