Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Budak Berkualitas


__ADS_3

"Se-seratus juta?"


Semua orang yang ada di dalam kamar itu tersentak kaget mendengar jumlah yang Zero sebutkan.


Gladius di sisinya menoleh ke samping sambil menahan tawa karena lagi-lagi Zero menunjukkan sesuatu yang menarik menurutnya.


"Kenapa? Bukankah anda tadi bilang akan membayar berapapun yang aku inginkan?" Zero tersenyum sambil mengerutkan dahinya menanggapi keterkejutan Edward.


"I-iya, tapi kenapa harus sebanyak itu?" Edward tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataannya sebelumnya.


Apa yang Zero katakan memang benar. Akan tetapi, saat itu dia berkata demikian sebenarnya hanya untuk meyakinkannya saja.


"Benar, itu terlalu berlebihan." Lawrence pun berpikiran sama. Dia tidak menyangka Zero akan menyebutkan jumlah sebanyak itu, dan jujur dia tidak suka.


"Papa…" Sedangkan Eleine merasa segan jika papanya mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi membuatnya kembali seperti semula


"Tidak, menurutku itu sebanding dengan khasiat obat ini. Anda tahu kan kalau obat ini mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan kutukan dan juga mampu membuat orang yang buta kembali melihat. Bukankah itu terlalu menakjubkan? Dengan kata lain obat ini seharusnya setara dengan nyawa seseorang. Pertanyaannya, menurut anda berapa harga nyawa seseorang itu?" Zero memainkan obat itu di tangannya.


Pernyataan Zero memang benar. Harga nyawa seseorang memang tidaklah murah dan bahkan kemungkinan tidak bisa dibayar oleh uang.


Edward tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan. Di satu sisi dia sangat ingin putrinya sembuh seperti semula namun di sisi lain dia tidak ingin sebagian kekayaannya hilang.


"Apa tidak bisa dikurangi lagi?" pinta Edward.


"Tidak, itu sudah harga terbaik untuk obat ini. Jika anda tidak bisa membayarnya aku akan menjualnya pada orang lain. " Zero tidak ingin mengubah keputusannya.


Lawrence di sisinya ikut memikirkan solusi terbaik untuk menyembuhkan kekasihnya. Dia juga ikut meminta pada Zero untuk mengurangi jumlahnya namun Zero tetap pada keputusannya.


"Bagaimana?" Zero menunggu keputusan mereka.


Setelah menimbang beberapa kali, Edward akhirnya mengambil keputusan, "Baiklah, aku akan membayarnya, tetapi bukan sepenuhnya dengan uang,"


"Lalu?"


"Sembuhkan dulu putriku. Aku akan memberitahukannya nanti setelah dia sembuh, yang pasti jumlahnya akan sama," Edward lebih mementingkan keadaan putrinya dibanding kekayaannya.


Zero melirik ke kiri dan kanan kemudian mengamati Edward dan Lawrence yang tidak seperti orang-orang busuk yang sebelumnya dia temui.


'Sepertinya tidak ada ancaman atau apapun itu yang bisa membuatku menarik kembali keputusanku ini. Mereka juga tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk padaku… baguslah, kelihatannya mereka orang baik…' batin Zero berdasarkan pengamatannya.


"Oke, aku akan menyembuhkannya…" Sepakat dengan keputusan itu, Zero kali ini meminumkan cairan Daun Suci Para Dewa itu pada mulut Eleine dengan benar.


"Ayah, aku akan membantu membayarnya juga." Lawrence ingin ikut andil untuk mengembalikan kekasihnya seperti semula. Dia tidak ingin sosok yang sudah dia anggap sebagai ayahnya menanggung semua itu sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih." Edward senang melihat kepedulian Lawrence.


Sejurus kemudian seusai Eleine meminum obat itu, tubuhnya mengeluarkan cahaya diikuti dirinya kejang-kejang selama beberapa saat. Sampai ketika cahaya itu menghilang, Eleine samar-sama bisa kembali melihat keadaan sekitarnya.


"Lawrence..." Hal yang pertama kali Eleine lihat saat pandangannya jelas yaitu wajah kekasihnya yang selama ini selalu mendukungnya meski dirinya dalam kondisi seperti itu.


"Eleine, apa kau bisa melihatku?" Lawrence melebarkan senyumannya mendekati Eleine.


"Ya. Aku bisa melihatmu…" Air mata mulai keluar, mengalir deras di pipi Eleine.


"Syukurlah…" Lawrence langsung memeluk Eleine dengan penuh perasaan bahagia, "Aku senang kau kembali. Aku senang sekali, Eleine. Mulai sekarang aku berjanji akan selalu ada disampingmu. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi. Aku tidak ingin melihatmu seperti kemarin lagi. Aku menyayangimu, Eleine…" Lawrence meluapkan perasaannya.


"Lawrence, aku juga senang bisa melihatmu kembali. Maaf karena selama ini telah membuatmu bersedih. Terimakasih karena selama ini selalu mendukungku. Terimakasih karena selama ini kau masih mau mencintaiku meskipun kondisiku seperti ini. Aku juga menyayangimu, Lawrence." Eleine meluapkan perasaannya juga.


"Bodoh, seperti apapun keadaanmu aku akan tetap mencintaimu."


Zero menggaruk kepalanya sambil menguap panjang, malas melihat adegan drama seperti ini. Dia ingin semua ini selesai agar dia bisa mendapatkan uang itu secepatnya untuk membayar sumber daya yang tadi dia beli dan pulang ke penginapan.


Eleine menggerakkan kakinya untuk memastikan apakah kakinya bisa bergerak lagi atau tidak. Setelah dirasa bisa bergerak, Eleine membangkitkan dirinya dengan dibantu Lawrence kemudian menghampiri Edward dan memeluknya.


"Papa, terima kasih banyak…"


Edward membalas pelukannya, "Sama-sama. Mulai sekarang jangan bersedih lagi. Tersenyumlah dan hiduplah dengan bahagia."


"Baik… sekali lagi terimakasih. Aku sangat menyayangimu, papa…" Eleine sangat berterima kasih pada papanya yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Papa juga…" Edward mengelus-elus rambut anaknya penuh kasih.


"Ehem." Zero berdehem memberi kode, memecah perhatian mereka, "Sekarang anakmu sudah sembuh, kan?" Lalu tersenyum penuh makna.


Edward melepas pelukannya kemudian menghela nafas pelan, mengerti maksud dari senyuman Zero, "Baiklah, sesuai janjiku, aku akan membayarnya."


Edward mengalihkan pandangannya pada putrinya dan berkata, "Eleine, kau tunggu disini bersama Lawrence."


"Papa, apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu, papa?" Eleine merasa sangat berhutang pada Edward dan ingin membalasnya.


"Tidak perlu. Dengan melihatmu tersenyum itu sudah cukup bagi papa." Edward tersenyum hangat.


"Tapi…"


"Sudah, papa ingin mengurus pembayaran ini secepatnya. Lawrence temani Eleine, ya."


"Baik, ayah…"

__ADS_1


Edward menitipkan putrinya pada Lawrence lalu mengajak Zero dan Gladius untuk melangkah pergi keluar ruangan untuk membahas soal pembayaran.


"Jadi, maksud perkataan anda tadi apa?" Zero menanyakan hal itu setelah cukup jauh dari kamar Eleine.


"Aku tidak bisa membayarmu sepenuhnya dengan uang."


"Lantas?"


"Dengan kondisi keuanganku sekarang, aku hanya bisa membayar setengahnya saja, sementara setengahnya lagi aku akan membayarnya dengan semua budakku," jelas Edward.


"Budak?" Zero dan Gladius berhenti melangkah sambil merajut alisnya.


Edward berhenti melangkah juga.


"Anda mempunyai budak dan ingin menjualnya untuk membayar setengah dari pembayaran itu, begitu?" Zero memastikan ucapan Edward barusan.


"Benar. Aku mempunyai budak berkualitas yang mempunyai harga jual yang tinggi. Hanya itu saja yang aku punya untuk membayar kalian sekarang. Tolong terima, aku yakin semua budakku ini akan sangat berguna dan menguntungkan bagi kalian." Edward membungkukkan tubuhnya memohon.


'Budak berkualitas yang mempunyai harga jual yang tinggi…' Zero sedikit tertarik mendengarnya, 'Kemungkinan mereka bukan budak biasa,' pikirnya.


"Oh… jadi anda seorang penjual budak rupanya."


"Tidak, juga. Itu hanya pekerjaan sampinganku."


"Begitu, ya. Baiklah, aku akan mempertimbangkannya nanti setelah aku melihat budak berkualitas yang kau maksud itu."


Edward mengangguk lalu membawa Zero dan Gladius ke sebuah ruangan dimana semua budaknya berkumpul.


Setibanya di sana, tepat setelah pintu ruangan terbuka, Zero dan Gladius terpana menyaksikan semua budak berkualitas itu.


Budak berkualitas yang Edward maksud ternyata semuanya berkelamin perempuan. Mereka tidak seperti budak pada umumnya karena diberikan tempat serta fasilitas yang layak di sebuah ruangan yang luas dan bersih.


Penampilan mereka juga sangat baik dan enak untuk dipandang. Sangat jauh dengan budak yang sebelumnya Zero lihat di jalanan. Mereka sepertinya sangat menjaga dirinya dan tempat tinggalnya dengan baik.


Di ruangan itu terdapat banyak fasilitas untuk mengembangkan bakat mereka, seperti buku-buku untuk mereka belajar. Menurut Zero tempat itu mungkin sudah seperti asrama bagi para budak berkualitas itu.


Sebelumnya mereka tampak sedang asik belajar di masing-masing tempat di ruangan yang Edward sediakan, namun ketika mendengar suara pintu ruangan terbuka, semuanya segera berhenti dan menghampiri Edward serta kedua pria di sampingnya.


Mereka berbaris rapi lalu serempak memberikan salam hormat pada Edward untuk menyapa kedatangannya.


Sekarang Zero mengerti kenapa Edward mengatakan mereka sebagai budak berkualitas. Mereka ternyata sudah dilatih untuk menjadi budak yang memiliki kualitas.


'Menarik… mereka semua sepertinya bisa menjadi orang yang berguna bagi kerajaanku...' Zero tersenyum, kali ini tertarik dengan semua budak berkualitas itu.

__ADS_1


__ADS_2