Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Diskusi


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Mendengar pernyataan serta ekspresi Akira yang tampak ketakutan, Zaltra segera bergegas memberitahukan para ras kaum perempuannya untuk berhenti melakukan hal yang bisa menyinggung Akira.


Mereka semua yang saat itu terlibat satu persatu dikumpulkan oleh Zaltra di dalam satu ruangan dan menyuruh mereka untuk meminta maaf pada Akira, tapi sebelum itu Zaltra lebih dulu menceramahi mereka agar tidak lagi melakukan hal yang serupa.


"Mengerti?"


"Mengerti kepala," jawab mereka serempak.


Akira yang dalam posisi terduduk di atas ranjang memandangi mereka dengan tatapan tidak suka meski di dalam hatinya saat ini dia masih sedikit ngeri teringat kembali akan kejadian tadi yang seperti mimpi buruk baginya.


"Maafkan kami, Tuan…Kami tidak tahu kalau Tuan ternyata sudah memiliki pasangan." Wanita dewasa itu lebih dulu menundukkan kepalanya meminta maaf diikuti yang lainnya ikut menunjukkan rasa bersalah atas kejadian tadi.


"Pasangan?" Akira merajut alisnya dalam begitupun dengan Zaltra dan yang lainnya. Mereka tampak tidak mengerti saat mendengar istilah 'pasangan' keluar dari permintaan maafnya.


Wanita dewasa itu mengeluarkan sesuatu dari balik dadanya lalu menyerahkannya pada Akira, "Biar kutebak, mereka berdua yang ada di dalam bandul kalung itu pasti anak Tuan, kan? Tuan disana pasti sudah memiliki dua orang istri ras demi-human yang cantik nan setia, dan mereka semua pasti sedang menunggu kepulangan Tuan sekarang."


Mendengar tebakan yang meleset terlalu jauh itu para ras duyung saling berpandangan, sementara Zaltra melebarkan sedikit matanya tidak percaya dan Akira tersedak nafasnya sendiri.


"Bodoh, kenapa kau bisa berpikiran kalau mereka adalah anakku? Dan siapa pula yang sudah beristri? Dua lagi." Akira bertanya menggebu-gebu, tidak menyangka wanita dewasa itu bisa berpikiran sebodoh itu, padahal sudah terlihat jelas bahwa dirinya kini hanyalah seorang anak kecil, mana mungkin dia mempunyai seorang istri terlebih seorang anak.


"Ah, maaf-maaf, tebakanku salah, ya." Wanita dewasa itu tersenyum canggung meminta maaf, "Maaf juga karena aku sudah mengambil kalung itu tanpa sepengizinan, Tuan. " Kemudian membungkukkan setengah tubuhnya merasa bersalah.


Akira menghela nafas sambil memijat pangkal hidungnya, "Ya, ya, Aku memaafkanmu."


Akira melihat kalung di tangannya itu lalu membuka bandulnya. Mereka yang penasaran mendekat kepingin melihat sosok yang dimaksud.


"Jadi siapa mereka?" tanya wanita dewasa itu mewakili rasa penasaran mereka.


Akira melihat mereka sekali kemudian menjawab, "Mereka ya...Salah satu dari mereka sudah menjadi sosok yang berharga bagiku…" Pandangan Akira terarah pada gambar masa kecil Charla sambil tersenyum tipis, "Sementara yang satu lagi, aku belum pernah bertemu dengannya, tapi yang pasti dia adalah adiknya," jelas Akira memandangi gambar adik Charla.


Mereka yang mendengarkan bisa langsung mengetahui seberapa berharganya sosok tersebut bagi Akira. Pada saat yang sama ketika mereka melihat isi dalam bandul kalung itu mereka tidak mengerti pada istilah 'adik', yang dimaksud, karena berdasarkan yang mereka lihat kedua ras demi-human itu berbeda jenis.


"Ara-ara~ Kalau Tuan ternyata masih single kenapa Tuan menolak bermain dengan kami?" tanya wanita dewasa itu terkekeh, menggoda Akira sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


Akira yang baru saja larut dalam kenangan bersama Charla terbuyarkan oleh pertanyaan itu. Zaltra sendiri melebarkan matanya menatap wanita dewasa itu seperti memberikan isyarat agar diam.


"Mana bisa! Itu sepuluh tahun terlalu cepat bagiku, " ucap Akira setengah teriak.


"Ah, Tuan suka pura-pura begitu…Kami tahu Tuan jauh lebih dewasa dari yang terlihat..." Wanita dewasa itu bersama yang lainnya terkekeh geli menggoda Akira, terlihat senang sekali melihat ekspresi Akira yang seperti ini.


"Ahk, sudah-sudah...karena urusan kalian sudah selesai kalian bisa pergi, jangan menggoda Tuan lagi..." Zaltra yang tidak bisa tinggal diam akhirnya mengusir mereka keluar ruangan.


"Eh~ padahal kita ingin main sebentar lagi. Apa kepala cemburu ingin juga diperlakukan seperti itu..." Wanita dewasa itu balik menggoda Zaltra.


"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk cemburu," tegas Zaltra.


"Seperti biasa, kepala selalu saja bersikap kaku seperti ini pada kami." Wanita dewasa itu mendengus sebal berjalan keluar ruangan bersama yang lainnya.


"Tuan, kalau kau butuh pelayanan kami, panggil saja kami! Kami akan selalu ada melayani, Tuan!" teriak wanita dewasa itu diselingi tawaan oleh yang lainnya.

__ADS_1


Akira sesaat bergidik mendengarnya. Dia tidak mungkin mau kejadian seperti tadi terulang.


Akira menggeleng keras mencoba melupakan semua yang sudah terjadi.


"Tuan, maafkan tingkah mereka." Zaltra menunduk hormat.


"Ya. Tidak apa-apa. Usahakan mereka tidak berbuat seperti itu lagi padaku." Akira memakaikan kalung itu kembali.


"Baik." Zaltra duduk di samping Akira.


"Omong-omong Tuan, apa benar mereka berdua sedang menunggumu disana?" tanya Zaltra.


"Ya…" Akira menjawab singkat tidak ingin membahas lebih jauh.


"Kudoakan semoga mereka baik-baik saja."


"Terimakasih."


Akira bangkit dan bertitah, "Sekarang suruh semua orang berkumpul, kita akan diskusikan hasil ekspedisi tadi dengan yang lain."


"Baik."


*~*


Sesuai arahan Akira, Zaltra mengumpulkan kembali semua orang untuk mendiskusikan hasil ekspedisi tadi sekaligus menyusun strategi untuk mengalahkan Binatang Jahanam.


Meja serta bangku yang tadi belum dikemas dijajarkan kembali membentuk sebuah meja diskusi yang memanjang.


Semua orang menduduki mejanya masing-masing berdasarkan arahan Zaltra dengan Akira duduk di tengah-tengah mereka sebagai pemimpin, sementara mereka yang akan ikut andil dalam hal besar duduk di bangku paling depan.


"Pertama-tama aku ingin memberitahukan hasil yang aku dapat dari ekspedisi tadi, soal bagaimana caranya mengatasi Binatang Jahanam pada saat dia menghilang."


Pernyataan Akira membuat sinar mata semua orang yang mendengarkan dipenuhi oleh rasa antusiasme yang tinggi. Mereka sungguh tidak menyangka Akira mampu memecahkan satu hal yang sudah menjadi masalah tersulit yang sampai ratusan tahun ini belum terpecahkan hanya dalam satu kali percobaan.


"Tuan, bisa tolong jelaskan bagaimana caranya?" pinta Zaltra yang duduk di dekatnya.


Akira mengangguk lalu menjelaskan, "Berdasarkan yang aku lihat sebenarnya Binatang Jahanam ini mempunyai dua kemampuan. Pertama, dia mampu menghilangkan keberadaannya, dan yang kedua dia mampu menyamarkan bentuk fisiknya... bukan menghilangkan, kutekankan sekali lagi bukan menghilangkan," jelas Akira berdasarkan pengamatannya pada saat tadi dia sempat melihat bagaimana proses Binatang Jahanam menghilang.


"Menyamarkan...maksudnya bagaimana?" Faltra yang berada di dekat Zaltra buka suara penasaran.


Akira menjawab, "Sama halnya dengan bunglon ketika di pohon maupun gurita ketika di pasir, Binatang Jahanam ini juga mampu menyamarkan dirinya dengan baik ketika di air, yaitu dengan cara menyatu dengan air itu sendiri, " jelas Akira yang membuat mereka yang mendengarkan saling berpandangan membicarakan penjelasan Akira.


"Oh, begitu..."


"Kalau memang demikian kenapa Binatang Jahanam selama ini tidak langsung saja menghilang sepenuhnya ketika hendak menghabisi kita," celetuk salah seorang di samping Zaltra.


"Benar, aku juga setuju dengan pendapatmu." Akira menunjuk orang tersebut. Dia kembali menjawab," Menurutku ada dua kemungkinan, pertama mungkin karena ada peraturan khusus ketika dia mengaktifkan kemampuannya sehingga dia tidak melakukan hal itu. Dan yang kedua, mungkin dia sengaja ingin bermain-main lebih lama dengan mangsanya...


Satu hal yang pasti yang manapun itu seharusnya sekarang kita merasa beruntung karena dia tidak melakukannya," jelas Akira.


"Benar."


"Aku setuju dengan penjelasanmu, Tuan."


Semua orang yang berdiskusi setuju dengan kesimpulan Akira yang terdengar masuk akal.

__ADS_1


"Jadi sekarang meski kita tidak bisa merasakan keberadaannya, kita masih bisa membuat bentuk fisiknya terlihat oleh mata kita." Akira tersenyum memandangi mereka semua yang tampak begitu antusias saat mendengar penjelasan tersebut.


"Bagaimana caranya?" Zaltra mewakili perasaan mereka.


'"Tenang, aku sudah mempunyai solusinya. " Akira mengangkat satu telunjuknya.


Wajah mereka semakin berbinar oleh secercah harapan yang selama ini sudah mereka tunggu-tunggu, yakni harapan untuk terbebas dari tempat ini.


Akira membuka menu storenya dan mencari benda yang dia cari. Mereka yang menyaksikan Akira menyentuh-nyentuh ruang kosong sekali lagi hanya mengamati dalam diam, memandangi Akira penuh tanya soal apa yang sedang dia lakukan.


Setelah Akira menemukan benda yang dia cari diapun lantas membelinya dan mengeluarkan benda itu dari ruang kosong, membuat mereka yang menyaksikan lagi-lagi terpana dengan apa yang sudah Akira lakukan.


Akira mengeluar sebuah bola berwarna putih berukuran segenggaman tangan orang dewasa dan memperlihatkannya pada mereka.


"Ini lampu sihir. Kita akan menggunakan ini sebagai pengalihan. Dan ini..." Akira mengambil sesuatu lagi dari ruang kosong berupa sebuah kaca mata, "Ini adalah kacamata sihir. Kita bisa melihat Binatang Jahanam meski dalam keadaan tidak terlihat jika menggunakan kacamata ini." Akira tersenyum lebar ke arah mereka semua.


"Bagaimana caranya?" Sebagian ikut tersenyum namun tidak memahami cara kerja kedua benda itu.


"Kau bisa membuktikannya..." Akira menyerahkan kacamata berwarna hitam itu pada Zaltra menyuruh dia untuk memakainya.


"Stealth." Tiba-tiba Akira menghilang dari pandangan semua orang dan berhasil mengejutkan mereka semua.


"Zaltra coba kau lihat ke arahku." Sampai suara Akira terdengar mereka mengetahui kalau itu adalah salah satu sihir milik Akira.


Zaltra yang mendengar arahan Akira segera memakai kacamata itu dan mengarahkan pandangannya ke arah Akira. Mata Zaltra dipenuhi oleh rasa takjub dan tidak percaya saat dia menangkap bayangan berwarna hijau yang tidak lain adalah Akira tampak masih dalam posisinya terlihat ketika dia menggunakan kacamata itu.


"Apa kau bisa melihatku?"


"Ya. Meski tidak terlalu jelas tapi aku bisa melihat bentuk tubuhmu, " ucap Zaltra terkagum-kagum.


"Aku ingin coba juga." Faltra dengan cepat menggerakkan tangannya mengambil kacamata itu lalu memakainya.


"Benar. Aku juga melihatnya. Benda ini benar-benar bisa membuat kita melihat Binatang Jahanam itu." Faltra ikut merasa takjub dengan kacamata tersebut, sama halnya dengan yang lain.


Akira menampakkan dirinya kembali, "Baik, karena kalian sudah membuktikannya, masalah yang ini kita sudahi sampai disini dulu." Menggunakan skill Infinity Touchnya, Akira mengambil kacamata itu tanpa menyentuhnya.


"Bagaimana dengan benda bulat itu?" tanya Zaltra menunjuk benda yang dimaksud.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang aku ingin memikirkan bagaimana cara mengalahkan Binatang Jahanam ini."


"Apa Tuan sudah mengetahui caranya?" Wajah Zaltra dipenuhi harapan, berharap Akira mempunyainya.


Akira menggeleng pelan, "Belum, kita akan melakukan ekspedisi lagi. Dan sekarang kita akan menyusun strategi sebelum mengerahkan segenap kemampuan kita untuk mencarinya, " jelas Akira.


Meskipun Akira masih belum memiliki solusinya mereka masih terlihat antusias. Semangat dalam diri mereka yang sudah lama padam kembali berkobar.


Mereka kini rela mempertaruhkan nyawa mereka di garis depan bersama Akira dan berharap Akira mau mengajak mereka untuk ikut melakukan ekspedisi bersama.


Akira yang melihat antusiasme mereka ikut menjadi antusias. Dengan semangat dia mulai menyusun berbagai strategi untuk ekspedisi mencari titik lemah Binatang Jahanam ini bersama yang lainnya.


"Aku ingin kalian yang sepantaran denganku kesini," pinta Akira yang berhasil mengerutkan dahi semua orang yang mendengarnya.


Mereka yang sepantaran dengannya sejenak diam, saling berpandangan sebelum bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Akira.


"Ada apa, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Aku mempunyai tugas buat kalian." Akira tersenyum penuh makna pada mereka semua.


__ADS_2