
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Membuka kedua mata secara perlahan, Akira memegangi keningnya yang masih terasa pusing, pandangannya pun belum tampak sepenuhnya jelas.
"Ah...dimana ini?" Setelah pandangannya jelas, ukiran-ukiran kuno yang terpatri di langit-langit ruangan menyapa retinanya untuk yang pertama kali.
Akira kebingungan saat mendapati tempatnya kini terbaring terasa asing. Dia tidak mengerti ada dimana dirinya saat ini, dan apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa aku masih hidup?" Pertanyaan kembali muncul di pikiran Akira ketika dia mulai teringat akan kejadian sebelumnya. Dan disaat Akira mengingat semua kejadian itu dia lantas membangkitkan diri seperti orang panik dan segera meraba-raba setiap bagian tubuhnya untuk memastikan tubuhnya masih utuh.
"Hah? Aku masih hidup?" Mulut Akira sedikit terbuka, tidak percaya kalau dirinya saat ini masih hidup, karena seingatnya, sewaktu tadi dia sangat yakin dirinya sudah berada diambang kematian dan sempat ingin dimakan oleh Binatang Jahanam. Menurut perkiraannya seharusnya sekarang dia sudah mati.
Tetapi sekilas sebelum dia tidak sadarkan diri dia juga sempat melihat dirinya diselamatkan oleh sesosok manusia berekor ikan. Dia tidak tahu apakah itu ilusi atau benar-benar nyata.
Mungkin jika dilihat berdasarkan keadaanya sekarang yang tampak baik-baik saja kemungkinan itu memang nyata adanya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang yaitu, siapa sosok manusia berekor ikan itu?
Akira menggaruk kepalanya yang terasa semakin pusing oleh berbagai pertanyaan yang tidak pasti, kemudian menghela nafas dan tidak ingin memikirkannya lagi.
"Tempat apa sebenarnya ini…" Akira mengedarkan pandangan untuk mencari tahu keberadaannya. Sejauh yang Akira lihat semua tempat di ruangan ini sepenuhnya terbuat dari batu, termasuk ranjang tempatnya kini terduduk.
Ukiran-ukiran kuno yang menempel di setiap dinding serta langit-langit ruangan mempunyai bentuk yang sama persis dengan yang pernah dia lihat di lantai-lantai sebelumnya. Sementara di sisi lain tempatnya terduduk terdapat pintu masuk yang hanya ditutupi oleh juntaian rumput laut sebagai penutupnya.
Disaat Akira larut dalam kebingungannya mengamati keadaan sekitar, dari kejauhan dia mendengar ada suara gaduh seperti orang berselisih sedang mendekat.
"Apa maksudnya ini, Zaltra? Kenapa kau menyelamatkan makhluk menjijikan sepertinya? Bukankah seharusnya kau sudah tahu, kita semua selama ini terjebak di tempat ini karena siapa kalau bukan ulah bangsanya."
"Hentikan bicaramu, Faltra. Dia tidak seperti manusia yang kau kenal. Kau akan segera mengetahuinya nanti."
Kedua orang yang sedang berselisih itu tidak lain merupakan salah seorang ras duyung yang menempati tempat ini.
Yang pertama Faltra—orang yang sedang menyuarakan protesnya. Dia memiliki bentuk tubuh serta penampilan yang hampir sama dengan manusia dewasa pada umumnya, yang membedakannya hanya sisik-sisik kecil yang menempel pada setiap bagian kulitnya saja yang memberitahukan ciri kalau dirinya adalah seorang ras duyung.
__ADS_1
Sementara yang satunya, Zaltra. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan Faltra mengingat dia adalah adiknya, mungkin jika harus membandingkannya dalam segi fisik dan ketampanan dia yang akan menang.
Mereka berdua kini sedang berjalan menuju tempat Akira berada. Faltra mengikuti kakaknya yang berjalan lebih cepat mendahului langkahnya selagi terus menyuarakan ketidaksukaannya terhadap manusia.
"Omong kosong. Seperti biasa, kau selalu saja naif, Zaltra. Bagiku semua manusia itu sama saja, sama-sama menjijikan. Mereka semua adalah satu-satunya makhluk paling nista yang tidak tahu diri. Satu-satunya makhluk yang sangat kubenci. Kau lihat, menyebutkan namanya saja sudah membuatku muak."
Zaltra tidak terlalu mengindahkan perkataan Faltra karena dirinya sudah terbiasa oleh sikap adiknya yang selalu emosional itu.
"Sudah kubilang dia bukan manusia biasa. Aku menemukan dia saat itu sedang melawan Binatang Jahanam seorang diri. Tidak ada manusia yang seperti itu. Kemungkinan pasti dia adalah sosok yang selama ini kita tunggu." Zaltra menjelaskan berdasarkan pengamatannya.
Menanggapi perkataan Zaltra, Faltra menggaruk kepalanya kasar, "Ahhk! Tidak peduli! Aku tidak ingin percaya kalau sosok yang akan menyelamatkan kita adalah seorang manusia."
"Terserah kau saja. Tapi aku sangat yakin pasti dia orangnya."
"Cih, dasar kakak bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Suara gaduh kedua orang itu terdengar semakin dekat ke kuping Akira, hingga beberapa langkah kemudian mereka pun memasuki ruangannya tanpa permisi.
Dor!
Zaltra yang pertama kali masuk disambut tidak baik oleh sebiji peluru yang hampir mengenai kepala. Dia sangat terkejut melihat Akira kini tengah menodongkan senjata ke arahnya. Faltra yang ikut menyusul masuk pun sama-sama terkejut bercampur rasa tidak percaya saat mengetahui siapa sosok manusia di depannya ini.
"Tolong tenang dulu. Kita sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa." Zaltra mengangkat kedua tangannya mencoba menenangkan Akira.
Sementara Faltra kini melebarkan matanya dengan rahang mengeras, "Hah? Apa-apaan ini? Ternyata manusia yang kau maksud hanyalah seorang bocah?" lalu menunjuk Akira sambil mendengus marah dan berjalan mendekatinya, "Lelucon apa ini, Zaltra! Kau sebut bocah ini—"
Perkataan Faltra seketika terhenti tepat setelah Zaltra memukul leher belakangnya dengan keras hingga membuatnya pingsan. Dia lalu menangkap tubuhnya dan menidurkannya di lantai.
'Bodoh! Apa kau tidak merasakannya! Aura sihir yang dikeluarkan bocah manusia ini benar-benar tidak masuk akal! Tidak mungkin ada manusia sepertinya!" Zaltra ingin sekali berteriak memarahi adiknya saat itu juga tapi dia menyadari prioritasnya sekarang.
Zaltra sungguh tidak percaya dengan apa yang dia rasakan saat melihat Akira. Aura sihir yang bergejolak di tubuh Akira berhasil membuatnya berkeringat dingin, padahal saat menolongnya tadi dia tidak merasakan hal seperti itu.
"Kau diam saja dulu..." Setelah menidurkan adiknya pandangan Zaltra kembali lagi pada Akira.
Akira yang menyaksikan aksi Zaltra hanya berkerut dahi. Dia masih memposisikan senjatanya dan mengulangi pertanyaannya kembali, "Siapa sebenarnya kalian?"
__ADS_1
Zaltra mencoba tersenyum sesopan mungkin, "Perkenalkan namaku Zaltra. Aku yang sudah menolongmu dan membawamu kesini." Zaltra lalu menunjuk adiknya yang terkapar," Sementara dia adikku, Faltra. Kita berdua adalah ras duyung." Zaltra mencoba memperkenalkan diri secara baik-baik.
Melihat tidak ada tanda bahaya apapun dari mereka, Akira menurunkan senjatanya dan kembali dalam posisi bersila.
"Ras duyung?" Akira merajut alisnya dalam saat mendengar istilah itu.
"Benar." Zaltra mengangguk.
Akira menyipitkan matanya meneliti penampilan Zaltra dari atas sampai bawah, "Hm...Tapi kenapa kalian tidak mempunyai ekor?"
Zaltra terkekeh ringan mendengar pertanyaan konyol Akira, "Sepertinya kau baru pertama kali ini melihat sebangsaku, ya." Dia lalu menjelaskan, "Lain halnya ketika di dalam air, ketika berada di darat ras duyung akan kembali ke bentuk seperti ini. "
"Ah iya, benar juga. Akan sangat sulit pasti kalau kalian berjalan di darat menggunakan ekor. " Akira mengangguk-anggukan kepalanya memahami dengan sudut bibir sedikit meninggi. Sementara Zaltra hanya tertawa pelan mendengarnya biarpun dalam hatinya dia tidak suka dengan penuturan Akira barusan yang terkesan menghina.
"Jadi kau yang sudah menyelamatkanku waktu itu?" tanya Akira memastikan sambil menaikkan satu alisnya.
"Benar."
"Kalau begitu kuucapkan terima kasih."
Zaltra terkekeh sinis dalam hatinya, 'Ternyata dia tahu terima kasih juga rupanya.'
"Ya, sama-sama." Zaltra menjawab dengan sedikit anggukan.
"Hm...omong-omong tempat apa ini?" Akira bertanya hal lain seraya pandangannya mengitar sekitar.
"Kau sekarang sedang berada di kuil bawah laut, " jelasnya mengikuti pandangan Akira.
"Tempat yang aneh…" gumam Akira yang masih mengitari tempat keberadaannya sekarang sebelum pandangannya kembali terpaku pada Zaltra.
"Terakhir, bagaimana caranya kalian bisa ada disini?" Akira bertanya lagi.
Zaltra tidak langsung menjelaskan. Merasa pegal karena sejak tadi berdiri, dia memilih berjalan mendekati Akira kemudian duduk di sisi ranjang, tidak jauh di sampingnya.
"Ceritanya cukup panjang..." katanya dengan raut wajah yang tampak muram.
__ADS_1
"Ceritakan saja."
"Baik." Zaltra mengangguk singkat dan bersiap menjelaskan. Akira ikut memasang telinga bersiap mendengarkan.