Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Memulai konflik


__ADS_3

Hari ini Zero bersama Gladius pergi ke pusat ibukota kerajaan untuk mengambil hadiah yang akan diberikan oleh raja atas kontribusinya dalam mengatasi gelombang monster. 


Saat tiba di lokasi, Zero menemukan sebuah bangunan yang menjadi pusat kerajaan sekaligus tempat tinggalnya orang-orang penting dalam kerajaan sangat megah, jauh lebih megah dari bangunan-bangunan megah yang sebelumnya dia temui. 


Kedatangan Zero dan Gladius disambut baik oleh orang-orang kerajaan. Zero yang merupakan tamu penting di tempat itu segera dibawa masuk ke dalam ruangan singgasana raja, sedangkan Gladius disuruh menunggu di luar sampai urusan selesai. 


Sebelum berpisah dengan Gladius, Zero sempat memberinya kode melalui gerakan mata. Gladius yang mengerti apa yang ingin Zero sampaikan melalui kode itu hanya mengangguk kemudian tersenyum karena mengetahui sesuatu yang besar sebentar lagi akan terjadi di tempat itu. 


Koreksi, bukan hanya di tempat itu, tetapi di ibukota kerajaan tersebut. 


Setelah dibawa masuk, Zero menemukan di dalam sebuah ruangan singgasana raja yang megah saat ini sudah berkumpul tokoh-tokoh penting kerajaan, seperti para menteri dan raja itu sendiri. 


Para menteri dan staf kerajaan tampak berbaris rapi di setiap sisi ruangan bersama para prajurit yang berjaga di sampingnya. Di sana juga terdapat beberapa ksatria suci bintang dua dan satu yang berdiri di setiap sudut ruangan sebagai penjaga. 


Lalu tokoh paling penting yang tak lain raja itu sendiri kini tengah duduk di singgasananya yang ditempatkan di tempat yang lebih tinggi di tengah-tengah ujung ruangan. Di kiri dan kanannya terdapat dua orang ksatria suci bintang tiga yang tak lain merupakan pengawal setianya. 


Zero yang melihat kehadiran orang-orang penting di ruangan itu menyunggingkan sedikit senyuman sinis. 


'Kelihatannya ini akan sedikit menyulitkan. Kuharap semua ini berjalan sesuai yang aku harapkan,' batin Zero memandang ke arah raja yang terduduk angkuh di singgasananya. 


"Majulah…" Salah seorang menteri meminta Zero yang berdiri di depan pintu masuk untuk maju ke hadapan raja. 


Zero mulai melangkahkan kakinya dengan santai tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di tempat itu yang sepenuhnya tertuju padanya. 


"Jadi dia orangnya…"


"Dia ternyata masih sangat muda."


"Aku sudah mendengar sepak terjangnya. Dia katanya mampu menyelesaikan misi yang sangat sulit dengan begitu mudah."


"Ya. Dia memiliki kekuatan yang hampir setara dengan orang-orang kuat di kerajaan ini."


Para menteri dan staf kerajaan yang ada di ruangan itu memberikan komentarnya saat baru pertama kali melihat Zero. 


Zero tidak menghiraukan komentar mereka. Dia terus berjalan dengan santainya dan berhenti tepat beberapa meter dari tempat raja berada. 


Zero sekarang bisa melihat dengan jelas sosok yang menjadi raja di kerajaan Blue Diamond meski harus diakui dia sedikit kecewa saat mengetahui sosok yang ada di depannya saat ini hanyalah seorang pria tua yang sudah beruban dan tampak tidak memiliki karisma seorang raja sedikitpun. 


'Aku tidak habis pikir, bagaimana caranya tua bangka sepertinya bisa menjadi raja di kerajaan ini…' Zero terkekeh dalam hatinya saat mengetahui ekspektasinya tentang raja di kerajaan ini tidak sesuai yang dipikirkannya. 

__ADS_1


Menurutnya pria tua yang berlagak angkuh di depannya ini jauh lebih cocok menjadi tukang kebun atau tukang bersih-bersih halaman daripada menjadi seorang raja. 


Selama satu menit lebih Zero hanya diam di hadapan raja dengan ekspresi biasa tanpa memberikan salam atau menunjukkan hormat sedikitpun padanya. Hal itu membuat para menteri dan orang-orang yang melihatnya geram, termasuk raja sendiri. 


"Hei, kenapa hanya diam saja. Beri hormat pada raja, tunjukkan sedikit kesopananmu pada sosok yang lebih tinggi darimu," kata pengawal yang berdiri di samping raja terdengar dingin. 


Zero menaikkan satu alisnya, memandang kedua pengawal yang berani memerintahnya itu lalu beralih melirik orang-orang di sekitarnya yang terlihat menunjukkan ekspresi tidak suka padanya. 


Zero mendengus pelan sambil tersenyum dan mengangkat satu tangannya. "Sebelum itu aku ingin memastikan. Apa benar dia raja dari kerajaan ini?" Tangan yang Zero angkat beralih menunjuk raja setelah melontarkan pertanyaan tersebut. 


Raja yang semula duduk dengan posisi angkuh kini memposisikan tubuhnya tegap setelah mendengar apa yang pemuda di depannya ini tanyakan. Jujur, dia merasa tersinggung dengan pertanyaan yang Zero ajukan apalagi dengan sikapnya yang sejak awal tidak menunjukkan hormat sedikitpun padanya. 


Pertanyaan Zero barusan juga membuat orang-orang yang mendengarnya terkejut. Di saat yang sama mereka menyayangkan pemuda itu karena berani bertanya hal bodoh yang bisa membuatnya celaka. 


"Berani sekali kau menanyakan hal seperti itu. Kau pikir sosok yang ada di depanmu sekarang siapa, hah? Tentu saja dia raja di kerajaan ini! " sentak salah satu menteri sambil menunjuk Zero dengan geram. 


Zero melirik menteri yang menyentaknya itu dengan sorot mata tidak peduli sebelum beralih mengamati sosok raja yang ada di depannya ini dari atas sampai bawah. 


Sambil tersenyum dan mengusap belakang kepalanya, Zero berkata, "Ah, maaf, maaf, aku barusan hanya bercanda. Jangan marah, ya. Aku hanya ingin sedikit mencairkan suasana saja. Soalnya sejak tadi kalian terlihat tegang begitu. Anda tidak tersinggungkan, Yang Mulia?" Zero mencoba terlihat baik di depan raja yang baru saja disinggungnya. 


Raja melihat Zero dengan pandangan tidak suka. Dia bisa saja memerintahkan orang-orang di situ untuk menghukumnya karena berani menyinggungnya seperti itu, tetapi dia memutuskan untuk tidak memperbesar masalah supaya dia bisa menjalin hubungan baik dengan sosok seperti Zero. 


Raja menghela nafas singkat dan menjawab, "Ya. Kali Ini aku memaafkanmu. Tapi ingat, sekali lagi kau mengatakan hal bodoh seperti itu, aku akan membunuhmu," ancam raja sambil kembali memposisikan duduknya seperti semula. 


Zero lalu memberi hormat pada raja dengan gaya seperti yang Gladius lakukan padanya, membungkukkan sedikit tubuhnya dan menyilangkan satu tangan di dadanya, senyuman penuh makna terlukis di bibirnya. 


Di mata orang-orang yang ada di situ cara Zero memberi hormat tidak memperlihatkan kalau dirinya sedang menghormati sosok yang ada di depannya. Dia malah terlihat seperti sedang bercanda dengannya, terlihat jelas dari caranya tersenyum. Namun tidak ada dari mereka yang ingin mengoreksinya. 


"Kakiku sedikit sakit jika ditekukan. Jadi maaf kalau aku tidak bisa berlutut di depanmu. Tidak masalah kan, Yang Mulia?" tanya Zero. 


"Ya, setidaknya kau masih bisa menunjukkan sedikit hormatmu padaku," jawab raja. 


Selain orang-orang di situ, raja juga melihat kalau Zero seperti sedang bermain-main dengannya, tetapi raja mencoba tidak meladeninya karena tak ingin mencari masalah dulu dengannya. 


"Kembali pada tujuanku memintamu untuk datang ke tempat ini..." Raja lalu memberi kode ke salah seorang di situ untuk membawakan sesuatu yang akan diberikan pada Zero.  


"Sebagai sosok yang telah berperan besar dalam gelombang monster, aku Yang Mulia raja dari kerajaan Blue Diamond ingin memberikan hadiah atas kontribusi yang telah kau berikan bagi kerajaan." 


Setelah raja berkata demikian, beberapa orang datang dari salah satu arah menuju ke tempat Zero sambil membawa tiga peti berukuran sedang. Tiga peti itu diletakkan di depan Zero sebagai hadiah pemberian dari raja. 

__ADS_1


"Di dalam tiga peti itu berisi seratus ribu koin emas. Itu semua hadiah pemberian dariku untukmu," jelas raja terdengar sombong.


Orang-orang di ruangan itu menelan ludahnya sendiri saat mendengar hadiah yang diberikan pada Zero. Seratus ribu koin emas bukanlah hadiah yang biasa diberikan pada kebanyakan orang dan jelas itu merupakan hadiah yang sangat fantastis.


Mereka tidak menyangka jika raja akan memberikan hadiah sebanyak itu pada orang seperti Zero. Mereka mengira saat ini Zero pasti sedang kegirangan mendapatkan hadiah sebesar itu. 


Sambil tersenyum, Zero mendekati tiga peti itu untuk melihat isi yang ada di dalamnya. Pandangan Zero kemudian beralih ke arah raja dan memperlihatkan senyuman merendahkan padanya. 


Yang terjadi berikutnya membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Zero secara mengejutkan menendang ketiga peti di depannya itu seolah tidak menginginkan hadiah tersebut. 


"Apa-apaan ini. Seratus ribu koin emas? Apa kalian tidak bisa memberikan hadiah yang setimpal atas kontribusi yang telah kuberikan. Kalian pikir seratus ribu koin emas saja cukup dijadikan hadiah untukku. Ini sama saja seperti kalian memberikan hadiah permen pada anak kecil." Zero menghina habis-habisan hadiah pemberian dari raja, membuat semua orang yang mendengarnya emosi termasuk raja yang seketika berdiri dari singgasananya. 


"Lancang sekali kau bedebah!" teriak salah satu ksatria suci di samping raja. 


Beberapa prajurit yang berada di sekitar Zero langsung bergerak dan menghunuskan senjata padanya, mengunci pergerakannya sampai membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. 


"Hei, kalian cari mati, ya…" Zero tersenyum dingin melihat prajurit yang menguncinya itu sebelum dalam sekali gerakkan memutar, semua prajurit itu diubah olehnya menjadi abu setelah dibakar oleh api neraka miliknya. 


Semua orang yang menyaksikan aksi Zero barusan seketika tidak bisa bernafas saking terkejutnya. 


Padahal awalnya mereka berpikir Zero akan bersikap hormat setelah mendapatkan hadiah sebesar itu, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Bahkan meleset sangat jauh. 


Mereka kini menganggap kehadiran Zero di situ bukan lagi sebagai sosok yang perlu diberikan apresiasi, melainkan sebagai ancaman yang harus segera dimusnahkan. 


"Lancang kau bilang? Berani sekali kau berkata seperti itu padaku." Zero menyunggingkan senyuman angkuhnya pada sosok yang membentaknya tadi. Dia kini menunjukkan sifat aslinya yang angkuh dan menyebalkan. 


"Kau!" Ksatria suci itu mengangkat senjatanya dan bersiap menyerang Zero. Namun sebelum dia bisa bergerak, raja segera menghentikannya dan memerintahkannya untuk tenang. 


Raja lalu berjalan ke tepian tangga dan melihat Zero dengan pandangan tidak suka disertai tatapan merendahkan seolah sosok di depannya ini hanyalah orang bodoh yang sedang mencari kematiannya sendiri. 


"Aku sudah mendengar sedikit informasi tentangmu. Seperti yang dikatakan oleh mereka, kau memang orang yang arogan..." kata raja dengan senyuman meremehkan. 


"Tapi apa kau pikir masih bisa bersikap seperti itu saat di hadapanku? Tidakkah kau berpikir sedikit saja, dengan kau bersikap seperti ini, itu sama dengan kau mencari alasan kematianmu sendiri." Raja menengadahkan sedikit kepalanya ke atas untuk menunjukkan kekuasaannya di tempat itu. 


"Seperti yang kukatakan tadi, jika sekali lagi kau berani bersikap seperti itu, kau harus siap menerima kematianmu…" kata raja berniat menakut-nakuti Zero. 


Alih-alih takut, Zero malah terkekeh geli mendengar perkataan raja barusan yang seolah seperti candaan yang menggelikan menurutnya. 


"Lancang sekali kau berani berkata seperti itu pada sosok yang jauh lebih tinggi darimu…" Dengan gaya angkuhnya, Zero mengambil satu kapsul berisi singgasana dan mengeluarkannya kemudian duduk di atasnya. 

__ADS_1


Zero memposisikan duduknya selayaknya dirinya seorang raja di tempat itu.


"Berlututlah dan minta maaf sekarang, dengan begitu aku akan memaafkan perkataanmu barusan..." kata Zero sambil menyodorkan kakinya ke depan dan senyuman penuh keangkuhan


__ADS_2