
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Zaltra memandu Akira ke tempat seluruh rasnya yang sudah sejak tadi berkumpul. Sepanjang perjalanan, Akira bisa melihat kuil bawah laut itu dipenuhi oleh berbagai macam lukisan kuno serta patung-patung hewan laut yang berjajar rapi di masing-masing sisi.
Akira juga menemukan ruangan-ruangan seperti kamar yang sama dengan ruangannya tadi. Dia bisa menebak itu pasti tempat yang digunakan oleh para ras duyung untuk beristirahat.
Setibanya di tempat tujuan, Akira melihat sekumpulan ras duyung yang jumlahnya berkisar ratusan—dari mulai yang tua sampai yang seumuran dengannya, baik laki-laki maupun perempuan— tengah berkumpul di satu tempat terbuka yang cukup luas dengan tanah berkarang sebagai pijakan, sementara air berwarna biru cerah melingkupi langit dan area tempat ini.
'Apa aku berada di dalam air?' Akira mengamati langit di atasnya sejenak, tidak mengerti dengan cara kerja tempat yang kini dia pijaki.
Pada saat Akira melihat kembali ke masing-masing sekumpulan ras duyung itu, dia menemukan tatapan-tatapan tidak suka menyambut kedatangannya bersama Zaltra. Satu persatu cibiran yang menusuk hati pun mulai keluar dari mulut mereka.
Akira yang mendengarkan hanya menanggapi ocehan mereka dengan sikap malas. Dia sudah menebak jika hal seperti ini kemungkinan akan terjadi.
"Hei, lihat... ternyata benar, orang yang dibawa oleh kepala suku adalah manusia…"
"Apa yang dilakukannya. Kenapa bisa dia membawa manusia sialan ke tempat ini."
"Entahlah, apalagi manusia itu hanyalah seorang bocah."
"Tidak bisa dipercaya."
Semua ras duyung yang berkumpul tidak menyangka kalau sosok manusia yang Zaltra bawa itu ternyata hanyalah seorang bocah.
Zaltra yang mendengarkan gunjingan mereka segera memutuskan untuk buka suara karena takut membuat Akira merasa tersinggung dan membatalkan niatnya untuk membantu.
"Saudaraku sekalian! Tolong jangan salah paham dulu! Dia bukan manusia biasa seperti yang kalian kenal! Dia adalah sosok Makhluk Agung yang selama ini sudah kita tunggu-tunggu! Dia yang akan menyelamatkan kita dari tempat ini!" seruan Zaltra menggema keras di tempat itu, sebelum sedetik kemudian salah seorang dari mereka dengan cepat memecahnya.
"Bicara apa kau, Zaltra! Bagaimana caranya seorang bocah manusia itu menyelamatkan kita? Apa kau sedang bercanda?!" Meskipun Akira berpenampilan layaknya seorang petualang bagi mereka bocah tetaplah bocah.
"Benar! Kami tidak percaya kalau manusia sepertinya adalah Makhluk Agung!" Salah seorang ras duyung yang lain dengan cepat menimpali.
"Tidak mungkin sosok yang akan menyelamatkan kita semua adalah seorang manusia! Terlebih dia hanyalah seorang bocah! "
"Benar! Benar! Benar!" Perkataan itu segera disetujui oleh hampir keseluruhan ras duyung yang berkumpul di tempat itu, membuat heboh suasana.
Akira menyunggingkan bibirnya lalu bergumam pada Zaltra, "Sepertinya kau telah gagal memastikan mereka untuk percaya, Zaltra. Apa yang akan kau lakukan sekarang."
Zaltra menjadi gelisah mendengar perkataan Akira karena sebelumnya dia sudah berjanji untuk memastikan seluruh rasnya mau menerima uluran tangan darinya. Dia tidak ingin Akira membatalkan niatnya itu.
"Kalian semua, tolong dengarkan dulu penjelasanku!"
"Apanya yang perlu di jelaskan!" Belum sempat Zaltra ingin melanjutkan penjelasannya salah seorang dari mereka sudah lebih dulu menyergah perkataannya.
__ADS_1
"Sepertinya kau sudah gila, Zaltra! Kau meminta bantuan pada seseorang yang sudah membuat kita terjebak disini! Terlebih seseorang yang kau bawa itu hanyalah manusia sepertinya! Bagaimana caranya dia menyelematkan kita dari tempat ini! Berhentilah bercanda!" Salah seorang dari mereka berseru habis-habisan mengkritisi Zaltra.
"Kau membuat kami kecewa, Zaltra!"
"Benar!"
"Benar!"
"Kau tidak pantas menjadi pemimpin kita lagi!"
Semua orang yang berkumpul bukan hanya menyeruakan ketidaksukaannya terhadap Zaltra dan Akira, satu demi satu dari mereka mulai menggunakan kekerasan dengan melempar batu-batu kecil ke arah mereka berdua.
"Pembohong!"
"Dasar makhluk hina!"
"Pergi kau manusia! Menjauhlah dari pandanganku!"
"Manusia sialan! Gara-gara dirimu kita semua terjebak di tempat ini!"
Akira tersenyum tipis menanggapi sikap mereka tanpa peduli dengan kerikil yang terus mengenainya.
"Kau bisa lihat sendiri, Zaltra. Apakah seperti ini cara kalian memperlakukan sosok pahlawan yang akan membantu kalian? Konyol sekali..." kata Akira dingin dan berhasil membuat Zaltra menelan ludah serta berkeringat dingin.
Zaltra menjadi semakin gelisah. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, apalagi saat merasakan aura sihir yang terpancar dari tubuh Akira semakin terasa kuat. Dia sebisa mungkin berusaha untuk segera menenangkan rakyatnya.
"Kumohon hentikan saudara-saudaraku! Kalian dengarkan dulu penjelasanku!"
"Enyah kalian dari sini!"
"Manusia sialan! Gara-gara bangsamu kami semua disini hidup menderita!"
"Kau mati disini pun masih belum cukup untuk mengobati rasa sakit yang kami rasakan selama ratusan tahun ini."
"Benar! Benar! Benar!"
"HENTIKAN!!" jeritan Zaltra seketika membuat mereka semua berhenti melempari dan mendadak suasana menjadi hening, tidak ada satupun suara yang terdengar dari mulut mereka.
Akira sendiri yang berada tidak jauh di sampingnya sampai mengernyitkan wajahnya karena tidak tahan mendengar teriakan Zaltra.
Zaltra menghela nafas panjang merasa lega karena akhirnya mereka berhenti juga. Setelah itu dia berkata, "Dengarkan dulu penjelasanku. Kutekankan sekali lagi, dia tidak seperti manusia yang kalian kenal. Aku menemukannya saat itu sedang melawan Binatang Jahanam seorang diri. Kemungkinan dia adalah sosok yang selama ini kita tunggu. Tolong percayalah, aku bersumpah demi apapun itu. Bersama dia aku yakin kita bisa mengalahkan Binatang Jahanam itu.
Aku yakin dia akan membantu kita keluar dari tempat ini. Meskipun kalian tidak menyukainya karena dia manusia, untuk kali ini kumohon hilangkan ego kalian. Semua ini kita lakukan demi bisa terbebas dari tempat ini. Kalian ingin bebas, kan? Bukankah kalian sudah lelah terus-terusan berada di tempat ini?" Zaltra menceramahi mereka dengan sungguh-sungguh dengan harapan perkataannya ini bisa tersampaikan pada setiap orang yang berkumpul di tempat itu.
Di sisi lain, Akira cukup terkesan dengan sikap kepemimpinan Zaltra. Akira bisa menilai Zaltra adalah sosok yang rela berbuat apapun demi kebaikan bersama.
Semua orang yang berkumpul mulai mendiskusikan perkataan Zaltra. Ada yang mulai percaya dan ada juga yang masih sungkan untuk mempercayai kenyataan itu.
__ADS_1
Di satu sisi memang benar mereka ingin terbebas dari tempat ini namun di sisi lain yang mereka harapkan untuk terbebas dari tempat ini bukan dengan cara seperti ini, kalau dengan begini sama saja seperti mereka menjilat kotorannya sendiri, itu yang mereka pikirkan.
Di tengah kesibukan mereka memutuskan apakah harus mempercayai perkataan Zaltra atau tidak, tiba-tiba Faltra dari belakang datang memecah perhatian mereka dengan seruannya.
"Jangan dengarkan kakak ku yang bodoh ini! Dia sudah gila!"
Pandangan semua orang segera terarah pada siluet Faltra yang terlihat muncul di belakang Zaltra.
Sementara Akira yang mengetahui Faltra hadir di tempat itu berdecak malas tanpa berbalik, 'Sang pengacau telah tiba, ' batin Akira.
"Faltra, apa yang kau bicarakan! Jangan ikut campur!" Zaltra berbalik, melebarkan matanya menatap kehadiran Faltra.
"Sekali lagi jangan dengarkan dia! Tidak mungkin seorang bocah seperti dia menyelamatkan kita semua dari tempat ini! Kalian masih punya mata, kan? Coba lihat baik-baik!" Sosok Faltra akhirnya terlihat oleh mata semua orang. Dia tampak tengah berdiri tidak jauh di belakang Zaltra.
Akira menghela nafas mendengar perkataan Faltra yang membuat keputusan semua orang seketika menjadi goyah. Padahal baru saja keadaan yang runyam ini bisa menjadi terkendali, semuanya karena kehadiran Faltra. Dasar pengacau...
"Benar juga apa yang dia katakan."
"Masuk akal."
"Iya, aku setuju."
Semua orang mulai setuju dengan apa yang Faltra ucapkan, karena menurut mereka itu terdengar sangat logis.
"Faltra, hentikan! Jangan mempersulit keadaan!" Zaltra berjalan mendekati adiknya tuk berniat menghentikannya.
Namun sebelum itu terjadi, Faltra sudah lebih dulu memukul perut Zaltra hingga membuatnya pingsan sekaligus membuatnya terbungkam.
"Kau yang diam, kakak bodoh. Dan anggap itu sebagai pembalasanku tadi." kata Faltra pelan menatap kakaknya yang terkapar.
Semua orang yang menyaksikan aksi Faltra terkejut. Begitupun dengan Akira. Dia mulai merasa tidak suka dengan sikap Faltra.
Setelah Zaltra tidak sadarkan diri, Faltra kemudian berjalan santai mendekati Akira.
"Lebih baik bocah manusia ini kita siksa saja dia disini sampai mati, bagaimana?" Faltra berdiri di belakang Akira. Tersenyum lebar ke arah kerumunan. Sedangkan Akira hanya tersenyum tipis menanggapi kebodohan Faltra.
"Dengan begitu rasa sakit kita terhadap manusia akan sedikit berkurang..." Menggunakan kedua tangan, Faltra mulai memegang bahu Akira secara lembut lalu beralih ke lehernya kemudian meremasnya secara perlahan.
"Bagaimana menurutmu bocah—"
Crat!
Kata-kata Faltra seketika terhenti tepat setelah Akira mengangkat satu tangannya bersamaan dengan seluruh tubuhnya berubah menjadi gumpalan daging.
Semua yang menyaksikan hal itu terkejut bukan main dengan apa yang baru saja terjadi. Pada saat yang sama semuanya segera menyadari sosok yang sudah melakukan hal yang memualkan itu tidak lain adalah seorang bocah yang sejak tadi mereka hina.
"Jangan kotori bajuku dengan tangan kotormu, sampah..." Akira membersihkan bekas-bekas pegangan Faltra yang menurutnya menjijikan.
__ADS_1
Dia kemudian menatap kelam sekumpulan ras duyung itu. Semuanya bisa melihat dalam tatapannya terkandung kegelapan yang menakutkan dan membuat semua ras duyung itu menelan ludah secara bersamaan.
"Nah, begini baru lebih baik. Kalian semua para pemeran figuran lebih baik diam saja seperti ini. Jangan ganggu jalan ceritaku, mengerti?"