
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
"Tidak peduli seberapa hancur tubuhku, selama aku masih bisa berdiri dan memegang senjataku, aku bersumpah akan mengalahkan setiap musuhku…"
"Berserker..."
Perubahan penampilan Akira mengejutkan kedua orang yang tengah menyaksikan. Baik Thamuz maupun Charla tidak ada satupun yang mengira kalau sosok anak kecil yang mereka lihat sekarang ini bisa mempunyai wujud semenakutkan itu.
"Tidak bisa dipercaya...bagaimana bisa seorang manusia kecil sepertimu mempunyai wujud seperti ini...s-siapa kau sebenarnya?!"
Ketakutan terlihat jelas di wajah Thamuz lantaran wujud Akira sekarang seperti mengingatkannya pada sosok yang sangat ditakuti diantara rasnya sendiri. Apalagi saat merasakan aura sihir tidak biasa yang terpancar di dalam tubuhnya, hal itu berhasil membuat tubuh Thamuz bergetar.
"Akira-san…" Charla sendiri hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, sama-sama tidak mempercayai kalau sosok yang dia lihat saat ini adalah Akira. Baru pertama kali ini Charla melihat sosok Akira yang seperti ini setelah hari-hari sebelumnya dia selalu bersamanya.
Kembali pada kondisi Akira. Perubahannya saat ini menjadi ciri kalau dia kini sudah masuk ke dalam mode berserker-nya, yang dimana kekuatan, kecepatan, ketangkasan, persepsi serta ketahanannya kini meningkat berkali-kali lipat.
Mode berserker ini merupakan kemampuan khusus class warrior yang menjadi salah satu class terkuat diantara tiga class milik Akira yang dia dapatkan setelah dirinya berhasil mencapai level 50 ke atas.
Bisa dikatakan, sampai saat ini pun Akira masih belum benar-benar mahir menggunakan mode berserker-nya. Alasannya karena pada saat Akira masuk dalam mode ini dia tidak sepenuhnya bisa mengontrol dirinya dengan baik dan kadang sering lepas kendali.
Oleh karena itu Akira selalu berpikir lebih jauh dulu sebelum memutuskan untuk menggunakan mode ini.
Dan satu hal lagi, efek lain dari mode berserker ini juga membuat kelima indra Akira menghilang dan diganti oleh indra baru yang membuat persepsinya pada sesuatu yang ada di sekitar meningkat berpuluh-puluh kali lipat. Efek ini akan sangat berguna untuk menghindari pengaruh ilusi Thamuz.
Memang sudah jelas, mode ini dia gunakan sekarang demi bisa membalaskan perbuatan Thamuz sebelumnya yang benar-benar sudah membuatnya murka.
"Charla, maaf karena sudah membuatmu takut..." Akira menoleh sedikit memperlihatkan senyuman tipis pada Charla. Dia sadar akan penampilannya sekarang yang menakutkan.
Melihat Akira masih bisa tersenyum rasa takut pada diri Charla sedikit berkurang. Charla menggeleng pelan ikut tersenyum membalas senyuman Akira,"Tidak juga…"
"Manusia! Jawab pertanyaanku! Siapa kau sebenarnya!!" Thamuz berseru lantang memecah perhatian mereka dengan rahangnya bergetar.
Padangan Akira kembali ke depan, menatap Thamuz dengan tatapan tajam sebelum sejurus kemudian dia tiba-tiba sudah berdiri di depan Thamuz.
"Sudah kubilang bukan, aku adalah pemeran utama di panggung ini — di panggung yang akan menjadi tempat kematianmu…" Suara Akira terdengar dingin di telinga Thamuz, membuatnya menelan ludah serta berkeringat dingin.
Sebelum Thamuz sempat bereaksi sebuah tendangan yang begitu keras tiba-tiba mendarat di bagian perutnya, membuat Thamuz terpukul mundur sangat jauh hingga menghancurkan pepohonan yang tidak bisa menahan beban tubuhnya.
Akira menoleh sekali lagi ke Charla dan berkata,"Charla tunggu disini, aku akan segera menyelesaikannya."
__ADS_1
Charla dengan patuh mengangguk.
Dalam satu hentakan kaki, Akira melesat menyusul Thamuz dengan kecepatan tinggi sampai mampu mengimbangi laju Thamuz yang masih belum berhenti terpukul mundur ke belakang.
Ketika jaraknya dekat, Akira menendang kembali perut Thamuz ke atas hingga membuatnya beralih haluan melayang tinggi di udara.
Akira ikut melesat ke atas dan kali ini dengan menggunakan senjatanya Akira mengarahkan serangannya untuk menebas tubuh Thamuz.
Namun tebasan itu dengan cepat berhasil di tahan oleh Thamuz dengan mengangkat kedua tangannya yang membentuk cakar. Meski begitu, cakar yang berbenturan dengan pedang Akira seketika hancur karena tidak kuat menahan serangan dari tebasannya tersebut.
Thamuz pun akhirnya terpukul balik ke bawah dengan begitu cepat dan mendarat seperti meteor yang jatuh menghantam tanah. Dampak dari jatuhnya Thamuz ke tanah menghasilkan lubang yang cukup besar dengan sedikit keratakan terbentuk di tanah.
"Kenapa manusia kecil ini kuat sekali…" Thamuz mengerang kesakitan. Serangan-serangan Akira barusan menyadarkannya kembali akan rasa sakit yang sudah lama tidak dia rasakan.
Melihat Akira yang masih di udara dan seperti ingin mendaratkan serangannya kembali, Thamuz dengan cepat bangkit dari posisinya kemudian bergerak mundur untuk menghindar.
Pada saat Akira mendarat ke tanah, sebuah lubang yang semula cukup besar akibat hantaman Thamuz seketika berubah menjadi sangat besar diikuti dengan gelombang kejut yang menghasilkan hembusan angin yang sangat kencang.
"Siapa sebenarnya manusia kecil ini…" Thamuz sampai dibuat bergeser dari posisinya saat terkena dampak dari gelombang yang Akira hasilkan.
Thamuz mendengus kasar saat hembusan angin itu berhenti, "Tidak ada pilihan lain. Aku harus melawannya dengan serius. Akan sangat memalukan jika aku kalah melawan manusia..."
"Hahh!!!"
"Percuma...kau tidak akan bisa menang melawanku meski dalam bentuk seperti itu." Akira berjalan santai keluar dari lubang yang besar itu dan mendekati Thamuz sambil menatapnya penuh amarah.
"Jangan sombong dulu, manusia!! Makhluk rendahan sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!!"
Thamuz bergerak lebih dulu mendekati Akira dan mengarahkan kukunya untuk bersiap menerkamnya
Akira bergerak menyusul Thamuz dan menyambut serangannya dengan penuh tatapan bengis.
Amarah yang begitu besar yang sejak tadi menumpuk dalam diri Akira membuat mode berserker-nya semakin bertambah kuat. Hal itu bisa terlihat dari pertarungan mereka sekarang. Meski kekuatan Thamuz kini meningkat namun dihadapan Akira dia masih belum bisa menandinginya.
"Seberapa kuat dia sebenarnya." Thamuz bergerak mundur setelah merasa tidak bisa menandingi kekuatan Akira.
Nafas Akira mulai memburu, setiap hembusan nafasnya mengeluarkan uap. Dia tampak masih sangat murka pada Thamuz dan belum bisa tenang sebelum bisa membalas perbuatannya tadi.
"Ahh!!!" Akira berteriak sangat kencang sampai Charla yang berada di kejauhan yang mendengarnya merasa cemas.
"Akira-san..." Charla yang merasa cemas pun melanggar kembali perkataan Akira dan mulai bergerak menghampirinya.
Sesaat berikutnya selepas Akira berhenti berteriak, Akira bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata Thamuz. Dia tiba-tiba muncul di segala arah dari mulai belakang, depan, samping kiri, kanan selagi terus mendaratkan satu tebasan mematikan di setiap perpindahan tempatnya yang berhasil membuat Thamuz lambat laun dipaksa terjatuh dalam posisi berlutut.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melihatnya..."
Terakhir Akira melayang tinggi di udara tanpa disadari oleh Thamuz kemudian melesat kembali ke bawah, ke arah Thamuz dan mendaratkan serangan terakhir mematikan yang mendarat di bahunya.
"Ah...kau pasti bukan manusia..."
Serangan terakhir tersebut membuat Thamuz terhuyung ke belakang dan terjatuh dalam posisi terbaring.
Thamuz benar-benar dibuat tidak berdaya di hadapan Akira. Kecepatan Akira tidak bisa diikuti oleh matanya, begitupun dengan kekuatan serangnya yang tidak pernah dia sangka akan mampu menembus ketahanan tubuhnya yang setahunya sangat sulit untuk ditembus.
Tubuh Thamuz perlahan kembali menyusut seperti semula. Luka tebasan terlihat di setiap bagian tubuhnya. Dia tidak bisa berdiri maupun bergerak. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya menunggu kematian menjemputnya.
Akira mendekati Thamuz yang sudah tidak berdaya itu. Dia melompat dan mendarat di tubuhnya lalu menancapkan kedua pedangnya itu di masing-masing tangan Thamuz.
Thamuz kembali mengerang kesakitan, menatap Akira penuh kebencian.
"Benar-benar memalukan... seorang iblis yang mempunyai tugas untuk menyiksa semua makhluk di neraka ternyata kalah dengan cara seperti ini." Akira membalas tatapan Thamuz dengan senyuman menghina.
"Kau tidak pantas mendapatkan tugas seperti itu. Kau jauh lebih pantas menjadi tukang bersih-bersih saja di neraka." Akira tertawa kecil di ujung kalimatnya.
"Bagaimana kalau sekarang aku yang mengganti tugasmu?" Akira mengeluarkan belati di pinggangnya lalu tersenyum dengan cara yang menakutkan.
Thamuz balas tersenyum menatap Akira sebelum secara tiba-tiba matanya berubah membentuk pola bintang yang mana jika seseorang melihatnya akan terpengaruh oleh ilusinya.
"Kena..."
"Ups, sepertinya ilusimu tidak akan berpengaruh lagi padaku." Akira terkekeh mengejek.
"Bagaimana bisa..." Senyuman Thamuz seketika hilang diganti raut wajah heran dan terkejut.
"Hahaha! Karena aku sama sekali tidak bisa melihatmu." Akira tertawa puas sebelum menusukan belatinya itu tepat di mata sialan yang tadi sudah membuatnya menderita.
"Argh!!!" Thamuz meronta-ronta kesakitan namun tidak bisa melepas pedang yang menancap di kedua tangannya itu untuk melepaskan belati yang menancap matanya.
"Hahaha!!" Akira tertawa puas menikmati penderitaan Thamuz. Dia mengambil kembali belatinya dan menusukannya pada mata Thamuz yang satunya.
"Argh!!!"
"Hahaha!!"
Jeritan Thamuz tidak kalah kuat dengan tawaan Akira.
"Sekarang kau juga akan merasakan siksaan neraka yang sesungguhnya..."
__ADS_1