Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sadar Siapa Dirimu


__ADS_3

Zero dan Lawrence yang kini menggunakan mode terbaiknya masih bertarung dengan imbang. Kekuatan dari mode milik Zero dan Lawrence ternyata hampir sama meski Zero sedikit lebih unggul dalam segi kecepatan, ditambah dia saat ini belum mengeluarkan seluruh kekuatan dari modenya tersebut. 


Pertarungan sengit antara kedua Magic Emperor baru berjalan beberapa menit tetapi dampak dari pertarungan tersebut sudah terlihat. Pepohonan di pinggiran hutan itu sudah banyak yang hancur, setiap tanah yang menjadi pijakan mereka pun ikut hancur. 


Gemuruh pertarungan mereka bahkan sampai terdengar ke kota tempat mereka bertemu tadi, membuat mereka yang mendengarnya bertanya-tanya dengan apa yang sedang terjadi. 


Gladius yang menonton pertarungan mereka harus bergerak karena Zero dan Lawrence terus berpindah tempat sampai masuk ke dalam hutan. Sebisa mungkin dia ingin melihat pertarungan mereka dengan jelas tanpa harus terdeteksi oleh Circle Zone milik Lawrence. 


"Sudah kuduga, kau pasti mampu mengimbangi kekuatanku meski sekarang aku menggunakan zirah ini." Lawrence mengakui kekuatan Zero. 


"Mengimbangi katamu?" Zero terkekeh mengejek, "Kau akan melihatnya nanti." Tangannya masih lihai mengayunkan pedang hitamnya ke arah Lawrence, berusaha memberikan kerusakan pada zirahnya yang keras sekali.


"Bersiaplah. Aku akan mulai serius," kata Lawrence.


Dua pertukaran selanjutnya, Lawrence melompat mundur dan mulai menggunakan kemampuan pedang miliknya yang tak lain adalah harta suci. 


"Twelve Swords of Equality." Ketika Lawrence melakukan pola gerakan melingkar menggunakan pedangnya, belasan pedang dengan bentuk yang sama bermunculan mengelilinginya.


Pedang milik Lawrence memiliki kemampuan memanggil atau membuat pedang dalam jumlah yang banyak. Sedangkan belasan pedang yang kini mengelilinginya merupakan pedang terbaik yang dia panggil untuk membantunya melawan Zero. 


Lawrence kini menyerang Zero bersama dengan kedua belas pedang yang mengelilinginya. Walaupun Zero mampu menangkis setiap serangan Lawrence tetapi dia sedikit kerepotan dengan belasan pedang yang mengelilingi Lawrence yang juga ikut menyerangnya secara bersamaan.


'Pedang yang mengelilinginya fungsinya hampir sama dengan pisau yang muncul ketika aku menggunakan mode Spriggan,' batin Zero berdasarkan apa yang dia lihat. 


Merasa posisinya tidak bagus, Zero memilih bergerak mundur dan beralih melancarkan serangan jarak jauh. Zero menciptakan tebasan angin hitam melalui setiap ayunan yang diarahkan pada Lawrence. Kekuatan tebasan angin itu mampu memotong batu yang keras dalam sekali sentuhan.


"Ternyata selain berfungsi untuk menyerang, belasan pedang itu bisa dijadikan tameng untuk bertahan." Zero menyaksikan serangannya barusan digagalkan oleh belasan pedang itu. 


Lawrence tersenyum melihat Zero kini tidak lagi mencoba mendekatinya. "Rain of Sword." Kemudian Lawrence mengarahkan pedangnya itu ke atas dan sesaat kemudian ratusan pedang tiba-tiba berjatuhan dari langit menyerang Zero. 


"Perfect Protective Veil." Zero segera membuat tabir pelindung untuk menahan puluhan pedang yang berjatuhan keras ke arahnya. Saat pelindung itu tidak kuat lagi menahan rentetan serangan bertubi-tubi itu, Zero segera keluar untuk menyelamatkan diri. 


Ternyata belum sampai disitu saja Lawrence menyerang Zero. Lawrence kembali melancarkan serangannya dengan menancapkan pedangnya ke tanah hingga puluhan sampai ratusan pedang berukuran besar bermunculan dari tanah menyerang Zero. 


Namun Zero sekali lagi berhasil dengan cepat menghindari gelombang pedang yang bermunculan ke arahnya itu dengan melayang di udara. 

__ADS_1


Lawrence berdecak kesal melihat Zero begitu tanggap dalam merespon serangannya.


Di ketinggian, Zero bisa melihat semua pedang yang Lawrence keluarkan itu perlahan berubah menjadi partikel cahaya. Dari situ Zero mengetahui kalau semua pedang itu bukanlah pedang buatan tangan melainkan pedang yang dibuat dari unsur elemen benda dalam diri Lawrence. 


'Sepertinya pedang itu memiliki kemampuan untuk meningkatkan elemen benda dalam dirinya.' Zero memperkirakan kemampuan pedang milik Lawrence tidak jauh berbeda dengan pedang milik Sherria. 


"Ada apa? Apa kau kesulitan menghadapi semua pedang itu? Atau kau terkejut melihat aku mampu mengeluarkan pedang dengan jumlah yang sangat banyak?" ejek Lawrence sambil ikut melayang seperti Zero. 


Zero sudah menduga Lawrence bisa melayang sepertinya karena setiap Magic Emperor seharusnya bisa melakukan itu. 


Zero menghela nafas, mengembalikan ekspresinya kembali seperti biasa lalu berkata, "Jangan sombong dulu. Aku bahkan belum menggunakan tujuh puluh persen kekuatan dari mode ini. Sejak tadi aku hanya ingin menguji kekuatanmu saja." Zero tersenyum percaya diri dan sedikit mengejek.


"Berhenti berlagak seperti itu hanya untuk terlihat hebat, bocah. Sadarlah dengan situasimu sekarang. " Lawrence berkata dingin, tidak suka dengan sikap angkuh Zero. 


"Bagaimana kalau kita membuktikannya? Siapa diantara kita yang seharusnya sadar. Sekarang aku akan menunjukkan padamu apa yang terjadi jika aku bertarung menggunakan tujuh puluh persen kekuatanku," ujar Zero berniat menunjukkan keseriusannya.


"Berhenti membual dan majulah," tantang Lawrence. 


Zero kali ini melesat lebih dulu menyerang Lawrence yang melayang di depannya. Dengan menggunakan tujuh puluh persen kekuatannya, Zero kini dapat dengan cepat mengubah arus pertarungan sampai Lawrence kali ini dibuat mundur oleh Zero hingga dipaksa dalam posisi bertahan. Belasan pedang yang membantunya ternyata tidak berlaku bagi Zero yang kini menggunakan seratus persen kecepatan aslinya.


Kekuatan Zero yang kini meningkat tujuh puluh persen memudahkannya untuk mendaratkan serangan demi serangan pada zirah Lawrence, tetapi anehnya sekuat dan sebanyak apapun dia menyerang, zirah yang Lawrence kenakan sama sekali tidak tergores.


'Keras sekali… ' Zero mengakui daya tahan zirah Lawrence.


Zero berhenti menyerang dan mundur, "Pantas saja sejak tadi kau begitu percaya diri, ternyata kepercayaan diri itu didapat dari ketahanan zirahmu," kata Zero.


Lawrence tertawa pelan, "Benar sekali. Biar kuberi tahu satu hal padamu. Selama ini tidak ada satu orang pun yang bisa menghancurkan zirah ini." Lawrence menunjuk zirahnya dengan bangga.


"Oh, jadi begitu." Zero mengangguk-anggukan kepalanya, terkesan mengetahuinya, "Kalau begitu aku akan menjadi orang pertama yang akan menghancurkan zirahmu itu." Zero tersenyum penuh keyakinan.


"Lakukan sebisamu..." Lawrence merentangkan kedua tangannya dengan senyuman angkuh.


"Baiklah kalau itu maumu..." Zero melambaikan satu tangannya yang lain, memanggil pedang putih miliknya yang merupakan harta suci. 


Lawrence yang menyaksikan pedang putih itu, merasakan firasat buruk. Pedang yang tampak biasa-biasa itu memancarkan energi yang begitu kuat yang membuat Lawrence tanpa sadar menelan ludah.

__ADS_1


"Bersiaplah..." Zero menghunuskan pedang tersebut ke arah Lawrence kemudian melesat menyerang dengan kedua pedangnya.


Lawrence tidak berusaha menangkis pedang itu dan lebih memilih menghindarinya. Firasatnya mengatakan akan berbahaya jika dia menyentuhnya sedikit saja.


Dan itu benar terjadi, saat Zero berhasil mengayunkan pedang itu pada lengannya seketika zirahnya yang tidak bisa dihancurkan itu hancur oleh pedang Zero.


"Apa-apaan dengan pedang itu? Dari mana kau mendapatkannya?" Lawrence tampak frustasi selagi berusaha menghindari pedang tersebut.


"Di suatu tempat yang tidak kau kenal." Zero memainkan kedua pedangnya dengan lihai.


Setiap kali pedang putih di tangan kirinya itu menyentuh zirah yang Lawrence pakai, zirah tersebut berubah menjadi serpihan.


Lawrence kewalahan menghadapi kekuatan sesungguhnya dari bocah di hadapannya. Padahal dengan zirahnya yang tidak bisa ditembus dia yakin akan menang melawan Zero , tapi sayangnya sekarang kenyataan berkata lain.


"Dengan ini berakhir sudah.." Dalam sekali ayunan yang menghasilkan tebasan angin besar, zirah yang Lawrence pakai seluruhnya hancur.


"Sial..." Pada saat yang sama Lawrence tidak kuat lagi melayang dan jatuh ke tanah.


Sword of Rupture, itu nama pedangnya. Pedang putih yang jarang sekali Zero keluarkan ini sangat berbahaya. Sesuai deskripsinya pedang tersebut mampu membelah apa saja, contohnya zirah Lawrence yang tidak bisa dihancurkan. 


Zero ikut turun ke bawah dan berdiri sepuluh meter di depan Lawrence yang kini terjatuh dalam posisi berlutut.


"Kau sudah melihatnya sendiri, kan. Meski aku akui kau kuat tapi tetap kau bukanlah tandinganku... " kata Zero sambil memasukkan kembali pedang putihnya.


Lawrence terdiam tanpa sepatah katapun. Dia sudah menerima kekalahannya dan bersiap menjemput ajalnya kapanpun.


'Eleine, maaf, lagi-lagi aku mengingkari janjiku. Ayah, aku tidak bisa melindunginya lagi. Dan Minerva maaf, aku tidak bisa membalaskan dendam mu, ' batin Lawrence yang tampak sudah pasrah.


"Seperti perkataanku sebelumnya. Aku akan memberikan sedikit hukuman agar kau sadar siapa dirimu sebenarnya dan siapa sosok yang kini berdiri di depanmu." Zero memasang kuda-kuda dengan pedang tergenggam oleh kedua tangan.


"Teknik Pedang Kematian — Keputusasaan." Zero mengayunkan pedang hitamnya itu dan sebuah tebasan angin berwarna hitam tercipta, melesat ke arah Lawrence.


"Argghhh!!" Ketika tebasan itu sampai, Lawrence merasakan sakit yang begitu hebat biarpun tubuhnya tidak terluka maupun mengeluarkan darah. Tebasan tersebut seolah membawanya pada jurang keputusasaan yang sangat dalam dan membuatnya sadar betapa lemahnya dirinya di hadapan Zero.


"Bagaimana? Apa sekarang kau sudah sadar?"

__ADS_1


__ADS_2