
Zero melanjutkan perjalanannya selagi menunggu ingatan Sherria kembali pulih seperti semula. Sherria yang tidak tahu harus kemana memutuskan mulai sekarang akan mengikuti Zero kemanapun dia pergi.
Sejauh yang Sherria lihat, sosok anak kecil yang telah menyelamatkan nyawanya dan kini berjalan di depannya ini tidak mempunyai niatan buruk terhadapnya. Dia merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan orang sepertinya, terlebih saat mengetahui bahwa dirinya ternyata adalah adik dari sosok yang Zero sayangi, dia berharap kalau itu memang benar.
Tapi yang menjadi pertanyaan dan membuatnya merasa sedikit aneh sekarang yaitu, kenapa sosok yang Zero perlihatkan sebagai kakaknya tadi berbeda jenis dengannya? Sherria masih belum mengerti kenapa dan sejak tadi ragu untuk menanyakan itu pada Zero.
"Bagaimana? Apa ada sesuatu yang kau ingat sekarang?" Zero bertanya saat merasa beberapa waktu telah berlalu. Dia berpikir mungkin kepingan ingatan Sherria pasti ada yang sudah kembali.
"Belum, Zero-sama." Tapi sayangnya sejauh apapun Sherria mencoba mengingatnya dia masih tetap belum bisa.
"Sudah, jangan terlalu dipaksakan." Zero tidak ingin memaksa Sherria untuk segera mengingatnya.
"Baik."
Setelah itu tidak ada percakapan lagi yang terdengar. Sampai beberapa saat kemudian, Sherria kali ini lebih dulu memecah keheningan.
"Anu~ Zero-sama…" Sherria terdengar ragu mengungkapkan sesuatu pada Zero.
"Ada apa?" Zero mendengar keraguannya.
"Itu…" Sheria masih sulit berkata.
"Kenapa? Kau masih lapar?" terka Zero.
"B-Bukan," sangkal Sherria segera.
"Lalu? Apa kau ingin buang air. Kalau begitu aku akan menunggumu disini."
"B-Bukan!" sangkalnya lagi. Suaranya kali ini terdengar sedikit keras, merasa jengah.
"Terus apa? Katakan saja cepat," titah Zero tidak ingin menunggu lama.
"Mm...apa aku boleh bertanya sesuatu?" Sherria meminta izin terlebih dahulu.
"Untuk apa kau meminta izin dulu padaku. " Zero menoleh sedikit, melihat Sherria yang tampak gugup lalu menghela nafas, "Coba katakan apa itu?"Zero mempersilahkan.
"Anu~ Kalau boleh tahu, kenapa aku dengan kakakku terlihat berbeda? Apa benar dia kakakku..." Sherria bertanya penuh keraguan, takut Zero tersinggung mendengarnya.
__ADS_1
Zero berhenti melangkah, Sherria pun ikut berhenti. Suasana senyap untuk sesaat, membuat Sherria gugup serta takut jika pertanyaan barusan menyinggung Zero.
Zero berbalik, menatap dingin Sherria dan seketika membuatnya semakin gugup. Namun ketika melihat selanjutnya Zero tersenyum, kegugupan dan rasa takut itu langsung hilang diganti oleh perasaan lega.
"Oh, itu…" Zero kembali berbalik dan lanjut melangkah lalu mulai menceritakan alasannya kenapa. Sebelum bercerita, Zero berpikir mungkin ada baiknya menceritakan semua cerita yang sempat dia dengar dari Charla guna bisa mempercepat memulihkan ingatan Sherria.
Sherria yang berada di belakangnya ikut kembali melangkah sembari mendengar cerita Zero dengan seksama.
"Oh… jadi begitu." Sherria akhirnya mengerti setelah mendengar semua penjelasan yang Zero ceritakan.
"Ya. Bagaimana, apa kau mengingatnya?" Zero mencoba mengeceknya.
"Masih belum…" Sherria tetap belum bisa mengingatnya.
Zero hanya bisa menghela nafas pelan mendengarnya.
Setelah beberapa langkah berjalan, dengan arahan Sherria di belakangnya, Zero akhirnya bisa keluar dari dalam hutan.
Meski sudah berada di luar hutan tapi mereka masih belum menemukan bangunan apapun selain jalur lintasan yang menunjukkan dua arah jalan ke suatu tempat.
"Mm...kita kesini saja..."
Zero yang masih belum mempunyai tujuan harus kemana, memilih mengikuti jalur kanan. Sampai beberapa kilo meter berjalan ke arah itu akhirnya mereka menemukan sebuah pedesaan kecil dari kejauhan. Zero memutuskan melangkah ke sana diikuti Sherria yang masih setia mengikutinya dari belakang.
*~*
"Kakak sudah, kumohon hentikan…"
"Hahaha, tidak mau. Aku baru memulainya."
Sebelum sampai di desa itu, di tengah jalan Zero menghentikan langkahnya saat menemukan sekelompok anak sepantaran dengannya tengah berkumpul di satu tempat.
Mereka tampak sedang mempermainkan satu anak yang tidak lain merupakan adik terkecilnya yang terlihat jelas ketakutan saat dibully oleh kakak-kakaknya.
Melihat hal itu, Zero teringat akan masa lalunya saat dimana dirinya mengalami hal yang sama persis dengan posisi anak itu sekarang.
"Water…. Slide…" Air bertekanan cukup tinggi keluar dari tangan kakak tertua mendorong adiknya hingga terjatuh ke belakang.
__ADS_1
"Aw…sakit...sudah kakak, kumohon hentikan..." Si adik memohon sambil menangis, meringis kesakitan di tanah selagi mencoba membangkitkan dirinya kembali. Sayangnya si kakak mengabaikannya dan bahkan terlihat tidak peduli.
Disisi lain, Zero yang melihat hal itu di kejauhan mulai terlihat tidak suka. Mereka-mereka yang sedang membully adik terkecilnya itu seolah mengingatkannya pada sosok yang dia benci yang tidak lain kakaknya sendiri yang waktu itu sudah dia habisi. Sherria yang berada di belakang Zero pun merasakan hal yang sama. Dia turut prihatin dengan kondisi anak itu.
"Zero-sama..." Sherria melihat tangan Zero terkepal erat seperti orang yang sedang marah ketika melihat sekumpulan anak itu.
"Hahaha, bagaimana dengan sihirku barusan? Dengan ini sekarang aku telah menjadi seorang penyihir kelas tiga." Kakak yang paling tua terlihat senang sekali menjadikan adiknya sebagai samsak untuk menguji sihir miliknya.
"Hebat sekali…"
"Tolong ajari aku, kak. Aku juga ingin bisa menjadi sepertimu..."Adik-adiknya yang lain memuji kakaknya tanpa peduli dengan kondisi adik terkecilnya yang sedang meringis kesakitan.
"Sekarang giliranku…" Kakak kedua tidak mau kalah. Dia juga ingin unjuk gigi pada adik-adiknya.
Dia memposisikan diri bersiap mengeluarkan sihir miliknya juga, "Driving… Wind…" Angin berhembus kencang tiba-tiba muncul menerbangkan adik kecil itu hingga kembali terjatuh ke belakang.
"Aww… Sakit…" Si adik kembali meringis kesakitan tanpa bisa melakukan apa-apa. Memohon pun kelihatannya tetap percuma.
"Hahaha, bagaimana? Sihirku jauh lebih hebat bukan? Aku juga sudah menjadi seorang penyihir kelas tiga sekarang." Kakak kedua menyombongkan diri yang dibalas pujian oleh adik-adiknya.
"Jangan sombong dulu. Aku juga bisa mengeluarkan sihir yang lebih hebat dari kalian." Kakak ketiga ternyata tidak mau kalah juga.
Berniat menyombongkan diri di hadapan mereka, dia pun mulai memposisikan diri bersiap mengeluarkan sihir andalannya.
"Fire…" Seiring dia berkata demikian sambil memfokuskan diri, api berukuran cukup besar keluar dari tampaan tangannya. Sihir api yang dikeluarkan olehnya seketika membuat mereka yang menyaksikan segera menyuruhnya untuk berhenti.
"Hentikan, kau bisa membunuhnya!"
Sayangnya mereka tidak berhasil menghentikan aksinya itu.
"Shot!" Dan api itu pun melesat ke arah adik kecilnya yang sudah tidak berdaya
"..." Suasana seketika menjadi hening.
Berpikir kalau api itu akan mengenai adiknya dan membuatnya terluka parah nyatanya mereka salah. Api itu berhasil dengan cepat ditahan oleh seorang anak sepantaran dengan mereka yang tiba-tiba muncul dan menangkisnya hanya dengan satu tangan.
"Kalian semua…" Anak yang terlihat tidak biasa itu menatap dingin mereka semua. Sedangkan mereka yang ditatap tampak terkejut melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
__ADS_1