
#Kerajaan Balviar
Di luar pintu masuk istana kerajaan seorang raja tengah berdiri diantara dua pilar beserta para menteri yang masing-masing berjajar di setiap sisinya. Pandangan mereka semua tertuju pada lima orang perajurit yang tengah berlutut di tanah memberi hormat pada mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan perangnya? Coba jelaskan!" Raja dengan lantang membuka suara meminta penjelasan.
Salah satu prajurit dengan segera menyampaikan segala informasi yang dia lihat dari kekacauan perang yang terjadi kemarin. Informasi yang disampaikan itu nyatanya tidak dapat diterima dengan baik oleh sang raja dan para menteri.
"Apa! Itu tidak mungkin!" Raja berteriak setelah mendengar informasi yang terdengar tidak masuk akal tersebut.
"Itu benar, Yang Mulia. Kami juga sebenarnya tidak bisa mempercayainya, tapi kami melihatnya dengan mata kami sendiri." Perajurit yang lain ikut membenarkan dan dibantu oleh yang lainnya juga.
Disaat mereka berusaha meyakinkan informasi itu segerombolan prajurit yang lain datang menghadap sang raja dengan membawa informasi.
"Yang Mulia, kami sudah memastikannya. Semua orang yang ada di sana tewas, tidak ada satupun yang selamat. Bahkan jasad kapten pun ada di sana. Dia tewas secara mengenaskan." Prajurit itu menyampaikan informasi yang dia dapat di lokasi terjadinya perang.
"Mustahil...ini tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa seorang bocah mampu melakukan semua itu. Belum lagi naga…bagaimana bisa ada naga di dunia ini." Raja memegangi kepalanya yang terasa pusing akan kenyataan yang sulit diterima itu. Kedua menteri di sampingnya mencoba membuatnya tenang.
"Lalu, apa hanya kalian saja yang selamat. Dimana yang lainnya?" Salah satu menteri bertanya.
Para prajurit saling melirik ke satu sama lain sebelum salah satu dari mereka menjelaskan.
"Sebenarnya ada beberapa lagi diantara kita yang selamat, tapi mereka memutuskan pergi meninggalkan tugas daripada kembali ke sini, " jelas salah satu prajurit.
"Dasar tidak berguna! Hukum para pengkhianat itu jika kalian bertemu dengannya. Termasuk mereka juga, hukum semuanya!" teriak raja yang sudah terlanjur emosi memberi perintah.
Prajurit yang berlutut di depannya membuka mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa saat mendengar ternyata mereka akan menerima hukuman juga. Jika tahu akan jadi seperti ini lebih baik mereka ikut dengan mereka yang meninggalkan tugas saja.
*~*
Di dalam hutan yang cukup terbuka, seorang gadis kecil tengah berlari dari kejaran lima orang pria yang berusaha menangkapnya. Selagi berlari gadis kecil itu juga terus berteriak meminta pertolongan, berharap ada seseorang yang mendengar dan datang menyelamatkannya.
"Mau lari kemana kau gadis kecil!"
"Sudah cukup! Jangan buat kami marah!"
Kelima pria itu nyatanya tidak bisa mengejar gadis kecil itu yang mampu berlari dengan gesit.
"Aku tidak boleh sampai tertangkap oleh mereka!" Gadis kecil itu tanpa kenal lelah terus berusaha melangkahkan kakinya.
"Ayah, ibu, semuanya, aku akan mencari pertolongan untuk kalian. Tolong pinjamkan kekuatan kalian padaku." Gadis kecil itu mencoba menyemangati dirinya.
Sebenarnya gadis kecil itu sejak tadi sudah merasa lelah, tetapi dia masih tetap terus berjuang untuk mencari bantuan seseorang demi menyelamatkan orang-orang di desanya.
Namun sekeras apapun dia berjuang, kakinya yang sudah terasa lelah itu tidak bisa menuruti keinginannya lagi hingga akhirnya langkahnya pun melambat dan dia mulai terkejar oleh beberapa pria itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa terus berlari seperti ini."
Menyadari kakinya sudah tidak kuat lagi, dalam langkahnya gadis itu memutuskan mencari tempat bersembunyi sebelum mereka yang masih jauh di belakangnya bisa menemukannya. Gadis itu memotong jalan dan menerobos masuk ke dalam semak belukar yang rimbun.
Ketika berhasil keluar dari semak belukar, gadis kecil itu terperanjat saat menemukan seorang anak laki-laki tengah buang air kecil tepat di sampingnya.
"Ahh!!" Sontak dia pun menjerit sambil menutupi matanya yang hampir melihat burung yang menggantung pada selangkanan anak laki-laki itu.
Sedangkan anak laki-laki itu yang sebelumnya tengah memejamkan mata dan fokus menikmati sensasi buang air kecil langsung membuka matanya dan ikut menjerit melihat kehadiran gadis kecil itu yang tiba-tiba
*~*
Sebelumnya…
Zero bersama Sherria yang berada di atas punggung Fluffy masih melayang di ketinggian. Mereka sedang mencari desa untuk menanyai apakah ada seseorang yang mempunyai peta. Namun sayangnya dari satu-dua desa yang mereka datangi dan beberapa orang yang mereka tanyai ternyata tidak ada satupun yang mempunyai benda itu.
"Hachim!"
"Hachim!"
"Hachim!"
Sejak tadi entah kenapa Zero terus-terusan bersin meskipun saat ini dia dalam kondisi sehat, tidak ada pertanda kalau dia sedang sakit.
"Zero-sama, ada apa? Apa anda sedang sakit?" Sherria yang merasa khawatir pun bertanya
'Sialan, sepertinya ada seseorang yang terus membicarakanku.' Zero mengusap hidungnya yang memerah. Dia sudah menebak siapa yang sedang membicarakannya itu.
"Flo, turun sebentar, aku ingin buang air kecil." Zero memberi perintah saat merasa demikian.
Seperti biasa dia mengarahkan Fluffy untuk turun di tempat yang tidak bisa dilihat oleh orang karena tidak ingin menarik perhatian.
"Kalian tunggu disini sebentar..." Zero memberi perintah. Mereka mengangguk menurut. Kemudian Zero melangkah tuk mencari tempat yang pas untuk buang air kecil.
Setelah menemukan tempat yang cocok dan aman dari gangguan dia segera membuang kotorannya di sana.
"Hachim!" Zero lagi-lagi bersin saat baru ingin membuka celananya.
"Cih, apa mereka tidak bosan terus-terusan membicarakanku," gerutu Zero sambil mengusap-usap hidungnya.
Tidak ingin memikirkannya, dia pun memejamkan mata dan mulai fokus menikmati sensasi dari buang air kecil, mengabaikan suara kresek-kresek yang berasal dari semak belukar di dekatnya yang seiring waktu terdengar semakin jelas.
"Ahh!!"
Disaat baru selesai buang air kecil, Zero membuka matanya saat mendengar teriakan itu. Bola matanya terbelalak saat menemukan seorang gadis kecil terperanjat di sampingnya sambil menutup mata.
__ADS_1
"Ahh!" Sontak Zero pun ikut berteriak melihatnya dan buru-buru dia memakaikan celananya kembali.
"S-Sedang apa kau disini?" Zero bertanya penuh keterkejutan.
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Kenapa kau buang air di tempat ini? Ah...mataku hampir saja ternodai." Gadis kecil itu masih menutup matanya.
"Hah? Memangnya kenapa? Lagi pula sebelumnya aku tidak melihat ada orang lain disini, jadi ini bukan salahku," gerutu Zero pada gadis kecil itu.
"Sudah cukup. Lebih baik kau pergi dari tempat ini sekarang." Gadis kecil itu membuka matanya. Dari wajahnya terlihat jelas dia sedang panik.
"Kenapa kau sekarang malah mengusirku?" protes Zero tidak terima.
"Aku tidak mengusirmu! Cepat pergi dari sini!" teriak gadis itu.
"Itu kau bilang menyuruhku pergi! Bukankah itu sama saja kau mengusirku!
Disaat mereka berdua sedang sibuk berdebat, Sherria bersama Fluffy datang menghampiri.
"Zero-sama, apa yang terjadi?" Sherria dan Fluffy mendekati Zero.
"Siapa dia?" tanya Sherria.
"Teman?" Fluffy memiringkan wajahnya, berpikir apakah itu teman baru Zero.
Zero mencoba menenangkan dirinya kembali lalu menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba muncul di depanku."
Pandangan mereka bertiga kini tertuju pada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua dan mempunyai bintik-bintik di pipinya itu.
Sesaat kemudian Zero mengerti alasan mengapa gadis kecil itu menyuruhnya pergi.
"Oh, jadi kau sedang main kejar-kejaran dengan mereka." Zero merasakan ada beberapa orang yang tengah mendekat ke arahnya sampai akhirnya kelima pria yang tadi mengejar gadis kecil itu muncul di hadapan mereka.
"Hahaha, akhirnya ketemu juga kau, bocah sialan." Mereka berlima muncul di salah satu arah mengejutkan gadis kecil itu. Sebelum gadis itu bisa berlari salah satu dari mereka lebih dulu menangkapnya.
"Lepaskan...!" Namun gadis itu berhasil lepas kembali setelah menggigit tangan pria yang menangkapnya itu dan langsung berlindung di belakang Sherria.
"Kakak tolong aku…" lirihnya ketakutan. Dia tidak mempunyai tenaga untuk berlari lagi.
"Coba lihat, apa yang kita temukan…" Kelima orang pria itu tersenyum jahat saat menemukan seorang gadis demi-human cantik beserta satu gadis kecil lainnya dan seorang anak laki-laki berkumpul di satu tempat.
Mereka menjilati bibirnya saat pandangannya terpaku pada gadis demi-human yang terlihat begitu menggoda.
Sherria yang ditatap oleh mereka segera bersembunyi di belakang Zero. Sementara Fluffy yang masih dalam posisinya menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
"Tidak sia-sia kita mengejarnya sampai sini." Salah satu dari mereka menyeringai, merasa senang bisa mendapatkan mainan bagus.
__ADS_1
"Ho~ Benarkah? Menurutku kalian sedang sial karena berani muncul dihadapanku." Zero tersenyum santai menanggapi ocehan mereka.