
Di sebuah tempat yang kelam, di dalam suatu ruangan yang mempunyai nuansa gelap nan menakutkan, dua orang iblis tengah duduk saling berhadap-hadapan dengan meja kecil di depan berdiri sebagai pembatas.
Di atas meja terdapat papan catur dengan bidak yang sudah bertebaran di segala tempat menandakan pertandingan sudah dimulai sejak tadi.
Pertandingan antara kedua belah pihak masih terus berlangsung, sampai beberapa langkah kemudian salah satu iblis yang tak lain merupakan raja di tempat itu mengangkat bidak terakhirnya untuk mengakhiri pertandingan.
"Yang Mulia memang hebat. Ini untuk kesekian kalinya hamba kalah melawanmu," kata iblis yang kalah itu memuji.
"Kau hanya perlu terus berlatih jika ingin mengalahkanku, Thamuz." Iblis yang dipuji berdiri lalu berjalan ke dekat jendela dan mengarahkan pandangannya ke arah luar.
Disana kedua matanya menangkap pemandangan yang sudah ribuan tahun ini selalu menemani hari-harinya. Tanah merah gelap yang gersang terhampar luas tanpa ada satupun tumbuhan yang tumbuh selain tengkorak dan tulang belulang yang bertebaran dimana-mana.
"Jadi bagaimana pendapatmu, Thamuz. apa yang kau rasakan setelah memutuskan tinggal di dunia ini? " tanya sosok yang tak lain adalah raja iblis dunia atas, Lucifer.
Thamuz berdiri dari kursinya lalu berjalan ke satu jendela lain di samping Lucifer dan ikut memusatkan pandangannya ke arah luar.
"Harus hamba akui, hamba sedikit bosan, karena di dunia ini tidak ada yang bisa memuaskan kesenangan hamba seperti ketika hamba bertugas di dunia bawah. Tapi sekarang hamba tidak terlalu memperdulikan hal itu sebab alasan hamba memilih tinggal disini karena hamba memiliki tujuan yang besar, yaitu membalaskan dendam hamba pada manusia yang telah membuat diri hamba terhina," ujar Thamuz terlihat geram ingin segera bertemu dengan sosok bocah yang waktu itu telah menghinanya.
"Apa kau yakin sosok yang kau cari ada di dunia ini?" tanya Lucifer.
"Ya. Insting hamba tidak pernah salah, Yang Mulia. Hamba seratus persen yakin kalau dia pasti ada di dunia ini. Jika saja ada jalan untuk keluar dari tempat ini hamba saat itu juga akan menghampirinya dan membalaskan dendam hamba," ujar Thamuz dengan kepalan tangan terkepal erat.
"Jadi menurut Yang Mulia berapa lama lagi hamba harus menunggu untuk bisa keluar dari tempat ini?" Giliran Thamuz yang bertanya.
"Aku tidak bisa memperhitungkannya. Tapi aku yakin anak-anakku yang ada di luar sana sekarang pasti sedang berusaha mencari cara untuk membebaskan seluruh kaum kita yang terkurung disini," ujar Lucifer sambil tersenyum menghadap langit merah yang mengelilingi tempat itu.
"Benarkan… Mad Gear... Zeldris…. Irene...dan yang terakhir...Gladius…" Lucifer menyebut masing-masing nama anaknya yang ada di luar sana.
*~*
Zero merajut alisnya dalam saat melihat pria berambut putih itu tiba-tiba berlutut di hadapannya.
"Perkenalkan namaku Gladius, tolong izinkan aku untuk menjadi bawahanmu…" ujar pria berambut putih itu.
Zero menaikkan satu alisnya setelah mendengar apa yang pria berambut putih itu katakan.
"Hah~? Apa maksudmu memintaku untuk menjadikanmu bawahanku?" Zero tidak mengerti alasan mengapa Gladius ingin menjadi bawahannya.
Charla dan yang lainnya pun merasa demikian. Mereka belum pernah melihat apalagi mengenal Gladius. Kemunculannya sekarang yang tiba-tiba dan langsung meminta untuk menjadi bawahan Zero jelas terlihat mencurigakan.
"Aku tidak mempunyai maksud apa-apa, Tuan. Aku hanya ingin Tuan menerimaku sebagai bawahanmu." Gladius mengulangi permintaannya sambil menunjukkan senyuman ramah.
Zero terdiam sejenak dan mengamati karakter Gladius sekali lagi menggunakan mata bijaknya untuk membuktikan apakah dia mempunyai maksud jahat atau tidak.
Namun apa yang dia temukan masih sama. Zero sama sekali tidak bisa membaca karakter pria yang selalu memasang wajah ramah itu seolah ada sesuatu yang menghalangi pandangannya.
__ADS_1
Zero melangkahkan kakinya mendekati Gladius seiring dirinya merubah bentuknya kembali menjadi orang dewasa.
Saat berada satu langkah di depannya, Zero terdiam selama beberapa detik mencoba membaca karakter Gladius dari jarak dekat namun lagi-lagi hasilnya sama.
Zero mendengus kesal kemudian mendaratkan satu tendangan di wajah Gladius hingga mementalkannya cukup jauh ke belakang.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu dan tidak mengerti kenapa kau ingin menjadi bawahanku. Cepat katakan saja, apa sebenarnya tujuanmu?" Zero terdengar kesal.
Gladius membangkitkan dirinya yang terjatuh sambil menyeka sedikit darah yang keluar dari tepian bibirnya.
"Tujuanku disini hanya ingin menjadi bawahanmu, Tuan. Sudah itu saja…" Gladius menunjukkan senyuman ramahnya kembali membuat Zero sedikit muak melihatnya.
'Dia…' Zero menatap tajam Gladius sembari mendekatinya lagi.
"Apa keuntungan yang kau dapat dari menjadi bawahanku?" Zero menendang Gladius sekali lagi hingga dirinya menghantam pohon dengan cukup keras. Charla dan Sherria mengernyitkan wajahnya saat melihat itu.
Gladius kembali bangkit dengan seulas senyuman yang tampak masih terlukis di belahan bibirnya.
"Keuntungan? Tidak ada." Gladius menggeleng lemas, "Sudah kubilang bukan kalau aku hanya tertarik padamu. Aku ingin menjadi bawahanmu supaya aku bisa berjalan disampingmu seperti mereka," ujar Gladius.
Zero tidak menemukan kebohongan dalam ucapannya dan semua itu murni berdasarkan perasaannya sendiri. Dia berdecak, tidak mengerti kenapa pria berambut putih ini begitu bersikerasnya ingin menjadi bawahannya.
"Aku tahu Tuan pasti tidak bisa mempercayaiku semudah itu. Tapi…" Gladius menggerakkan tangannya ke samping, mengeluarkan sesuatu berupa rantai kecil yang dialiri energi sihir dari balik pergelangan bajunya.
Zero berhenti melangkah lalu mengerutkan dahinya saat melihat rantai yang terlihat tidak biasa itu. Sementara Charla dan yang lainnya menjadi khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk.
Tindakannya mengejutkan mereka semua yang menyaksikan.
"Apa yang kau lakukan?" Zero tidak mengerti.
"Hanya ini satu-satunya cara agar Tuan mau mempercayaiku…" Gladius menunjukkan senyuman ramahnya lagi.
"Coba sekarang lihat apa yang ada di dalam dadaku…" Gladius menunjuk dadanya yang basah karena darah.
Mengikuti perkataan Gladius, Zero menggunakan skillnya untuk melihat apa yang ada di dalam dadanya itu.
Zero membelalakan matanya terkejut saat menemukan sebuah rantai kini melilit jantung Gladius dan di tengah-tengah jantungnya terdapat simbol kutukan.
"Dengan begini aku sudah menanamkan kutukan pada diriku sendiri. Dan kutukan ini akan berlaku jika aku berkhianat pada, Tuan. Artinya sekali saja aku mengkhianati Tuan maka rantai yang melilit jantungku ini akan langsung membunuhku..." jelas Gladius.
'Kenapa dia begitu nekat sekali hanya untuk menjadi bawahanku. Apa aku bisa mempercayainya, ' batin Zero.
"Trik seperti itu tidak akan berlaku padaku…kau bisa saja dengan mudah menghilangkan rantai itu sendiri..." Zero tak ingin mempercayainya semudah itu.
"Kutukan ini mutlak, Tuan. Aku sungguh tidak mencoba membohongimu." Gladius berkata dengan sorot mara sungguh-sungguh dan Zero tidak menemukan kebohongan dalam ucapannya itu.
__ADS_1
Zero melihat jantungnya yang terlilit rantai itu sekali lagi untuk memastikan. Saat dirinya mengamatinya lebih jauh dia tak sengaja menemukan sesuatu berbentuk bulat dan bercahaya di dalam jantungnya.
"Tunggu...siapa kau sebenarnya? Kau bukan manusia." Zero menduganya seperti itu.
Gladius menghela nafas singkat lalu tersenyum, "Yang Tuan katakan memang benar, aku bukan manusia. Aku adalah makhluk ciptaan ayahku," jelasnya.
"Makhluk ciptaan ayahmu? Siapa sebenarnya ayahmu itu?" tanya Zero.
"Aku juga tidak mengenalnya, Tuan..." Gladius mengusap belakang kepalanya sambil tersenyum. Zero sejak tadi tidak melihat pria yang mempunyai mata sipit itu berbohong.
'Makhluk apa dia sebenarnya? Dan siapa orang yang telah menciptakannya itu? Apa dia sama seperti monster buatan?' Pertanyaan-pertanyaan itu melayang di pikiran Zero saat mengamati Gladius.
'Satu hal yang pasti, untuk sekarang dia tidak mempunyai maksud jahat apapun padaku. Dia juga sungguh-sungguh dengan perkataannya, ' pikir Zero berdasarkan pengamatannya.
"Apa rantai itu sungguhan akan membuatmu tewas jika kau berani mengkhianatiku?" Zero memastikan dengan sorort mata tajam.
"Benar." Gladius tidak berbohong.
Zero mendengus keras kemudian melangkahkan kakinya kembali mendekati Gladius dan bertanya saat berdiri di depannya
"Sekarang beritahu padaku apa yang membuatmu pantas untuk menjadi bawahanku?" Zero memastikan untuk yang terakhir kali.
"Aku bisa membantu Tuan apapun itu. Contohnya seperti menjadikan Tuan sebagai petualang kelas..." Gladius memperlihatkan tag platinum yang menempel di dadanya.
"Oh, rupanya kau sudah mengetahui tujuanku, ya." Zero terkesan mendengar Gladius mengetahuinya padahal dia hanya memberitahukan tujuannya pada Charla dan yang lainnya. Hal itu sudah membutikan salah satu kehebatannya.
"Baiklah, meski aku belum sepenuhnya bisa percaya padamu, kau boleh menjadi bawahanku…" Zero mengulurkan tangannya menerima Gladius sebagai bawahannya. Dia melihat Gladius bisa menjadi orang yang sangat bisa diandalkan.
"Terima kasih karena sudah mau mempercayaiku, Tuan." Gladius menyambut tangan Zero, "Aku berjanji akan menjadi bawahanmu yang setia. Aku akan membuktikannya," lanjutnya.
Setelah menerima Gladiua sebagai bawahannya, Zero kembali ke tempat Charla dan yang lainnya berkumpul untuk memperkenalkan Gladius pada mereka.
"Salam kenal kalian semua."
"Salam kenal juga."
"Mulai sekarang mohon kerjasamanya."
"Mohon kerjasamanya juga."
Mereka menyambut kehadiran Gladius dengan baik.
Selesai saling mengakrabkan diri mereka semua pun kembali pulang secara beriringan. Mereka berempat berjalan di samping Zero sedangkan Gladius memilih mengikuti mereka dari belakang.
Tanpa diketahui oleh mereka diam-diam Gladius tersenyum sinis, memperlihatkan sebelah gigi taringnya yang sedikit panjang dan kedua matanya memancarkan cahaya merah menyala yang menakutkan.
__ADS_1
'Ayah… apa kau melihatnya...aku akhirnya menemukan sosok yang selama ini aku cari...dan sekarang, aku berhasil mendekatinya seperti ini…'