
Di saat wajah sebagian orang di tempat itu mulai panik karena mengetahui makhluk yang muncul kali ini tampak mengerikan, ekspresi Zero berbinar seolah baru saja menemukan harta karun yang bernilai ketika menyaksikan kemunculan makhluk tersebut.
Apalagi saat mengetahui makhluk yang muncul dari portal tersebut bukan hanya satu.
"Aku mengira pertempuran terakhir ini telah selesai, tetapi kelihatannya pertempuran yang sebenarnya baru saja akan dimulai."
Saat ini ada tiga binatang jahanam yang keluar dari portal tersebut. Dari ukuran dan bentuk fisiknya saja semua orang bisa langsung menebak seberapa berbahayanya sosok makhluk yang dirumorkan mampu membumihanguskan satu kota dalam semalam itu.
Tiga binatang jahanam yang muncul di kota Buldovia saat ini masing-masing memiliki jenis yang berbeda.
Yang pertama binatang jahanam yang mempunyai ciri fisik seperti halnya cacing tanah namun dengan ukuran panjang dan lebar yang tidak masuk akal.
Selain ukurannya yang tidak masuk akal, bentuk bagian wajahnya pun tampak menyeramkan. Binatang jahanam yang satu ini memiliki banyak mata di bagian wajahnya dengan di bagian mulutnya yang melingkar terdapat deretan gigi yang membentuk seperti gergaji tajam yang siap memotong apa saja yang berani menyentuhnya.
Sementara binatang jahanam di sebelah kirinya memiliki bentuk fisik selayaknya beruang es dengan tinggi tiga meter dan lebar tiga kali beruang biasa.
Yang membuat beruang ini berbeda dari beruang biasanya yaitu deretan es berbentuk runcing yang menempel di punggungnya serta asap putih yang terus keluar dari sekujur tubuhnya menunjukkan kalau suhu di sekitarnya pasti terasa sangat dingin.
Selain itu, wajahnya juga tampak menyeramkan saat deretan giginya yang runcing menggertak. Apalagi dengan kedua matanya yang merah menyala, itu berhasil menambah kesan yang menyeramkan dari sosok binatang jahanam tersebut.
Di antara ketiga binatang jahanam tersebut sosok yang terakhir ini jauh lebih menyeramkan.
Di atas kedua binatang jahanam itu saat ini terdapat seekor kelabang yang tengah melayang tanpa hambatan dan menakuti orang-orang di bawah yang melihatnya.
Ukuran tubuh dari kelabang itu hampir sama seperti cacing tanah tadi meski panjang dari kelabang ini adalah lima belas meter. Di seluruh kulit hitamnya yang keras terlihat ada percikan listrik bertegangan tinggi yang terus keluar. Hal itu memperlihatkan bahwa makhluk tersebut tidak mudah untuk disentuh, apalagi dikalahkan.
Bukan hanya binatang jahanam itu, kedua binatang jahanam lainnya pun sama-sama tidak mudah untuk dikalahkan.
"Jadi ini sesuatu yang besar yang aku rasakan sejak tadi. Ah~ Ini bahkan jauh melebihi ekspektasiku." Zero tersenyum lebar memandangi ketiga binatang jahanam itu dengan rasa takjub dan niat membunuh.
*~*
Selain di lokasi pertempuran Zero saat ini, di beberapa tempat juga mengalami kejadian yang serupa dan di waktu yang sama. Portal besar tiba-tiba muncul dan monster berukuran besar yang tidak mereka ketahui keluar dari sana.
__ADS_1
Salah satu di antaranya yaitu di lokasi pertempuran Charla dan lainnya berada. Dua binatang jahanam kini muncul di tempat itu.
Yang pertama berupa seekor kadal yang mampu berdiri tegak kemudian yang kedua berupa seekor singa berkepala tiga dan memiliki dua sayap di setiap sisinya.
"Dua monster ini tidak seperti monster yang sebelumnya kita hadapi." Rob merasakan perbedaan kekuatan yang begitu signifikan dari kedua monster tersebut.
"Ukuran dan penampilannya juga tidak seperti monster yang sering kita temui." Droy menilai sosok makhluk tersebut.
"Benar, aku yakin kedua monster ini pasti adalah monster pembawa bencana yang sudah sejak lama hilang di dunia ini..." Netero menyimpulkan berdasarkan pengetahuannya.
"Monster pembawa bencana yang sejak lama hilang setahuku cuman satu...yaitu binatang jahanam…" Pernyataan Droy mengejutkan sebagian orang yang pernah mendengar nama makhluk menakutkan tersebut.
"Binatang Jahanam...aku pernah mendengarnya. Tidak pernah kusangka jika makhluk pembawa kehancuran di masa lalu itu ada di masa sekarang..." Charla menanggapi dengan serius.
Nyali orang-orang di tempat itu seketika menciut saat mengetahui sosok makhluk di depannya saat ini adalah binatang jahanam mengingat sosok tersebut ratusan kali lebih kuat dari monster yang biasa mereka lawan.
Terlebih kondisi sebagian dari mereka saat ini masih belum prima setelah sebelumnya sudah mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk melawan para monster tingkat tinggi.
"Benar, mau seberapa berbahayanya makhluk ini, apapun yang terjadi kita harus melindungi tempat ini. Kita harus melindungi semua orang yang ada di sini." Rob mencoba membangkitkan kembali semangat mereka.
"Ya! Kita harus memenangkan pertempuran ini. Kita harus menang melawannya!" Droy bersorak untuk memacu mereka untuk berani.
Orang-orang di tempat itu ikut bersorak, memuntahkan rasa takutnya itu dan menggantinya dengan api semangat.
Sekarang semuanya sudah kembali bersemangat untuk menghadapi kedua bos dalam pertempuran terakhir ini.
"Sherria, kau masih bisa bertarung kan?" tanya Charla mencari tahu kondisi adiknya.
"Tentu. Aku masih mempunyai banyak tenaga untuk ikut bertempur bersama kalian." Sherria mencoba terlihat kuat. Charla tersenyum melihat tekad adiknya tidak kalah kuat dengan dirinya
Di sisi lain, Fluffy menghampiri Netero dengan tampang jutek lalu menunjuk salah satu binatang jahanam yang muncul di tempat itu.
"Paman, bolehkah aku menghadapi singa jelek itu sendirian? Kalian pasti masih lelah, kan? Tenagaku masih lumayan banyak kok untuk menghadapi singa itu sendiri." Fluffy meminta izin untuk melakukan itu pada Netero.
__ADS_1
Charla dan lainnya sedikit terkejut mendengar Fluffy ingin menghadapi makhluk itu sendiri. Namun mereka tidak pernah sedikit pun merasa ragu kalau Fluffy akan kalah mengingat mereka tahu seberapa kuatnya Fluffy.
"Boleh saja, tapi..." Karena Netero tidak menyelesaikan kata-katanya, Fluffy segera memotongnya.
"Paman, aku hanya butuh jawaban pasti. Ya, atau tidak?"
Di sela-sela Fluffy memotong, ada angin yang berhembus kencang di sekeliling Fluffy, mengisyaratkan kalau dirinya meminta jawaban dari Netero segera.
"Baik, kau boleh melakukannya." Netero akhirnya mengizinkannya. Fluffy jadi senang mendengarnya.
"Terima kasih." Fluffy menunjukkan kembali senyumannya.
Netero sebenarnya tidak meragukan kemampuan Fluffy. Dia hanya berpikir akan lebih baik kalau pertarungan ini dilakukan secara bersama. Dan lagi sebenarnya dia mempunyai rencana tertentu untuk menghadapi binatang jahanam yang satu itu.
Netero membiarkan Fluffy melawan makhluk itu sendiri untuk membuktikan tekad yang sedang dibawa olehnya.
Setelah mendapatkan jawaban, Fluffy yang tidak ingin membuang waktu segera berubah menjadi sosok naganya dan bersiap menghabisi binatang jahanam berbentuk singa dengan kepala tiga itu.
'Aku diperintahkan oleh Tuan untuk melindungi tempat ini meskipun harus mempertaruhkan nyawaku.' Fluffy bergerak lebih dulu menyerang singa berkepala tiga itu dan membawanya ke langit.
Seperti yang orang-orang kira, binatang jahanam yang menjadi lawan Fluffy mempunyai kemampuan untuk terbang sepertinya. Hal itu menjelaskan bahwa Fluffy sangat cocok untuk menjadi melawannya.
"Kalau begitu kita urus monster yang satunya!" teriak Netero sambil mengangkat senjatanya.
Setelah Fluffy memulai pertempuran, yang lainnya segera mengikuti. Mereka mengatur posisi dan bersiap menghadapi secara bersama binatang jahanam berupa kadal yang bisa berdiri dengan tegak itu.
Merasakan pertempuran besar sudah dimulai, monster kadal itu mengeluarkan puluhan butir telur dari dalam tubuhnya. Telur-telur itu dengan cepat menetas dan di dalamnya keluar seekor kadal yang serupa dengannya meski ukurannya hanya sepantaran manusia dewasa.
Kadal-kadal itu berpencar dan bersiap bertempur melawan orang-orang di tempat itu.
"Biar kita yang hadapi induknya. Kalian urus saja yang kecilnya. Jangan sampai ada satupun yang berhasil masuk ke dalam rune." Netero memberi arahan selagi bergerak maju bersama mereka yang memiliki kemampuan di atas yang lainnya yang mampu menghadapi binatang jahanam itu.
Pertempuran besar kembali terjadi di tempat itu. Kedua belah pihak berjuang untuk meraih kemenangan.
__ADS_1