
"Bagaimana? Apa kau berhasil membuatnya?" Zero berjalan mendekati Sherria yang tengah bermeditasi sendirian di atas batu.
Mendengar suara Zero, Sherria membuka matanya diiringi helaan nafas.
"Ya. Aku merasakannya, Zero-sama. Aku berhasil membuatnya."Sherria tersenyum karena berhasil melakukannya.
Zero bersandar di salah satu pohon dan berkata, "Untuk menjadi seorang penyihir Magician, kau harus membuat lingkaran sihir yang berpusat pada pikiran dan perasaanmu. Caranya beragam. Kau bisa membuatnya dengan bermeditasi seperti ini, dengan memperkuat perasaan dan pikiranmu, bahkan ketika kau mempelajari sesuatu tentang sihir, lingkaran sihir akan terbentuk dalam pikiranmu. Jadi kesimpulannya kau bebas menggunakan cara apapun itu selagi itu masih berkaitan dengan pikiran dan perasaan, " jelas Zero.
"Aku mengerti, Zero-sama." Sherria mengangguk paham.
"E, anu, bagaimana dengan meningkatkan wadah sihir?" tanya Sherria.
"Kalau itu kau bisa melakukannya dengan memusatkan semua aliran sihir yang mengalir dalam dirimu pada satu titik di wadah sihirmu. Kuperingatkan agar kau jangan pernah terlalu terburu-buru membentuknya, karena jika saja kau melakukan kesalahan, wadah sihir yang menampung semua sihir dalam dirimu akan pecah, itu akan berakibat buruk pada tubuhmu dan dampaknya bahkan bisa berakibat fatal...
Jadi, untuk sekarang kau hanya perlu melakukannya secara perlahan," jelas Zero.
"Baik, aku akan melakukannya dengan hati-hati. Terima kasih atas penjelasannya, Zero-sama." Sherria memahami semua penjelasan yang Zero berikan.
"Bagus, jika kau sudah mengerti kau bisa melanjutkannya." Zero menegakkan tubuhnya kembali lalu melangkah pergi meninggalkan Sherria.
Zero beralih ke tempat Charla berada. Di sana dia menemukan Charla sedang bermeditasi membuat lingkaran sihir dalam dirinya.
Zero tersenyum jahil, berniat melakukan sesuatu pada Charla. Dia mengambil satu kerikil kecil lalu menjentikkannya ke arah Charla.
"Aw…" Kerikil itu berhasil mengenai kepalanya.
"Zero-sama, apa yang kau lakukan? Sakit tahu..." Charla memanyunkan bibirnya kesal melihat siapa pelaku dari balik kerikil yang mengenai kepalanya itu.
Zero terkekeh sambil berjalan mendekati Charla, "Persepsimu masih lemah, Charla. Kau bahkan tidak menyadari ada benda yang melesat ke arahmu," ejeknya.
"Aku masih belajar, Zero-sama. Jadi wajar aku tidak menyadarinya. Lagipula saat ini aku sedang berkonsentrasi membuat lingkaran sihir. Lihat, gara-gara dirimu aku jadi gagal membuatnya." Charla menggerutu kesal.
"Hahaha, benar juga." Zero tertawa dan duduk di samping Charla.
"Jadi bagaimana, apa kau berhasil membuat lingkaran sihir dalam dirimu?" Zero tersenyum ringan menatap Charla.
Charla yang semula kesal seketika luluh saat melihat senyuman Zero dari dekat, terlebih saat ini dia dalam bentuk seorang pria tinggi yang tampan dan perkasa.
"Kau dengar tidak…" Zero menarik pelan telinga kelinci Charla, menyadarkan lamunannya.
"Ah iya. Seperti arahanmu tadi, aku sudah berhasil membuat beberapa lingkaran sihir di pergelangan tanganku." Charla menunjukkan pergelangan tangannya.
"Hm...Kau tidak seperti adikmu." Zero membandingkan perbedaan Charla dan adiknya
"Apa Sherria sudah berhasil membuatnya?" tanya Charla.
"Ya. Dia memang berbakat menjadi penyihir."
"Kalau begitu aku juga tidak ingin kalah darinya." Charla mendengus penuh semangat. Zero hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Kau masih perlu membuat beberapa lagi untuk bisa mulai belajar menggunakan senjata ini." Zero mengambil pistol di samping Charla, "Tapi kau tidak perlu memerlukan banyak waktu. Aku bisa membantumu membuatnya agar kau bisa mulai mempelajarinya sekarang," jelas Zero
"Benarkah?"
"Ya."
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Zero tidak menjawab. Dia membuka menu inventory-nya dan mengambil satu inti monster berukuran besar yang saat itu dia dapatkan dari bos monster buatan yang dia bunuh.
"Ini…" Charla terlihat seperti mengenal benda bulat di tangan Zero.
"Kau mengenalnya?"
"Ya. Ini pasti inti monster, kan. Dan lagi bentuknya besar sekali. Dari mana Zero-sama mendapatkannya?" Charla mengamati lebih dalam inti monster itu.
"Aku mendapatkannya saat membunuh monster sewaktu bersama Sherria," jelas Zero.
"Begitu, ya…"
"Ya. Dengan ini kau bisa mendapat puluhan lingkaran sihir dengan cepat." Zero mengangkat sedikit inti monster itu ke atas.
"Hebat sekali…" Mata Charla berbinar mengetahuinya.
"Sudah jangan banyak tanya. Sekarang posisikan dirimu."
Charla mengangguk lalu memposisikan duduknya bersila seperti tadi. Zero ikut memposisikan duduknya juga di belakang Charla.
Dari apa yang Zero temukan di buku yang kemarin dia serap, inti monster bisa digunakan untuk membuat lingkaran sihir atau sirkuit sihir. Selain itu ini juga bisa meningkatkan kapasitas wadah sihir dan membantu proses pembuatan Second Origin.
Untuk membantu Charla membuat lingkaran sihir, Zero memerlukan salah satu kemahiran seorang Magician. Tentu saja dia sudah mempunyai kemahiran itu. Dengan job-nya sekarang yang merupakan seorang Expert dia sudah memiliki semua class dan kemahiran dari penyihir yang ada di dunia ini.
"Apa kau sudah siap menahannya?" Zero menempelkan bola lacrima itu pada punggung Charla.
"Em…" Charla mengangguk.
"Tenang saja, ini tidak akan terlalu sakit..."
"Aku akan memulainya…" Zero memfokuskan dirinya dan mulai membantu Charla membuat lingkaran sihir dalam dirinya. Bola merah yang menempel di punggung Charla mengeluarkan cahaya pertanda prosesnya sudah dimulai.
Zero mencoba membuat beberapa lingkaran sihir pada pergelangan Charla, kemudian beralih pada seluruh inderanya dan terakhir pada kakinya. Tiga bagian ini merupakan pondasi utama bagi seorang Archer. Selain membuat lingkaran sihir, Zero juga membantu Charla meningkatkan kapasitas wadah sihirnya.
Butuh satu jam lebih sampai akhirnya proses itu selesai. Charla akhirnya bisa bernafas lega setelah tidak merasakan rasa sakit lagi.
"Sudah selesai…" Zero melihat inti monster di tangannya yang sudah tidak berwarna itu sebelum akhirnya pecah.
"Kau berhasil mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mulai mempelajari senjata ini." Zero menyerahkan pistol itu pada Charla kemudian berdiri dan berjalan ke satu tempat yang datar dan terbuka.
"Berdirilah, aku akan mengajarkanmu menggunakan senjata ini sekarang." titah Zero.
Menerima perintah Zero, Charla membangkitkan dirinya kemudian menghela nafas guna membuat nafasnya kembali teratur. Setelah itu dia menghampiri Zero.
"Kau lihat pohon di depanmu..." Zero menunjuk ke depan. Charla yang berdiri di sampingnya mengangguk, melihat pohon itu.
"Coba kau tembakan satu peluru ke tengah-tengah pohon itu…" pintanya.
"Caranya?" Charla belum mengerti tentang cara menggunakan pistol itu.
Zero mengeluarkan pistol lainnya kemudian mempraktekannya pada Charla.
"Pertama arahkan pistol ini ke target yang akan kau tembak…" Zero mengarahkan pistol itu ke depan, "Selanjutnya kau buat pelurunya dengan mengalirkan energi sihir dalam dirimu pada pistol ini…" Ujung pistol itu mulai mengeluarkan cahaya,"Lalu muntahkan pelurunya."
Dor!
Satu peluru melesat tepat ke tengah-tengah batang itu hingga menembusnya. Charla terpana menyaksikannya.
__ADS_1
"Mudah bukan?"
Charla mengangguk memahami penjelasan Zero.
"Coba lakukan apa yang barusan aku lakukan."
"Baik.
Charla mulai memposisikan senjatanya ke depan kemudian mengisi pistol itu dengan energi sihirnya kemudian memuntahkan peluru yang sudah terisi ke arah batang pohon di depannya.
"Ahh!" Charla terjatuh ke belakang karena tidak bisa menahan recoil dari satu tembakan yang meleset itu.
"Kau terlalu banyak mengisi energi sihirnya." Zero memberitahukan kesalahan Charla. Dia lalu membantunya untuk berdiri.
"Coba lakukan sekali lagi," pinta Zero
"Susah Zero-sama," keluh Charla.
Zero menghela nafas kemudian berdiri di belakang Charla, memutuskan membantunya.
"Arahkan pistolmu ke depan…"
Charla mengikuti arahan Zero dengan mengarahkan pistolnya ke depan.
"Selanjutnya…" Zero memegang kedua tangan Charla yang memegang pistol, memposisikannya dengan benar.
Melihat tangannya dipegang, Charla yang di depannya spontan menolehkan sedikit matanya menatap wajah Zero yang jaraknya kini sangat dekat. Tertegun dia dibuatnya.
"Alirkan energi sihirmu secara perlahan pada pistol ini…"
Charla mengikuti arahan Zero namun pandangannya masih terpaku pada wajah tampan Zero yang dekat sekali dengannya.
"Lalu tembak."
Charla tidak mendengarkan arahan Zero dan masih terus mengalirkan energi sihirnya.
"Tarik pelatuknya sekarang Charla."
"Ah, iya!" Charla yang tersadar dari lamunannya sontak langsung menarik pelatuknya.
Dor!
"Ahh!"
Sayangnya hasil dari kelebihan energi sihir membuat Charla tak bisa menahannya hingga akhirnya dia pun terpental ke belakang. Zero yang di belakangnya pun ikut terkena dampaknya.
Mereka berdua terjatuh dalam posisi saling berhadap-hadapan. Charla berada di atas sedangkan Zero terbaring di bawah.
Jarak mereka berdua kini hanya menyisakan beberapa mili saja. Degup jantung mereka berdua terdengar jelas memperlihatkan betapa terkejutnya mereka dengan situasinya saat ini. Mereka belum bisa mencerna apa yang sudah terjadi dan pandangan keduanya masih terfokus pada sosok di depannya.
Sebelum sesaat kemudian tanpa aba Charla menempelkan bibirnya dengan bibir milik Zero karena tak tahan melihat betapa mempesonanya sosok Zero saat ini.
Pikiran Zero yang masih kosong tanpa sadar membuatnya ikut membalas ciuman yang Charla berikan. Dia mengikuti ritme permainan lidah yang Charla tampilkan sampai dirinya ikut membawa Charla ke dalam permainannya sendiri.
"Nee-san…"
Sampai ketika mendengar seseorang memanggil, mereka langsung menghentikan permainannya saat itu juga.
__ADS_1
Like & Coment