
Meninggalkan Sherria dan yang lainnya di tempat itu, Zero membawa Charla ke suatu tempat untuk melatihnya. Zero masih perlu melatih Charla sampai membuat dirinya bisa menggunakan pistol pemberiannya itu dengan benar.
"Sudah cukup, Charla." Zero menyuruh Charla berhenti saat melihat Charla sudah cukup mahir menggunakan pistol itu.
Charla tersenyum puas pada Zero karena akhirnya dia berhasil mempelajari semua teknik yang Zero ajarkan padanya biarpun belum bisa dibilang sempurna.
"Kemarilah…" Zero menyuruh Charla untuk mendekat. Charla mengangguk lalu menghampirinya.
"Coba gunakan pistol ini sekarang…" Zero memperlihatkan senapan jarak dekat yang ukurannya sama dengan pistol di tangan Charla.
Kedua pistol itu tak lain merupakan pistol Ebony dan Ivory, senjata kesayangan Zero yang selama ini telah menemaninya sejak dirinya masih berada di dalam Menara Agung.
Charla mengambil pistol itu dari tangan Zero kemudian menelitinya. Dia terkesan melihat desain dari pistol itu sangat bagus apalagi bentuknya hampir sama dengan pistol yang kini dia gunakan. Dia pun bertanya akan hal itu.
Zero segera menjelaskan pada Charla kalau pistol itu memang sepasang dengan pistol yang dia gunakan barusan.
"Yang tadi kau gunakan akan efektif jika digunakan untuk jarak jauh. Sedangkan pistol yang itu sebaliknya," jelas Zero menunjuk kedua pistol di tangan Charla.
"Oh, begitu, ya…" Charla meneliti kedua pistol yang Zero berikan.
"Ya. Sudah ayo, sekarang coba gunakan pistol yang itu."
"Baik." Charla mengangguk dan memposisikan tangan yang menggenggam pistol itu ke depan lalu mulai mengalirkan energi sihirnya.
Setelah energi sihirnya sudah cukup teralirkan, Charla segera menarik pelatuknya, memuntahkan satu peluru ke arah batang pohon besar di depannya.
Dor!
Tekanan yang dihasilkan ketika Charla menarik pelatuk pistol itu membuat tangannya bergetar. Charla belum bisa menahan recoil dari satu tembakan itu dengan baik meskipun dampak serangan yang dihasilkan barusan begitu besar.
"Zero-sama, tekanannya kuat sekali." Charla terkejut saat merasakannya.
"Ya. Oleh karena itu kau harus belajar mengendalikannya. Aku yakin suatu saat kau pasti bisa menguasainya. " Zero melihat Charla mampu melakukan itu.
"Kedua pistol ini?" Charla menunjukkan kedua pistol itu.
"Benar. Kau harus bisa menggunakan kedua pistol itu karena kedua pistol itu mulai sekarang akan menjadi milikmu." Zero tersenyum sambil memegangi pundak Charla.
"Eh, tapi pistol ini kan milik, Zero-sama." Charla merasa tidak enak menerimanya, apalagi pistol ini memiliki kualitas yang sangat tinggi.
"Tenang saja. Aku masih mempunyai banyak senjata seperti ini. Yang lebih penting sekarang yaitu kau harus bisa menjadi kuat, agar suatu saat jika aku tidak ada di sampingmu kau bisa melindungi dirimu sendiri. Anggap saja ini hadiah dariku untukmu." Zero meyakinkan Charla untuk menerimanya. Dia sudah melepaskan kepemilikan senjata itu sedari awal sejak dia melihat Charla memiliki bakat menjadi seorang Archer.
__ADS_1
"Terima kasih, Zero-sama." Charla memeluk Zero untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya, "Aku semakin menyukaimu..."
Zero tersenyum sambil mengelus kepala Charla sejenak lalu melepas pelukannya.
"Setelah kau berhasil menguasainya, kau harus belajar meningkatkan akurasi menembakmu juga," saran Zero
"Baik." Charla mengangguk penuh semangat.
"Yosh, kalau begitu kau boleh berlatih lagi."
Sesuai permimtaan Zero, Charla kembali berlatih. Kali ini Charla berlatih menggunakan senapan kecil itu, bertekad agar segera bisa menguasainya.
Sedangkan Zero seperti biasa mengamatinya dari kejauhan sambil memberikan arahan dan sesekali mempraktekannya langsung agar Charla bisa melakukannya dengan benar.
Charla terus berlatih dan mengulangi kesalahannya berkali-kali sampai dia bisa melakukannya dengan baik. Zero yang terus mengamatinya setiap waktu dapat melihat perkembangan Charla. Mungkin butuh waktu beberapa minggu lagi sampai akhirnya Charla bisa menguasai kedua pistol itu.
Setelah melihat tidak ada yang perlu diarahkan lagi, Zero membiarkan Charla berlatih sendiri. Dia beralih ke tempat Sherria dan Fluffy yang tampak tengah mengajarkan anak-anak menggunakan sihir. Dia hanya menyapa mereka sebentar kemudian beralih ke tempat yang lain, ke tempat para orang dewasa yang juga sedang berlatih.
"Tuan." Semuanya segera menghentikan aktivitasnya dan berkumpul memberi hormat pada Zero yang kini muncul di hadapan semuanya.
"Bagaimana dengan latihannya?" Zero membuka percakapan.
"Bagus."
Zero merasa puas dengan semangat mereka semua.
"Hm...Sepertinya aku sudah menemukan orang-orang hebat disini..." Zero mengamati fondasi sihir dalam diri mereka semua satu persatu dan menemukan beberapa diantara mereka yang cukup berbakat.
"Sesuai janjiku waktu itu, aku mempunyai hadiah yang bagus untuk kalian semua yang bisa menunjukkan bakatnya dengan baik. Dan sekarang aku sudah menemukannya."
Penuturan Zero seketika membuat mereka yang ada di situ menjadi begitu antusias. Semuanya kini mempunyai harapan yang sama, berharap semoga bisa terpilih menjadi orang yang Zero maksud.
Zero membuka menu inventory-nya dan mengeluarkan beberapa senjata sebagai hadiah bagi mereka yang sudah mampu memperlihatkan bakatnya dengan baik.
"Semua senjata ini mempunyai kualitas Class B. Aku akan membagikannya pada kalian yang sudah bisa memuaskanku."
Class B?
Semuanya saling membicarakan tentang senjata class itu mengingat senjata itu mempunyai kualitas yang tinggi dan jarang dimiliki oleh sembarang orang.
Di dunia ini senjata di urutkan berdasarkan class dari E sampai S. Namun ada satu lagi senjata dengan tingkatan terakhir yang jarang ditemui atau dimiliki khalayak orang yang biasa disebut sebagai Harta Suci.
__ADS_1
Zero menunjuk beberapa orang lalu menyuruhnya untuk maju.
"Kalian berlima…" Zero memberikan senjata class B berupa pedang panjang (Longsword) pada kelima orang yang mempunyai keahlian Swordsman.
Kelima orang yang ditunjuk itu tampak senang sekali karena bisa terpilih mendapatkan hadiah dari Zero. Sedangkan yang lainnya iri dan juga menginginkan senjata seperti itu.
Mereka berlima meneliti pedang pemberian Zero dengan wajah penuh rasa takjub kemudian berterima kasih padanya dan kembali ke tempat.
"Kalian berempat…." Zero menyuruh ke empat orang lainnya yang dia tunjuk untuk maju. Dia menyerahkan senjata berupa tombak bagi keempat orang yang memiliki keahlian Lancer itu.
Tombak pemberian Zero memiliki kualitas yang mengagumkan. Mereka merasa beruntung bisa mendapatkannya. Berterima kasih mereka karenanya.
"Kau kesini…" Zero menyuruh satu ras demi-human berbadan besar untuk maju.
"Berdasarkan yang aku ketahui sangat jarang melihat seorang penyihir class Monk di dunia ini. Dan juga bisa dibilang kau adalah satu-satunya orang yang memiliki class itu disini. Untuk itu aku mempunyai senjata yang cocok untukmu." Zero merasa tertarik dengan orang yang memiliki class Monk itu.
Class Monk adalah class petarung tangan kosong. Mereka tentunya hanya bisa mengandalkan pertarungan jarak dekat dan biasa mengandalkan semua anggota tubuhnya sebagai senjata untuk menyerang maupun bertahan.
"Ini untukmu…" Zero memberikan sebuah sarung tangan berwarna perak kehitaman dengan di bagian punggung jarinya terdapat duri-duri tajam yang bisa mematikan lawan.
"Terima kasih, Tuan." Dia sangat berterima kasih karena akhirnya bisa mempunyai senjata seperti ini. Pasalnya sebelumnya dia hanya berlatih dengan tangan kosong.
"Selanjutnya kalian…" Zero menunjuk beberapa orang yang mempunyai class Assassins.
"Aku memiliki sepatu yang bisa membantu kalian bergerak dengan cepat." Zero menyerahkan sepatu yang sama dengan yang dulu pernah Zero pakai pada mereka. Mereka tentu senang mendapatkannya.
"Suatu saat kalian akan bergabung dengan regu pengintai. Jika kalian sudah cukup hebat aku akan memberikan tugas-tugas khusus untuk kalian." Zero memberi pesan lalu menyuruh mereka kembali ke tempat.
Zero membagi hadiah ke beberapa orang lainnya yang sudah bisa menunjukkan bakatnya.
"Terima kasih, Tuan. Kami akan berlatih lebih keras lagi." Semua yang mendapatkan hadiah dari Zero mengucapkan terima kasih.
"Sementara kalian yang belum bisa mendapatkan hadiah dariku kuharap kalian bisa berlatihlah lebih keras lagi. Ingat, seorang jenius sekalipun akan kalah oleh seorang pekerja keras. Oleh karena itu kalian semua teruslah berusaha karena suatu saat kalian juga bisa menjadi orang yang hebat sepertiku." Zero memberikan motivasi bagi mereka yang tidak mendapatkan hadiah darinya
"Baik, Tuan!" Semuanya menjadi termotivasi karenanya.
"Kalian berlatih seperti ini juga sebagai persiapan nanti menghadapi gelombang monster mengingat kabut yang menyelimuti luar desa ini sudah tidak ada. Untuk itu kalian dari sekarang harus terus bertambah kuat."
"Ya!!" Semuanya mengangkat senjatanya ke atas penuh tekad.
Like & Coment
__ADS_1