Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Bantai


__ADS_3

Melihat bocah bertopeng itu mampu membunuh salah satu dari mereka hanya dalam sekali tarikan nafas saja, mereka jelas tidak mungkin tidak terkejut.


Belum berhenti terkejut oleh aksi Zero, mereka semua—bukan hanya di tempat Zero saja— kembali dikejutkan oleh kemunculan sesosok naga putih yang meraung kencang turun dari langit.


"Na-Naga...tidak mungkin…" Semuanya yang menyaksikan membuka mulut dan matanya lebar-lebar, tidak bisa percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.


"Bagaimana bisa makhluk seperti itu ada disini…" kata pemimpin A yang tidak kalah terkejut menyaksikannya.


"Yang Mulia, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa jadi seperti ini..." Pemimpin pihak sebelah pun sama terkejutnya.


Gwoar!


Saat turun, naga putih yang melayang di udara itu mengeluarkan gelombang angin yang sangat kuat dari mulutnya, menyapu mereka yang ada di bawahnya, membuat mereka terpontang-panting hingga tewas.


"Flo…" Zero tersenyum tipis dari balik topengnya melihat temannya sudah beraksi.


"Ahh!"


"Pergi dari sini!"


"Selamatkan diri kalian!


Mereka semua yang sedang berperang menjadi panik dan jelas sekali ketakutan. Mereka tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mereka tidak ada lagi yang memiliki semangat bertarung seperti sebelumnya saat mengetahui musuh yang jauh lebih menakutkan muncul di hadapannya.


Situasi perang mulai tidak bisa dikendalikan.


Hanya mereka yang berada di luar saja yang masih beruntung mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. Mereka yang masih sayang nyawanya segera kabur meninggalkan lokasi peperangan.


"Kelihatannya kalian tidak sedang beruntung…" Zero terkekeh melihat kedua belah pihak yang berada di luar proyeksi berhamburan menyelamatkan diri.


"Kasihan sekali…" Pandangannya beralih ke mereka yang masih terkejut melihat aksinya.


"Mo-monster!!" Suara salah satu dari mereka menyadarkan keterkejutan semua orang yang menyaksikan.


"Si-siapa kau!" Semuanya tidak peduli lagi dengan musuh yang seharusnya dilawan dan lebih memusatkan perhatiannya pada Zero yang keberadaannya jauh lebih menakutkan.


"Entahlah."


Tidak ingin menjawab pertanyaan mereka, Zero mulai melanjutkan aksinya, membantai satu demi satu dari mereka. Semuanya kini serempak saling bekerja sama menghadapi Zero tanpa peduli dengan musuh yang seharusnya mereka lawan.


Menggunakan kedua pedangnya yang bisa memanjang ke segala arah, Zero memutarnya dengan cepat layaknya baling-baling. Tubuh mereka yang berada di jangkauan itu seketika terbelah saking tajam dan menakutkannya pedang tersebut.


"Hahaha! Benar, ini tempat yang cocok untuk mendapatkan Orb yang lebih banyak." Zero tertawa selagi terus membantai mereka.


Efek dari pedang milik Zero membuat jumlah Orb yang didapat dari setiap kali membunuh meningkat beberapa kali lipat sehingga Orb-nya yang sebelumnya terkuras habis kini bertambah kembali.


"Sial! Kenapa ini, tubuhku tidak bisa bergerak…"


Zero bukan hanya menggunakan pedangnya saja. Dia juga mengeluarkan aura sihirnya dan membuat mereka yang berada di jangkauannya mematung tidak bisa bergerak dan memudahkannya membunuh mereka semua dengan cepat.


Aura sihir yang merupakan kemampuan khusus dari class Magician akan semakin efektif jika digunakan melawan musuh yang banyak.

__ADS_1


"Ada apa disana?"


"Apakah ada monster lain lagi selain naga itu."


Pandangan semua orang yang awalnya terarah pada naga itu kini mulai teralihkan ke satu tempat saat mendengar jeritan-jeritan mereka yang ketakutan terdengar keras di sana.


Di waktu yang sama, di sisi lain, di tempat kedua orang pemimpin itu berada. Mereka berdua semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Pertama naga, sekarang apa lagi?" Pemimpin A mendengar jeritan-jeritan kematian di salah satu arah. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa situasinya jadi semakin rumit?! Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?!" Wanita yang menjadi pemimpin di pihaknya menggenggam erat pedang di tangannya, terlihat frustasi.


"Dasar monster!" Mereka yang sedang dihadapkan dengan Zero dan Fluffy sebagian memutuskan kabur menyelamatkan diri namun sialnya mereka tidak bisa menghancurkan proyeksi yang mengurungnya itu dan hanya bisa berteriak meminta pertolongan, berharap ada seorang pahlawan datang membawa keajaiban.


"Tolong! Siapa saja kumohon!"


"Bebaskan kami dari sini!"


"Aku masih mempunyai keluarga…aku masih belum mau mati…tolong selamatkan aku…"


Mereka yang mencoba keluar dari tempat itu terlihat frustasi saat mengetahui malaikat kematian sedang mendekat. Kedua pemimpin mengernyitkan dahi melihatnya sambil menggumamkan kalimat yang sama: Apa yang mereka lakukan...


Satu persatu di bantai oleh Zero. Mereka yang berperang ternyata tidak hanya sekelompok orang yang menggunakan senjata saja. Sebagian dari mereka juga ada yang menggunakan sihir dengan tongkat sebagai senjata untuk menyalurkan sihirnya. Meskipun begitu, mereka semua tidak ada satupun yang bisa melukai Zero.


(5584/8000)


Jumlah mereka yang tewas dalam beberapa menit bertambah pesat hanya dengan satu anak kecil dan seekor naga saja.


"Kita tunda dulu pertarungan kita. Aku ingin melihat siapa sosok yang ada disana. Kemungkinan dia dalang dibalik semua ini..."


"Ya. Aku juga ingin memastikannya."


Mereka segera bergerak menuju sumber suara. Setibanya disana kedua pemimpin itu melihat semua orang yang ada di sana mematung tidak berdaya, dan satu demi satu dari mereka tewas oleh pedang yang melayang ke segala arah. Jeritan ketakutan dan keputusasaan terus menggema di tempat itu.


"Ada apa ini. Kenapa mereka hanya diam saja. Siapa sebenarnya orang yang ada disana.…"


Kedua pemimpin itu masih belum melihat sosok di balik aksi keji itu selain pedang yang terus melayang tanpa arah membunuh satu demi satu mereka, memotong tubuh mereka layaknya mesin pemotong rumput.


Sampai ketika sebagian kerumunan mereka yang tidak bisa bergerak itu tersapu oleh pedang itu, kedua pemimpin itu bisa melihat seorang anak kecil bertopeng muncul dari balik tumpukkan mayat.


"Monster…"


"Iblis…"


Hanya dalam sekali lihat saja mereka langsung menebak kalau bocah itu pastilah bukan manusia. Apalagi saat melihat dia tengah bermandikan darah rekan-rekannya dan masih terus mengayunkan pedangnya membunuh mereka yang berada di jangkauannya tanpa ampun.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya wanita itu terdengar ketakutan pada pemimpin yang tadi menjadi lawannya. Dia tidak lagi mempunyai semangat untuk memenangkan peperangan ini. Yang ada dipikirannya saat ini yaitu bagaimana menyelamatkan nyawanya sekarang. Masalahnya dia sadar dia kini tidak bisa kemana-mana.


"Aku pun tidak tahu…" Pemimpin A tidak bisa berkedip saat melihat bocah bertopeng itu. Dia sungguh sulit mempercayai apa yang sedang dia saksikan sekarang.


Zero berhenti melakukan aksinya lalu memandangi kedua pemimpin itu yang sama sekali tidak terpengaruh oleh aura sihirnya.

__ADS_1


"Mereka pasti pemimpinya…" Zero tersenyum dari balik topengnya. Dia kemudian melesat menyerang mereka berdua.


"Kita harus bekerja sama! Dia bukan bocah biasa!"Keduanya segera memposisikan senjatanya menghadang.


Zero menyerang menggunakan lima persen kemampuannya. Dia ingin mengukur seberapa besar kekuatan pemimpin kedua belah pihak itu. Selama beberapa kali pertukaran serangan ternyata mereka masih bisa bertahan meski sedikit terpojokan. Zero pun bergerak mundur.


Mereka berdua masih memposisikan senjatanya bersiaga dan saling berdekatan. Harus diakui keduanya dibuat kesulitan oleh kemampuan Zero yang mereka sadari tidak sedang mengerahkan seluruh kemampuannya dan malah terlihat seperti sedang bermain-main.


"Kalian lumayan juga ternyata…" Zero memandangi mereka berdua yang tampak penuh kewaspadaan.


"Siapa kau sebenarnya! Kenapa kau ikut campur dalam peperangan ini!" teriak wanita yang menjadi pemimpin rekan-rekannya yang Zero bantai.


"Kau pasti bukan manusia! Bagaimana bisa monster sepertimu ada disini?!" Pemimpin A ikut mempertanyakannya.


Zero tidak menjawab. Dia melihat keadaan sekelilingnya sebentar yang tampak sudah tidak terkendali. Dia juga menemukan Fluffy masih membantai mereka yang berusaha kabur.


"Aku akan menjawabnya nanti…"


Zero menghilang ke belakang mereka lalu menyatukan kedua telapak tangannya seiring berkata, "Absolute Prison."


Begitu merapalkan dua kata itu sebuah proyeksi berbentuk persegi mengurung mereka di dalamnya.


"Kalian tunggu dulu disini baik-baik, aku ingin menyelesaikan semua ini terlebih dahulu…" Tanpa menunggu reaksi mereka, Zero melenggang pergi dari hadapan mereka dan melanjutkan aksinya.


"Hei! Apa yang kau lakukan!"


"Keluarlan kami dari tempat ini!"


Kedua orang yang tadi bermusuhan itu kini terkurung di tempat yang sama dan tidak bisa melakukan apa-apa selain mengumpat kesal.


Mengabaikan kedua pemimpin itu, Zero membunuh mereka yang masih tersisa. Biarpun jumlah orang yang harus dibunuh sudah terpenuhi tapi dia terus membunuh tanpa ingin melepaskan satupun BP dan Orb yang dihasilkan dari membunuh mereka.


Hahaha, Apakah dia sudah gila menganggap nyawa manusia hanya sebagai poin untuk statusnya?


Ya, mungkin bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak. Alasannya? Pikir saja sendiri.


Tak lama kemudian, Zero dan Fluffy akhirnya selesai menyapu bersih semua orang yang ada di sana dan hanya menyisakan dua orang yang sejak tadi memandangi aksi Zero dengan wajah penuh ketakutan. Mereka kini sudah pasrah akan yang namanya kematian.


Zero mendekati mereka berdua yang terkurung itu, disusul Fluffy di belakangnya.


"Apa yang ingin kau lakukan pada kami?" tanya pria yang terkurung di sana melihat Zero hanya beberapa jarak dengannya.


Zero tidak menjawab. Dia melihat Fluffy di sampingnya, mengelus sesaat, berkata terimakasih telah membantuku lalu memasukkannya kembali ke dalam cincin.


"N-naga itu...apa naga itu milikmu…" tanya wanita itu terbata-bata ketakutan.


"Baik, karena semuanya sudah selesai aku akan menjawab pertanyaan kalian…" Zero mendekat lebih dekat lagi. Dia mengambil kapsul dari kantong ajaibnya dan melemparkannya ke bawah, seketika sebuah kursi singgasana muncul di sana.


Zero menaiki kursi itu, melipat kakinya sambil bertopang pipi menatap mereka lalu bertanya,


"Jadi sekarang pertanyaan mana dulu yang harus aku jawab…"

__ADS_1


__ADS_2