
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
'Syukurlah zona itu tidak mengejar lagi.' Akira akhirnya bisa bernafas lega saat melihat ke belakang zona merah sudah tidak lagi mengejarnya dan kembali bergerak dengan kecepatan lambat seperti semula.
Akira berhenti bergerak lalu menurunkan Charla dari pangkuannya.
Melihat Akira sudah tenang, Charla memutuskan bertanya, "Akira-san, apa barusan itu?"
"Entahlah, yang pasti itu sangatlah berbahaya." Akira tidak mau memberitahukan yang sebenarnya.
Charla melihat sejenak ke belakang untuk memastikan sebelum pandangannya kembali lagi ke Akira.
"Sekarang sudah aman, jangan terlalu dipikirkan." Akira berjalan santai seperti biasa seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi. Charla mengikuti saran Akira dan berjalan kembali di sampingnya seperti biasa.
Selagi berjalan, Akira membuka panel map itu kembali. Tampak situasi wilayah dari panel map itu berbeda dengan yang sebelumnya. Disana terlihat sebagian wilayah telah dilahap oleh zona merah sementara zona putih hanya tersisa kurang lebih 500 km lagi dan zona kuning tampak tidak lagi terlihat maupun muncul.
'Cepat sekali.' Akira terkejut dalam hatinya saat tahu wilayah aman yang tersisa tinggal sedikit. Seingatnya wilayah zona putih yang tersisa sebelumnya masih berada diatas 1000 km, sedangkan kini setelah kejadian barusan berkurang sampai setengahnya, atau bahkan lebih. Akira merasa ini bukanlah hal yang baik.
Akira beralih melihat ke panel lain di sampingnya untuk mencari tahu waktu yang tersisa sekalian ingin melihat mereka-mereka yang masih hidup.
{9/100} {1 hari| 1 jam| 53 menit| 45 detik}
'Cukup hebat juga mereka tidak ada yang mati. Sepertinya mereka yang tersisa kali ini bukan orang-orang biasa seperti kemarin, ' gumam Akira dalam hati ketika melihat mereka-mereka yang masih hidup.
Pada saat pandangan Akira bergeser ke waktu yang tersisa, Akira seketika tersedak nafasnya sendiri.
"Akira-san, ada apa?" Charla yang melihat hal itu bertanya cemas.
"Ah, bukan apa-apa." Akira mengangkat satu tangannya mengisyaratkan untuk tidak perlu khawatir.
'Tunggu! Ada apa ini?! Kenapa waktunya ikut berkurang?!' Jika saja saat ini tidak ada Charla di sampingnya, Akira ingin sekali berteriak.
Cukup membutuhkan waktu beberapa saat sampai Akira bisa tenang dan mencoba tidak lagi memikirkannya. Akira hanya bisa menyimpulkan alasan mengapa waktu yang dia miliki ikut berkurang kemungkinan besar karena jumlah mereka yang tersisa saat ini tinggal sedikit, atau mungkin ada alasan lain yang tidak dia ketahui.
Saat malam hari tiba, Akira bersama Charla beristirahat seperti biasa. Mereka kali ini beristirahat di tempat yang terbuka, tempatnya juga berbeda karena kali ini terdapat air terjun dengan sungai mengalir yang mempunyai nuansa menyegukan disana.
Bagi Akira mungkin ini adalah malam terakhirnya bersama Charla mengingat waktu yang dia miliki hanya tersisa hitungan jam lagi.
__ADS_1
Sedangkan Charla sendiri tidak tahu kejelasan pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya bisa berharap semoga apapun yang akan terjadi nanti adalah yang terbaik.
Malam itu Akira menghabiskan waktunya dengan berbincang santai, di dekat perapian sambil memandangi air terjun diantara bulan yang tampak bersinar terang.
Akira juga tak lupa memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari tempat ini bersama Charla. Sayangnya berapa kalipun Akira berpikir dia masih belum menemukan jawaban apapun yang memungkinkan.
Akira menatap Charla lamat-lamat, sedikit menyesali karena telah memberikan janji yang tidak pasti padanya. Meski begitu, Akira akan terus berusaha mencari cara demi bisa mewujudkan janjinya itu.
"Akira-san apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Charla saat melihat Akira sejak tadi memandangi wajahnya seakan ingin mengungkapkan sesuatu.
"Tidak..." Akira menggeleng pelan lalu berdiri, "Malam ini aku tidur denganmu lagi boleh?" tanya Akira.
"Boleh." Charla mengangguk ikut berdiri. Mereka berdua pun memasuki tenda bersama kemudian tidur di ranjang yang sama. Mereka berdua tidur dalam posisi menghadap langit.
"Akira-san apa benar kehidupanmu sebelumnya semenyedihkan itu?" tanya Charla memulai percakapan setelah beberapa saat suasananya hening.
"Begitulah...Mungkin duniaku dan duniamu tidak jauh beda. Sama-sama busuk..." ujar Akira.
Malam itu sebelum tidur, mereka saling berbincang membicarakan tentang betapa busuknya dunia mereka, dan di lanjut dengan percakapan santai seperti biasa dengan diselingi candaan.
"Aku masih tidak menyangka, Akira-san bisa kembali lagi ke dalam bentuk seorang anak kecil seperti ini. Terlebih bisa langsung menjadi sangat kuat." Charla terkekeh saat sebelum-sebelumnya Akira sempat menceritakan kalau dia telah mati dan dibangkitkan kembali ke tempat ini dalam bentuk seorang anak kecil dengan kekuatan yang tidak biasa.
"Apalagi aku." Akira mendengus pelan menanggapi reasksi Charla.
Akira tidak menceritakan tentang siapa dirinya semuanya pada Charla. Hanya sebagian saja yang setidaknya mungkin bisa masuk di akal Charla.
Banyak bagian yang Akira tutupi seperti dia tidak menceritakan perjalanannya selama ini di dalam Menara Agung, dari mulai dibangkitkan kembali ke dalam bentuk seorang balita, menjalani siksaan yang bertubi-tubi, sampai kematian yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Charla akan semenyakitkan apa jika Akira menceritakan semuanya padanya.
Waktu terus bergulir, malam yang panjang pun akhirnya sirna diganti oleh siang yang singkat.
Paginya mereka berdua segera berkemas saat Akira menyadari zona merah terus menyusut dengan cepat.
"Sekarang kita harus bergerak cepat sebelum sesuatu yang aneh seperti kemarin menyusul," titah Akira yang segera dibalas anggukan Charla.
{9/100} {0 hari| 12 jam| 39 menit| 54 detik}
Akira cukup terkesan melihat jumlah mereka yang masih hidup tetap utuh. Sesuai dugaannya mereka pasti bukanlah orang biasa, dan Akira berpikir mereka pasti sedang berada di zona yang paling aman.
'Kemungkinan mereka ada di wilayah ini...' Akira mengamati satu wilayah di panel mapnya.
"Akira-san, apa kau merasakan sesuatu? Firasatku tidak enak, " ungkap Charla membuyarkan pikiran Akira.
__ADS_1
Akira ikut segera menyadari apa yang Charla rasakan setelah merasakan kehadiran seseorang secara samar-samar.
"Benar. Aku juga merasa begitu. Sepertinya akan ada bahaya yang menghadang di depan kita." Akira merasakan hal yang sama dengan yang Charla rasakan namun dia masih berusaha tetap tenang di depannya.
"Kau tenang saja. Selagi ada aku disini tak akan kubiarkan satu orang pun melukaimu. Bahkan untuk semut sekalipun."
Charla seketika merasa tersentuh mendengar perkataan Akira barusan. Kata-katanya sangat menyentuh hati. Pipinya yang putih memerah.
"Aku percaya padamu, Akira-san. Dan aku juga percaya Akira-san sebenarnya orang baik," ungkap Charla dengan senyuman berseri.
"Jangan sebut aku orang baik. Kau tidak lihat apa yang sudah aku lakukan sebelumnya. Tanganku sudah kotor, aku tidak pantas mendapat julukan konyol seperti itu lagi," kata Akira terdengar malas. Charla hanya tersenyum tipis menyikapi sikap kepura-puraan Akira.
"Akira-san membunuh mereka dengan alasan ingin melindungiku. Itu sudah cukup untuk menggambarkan kalau Akira-san adalah orang baik."
Akira berdecak malas mendengar apa yang Charla utarakan, "Terserah kau saja."
Selepas percakapan itu berakhir, sejurus kemudian telinga Akira menangkap sesuatu yang melesat dengan sangat cepat hingga tidak bisa diprediksi jelas oleh persepsinya.
Akira segera menyadari kalau yang melesat sangat cepat itu mengarah langsung ke arah Charla.
"Awas!!" Dengan sigap Akira menjatuhkan diri bersama Charla demi melindunginya agar tidak terkena sesuatu yang melesat dengan sangat cepat itu.
Sesuatu yang melesat sangat cepat itu tidak berhasil mengenai kepala Charla dan malah berakhir mendarat ke sebuah batang pohon yang tebal.
Akira menoleh ke batang pohon itu untuk memastikan benda apa barusan itu sampai matanya menemukan sebuah lubang kecil seperti peluru melubangi batang pohon yang sangat tebal itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Akira sambil bangkit kembali bersama Charla.
"Tidak. Terima kasih, Akira-san..." jawab Charla sambil membersihkan lengannya yang dipenuhi pasir.
"Hei, siapa kau?! Cepat keluar!!" seru Akira memanggil pelaku dari serangan barusan.
Sampai ketika Akira merasakan kehadiran seseorang, dia langsung menoleh ke atas pohon. Di sana dia mendapati ada tiga orang yang tengah berdiri angkuh, menatapnya remeh seolah dia hanyalah seekor semut.
"Ketemu..." Salah seorang dari mereka yang membawa pistol di tangannya menatap tajam Akira.
Akira balas menatap tajam orang tersebut sambil mendongakkan kepalanya bersikap angkuh tidak mau kalah.
Ketika tatapan mereka berdua bertemu, dalam hatinya mereka serempak berkata,
Ternyata hanya semut...
__ADS_1