
"Clarise-san...apa yang kau lakukan…" Suara Charla terdengar mencekam di telinga orang-orang yang mendengarnya.
Ketiga gadis yang selalu mendampingi Zero itu cemburu dengan aksi Clarise. Tangan mereka terkepal keras, matanya yang melotot memancarkan cahaya merah seperti siap menerkam sosok yang kini sudah berani mencium pipi Zero.
Clarise seketika merasa bulu kuduknya berdiri dan berkeringat dingin saat melihat ke arah mereka. Dia segera menyadari aksinya barusan telah membangunkan macan yang tertidur dalam diri ketiga gadis itu.
"Ah, maaf, maaf! Aku tidak bermaksud apa-apa! Itu hanya sebatas rasa terimakasihku saja kepada Zero-san! Sungguh!" Clarise yang takut segera meluruskan alasan dia mencium pipi Zero pada ketiga gadis itu.
Ibu dan adiknya yang semula menangis kini menahan tawanya saat melihat tingkah Clarise, dan sebelumnya mereka juga terkejut dengan apa yang dilakukannya.
"Hmph...! Seharusnya Clarise-san bilang dulu pada kita kalau ingin melakukannya." Charla dan Sheria menggembungkan pipinya sebal.
"Clarise curang, Clarise curang..." Fluffy memperlihatkan ekspresi yang sama. Rimuru di dekatnya hanya tersenyum kaku karena tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bahas.
"Aku salah! Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! " Clarise membungkukkan tubuhnya berulang kali meminta maaf pada mereka.
"Sudah, sudah, lagi pula Zero-kun tidak terlalu mempermasalahkannya, kan?" Gladius menengahi kegaduhan mereka.
Semua orang yang ada di dalam ruangan beralih memandangi Zero yang tampak masih tertegun memegangi pipi bekas ciuman Clarise.
"Ah, iya, tidak apa-apa…" Zero menyadarkan dirinya kembali.
"Zero-san, maaf kalau aku telah berbuat lancang." Clarise meminta maaf pada Zero.
"Sudah jangan terlalu dipermasalahkan." Zero mengibaskan satu tangannya menyuruh mereka berhenti membahas hal itu.
"Nak Zero…" Ibu Clarise memanggil Zero seiring membangkitkan tubuhnya dengan dibantu anak terkecilnya.
"Aku ucapkan beribu-ribu terimakasih karena Nak Zero sudah mau menolongku…" Ibu dari kedua gadis elf itu bersujud di bawah kaki Zero. Kedua anaknya ikut menekukkan kedua lututnya di depannya.
"Berdirilah. Tidak perlu banyak berterima kasih padaku. Aku hanya sekedar menjalankan quest ini saja. Lagipula anakmu sudah mengeluarkan uang yang besar untuk quest ini. Lebih baik kau berterima kasih padanya dan jangan ulangi lagi kebodohanmu yang sebelumnya. Mulai sekarang jadilah orang tua yang berguna bagi mereka. Mengerti?" Zero memberikan seporsi ceramah untuk ibu Clarise.
Ibu Clarise berdiri dan berjanji pada Zero mulai detik ini akan menjadi orang tua yang baik untuk kedua anaknya.
*~*
"Zero-san, ini imbalan atas quest yang telah anda dan yang lainnya selesaikan. Lalu ini uang tambahan yang sebelumnya aku janjikan." Clarise menyerahkan dua kantong berisikan ratusan koin emas pada Zero. Semua uang itu sudah dia kumpulkan sejak lama demi menyembuhkan penyakit ibunya.
Jika dijumlahkan seluruh koin emas yang Clarise berikan pada Zero berjumlah delapan ratus koin emas. Jumlah yang fantastis.
Imbalan dari menyelesaikan quest tersebut memang tidak salah, mengingat harga dari satu lembar daun itu dan resiko bahaya yang harus dihadapi untuk mendapatkannya sangat besar.
"Ambilah sebagiannya… segini saja sudah cukup…" Zero hanya mengambil setengah dari imbalan yang Clarise serahkan.
"Eh, kenapa dikembalikan lagi, Zero-san?" Clarise merasa tidak enak hati menerimanya.
"Jangan banyak tanya dan ambilah. Anggap saja ini sebagai rasa kasihanku pada kalian." Zero mendorong sekantong koin emas itu pada Clarise, memaksanya untuk menerimanya, "Selain itu sebelumnya aku juga mendapatkan dua lembar daun emas itu jadi menurutku itu sudah cukup dijadikan sebagai imbalanku," ujar Zero, tetapi Clarise masih ragu untuk mengambil uang itu.
"Clarise-chan, sudah ambil saja. Sayang jika menolak kebaikan, Zero-kun. Kalian pasti sangat membutuhkan uang itu, " kata Gladius yang berdiri di dekat Zero.
Clarise akhirnya mau menerima sebagian uang yang Zero serahkan.
"Zero-san… Selain berterima kasih aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas kebaikan anda." Clarise menundukkan sedikit wajahnya berterima kasih.
__ADS_1
"Kau cukup jalani kehidupanmu seperti biasa."
*~*
Masih di rumah Clarise, Zero kini bersama yang lainnya tengah berada di sebuah ruang makan, menunggu hidangan makanan yang tengah dibuat oleh Ibu Clarise dan anaknya.
Sebelumnya mereka sudah ingin pergi namun Clarise dan ibunya bersikeras menyuruh mereka untuk tinggal sebentar. Sebagai rasa terima kasih, ibu Clarise dan anaknya ingin menyajikan hidangan makanan untuk Zero dan yang lainnya.
Meskipun baru sembuh dari penyakitnya, ibu Clarise tampak bersemangat sekali membuat hidangan makanan untuk mereka. Dia berharap ini bisa sedikit membalas kebaikan yang telah Zero dan yang lainnya berikan pada keluarga kecilnya.
Charla dan Sherria pun ikut membantu menyiapkan hidangan makanan biarpun ibu Clarise dan anaknya sebelumnya telah menyuruh mereka untuk diam saja. Mereka senang sekali bisa membantu ibu Clarise karena sosoknya mengingatkan mereka pada ibunya sendiri.
Tak lama kemudian makanan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Mereka menata hidangan makanan itu di meja dan ikut duduk di bangkunya masing-masing. Semuanya mengambil makanan di depannya lalu menaruhnya ke piringnya masing-masing dan bersiap menyantapnya.
"Selamat makan!" kata mereka serempak. Semua yang ada di ruangan makan itu mulai menyantap hidangan makanan tersebut.
"Enak sekali." Zero mengakui kelezatan masakan yang ibu Clarise buat.
"Benar, enak sekali." Yang lain pun merasa demikian.
"Syukurlah…" Ibu Clarise senang melihat mereka menikmati masakannya.
"Ibuku memang pandai memasak, Zero-san."
"Begitu, ya…"
Semuanya memakan masakan ibu Clarise dengan lahap sampai kenyang.
*~*
"Zero-sama..." Charla memanggil.
"Hmm..." Zero menyahut.
"Sewaktu pipi Zero-sama dicium oleh Clarise-san, apa yang Zero-sama rasakan?" Charla menanyakan sesuatu yang sejak tadi ingin dia tanyakan.
"Tidak ada."
"Benarkah?"
"Ya. Sudah jangan dibahas lagi."
Zero menjawab seadaanya, tidak ingin mempermasalahkan hal itu lagi. Charla dan Sherria lega mendengarnya, setidaknya dengan begitu mereka tidak mempunyai saingan lain untuk mendapatkan hati Zero.
"Tuan, Tuan, kesini sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu..." Fluffy yang berjalan di samping Zero melambaikan satu tangannya menyuruh Zero untuk mendekatkan wajahnya.
"Apa itu?" Zero melirik ke Fluffy lalu mencondongkan sedikit wajahnya ke arahnya.
Cup...
Fluffy menempelkan bibir mungilnya di pipi Zero lalu tersenyum berseri menatapnya.
"Maaf, tidak jadi..." katanya sambil cengengesan.
__ADS_1
Charla dan Sherria tercengang melihat aksi Fluffy, tidak menduga gadis cilik sepertinya akan ikut-ikutan mencium pipi Zero seperti yang dilakukan Clarise tadi.
Gladius yang menyaksikan apa yang dilakukan Fluffy di belakang hanya menggeleng pelan sementara Rimuru terkekeh ringan.
"Flo curang..." Charla dan Sherria mencebikkan bibirnya menatap Fluffy.
"Hihih..." Fluffy hanya menunjukkan deretan giginya membalas kekesalan mereka.
"Ada-ada saja..." Zero tersenyum sambil mengusap-usap rambut gadis cilik itu. Dia juga tidak menduga jika Fluffy akan melakukan seperti itu.
"Zero-sama, besok quest mana yang akan kita selesaikan?" tanya Sherria.
"Mm...Kita selesaikan yang termudah dulu saja. Besok kita harus bisa menyelesaikan semua quest kategori senior," jelas Zero.
"Besok kita akan berusaha lebih keras lagi membantu, Zero-sama."
"Aku juga."
"Aku juga."
Kata mereka tampak bersemangat sekali.
"Yosh, setelah semua quest ini selesai kalian boleh meminta apapun dariku." Zero mencoba menyemangati mereka.
"Sungguh?"
"Tentu."
Mereka menjadi bersemangat mendengarnya dan mulai memikirkan sesuatu yang ingin diminta dari Zero.
"Gladius, apa kau mengetahui tempat yang bagus untuk menjual item-item bernilai seperti daun emas yang kita dapatkan kni?" Zero melirikkan sedikit wajahnya ke arah Gladius bertanya.
"Aku mengetahuinya, Tuan. Aku bisa membawa Tuan ke sana," jawab Gladius
"Ya. Bawa aku nanti ke sana."
Setelah lama berjalan, Zero dan rombongannya akhirnya sampai di penginapan.
Selesai berkemas diri, Zero dan Gladius berniat pergi ke tempat dimana dia akan menjual barang-barang bernilai yang dia punya.
"Kalian bermain saja dulu di kota ini, aku bersama Gladius ingin pergi ke suatu tempat untuk menjual sesuatu..." Zero memberi masing-masing satu koin emas pada mereka. Satu koin emas cukup untuk mereka bersenang-senang di kota ini.
"Apa kita tidak boleh ikut, Zero-sama?" tanya Charla.
"Ya. Untuk sekarang kalian bermain saja dulu."
Mereka mengangguk menuruti perkataan Zero.
Zero sekarang tidak perlu merasa cemas lagi meninggalkan mereka sendiri karena dia yakin sebagian orang di kota ini yang mengenalnya tidak akan ada yang berani mengusik mereka setelah tahu siapa dirinya. Dan lagi mereka bisa menjaga dirinya sendiri
"Kalau begitu kita pergi dulu."
Zero dan Gladius pergi meninggalkan mereka ke tempat dimana dia akan menjual barang-barang bernilai yang dia punya.
__ADS_1