
Zero melanjutkan langkahnya kembali setelah memberikan sedikit pelajaran bagi mereka. Dia tidak jadi memasuki desa kecil itu karena kehadirannya sudah menarik terlalu banyak perhatian anak-anak kecil tadi dan lagi tidak ada yang menarik di sana.
Sore hari masih tampak cerah, angin bertiup halus menerbangkan anak daun yang berguguran di jalan. Zero bersama Sherria masih berjalan menyusuri jalur lintasan tanpa tahu kemana tujuan yang akan dituju.
Zero belum memutuskan kemana tujuannya sekarang karena tiga hal. Pertama, dia sedang menunggu ingatan Sherria kembali pulih seperti semula. Kedua dia tidak mempunyai yang namanya peta, di dalam sistem pun tidak tersedia benda seperti itu. Dan yang ketiga dia masih ingin melihat-lihat dunia yang baru setengah hari ini dia pijaki.
Grrr…
Di tengah perjalanan, Zero merasakan ada bahaya besar yang menghadang di depannya namun dia tidak menghentikan langkahnya dan terus berjalan sampai akhirnya dia pun bertemu dengan belasan monster sejenis serigala dengan ukuran dua kali serigala biasa. Mereka terlihat tengah mengepungnya di segala sisi.
"Zero-sama…" Sherria yang melihat itu segera berlindung di belakang Zero.
"Jangan takut, aku akan mengurus mereka secepatnya." Setelah berkata demikian, Zero mulai bergerak lebih dulu mencoba menghabisi satu demi satu monster itu dengan cepat menggunakan tangan kosong.
Ketika Zero menghabisi salah satu monster untuk yang pertama kali, monster itu tidak tewas menjadi mayat melainkan berubah menjadi pecahan piksel berwarna hitam yang segera menghilang tergerus angin. Dan yang terjadi berikutnya sesuatu berbentuk bulat seperti kristal dengan warna merah menyala muncul di tempat monster itu tewas.
"Item drop?" Zero mengenali benda itu sebagai item drop.
Menyadari belum waktunya untuk bertanya, Zero kembali melanjutkan aksinya, membunuh monster itu satu persatu.
Para monster itu terkejut saat melihat mangsanya yang hanyalah seorang anak kecil akan begitu kuat sampai harus memaksa mereka menyerang bersama.
Meskipun mereka menyerang bersama tapi hasilnya tetap sama, mereka tidak ada satupun yang bisa melukai Zero dan semuanya berakhir hanya dalam sekali pukulan.
Tidak butuh waktu lama bagi Zero menghabisi mereka semua. Setiap monster yang mati akan berubah menjadi pecahan pixel dan menghasilkan item drop berupa benda bulat berwarna merah menyala.
"Kau tidak apa-apa?" Zero melihat Sherria yang tampak masih tertegun melihat aksinya membunuh mereka satu persatu dengan begitu cepat, bahkan semuanya mati hanya dalam sekali pukulan.
"Sherria." Zero menyadarkan lamunan Sherria
"Ah iya, Tuan." Sherria seketika tersadar.
"Sudah kubilang jangan panggil aku tuan." Zero terdengar malas.
"M-Maaf."
"Tidak perlu minta maaf. Sudah, bantu aku kumpulkan benda-benda itu…" Zero menunjuk benda bulat yang berserakan tak jauh di sekitarnya.
"Ah, baik!" Sherria mengangguk cepat dan segera menerima perintahnya. Dia merasa senang karena akhirnya ada sesuatu yang bisa dia kerjakan.
Ketika Sherria hendak mengambil salah satu benda bulat yang ada di dekat semak-semak, tiba-tiba serigala berukuran sangat besar muncul menerkamnya.
"Ahh!!" Sontak Sherria menjerit.
Namun sebelum serigala itu berhasil menyentuh Sherria, Zero dengan cepat memukulnya mundur hingga menghantam pohon dan langsung membunuhnya. Serigala yang Zero pikir sebagai pemimpin kelompok tadi berubah menjadi kepingan piksel dan menghasilkan item drop dengan ukuran beberapa kali lebih besar.
"Kau tidak apa-apa?" Zero melihat Sherria yang terjatuh di sampingnya.
"I-iya…" Sherria tampak masih terkejut, tubuhnya pun belum berhenti bergetar ketakutan.
"Kau diam saja di sini..." Zero membuat tabir pelindung di sekitaran Sherria.
"Tidak, aku ingin membantumu…" Sherria bangkit dari posisinya, menolak perkataan Zero.
"Turuti saja perkataanku." Zero tidak ingin Sherria terluka.
"Tapi…" Sherria ingin menolak tapi ketika melihat sorot mata Zero yang seakan menyuruhnya untuk menurut dengan terpaksa dia pun mengangguk.
__ADS_1
"Baik, Zero-sama..." Padahal baru saja Sherria ingin terlihat lebih berguna, biarpun hanya mengumpulkan benda seperti itu semata.
Mengabaikan keinginan Sherria, Zero mulai memasukan benda bulat yang berserakan di segala tempat itu satu persatu ke dalam kantong ajaibnya hingga semuanya terkumpul. Setelah itu dia kembali lagi ke tempat Sherria.
"Sherria, apa kau mengenal benda ini?" Zero menunjukkan benda bulat itu pada Sherria.
"Maaf, aku tidak tahu." Sherria menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa." Zero memaklumi.
"Ayo kita pergi dari sini…" Zero melanjutkan perjalanannya kembali diikuti Sherria di belakangnya.
'Sistem, coba jelaskan terkait benda di tanganku ini.' Selagi berjalan Zero mencari tahu informasi tentang benda tersebut pada Sistem.
[Itu dinamakan sebagai inti monster]
'Inti monster…' Zero melihat benda tersebut secara seksama kemudian bertanya, 'Kenapa sewaktu aku membunuh monster di dalam Menara Agung, aku tidak menemukan ada drop item seperti ini?'
Sistem segera menjelaskan,
[Ada dua tipe monster di dunia ini. Yang pertama monster alami, dan yang kedua monster buatan. Semua monster yang Anda lawan ketika berada dalam Menara Agung adalah monster alami, sedangkan yang Anda lawan barusan adalah monster buatan]
'Oh… artinya benda yang ada di tanganku ini sudah seperti jantung bagi monster buatan, benar begitu?'
[Benar. Seperti namanya, Inti monster merupakan inti kehidupan bagi monster buatan. Inti ini terbuat dari lacrima khusus yang ditanamkan esensi sihir kehidupan di dalamnya]
'Lacrima? Benda apa itu?' Zero bereaksi saat mendengar istilah yang baru dia dengar tersebut.
[Lacrima merupakan zat kristal sihir yang berasal dari bawah bumi. Lacrima yang sudah terbentuk biasa digunakan sebagai wadah atau perantara sihir dengan tujuan dan kegunaan yang berbeda-beda]
'Jadi di dalam lacrima ini terkandung esensi sihir kehidupan yang membuat monster buatan itu hidup.'
'Mm...Omong-omong siapa yang sudah menciptakan benda seperti ini sekaligus monster buatan itu?' Zero penasaran.
[Monster buatan diciptakan oleh iblis dunia atas dengan tujuan mengganggu semua makhluk yang ada di sana]
"Iblis, ya…memang tidak salah lagi," gumam Zero yang kali ini terdengar oleh Sherria yang sejak tadi mengikutinya dari belakang.
"Zero-sama, apa anda mengatakan sesuatu?"
"Bukan apa-apa." Zero melambaikan satu tangannya
'Sistem, coba jelaskan manfaat dan kegunaan dari benda ini untukku.'
[Baik]
Sepanjang perjalanan, Sistem menjelaskan berbagai hal mengenai kegunaan serta manfaat dari inti monster itu pada Zero.
Dari semua penjelasan tersebut, Zero bisa menyimpulkan jika inti monster ini mempunyai banyak kegunaan, contoh sederhananya yaitu dijual.
*~*
Sudah beberapa ratus meter lebih mereka berjalan.
"Sherria, apa kau lelah?" Zero mengecek kondisi Sherria
"Tidak, aku baik-baik saja." Sherria mencoba terlihat kuat namun hal itu tidak berlaku di mata Zero.
__ADS_1
"Kita cari tempat istirahat di depan." Zero memutuskan mencari tempat yang cocok untuk beristirahat.
Beberapa puluh meter kemudian, Zero melihat dari kejauhan terdapat sebuah jembatan penyebrangan yang cukup lebar. Di sana dia menemukan bahaya lain sedang menghadang.
"Zero-sama…" Sherria mendekatkan diri di belakang Zero.
"Tidak perlu takut, ada aku di sini." Zero mencoba menenangkan ketakutan Sherria.
Zero dan Sherria melihat di kedua sisi jembatan itu terdapat enam orang penyamun yang seperti sedang membegal orang-orang yang akan lewat ke sana.
"Hei, Coba lihat, apa yang kita temukan…" Salah satu dari mereka bereaksi, turun dari pembatas jembatan saat menemukan ada dua orang mangsa tengah berjalan menghampiri jembatan itu.
"Hahaha, sepertinya kita menemukan barang yang bagus hari ini." Salah seorang yang lain pun ikut beraksi diikuti yang lainnya juga.
"Gadis demi-human dan seorang anak kecil… Hm...benar, mereka pasti bisa menjadi barang yang sangat bagus untuk pendapatan kita hari ini." Mereka melihat sosok dari kedua orang itu.
Di depannya terdapat seorang anak kecil yang terlihat santai berjalan mendekati mereka dengan di belakangnya terlihat seorang demi-human yang sedang menundukkan sedikit wajahnya seperti orang yang ketakutan.
"Lihat mereka kelihatannya sudah pasrah…"
"Hahaha, baguslah, jadi kita tidak perlu susah payah menangkapnya." Mereka merasa senang bisa mendapat buruan yang bernilai dengan mudah.
Zero masih berjalan santai mendekati mereka dan sesekali menguap karena bosan bertemu dengan manusia-manusia bodoh seperti mereka, baik di dunia asalnya maupun di dunianya sekarang ternyata masih saja ada orang seperti itu.
"Sherria." Zero memanggil.
"Ya, Zero-sama." Sherria menyaut.
"Apa kau menyukai darah?" tanya Zero.
"Hah? D-darah? T-Tidak…" Sherria menjawab terbata-bata merasa takut dengan istilah itu.
"Kalau begitu tutup matamu dan berpeganganlah padaku," titah Zero.
"B-Baik." Sherria segera menuruti arahan Zero.
Zero tetap tak gentar meski jaraknya dengan mereka kini hanya menyisakan belasan meter lagi.
"Gadis demi-human ini cantik sekali. Dengan bodinya yang pas dan rambutnya yang indah, dia pasti akan menjadi barang berkualitas tinggi." Salah satu dari mereka terkesan melihat penampilan Sherria, terlebih pakaian yang dia gunakan memancarkan aura yang memanjakan mata.
"Coba lihat bocah di depannya juga. Lihat fisiknya, dia pasti bisa jadi yang barang bagus jika dijual ke para bangsawan." Mereka menilai fisik dan penampilan Zero. Sedangkan orang yang dinilai, merasa ingin tertawa mendengar dirinya dianggap sebagai barang.
"Gadis demi-human itu... bagaimana kalau kita bermain-main dulu sebentar dengannya," saran salah satu dari mereka. Sherria yang mendengarkan menjadi ketakutan.
"Tidak, nanti harganya akan turun kalau mereka tahu gadis itu ternyata hanyalah barang bekas."
Sherria merasa sedih mendengarnya, terutama pada bagian kata 'barang bekas' yang seolah memberitahukan kenyataan tentang keadaannya sekarang. Sedangkan Zero merasa muak karena terus-terusan mendengar ocehan mereka. Tapi dia mencoba tetap tenang karena rasa muak itu akan tertuntaskan sebentar lagi. Lihat saja...
"Ah, akhirnya kalian sampai juga..."
Dari kedua sisi, mereka segera berjajar menyambut kedatangan Zero dan Sherria sambil menampilkan senyuman terbaiknya.
"Kalian ternyata penurut juga rupanya. Bagus, bagus, nanti kami akan memberi hadiah buat kalian…"
"Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kalian ikut kita sekarang?"
Mengabaikan mereka, Zero berjalan santai memasuki celah keenam orang itu. Dan dalam sekali kibasan tangan, keenam orang dari kedua sisi itu seketika berakhir menjadi gumpalan daging.
__ADS_1
"Bacot!"