
"Hah?"
Permintaan Zero membuat wanita itu terdiam dengan mulut sedikit ternganga, sulit menerimanya begitu saja. Lagipula dia tidak pernah menyangka jika bocah sepertinya ternyata menyukai hal seperti ini.
Meski permintaan Zero terlihat sederhana, tapi tidak baginya yang sudah memiliki pasangan. Apalagi harus melakukannya di tempat terbuka. Harga diri serta statusnya sebagai seorang pemimpin seketika jatuh.
Tetapi melihat keadaannya saat ini dia tidak mempunyai banyak pilihan. Keadaan benar-benar memaksanya untuk menerima permintaan itu. Bagaimanapun juga dia masih ingin tetap tetap hidup demi bisa kembali ke orang-orang yang dia sayang.
"Baik, Tuan…" Wanita itu mengangguk kemudian mulai melucuti zirah yang menempel di tubuhnya. Hal itu membuat Zero mengerutkan dahi di balik topengnya, belum memahami apa yang sedang wanita itu lakukan.
Setelah melucuti zirahnya, Wanita itu melirik ke segala sisi memastikan tidak ada orang lain yang melihat. Dia pun malu-malu mulai melucuti pakaiannya juga. Dimulai dari bajunya.
"Berhenti...apa yang kau lakukan?" Namun sebelum bajunya terlepas, Zero segera menghentikan aksinya menyadari sepertinya wanita itu telah salah paham dengan maksud dari menghiburnya tadi.
"Bukankah Tuan menyuruhku untuk menghiburmu…" Wanita itu menjadi kebingungan.
"Ya. Memang benar, tapi bukan dengan cara seperti ini..." Zero menggaruk belakang kepalanya canggung. Jujur, dia tidak suka membahas sesuatu yang bersifat intim.
"Maksudnya?" Wanita itu tidak mengerti.
"Apa kau mengerti arti dari menghibur?" tanya Zero.
"Tuan memintaku melakukan hal yang seperti itu, kan…" Wanita itu menautkan dua telunjuknya memberi kode.
"Apa aku salah?"
"Tentu saja salah," sergah Zero yang membuat wanita itu sontak kembali ketakutan. Dia takut telah melakukan kesalahan.
"Maaf, Tuan. Aku tidak terlalu memahami arti menghibur yang Tuan maksud…" Wanita itu berharap Zero tidak tersinggung.
"Ah, sudahlah. Aku sudah tidak memiliki selera lagi." Zero turun dari singgasananya mendekati wanita itu dan berdiri dua meter di depannya.
"A-Apa yang ingin Tuan lakukan?" Wanita itu dengan gugup bertanya.
"Sebelum itu aku ingin tahu, untuk apa seorang wanita sepertimu mengikuti profesi pria seperti ini? Dan hadiah apa yang kau dapatkan jika kau memenangkan perang ini?" Zero mengamati wanita itu yang tampak tidak jauh berbeda dengan wanita biasa jika sedang tidak memakai zirah.
"Aku melakukannya demi keluargaku, Tuan. Jika aku memenangkan peperangan ini aku dijanjikan hadiah yang besar dan kenaikan pangkat oleh atasanku." Wanita itu berharap Zero merasa simpati dan mau membebaskannya.
"Begitu, ya. Kalau begitu…" Zero mengeluarkan pedang di punggungnya membuat wanita itu spontan ketakutan.
"Kau tidak pantas menjadi seorang wanita." Zero dengan begitu cepatnya memotong rapi rambut panjang wanita itu hingga membuatnya pendek, tidak sampai bahu.
"Rambutku…"
"Anggap saja itu sebagai persyaratan barusan yang tidak bisa kau penuhi…" Zero melangkah pergi meninggalkan wanita itu yang kini terjatuh lemas memandangi rambut yang menjadi mahkotanya sebagai seorang wanita berceceran di tanah.
"Kenapa kau kejam sekali…" Wanita itu berbalik menatap Zero dengan berlinang air mata, tidak terima harga dirinya sebagai seorang wanita hancur. Kalau tahu akan jadi seperti ini lebih baik dia memilih mati saja daripada harus menanggung malu.
"Hah~? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Zero berhenti melangkah mendengus geli mendengar pernyataan wanita itu.
"Siapa kau sebenarnya…" lirih wanita itu bertanya.
"Ah, iya benar. Aku lupa belum memperkenalkan diri…" Zero menolehkan sedikit wajahnya sambil membuka setengah topengnya, memperlihatkan sebelah matanya yang tergores serta senyuman sinis.
"Kau bisa mengenalku sebagai Venom. Sebarkan ke semua orang di dekatmu dan katakan pada mereka bahwa pahlawan baru yang akan merubah tatanan di dunia ini telah tiba…" Setelah berkata demikian Zero memakai topengnya kembali dan lanjut melangkah, melambaikan tangan meninggalkan wanita itu.
"Venom..." Wanita itu menggumamkan istilah yang kejam dan menakutkan itu sambil menatap pemiliknya yang hanyalah seorang bocah ingusan yang seiring langkah menghilang.
Setelah jauh, Zero membuka topengnya kemudian tersenyum tipis teringat akan cerita Charla sebelumnya tentang dunia ini.
"Sesuai seperti perkataanmu Chara, dunia ini ternyata memang busuk…"
*~*
Zero melangkah tanpa arah tujuan. Dia masih belum mengetahui ada dimana dirinya saat ini. Selang beberapa waktu berjalan, dia memutuskan beristirahat ketika merasa perutnya sudah minta diisi.
Seusai makan dia teringat akan hadiah-hadiah dan berbagi hal yang sebelumnya ingin dia bahas.
"Sistem Call: Apakah efek potion peningkat tubuh ini masih berlaku?" Zero memperlihatkan botol potion yang hendak dia minum.
[Tentu. Bedanya jika di dunia ini durasi efek potion tersebut kini berubah dari sepuluh hari menjadi tiga bulan]
"Bukankah itu bagus." Zero senang mendengarnya.
"Biarpun di dunia ini pertumbuhanku kembali seperti semula tapi aku harus terus mengkonsumsinya…" Zero meminum potion itu hingga habis biarpun efek sebelumnya sebenarnya masih ada.
Setelah itu Zero lanjut ke pembahasannya yang lain.
"Sistem Call: Tampilkan hadiah dari misi terakhir yang sebelum aku dapatkan."
[Baik]
{Reward misi:
-Legendary Chest
- 3 Jt BP
-50000 EXP
-125 SP
__ADS_1
-Sword of Rupture (Weapon)
-System access
-Message (Skill)
-Heroes From Hell (Title)}
"Hm… Dimulai dari mana dulu, ya..." Zero bertopang dagu mengamati satu persatu hadiah yang tertera disana.
"Sword of Rupture…" Pandangannya tertuju ke bagian hadiah itu.
"Ah, ini pasti pedang yang tadi..." Zero kemudian membuka menu inventory-nya lalu mengambil pedang yang saat itu susah sekali dia dapatkan, bahkan sampai menguras habis semua orb yang dia punya.
Meski sekilas jika dilihat bentuknya terlihat biasa-biasa saja tapi begitu melihat deskripsinya mata dan rahang Zero terbuka lebar oleh ketakjuban.
{Name: Sword of Rupture
Type : Weapons
Class: S+
level : -
Deskripsi: Pedang yang memiliki daya rusak yang sangat dahsyat ini tidak bisa dipakai oleh sembarang orang. Kekuatannya mampu merobek bumi, langit dan ruang menjadi dua, bahkan mampu menghancurkan sebuah planet. Tak hanya itu, pedang ini juga mampu memusnahkan hampir segala hal}
Zero menggeleng pelan sambil mengamati pedang itu, "Bukankah deskripsinya terlalu berlebihan. Menghancurkan sebuah planet? Jelas itu tidak mungkin." Dia menganggap pengandaian menghancurkan sebuah planet hanya untuk membuat pedang ini terlihat hebat saja.
Merasa cukup, Zero memasukkan pedang itu kembali.
"Yosh, sudah waktunya aku membuka semua peti hadiah yang aku dapatkan tadi."
Zero bertitah pada Sistem untuk menampilkan semua peti hadiah yang dia dapatkan. Setelah itu dia langsung membuka hadiah yang paling besar terlebih dahulu: Legendary Chest.
{Legendary Chest — Selamat Anda mendapatkan :
-500000 BP
-100 SP
-60000 EXP
-Matchless Bow (Weapon)
-Elemental Armor (Attribute)
-Lie Detection (Passive Skill)
-God's Perception (Active Skill)
"Hahaha! Sesuai dengan yang aku harapkan!" Zero tertawa lantang di tengah hutan, sangat puas dengan hadiah-hadiah yang dia dapatkan.
Pandangannya segera terpaku pada skill-skill yang tertera di sana.
"Aku mendapatkan dua skill pasif dan satu skill aktif disini…" Zero merasa tertarik dengan arti nama dari ketiga skill itu. Dia pun segera membaca deskripsi dan kegunaannya.
Pertama:
{Lie detection: Sesuai namanya, kegunaan skill yang bersifat pasif ini yaitu untuk mengungkap kebohongan seseorang dan mencari tahu apakah seseorang itu berbohong atau tidak}
"Skill ini akan sangat membantu..." Zero tentu senang mendapatkannya.
Kedua:
{Sage Eye: Dengan skill Mata Bijak ini Anda kini bisa membaca sifat, perilaku dan mengungkap jati diri seseorang}
Zero tersenyum sinis saat membaca kegunaan skill tersebut, "Dengan ini sekarang aku bisa mengungkap kelicikan dan kemunafikan yang biasa dilakukan oleh para manusia-manusia hipokritis (munafik) yang ada di dunia ini. Beruntung sekali aku bisa mendapatkannya."
Terakhir:
{God's perception : Anda bisa menggunakan skill ini untuk mencari tahu keberadaan seseorang dengan jangkauan yang sangat jauh}
Zero tidak berhenti puas dengan kegunaan semua skill yang dia dapatkan dalam satu peti legendaris itu.
"Hahaha! Semua hadiah yang aku dapatkan dari Legendary Chest ini memang yang terbaik…"
Selesai membaca semua deskripsi hadiah yang tertera, Zero menutup semua panel deskripsi itu dan lanjut membuka hadiah-hadiah lain yang belum dia buka. Rupanya semua peti hadiah itu tidak ada satupun yang mengecewakan. Di sana dia mendapatkan hadiah-hadiah yang mengagumkan.
Zero beralih membahas hal lain yaitu terkait System Acces yang tertera di hadiah misi terakhir yang didapat.
Sistem dengan segera menjawab:
[Mulai sekarang Anda bisa membuka berbagai menu serta opsi atau meminta bantuan apapun pada sistem tanpa perlu harus melafalkan kata Sistem Call terlebih dahulu. Lebih jelasnya semua akses Sistem kini sepenuhnya milik Anda]
"Begitu, ya…" Zero merasa senang karena dengan ini dia tidak perlu ribet lagi.
"Baik, terakhir title Heroes from Hell." Zero lanjut bertanya mengenai arti dari title tersebut.
Sistem pun menjawab:
[Title ini merupakan title permanen pemberian dari Makhluk Agung. Dengan title ini Anda sekarang akan menerima berbagai quest yang ditujukan pada Anda sebagai pahlawannya dan Anda akan menerima hadiah yang sesuaai dengan quest yang Anda selesaikan
__ADS_1
Sistem melanjutkan:
[Quest yang ditujukan disini terbagi menjadi dua, yakni utama dan bebas. Utama yaitu quest wajib yang harus Anda selesaikan. Sedangkan bebas, Anda bisa memilih menerimanya atau tidak. Penalti akan berlaku jika Anda gagal menyelesaikan quest]
Sistem menutup penjelasannya.
"Hm...Jadi makhluk itu memintaku untuk menjadi pahlawan, ya…" Zero mengelus dagunya merasa tertarik dengan tugas baru yang harus dia jalani di dunia ini.
"Oh, iya statusku…" Teringat akan statusnya, segera Zero membukanya dengan menggunakan pikirannya sendiri tanpa melafalkan kata sistem.
——————¤¤¤———————
—————STATUS——————
——————¤¤¤———————
Name : Zero
Level : 85
Job : The Expert
Title : Heroes From Hell (1+)
——————
HP : –
MP: 68000/68000
EXP : 232000/1250000
———
BP : 39.340.800
SP : 285
Orb: 783450
——————————————
Str : 555
Agi: 523
Sen: 514
Vit : 547
Int : 558
——————————————
"Level 85... semakin tinggi levelnya, Exp yang harus dikumpulkan juga akan semakin banyak... sepertinya mulai saat ini akan sangat sulit bertambah level..." Zero memikirkan berbagai kemungkinan.
Pandangannya kemudian terpaku pada status HP yang dia punya.
"Tunggu dulu, HP yang kumiliki disini kenapa kosong..." Berkerut dahi Zero melihatnya.
Tanpa diperintah oleh Zero Sistem tiba-tiba menjawabnya.
[Itu karena Anda sekarang abadi]
Zero sejenak terkejut mendengarnya sebelum menyadari kalau kini dia mempunyai akses sistem, jadi tidak aneh jika sistem menjawabnya tanpa perlu dia suruh.
"Hahaha, benar juga…" Zero tertawa renyah sambil memukul jidatnya sendiri, merasa bodoh karena baru mengingat kalau dia kini abadi.
Mengamati satu persatu statusnya, Zero lalu memasukan semua poin skill yang dia punya pada semua yang ada di sana dengan teratur.
"Yosh, kurasa sudah cukup…" Zero bangkit dari posisinya, melakukan peregangan sejenak dan kembali melanjutkan perjalanan.
*~*
"Tolong! Siapa saja! Kumohon tolong aku... aku tidak ingin kembali lagi ke tempat itu..."
Di suatu hutan yang rimbun, terdapat seorang gadis bertelinga rubah dengan pakaian compang-camping tengah dikejar oleh sekelompok laki-laki yang terlihat jelas sedang mempermainkannya.
Meski tubuhnya sudah dipenuhi luka serta kakinya yang tak beralas kini terkilir dan berdarah, gadis itu masih terus berjuang melangkahkan kakinya mencoba menjauh dari kejaran sekelompok laki-laki yang jaraknya sudah semakin dekat.
"Hahaha! Mau pergi kemana kau, hah? Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkanmu disini... sudah, lebih baik sekarang kau ikut kami kembali lagi ke sana dari pada bosmu nanti semakin marah."
Sekelompok laki-laki itu tidak berniat menangkap gadis itu dan masih terus mempermainkannya sambil tertawa.
Seiring gadis itu melangkah pandangannya semakin terlihat buram. Sampai beberapa langkah kemudian dia pun tersandung sebuah batu kecil dan terjatuh.
'Apa hanya sampai di sini saja... aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu...' Gadis itu berusaha bangkit tapi kakinya menolak keinginannya itu. Jarak antara dia dengan sekolompok laki-laki itu pun semakin dekat.
'To-tolong…selamatkan aku...' Gadis itu berharap ada seseorang yang membantunya.
Tanpa diduga akhirnya secercah cahaya harapan datang. Dari balik pandangannya yang buram gadis itu menemukan seseorang dari kejauhan yang tampak tengah mengemut permen lolipop sedang berjalan santai menghampirinya.
__ADS_1
Dia pun dengan segenap usaha berkata pada orang itu.
"Tolong..."