Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Penjual Budak Yang Baik


__ADS_3

Ada seratus orang lebih budak di ruangan yang sangat luas itu. Mereka bukan hanya manusia saja, ada juga ras lain seperti Demi-human dan Elf dengan beragam usia, dari yang umurnya belasan tahunan sampai tiga puluhan. Bukan hanya berkualitas mereka juga mempunyai penampilan yang memukau yang mampu menarik mata orang-orang yang melihatnya.


Harus dikatakan mereka sangat beruntung mempunyai majikan seperti Edward, karena Edward selama ini memperlakukan mereka dengan baik.


Edward telah memberikan kehidupan yang layak bagi mereka dikala mereka dalam keadaan terpuruk setelah terpisah dari orang-orang terdekatnya dan berakhir menjadi budak.


Edward tidak pernah sekalipun menyakiti ataupun menyentuh mereka. Edward juga tidak akan menjual mereka ke orang-orang sembarangan melainkan pada orang-orang yang mempunyai karakter baik sepertinya.


Intinya, Edward adalah seorang penjual budak yang baik menurut mereka.


"Ada apa Tuan datang kesini? Apa ada sesuatu?" tanya salah satu budak.


"Aku ingin memberitahukan pada kalian jika putriku sekarang sudah sembuh." Edward tersenyum pada mereka.


"Sungguh?" Semua budaknya terperanjat senang mendengarnya.


Edward hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Syukurlah…"


"Kami turut senang mendengarnya, Tuan."


Semua budak itu mengungkapkan rasa senangnya pada Edward.


Zero dan Gladius bisa melihat para budak itu sangat menghormati majikannya. Edward pun sepertinya sangat menghormati budaknya.


"Lalu mereka siapa, Tuan?" Para budak itu mengalihkan pandangannya pada kedua pria tampan di samping Edward.


Edward menghembuskan nafas pelan menatap kedua pria itu lalu menjelaskan pada mereka.


"Mulai sekarang mereka akan menjadi majikan kalian," jelasnya.


"Ah, maaf, aku tidak termasuk…" Gladius mengoreksi.


"Oh, begitu, ya."


Gladius hanya mengangguk diiringi senyuman ramah.


"Kalian? Maksudnya, Tuan?" Para budak berkualitas itu saling berpandangan karena belum mengerti siapa kalian yang dimaksud.


"Ya. Maksudnya kalian semua."


Edward kemudian menjelaskan secara garis besarnya pada mereka tentang Zero yang menginginkan bayaran karena telah menyelamatkan putrinya. Dan mereka semua akan membayar setengahnya dikarenakan dia tidak memiliki uang untuk membayarnya.


"Begitu, ya…" Para budak itu memperhatikan sosok yang akan menjadi tuannya yang sejak tadi memasang wajah biasa. Mereka semua sama-sama berharap semoga Zero bukanlah orang jahat.


"Kami tidak keberatan, Tuan."


"Kami sangat senang jika ini bisa membantu, Tuan."


Semua budaknya menerima keputusan Edward. Mereka senang bisa membantunya, secara selama ini mereka tahu Edward sangat terpukul dengan kondisi putrinya. Mereka berpikir mungkin ini sudah saatnya mereka membalas semua kebaikan Edward.


"Terimakasih…" Edward membungkukkan setengah tubuhnya pada mereka.


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, Tuan."


"Benar, ini sudah menjadi kewajiban kami sebagai seorang budak."


Semua budaknya merasa sungkan mendapatkan terimakasih Edward karena sadar akan posisinya.


Edward menegakkan tubuhnya seiring menghela nafas kemudian tersenyum pada mereka lalu memalingkan pandangannya pada Zero.


"Bagaimana? Apa kau setuju menerima mereka?" tanya Edward.


"Hm… sebelum itu aku ingin mengetahui apa-apa saja keahlian mereka?" Zero mengelus dagunya mengamati mereka.

__ADS_1


Edward mengangguk kemudian memperkenalkan mereka-mereka yang berbakat pada Zero untuk meyakinkannya


"Dia Rifana. Dia sangat mahir dalam memasak."


"Dia Eliza. Dia pandai menenun pakaian."


"Dia Sasha. Dia pandai melukis dan sangat mengerti tentang seni."


Edward lanjut mengenalkan satu persatu keahlian mereka pada Zero. Satu hal yang pasti semua budak berkualitas itu mempunyai keahliannya tersendiri.


"Sudah cukup." Zero menyuruh Edward berhenti.


"Baik, aku akan menerima mereka semua sebagai budakku." Zero yang semakin tertarik dengan mereka akhirnya memutuskan menerimanya.


Menurutnya nilai mereka bahkan bisa melebihi nilai satu juta keping emas jika bisa dimanfaatkan dengan baik.


"Aku ingin meminta satu hal padamu," kata Edward terdengar serius.


"Apa itu?"


"Aku tahu kau sebenarnya orang baik. Tapi aku ingin memastikan saja agar kau memperlakukan mereka dengan baik," pinta Edward. Dia bisa melihat kebaikan dalam tatapan Zero meskipun dia kini sedang memerasnya.


"Tenang saja, aku akan memperlakukan mereka lebih baik dari anda." Zero tersenyum santai sambil menepuk pundak Edward.


Harus diakui Zero senang bisa bertemu dengan orang seperti Edward. Bukan hanya baik pada keluarganya saja dia juga ternyata sangat baik pada orang lain. Menurutnya orang seperti Edward patut diacungi jempol.


"Maaf, Tuan, kalau boleh tahu dimana tempat yang akan menjadi tempat tinggal kami sekarang?" tanya salah satu budak.


"Tidak perlu khawatir soal tempat tinggal, aku akan membantumu mengurusnya. Untuk sekarang kalian tinggal dulu saja di sini." Edward sudah memikirkan ini sejak awal untuk menjamin kesejahteraan budaknya.


"Tidak perlu repot-repot. Aku sudah mempunyai tempat tinggal yang layak untuk mereka," ujar Zero menolak bantuan Edward.


"Dimana itu?" Semuanya penasaran termasuk Gladius di samping Zero.


"Cincin?" Semuanya tidak mengerti dengan apa yang Zero maksud.


"Ya. Ini cincin samudera. Di dalam cincin ini terdapat sebuah tempat yang sangat luas. Kalian bebas mau tinggal dimana pun juga," jelas Zero dengan senyuman meyakinkan.


Mereka tidak semudah itu percaya soalnya baru mendengar ada cincin sehebat itu. Hanya Gladius yang berdiri di sisinya saja yang percaya dengan apa yang Zero jelaskan sekaligus takjub dengan sesuatu yang Zero tunjukkan.


"Apa kalian ingin membuktikannya?" tanya Zero pada para budak itu.


"Biar aku saja yang membuktikannya," kata Edward memutuskan percaya.


"Oke, anda hanya tinggal menuruti perintahku untuk masuk ke dalam cincin ini," jelas Zero. Edward mengangguk tanda mengerti.


Zero melambaikan tangannya pada Edward dan berkata, "Terimalah perintahku dan masuklah ke dalam cincin ini."


Setelah berkata demikian, Edward seketika tersedot masuk ke dalam cincin itu dan mengejutkan semua orang yang menyaksikannya.


Sementara di dalam cincin itu, Edward terpesona saat pertama kali membuka matanya.


Edward menemukan berbagai keindahan alam yang begitu memanjakan mata di dalam cincin itu seolah saat ini dia sedang ada di surga. Meski di tempat sebelumnya malam hari namun di dalam cincin itu masih siang dan bercahaya membuat pemandangan sekitarnya terlihat jelas.


Zero mengeluarkannya kembali setelah dirasa cukup untuk membuktikan kebenarannya.


"Benar, di dalam cincin itu terdapat sebuah tempat yang menakjubkan. Dari mana kau mendapatkan cincin itu?" Edward bertanya penuh kekaguman.


Para budak itu percaya Edward tidak akan berbohong, untuk itu mereka penasaran, tempat seperti apa yang ada di dalam cincin itu yang dikatakan Edward menakjubkan.


"Sudah tidak perlu tahu. Yang pasti anda sudah memastikannya, kan?" Zero tidak ingin membahas hal itu lebih lama.


Edward yang mengerti keinginan Zero memilih menurut dan tidak ingin membahasnya lagi. Setidaknya dia sekarang percaya Zero bisa memberikan tempat tinggal yang layak bagi mereka.


"Soal makanan dan sebagainya bagaimana?" Edward menanyakan kebutuhan penting yang lain.

__ADS_1


"Oh, itu gampang. Aku bisa memasukan beberapa makanan dan perlengkapan untuk kalian di dalam cincin ini. Intinya semuanya sudah aku urus, " jelas Zero meyakinkan mereka.


Baik Edward maupun para budak itu merasa lega mendengarnya. Edward berharap Zero bisa mengurus para budak itu dengan baik.


"Yosh, sekarang kemasi semua barang berharga kalian," titah Zero


Menuruti perintah tuan barunya, mereka segera bergegas mengemasi barang-barang berharganya kemudian berkumpul kembali di depan Zero.


"Mulai sekarang kalian akan tinggal untuk sementara di dalam cincin ini. Apa ada yang keberatan?" Zero memastikan.


"Tidak, Tuan," jawab mereka serempak.


Semua budak itu membungkukkan tubuhnya pada Edward dan mengucapkan terimakasih.


"Tuan, terimakasih karena selama ini sudah memberikan tempat tinggal yang layak bagi kami." kata salah satu budak mewakili yang lainnya.


"Sama-sama. Sekarang hiduplah dengan bahagia dengan majikan baru kalian." Edward membalas rasa terima kasih mereka.


"Tolong sampaikan rasa senang kami pada Tuan putri atas kesembuhannya dan semoga Tuan juga bahagia,"


Edward menerima permintaan dan doa mereka dengan senyuman.


Para budak itu menegakkan tubuhnya dan berkata pada Zero sudah siap memasuki cincin itu dan menjadi budaknya selamanya.


"Sebagai majikan baru kalian aku memerintahkan kalian untuk masuk ke dalam cincin ini." Zero melambaikan tangannya pada mereka.


Begitu mereka menerima perintahnya, semuanya tersedot masuk ke dalam cincin itu dan hilang dari pandangan mereka.


Di dalam cincin itu mereka semua merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Edward sebelumnya saat kali pertama membuka matanya.


Mereka sulit percaya di dalam cincin berukuran kecil itu ternyata akan ada tempat seindah dan semegah surga. Mereka tentunya akan betah tinggal di tempat seperti ini.


"Sekali lagi aku percayakan mereka padamu."


"Ya…" Zero tersenyum , terkesan melihat kepedulian Edward.


"Baiklah, karena semuanya sudah selesai sekarang aku ingin meminta setengah bayarannya lagi," pinta Zero.


Edward segera mengajak Zero dan Gladius ke salah satu ruangan lain untuk menyerahkan uang yang akan menjadi bayaran untuk Zero.


"Ini untuk setengahnya lagi…" Edward memberikan sekarung kecil berisikan beberapa gepok uang kertas pada Zero.


"Uang kertas?" Zero baru berkerut dahi karena baru mengetahui ada uang kertas di dunia ini.


'Apa di dunia ini juga menggunakan uang kertas sebagai alat tukar yang sah untuk jual beli?' pikir Zero.


"Oh, kau pasti baru melihatnya, ya." Edward menyadari reaksi Zero yang seperti baru pertama kali melihatnya.


Edward kemudian menjelaskan pada Zero jika selembar uang kertas itu sama dengan seribu koin emas.


Bagi mereka yang mempunyai harta banyak sekalipun sulit untuk membawa koin emas dalam jumlah yang banyak, secara satu koin emas saja beratnya 5 lima gram, jika seseorang memiliki kekayaan dua ratus ribu keping emas saja itu setara dengan satu ton emas. Tidak mudah membawa beban sebanyak itu kemana-mana, oleh karena itu diciptakanlah uang kertas.


Jarang sekali ada seseorang yang memilikinya dan biasanya uang kertas ini hanya dimiliki oleh seseorang yang memiliki kekayaan yang besar.


Zero mengangguk-anggukan kepalanya mengerti kemudian mengambil sekarung kecil uang kertas itu lalu dimasukkan ke dalam inventory. Tanpa perlu dihitung Zero percaya jika Edward memberikan setengah bayarannya itu padanya.


Edward terkejut dengan apa yang baru saja Zero lakukan. Pasalnya orang yang mampu melakukan hal seperti itu bukanlah orang biasa. Kemungkinan Zero pasti adalah seorang penyihir tingkat tinggi, begitu pikir Edward.


Selesai memberikan semua bayaran itu, Zero dan Gladius diantar ke depan pintu oleh Edward dan juga ditemani Lawrence serta Eleine.


"Terima kasih atas semuanya. Semoga kalian sehat selalu. Suatu saat aku berharap bisa menjalin kerja sama denganmu." Zero mengulurkan tangannya pada Edward yang segera disambut olehnya. Ketiga orang itu ikut mengucapkan terima kasih juga padanya.


"Kalau boleh tahu siapa kau sebenarnya. Sepertinya kau bukan orang biasa." Edward penasaran dengan identitas Zero yang nampaknya tidak seperti penampilannya, begitupun dengan Lawrence, dia samar-sama baru menyadari ada sesuatu yang luar biasa dalam diri Zero.


"Aku Zero. Suatu saat kalian akan mendengar tentangku dari orang lain."

__ADS_1


__ADS_2