
Semua urusan di kota Belius telah selesai. Esok harinya, Zero beserta yang lainnya berkemas, meninggalkan penginapan itu untuk melanjutkan tujuan utamanya menuju ibukota kerajaan.
Zero lebih memilih menyewa jasa kereta kuda untuk mengantarkan dia dan lainnya ke tempat yang dituju dari pada harus mengandalkan Fluffy, mengingat situasi kerajaan saat ini sedang dalam kondisi yang ketat.
"Yosh, semuanya sudah selesai. Sekarang kita akan berangkat ke ibukota kerajaan menggunakan kereta kuda ini. " Zero telah menyewa satu kereta kuda yang mampu menampung enam orang lebih yang akan menjadi alat transportasi mereka.
Satu persatu mulai menaiki kereta kuda itu sesuai arahan Zero dan duduk di bangku yang disediakan. Sherria, Fluffy dan Rimuru duduk di bangku yang sama sedangkan Charla disuruh duduk sendiri di bangku yang terpisah karena penyakit mabuk kendaraannya membuat mereka merasa mual melihatnya.
Zero dan Gladius yang terakhir memasuki kereta duduk di bangku terdepan dekat dengan kusir itu. Sesudah semuanya masuk, Zero menyuruh kusir itu untuk mulai memacu keretanya yang dibawa oleh empat ekor kuda.
Sepanjang perjalanan tidak ada masalah apapun yang bisa menghambat perjalanan mereka. Sampai singkat cerita, kereta kuda yang membawa Zero dan lainnya akhirnya tiba di ibukota kerajaan. Mengingat letak kota Belius dengan ibukota kerajaan tidak terlalu jauh, mereka bisa sampai dengan cepat bahkan sebelum matahari berada di tengah-tengah.
Zero dan lainnya turun dari kereta kuda itu dan memandangi gerbang masuk ibukota kerajaan yang tampak dijaga ketat oleh prajurit yang berjaga di sana.
"Ayo…" ajak Zero melangkah secara beriringan memasuki kota tersebut.
Penjaga disana segera mempersilahkan Zero dan lainnya masuk saat mengetahui identitas mereka sebagai petualang kelas atas.
Ibukota kerajaan Belserion memiliki wilayah yang luasnya setengah kali lebih besar dari kota Belius. Penduduk yang menempat disitu juga sangat padat. Di gerbang masuknya saja sudah terlihat hamparan manusia dan ras lain yang tengah berlalu lalang, bekerja atau sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Kota ini ternyata jauh lebih ramai dari kota sebelumnya." Zero dan lainnya melangkah ke dalam kerumunan orang-orang sembari mengamati keadaan sekitar.
"Benar, ramai sekali..." Charla dan Sherria terkesan melihat kepadatan penduduk di sana. Fluffy dan Rimuru lebih tertarik dengan jajanan dan hiburan yang terpampang sepanjang jalan.
"Tuan, coba lihat… " Gladius berbisik di telinga Zero sambil menunjuk ke satu tempat.
Saat mengikuti arah telunjuk Gladius tertuju, Zero melebarkan sedikit matanya saat menemukan poster bocah menggunakan topeng yang menjadi buronan terpampang di satu tembok.
'Di kota ini juga ternyata ada gambar itu, ya…' Zero pernah melihat gambar yang serupa di kota yang sebelumnya. Dia ingin tertawa saat melihat kini harga untuk orang yang bisa menangkapnya atau sekedar memberikan informasi berharga tentangnya melonjak tinggi. Sepertinya kerajaan sudah menanggapinya sebagai ancaman yang serius, begitu pikir Zero
Tidak ingin memperdulikannya, Zero kembali mengamati berbagai tempat yang ada di kota tersebut. Banyak tempat-tempat yang ingin dia kunjungi tapi menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
'Kurasa nanti saja...' pikir Zero.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Zero-sama?" tanya Charla.
"Hm...Seperti biasa, pertama kita cari penginapan yang cocok menjadi tempat tinggal kita di kota ini dulu," jawab Zero.
Setelah bertanya ke salah satu orang yang mengetahui penginapan terbaik di kota itu, Zero bersama yang lainnya segera menuju ke sana.
"Aku ingin menyewa tiga kamar terbaik di penginapan ini untuk satu bulan ke depan." Zero menyerahkan sekantong uang yang jumlahnya sesuai dengan yang resepsionis harapkan.
Salah satu resepsionis segera membawa mereka ke kamar terbaik yang disediakan di penginapan itu.
"Aku akan satu kamar dengan, Flo. Charla dan Sherria seperti biasa, sementara Rimuru, kau satu kamar dengan Gladius," kata Zero mengarahkan. Yang lainnya tampak tidak keberatan dan menerima keinginannya itu.
__ADS_1
Selesai mengemasi barangnya masing-masing, mereka semua berkumpul kembali di ruangan Zero.
Zero bersama yang lainnya mendiskusikan banyak hal tentang tujuannya dan apa yang akan dilakukannya sekarang di ibukota kerajaan ini.
"Ah iya benar. Zero-sama sudah janji ingin mengabulkan satu permintaan kita setelah berhasil menyelesaikan semua quest itu." Charla mengingatkan Zero dengan janjinya tersebut.
"Iya, Tuan juga kemarin berjanji akan mengabulkan satu permintaanku. Dengan yang itu sekarang aku mempunyai dua permintaan." Fluffy tampak antusias. Yang lain pun sama antusiasnya.
"Baik, baik, aku akan mengabulkan permintaan kalian. Sebutkan saja apa itu," kata Zero yang tidak ingin mengingkari janjinya.
Zero pun mengabulkan satu persatu permintaan mereka. Dimulai dari Rimuru. Rimuru meminta pada Zero untuk mengajaknya jalan-jalan bersama Fluffy dan mencarikan aksesoris yang bagus di kota ini sebagai permintaannya.
Zero menuruti permintaannya itu. Selama setengah hari itu, Zero menghabiskan waktunya dengan bermain bersama mereka berdua.
Setelah Rimuru selanjutnya Fluffy. Setengah hari sisanya, Zero habiskan dengan membuat kue yang menjadi permintaan Fluffy yang harus dia kabulkan.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Zero setelah menyelesaikan kue yang dia buat.
"Emm! Ini enak sekali, Tuan." Fluffy menyukai kue buatannya. Mereka yang ikut mencicipinya juga menyukainya.
"Tuan hebat…" Fluffy dan lainnya memuji kepandaian Zero dalam membuat kue.
"Tinggal satu permintaan lagi. Apa yang kau inginkan sekarang, Flo?" tanya Zero.
"Mm…" Fluffy merapatkan bibirnya, memikirkan permintaan yang bagus menurutnya, "Aku ingin Tuan mencium pipiku." Fluffy tersenyum berseri memberitahukan permintaannya.
"Hanya itu saja?" Zero menaikkan satu alisnya. Permintaan Fluffy yang satu ini terlalu mudah menurutnya.
"Emm!" Fluffy mengangguk mantap.
Zero tersenyum singkat lalu menuruti permintaan Fluffy dengan mencium pipinya.
*~*
Keesokan harinya, Zero lanjut mengabulkan permintaan mereka yang belum dia kabulkan.
"Sherria saja dulu. Aku belakangan," kata Charla mempersilahkan adiknya lebih dulu. Sherria mengangguk menurutinya.
"Baik, Sherria, sebutkan permintaanmu." Zero penasaran dengan permintaan Sherria.
Sherria tampak ragu-ragu mengungkapkan permintaannya, "Anu… eto… mm...apa boleh aku meminta kencan bersama, Zero-sama?" tanya Sherria sambil menyatukan kedua telunjuknya.
"Ehh~ Sherria menginginkan itu juga ternyata..." Charla berbisik pelan di telinga Sherria. Dia juga ingin meminta hal yang sama dengannya.
"Tentu. Selama itu masih bisa aku lakukan, aku akan mengabulkan permintaanmu apapun itu." Zero tersenyum meyakinkan. Jawaban dan senyuman Zero membuat Sherria senang.
__ADS_1
"Apa kau ingin melakukannya sekarang?" tanya Zero.
"Ya!" Sherria mengangguk penuh semangat.
"Tapi bisa tunggu dulu sebentar..." Sherria meminta izin ingin mempercantik diri terlebih dahulu sebelum berkencan dengan sosok yang dicintainya itu.
Zero mengangguk, mengiyakan permintaannya. Dia juga perlu merapikan diri sebelum berkencan dengan Sherria.
Setelah setengah jam lebih menunggu akhirnya Sherria selesai berdandan dan sudah siap melakukan kencan bersama Zero.
Zero terpukau saat melihat penampilan gadis rubah itu yang sungguh memanjakan mata. Cukup dengan satu kata untuk mendeskripsikan betapa memukaunya sosok Sherria saat ini, sempurna.
"Sherria cantik sekali..." Charla ikut terpukau. Dia sudah lama tidak melihat adiknya berdandan cantik seperti ini.
"Terima kasih..." Sherria tersenyum pada kakaknya lalu mengalihkan pandangannya pada Zero dan meminta pendapatnya, "Maaf kalau agak lama. Bagaimana menurut, Zero-sama? Apa penampilanku sudah bagus?" tanya Sherria tersipu malu. Pipinya memerah.
"Ya. Penampilanmu sempurna, Sherria. Kau cantik sekali..." Zero tersenyum, memuji penampilan Sherria.
"Syukurlah kalau Zero-sama menyukainya." Sherria membalas senyuman Zero.
Zero dan Sherria yang sudah berpenampilan rapi melakukan kencan. Mereka keluar penginapan bersama, meninggalkan yang lain dengan sepatah kata, "Selama kita berkencan jangan ada yang mengganggu, oke."
Mereka hanya bisa menurut dan mendoakan agar Sherria beruntung saat berkencan dengan Zero.
Zero dan Sherria berkencan di suasana pagi yang masih segar. Meski belum terlalu siang tetapi keadaan di kota sudah tampak ramai dipenuhi orang-orang. Mereka berjalan memasuki kerumunan, berbaur dengan orang-orang di sana.
Selama berkencan tidak ada percakapan yang mengiringi langkah mereka. Keduanya saling terdiam tanpa ada satu katapun yang terucap. Sampai akhirnya Zero memutuskan memulai percakapan.
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Zero sambil memegang tangan Sherria.
Wajah Sherria memerah saat merasakan tangannya digenggam oleh Zero. Dia menjadi gugup menjawab pertanyaannya.
"T-Terserah Zero-sama saja. Kemana pun aku akan mengikutinya, " jawab Sherria terbata-bata.
"Kenapa kau tegang seperti itu, Sherria? Santai saja. Kita hanya melakukan kencan bukan melakukan sesuatu yang berbahaya." Zero terkekeh, saat merasakan tangan Sherria bergetar, "Apa ini untuk pertama kalinya kau melakukan kencan?" tanya Zero.
"Benar, Zero-sama. Selama ini aku belum pernah melakukan kencan dengan siapa pun," kata Sherria terdengar malu.
"Jadi begitu, ya. Pantas saja kau tegang seperti itu. Baiklah, kalau begitu aku akan mengajarimu cara berkencan. Pertama-tama tenangkan dulu dirimu." Zero memberi arahan. Sherria mengikuti arahan Zero dan mencoba menenangkan dirinya agar tidak tegang.
Seiring langkah, Sherria mulai terbiasa dan bisa sedikit mengurangi rasa tegangnya. Genggaman tangan Zero yang semula membuatnya tegang kini memberikan rasa nyaman dalam hatinya. Percakapan hangat yang saling mereka lontarkan kini membuat suasana yang semula canggung menjadi berwarna. Sherria bahagia sekali bisa merasakan momen seperti ini bersama sosok yang dicintainya. Dia sangat bahagia.
Namun sayang momen itu tidak bertahan lama. Beberapa menit berikutnya sesuatu yang membuat Sherria cemas terjadi.
"Argghh... "
__ADS_1
Tanpa tahu apa penyebabnya tiba-tiba Zero terjatuh dan mengerang keras seperti orang yang kesakitan. Sherria sontak menjadi cemas melihatnya.