Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Tak Mudah Ditebak


__ADS_3

Selesai membicarakan segala hal terkait promosi pangkat yang akan dimulai besok, Zero bersama semua orang yang ada di situ bangkit keluar ruangan.


Clarise kembali ke meja kerjanya sedangkan Zero bersama yang lainnya kembali ke tempat dimana para petualang berkumpul.


Kedatangannya seperti biasa menarik perhatian petualang lain yang penasaran akan apa yang tadi mereka bicarakan di dalam. Dan juga mereka kini sedang membicarakan tentang energi sihir luar biasa yang sempat terpancar dalam ruangan yang mereka tempati.


"Kalian tunggu sebentar di sini." Zero menyuruh Charla dan yang lainnya untuk menunggu di salah satu meja. Mereka tanpa banyak tanya menurut karena sudah mengetahui apa yang ingin Zero lakukan.


Sementara mereka menunggu disitu, Zero berjalan ke tempat dimana dirinya bisa menjadi pusat perhatian banyak orang untuk merencanakan sesuatu yang sebelumnya sudah dia putuskan.


"Apa yang sedang dilakukannya disana?" Itu yang semua orang pertanyakan saat melihat Zero.


Zero berhenti melangkah tepat dimana semua orang dapat melihatnya dengan jelas. Pandangan semua orang kini tertuju padanya yang tampak sedang tersenyum memandangi mereka semua.


Selesai menghela nafas singkat, Zero terdiam sejenak sebelum beberapa detik kemudian dia menggerakkan tangannya untuk mencabut cincin yang menekan kekuatannya selama ini.


Zero sudah memutuskan mulai saat ini dia akan membuka identitasnya pada semua orang karena mulai besok dia akan menjadi orang yang akan dikenal oleh seluruh dunia.


Begitu cincin itu terlepas dari jari manis Zero, energi sihir luar biasa yang sebelumnya sempat semua orang rasakan kini kembali mereka rasakan.


Semua petualang yang ada di situ tercengang sampai kesulitan berkata-kata, para admin guild yang tengah mencatat seketika menghentikan aktivitasnya termasuk Clarise yang kini terpana melihat apa yang sedang Zero lakukan.


Bahkan mereka yang saat itu hendak meneguk minumannya berhenti tepat di ujung mulutnya saat merasakan energi sihir luar biasa yang terpancar dalam diri Zero.


Para petualang senior di lantai atas pun tak ketinggalan. Mereka segera beramai-ramai menghampiri sumber energi sihir yang mereka rasakan untuk mencari tahu siapa pemilik energi sihir yang begitu dahsyat tersebut.


"Yang benar saja!"


"Apa-apaan dia ini…"


"Apa ini sungguh miliknya?"


"Kenapa kekuatannya tiba-tiba bisa sebesar ini?"


"Sulit dipercaya…"


"Siapa dia sebenarnya…"


Semua orang yang ada disitu meragukan apa yang saat ini mereka lihat dan rasakan. Pasalnya mereka mengetahui tingkatan sihir Zero sebelumnya hanya berada di tingkat penyihir kelas dua saja. Namun ketika melihat energi sihir yang luar biasa itu ternyata terpancar dalam diri Zero, hal itu sama sekali tidak menggambarkan kalau dirinya berada di tingkatan tersebut.


"Pemula, apa benar ini kekuatanmu?" Seseorang berinisiatif bertanya.


Zero tersenyum angkuh melihat reaksi semua orang yang ada di dalam guild lalu merentangkan kedua tangannya dan menjawab, "Ya. Seperti yang kalian lihat..."


Para petualang saling berpandangan dengan raut wajah tidak percaya jika Zero merupakan seorang petualang pemula kemarin sore.


"Bagaimana caranya kekuatanmu bisa sebesar ini?" tanya pemula yang duduk di meja di dekatnya.


"Hahaha, ini memang kekuatan asliku." Zero tertawa pelan lalu menunjukkan cincin yang barusan dia lepaskan, "Aku menggunakan cincin ini untuk menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya dari kalian." Zero tersenyum kemudian menyematkan cincin itu kembali ke jarinya. Seketika energi sihir yang luar biasa itu hilang tak lagi mereka rasakan.


"Jadi energi sihir yang tadi kita rasakan itu miliknya."


"Tidak salah lagi…"

__ADS_1


"Tidak kusangka ternyata ada seorang Magic Emperor yang bersembunyi di kota ini."


"Aku penasaran siapa dia sebenarnya?"


"Tunggu dulu, apa jangan-jangan Rogue bersama rekannya tadi tewas di tangannya."


"Kemungkinan begitu."


"Mereka kali ini sungguh sial karena telah salah memilih mangsa."


Para petualang profesional di lantai atas saling membicarakan sosok Zero. Mereka kini tidak bisa lagi menganggap sosok seperti Zero sebagai seorang pemula. Mereka juga tidak berani mengganggu orang sepertinya karena tidak ingin nasibnya sial seperti Rogue dan party-nya.


"Sepertinya aku agak berlebihan, ya..." Zero terkekeh sambil menggaruk kepalanya menanggapi reaksi mereka.


"Bodo, ah. Dengan begini setidaknya akan mengurangi masalah-masalah yang merepotkan."


Mengabaikan mereka yang masih tercengang menatapnya, Zero kembali ke tempat Charla dan yang lainnya menunggu lalu mengajak mereka semua untuk kembali pulang ke penginapan.


Zero bersama yang lainnya melangkah keluar gedung guild secara beriringan.


Gladius yang mengikuti mereka dari belakang berhenti tepat di depan pintu lalu menolehkan sedikit wajahnya ke arah para petualang profesional. Dia tersenyum licik pada mereka sebelum menolehkan wajahnya kembali ke depan dan melangkah mengikuti tuannya.


"Gladius sialan... Dia pasti sudah menyadarinya dari awal."


"Apa yang kali ini dia rencanakan..."


"Entah. Dia bukanlah orang yang mudah untuk ditebak.


"Benar. Dia kadang bisa menjadi rubah, kadang bisa menjadi ular dan kadang juga bisa menjadi kelinci. Yang pasti apapun itu dia bukanlah orang yang mudah untuk ditebak."


*~*


'Iya benar, aku melupakan sesuatu. Meski guild telah menutupi kematian mereka tapi jika ada orang lain yang melihatnya kemungkinan akan terjadi masalah lain yang merepotkan,' pikir Zero terpikirkan akan hal itu.


Zero berhenti melangkah dan berbalik ke belakang, "Gladius, aku mempunyai tugas untukmu."


"Iya, tugas apa itu, Tuan?" tanya Gladius.


"Kau sebelumnya melihat mayat ketua party, kan?"


"Oh, dia…" Gladius terkekeh geli saat mengingat apa yang Zero lakukan saat itu.


"Ada apa, Gladius-san?" Charla merasakan ada yang aneh dengan cara Gladius terkekeh.


Zero melempar kode pada Gladius untuk diam dan segera ditangkap olehnya.


"Ah, bukan apa-apa," jawab Gladius pada Charla.


"Ya. Aku melihatnya, Tuan. Apa ada sesuatu dengannya?" tanya Gladius.


"Bisa kau hilangkan jejak mereka. Aku tidak ingin ada masalah yang terjadi jika ada orang yang melihatnya," titah Zero


"Baik. Dilaksanakan, Tuan." Gladius segera melaksanakan perintah tuannya. Dia pergi dari hadapan mereka sedangkan Zero dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke penginapan.

__ADS_1


*~*


"Kejam sekali…"


"Apa yang terjadi dengannya…"


Tiga orang petualang terkejut saat menyaksikan sosok yang mereka kenali kini tewas dalam kondisi yang menyedihkan.


Salah satu dari mereka berjongkok di depan mayat itu lalu mencari tahu apa yang membuatnya tewas.


"Apa dia menggigit lidahnya sendiri?" Petualang itu menemukan alasan mengapa orang itu tewas.


"Yang benar saja. Kenapa dia melakukan hal seperti itu?" tanya rekannya yang heran.


"Kemungkinan dia sudah berniat mengakhiri nyawanya sendiri," ujar petualang berdasarkan kemungkinan.


"Bau ini…apa kau mencium sesuatu." Petualang itu mencium sesuatu dalam tubuh orang itu.


Yang lainnya ikut berjongkok lalu mengendus tubuh orang itu untuk memastikan bau yang mereka cium.


"Ini sepertinya air seni seseorang," kata orang yang pertama mengenalnya.


"Kejam sekali...Siapa yang mengencinginya seperti ini?"


Tiga orang petualang itu benar-benar tidak habis pikir jika sosok di depannya akan tewas dengan cara yang sangat hina seperti itu. Mereka menganggap sosok dibalik kematian orang itu pasti tidak memiliki rasa kemanusiaan.


Pada saat yang sama mereka juga menganggap orang itu tewas seperti itu pasti karena karma atau hukuman langit mengingat semasa hidupnya dia selalu berbuat jahat pada orang lain.


Disaat mereka tengah sibuk mencari tahu alasan pria berbadan kekar yang di depannya tewas, Gladius saat ini tengah melesat cepat menuju tempat mereka.


Setibanya di tempat tujuan, Gladius mendapati ada tiga orang petualang sedang mengamati tubuh ketua party yang sebelumnya telah Zero kalahkan dan kini dia ditugaskan untuk menghilangkan jejak kematiannya.


Kemunculan Gladius mengejutkan ketiga petualang itu dan sontak membuat mereka berdiri.


"Oh, kau ternyata." Mereka mengenali sosok pria berambut putih yang kini tengah berjalan mendekati mereka sambil tersenyum.


"Apa yang kau lakukan—"


Kata-kata petualang itu terhenti tepat setelah Gladius menggerakkan tangannya dan menghancurkan kepalanya dengan cepat menggunakan rantainya.


Dua orang petualang yang tersisa terdiam saat rantai melesat ke arah mereka, sampai ketika mereka menoleh ke samping teman mereka kini terhuyung ke belakang, terjatuh ke tanah dalam kondisi hilang kepala.


"Kepparrat! Apa yang kau lakukan!" Mereka segera mengetahui pelaku dibalik kematian temannya dan langsung menyerangnya.


Gladius yang masih tersenyum menggerakkan tangannya kembali. Rantai tiba-tiba keluar di bawah kaki mereka dan melilit tubuh mereka dari bawah sampai atas tanpa menyisakan celah sedikitpun.


Gladius lalu mengangkat tangannya, membuat mereka berdua terbang ke udara.


"Sialan, lepaskan! Apa yang kau lakukan!" Itu yang mungkin mereka katakan namun suara mereka tidak terdengar jelas karena terbelit rantai itu.


"Maaf... kalian sepertinya hari ini sedang sial…"


Gladius kemudian mencengkramkan tangannya, meremukkan mereka yang tergulung rantai itu hingga merubahnya menjadi ceceran darah.

__ADS_1


Dia pun tersenyum ramah ke arah mereka bertiga yang kini sudah tiada.


"Tolong sampaikan ke siapapun yang ada di sana, aku disini hanya menjalankan perintah Tuanku saja..."


__ADS_2