
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Scorpion tidak bisa terima akan fakta yang terjadi di depannya sekarang. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat ada seseorang yang mampu menguasai lima elemen utama dan satu elemen gabungan seperti yang Akira perlihatkan. Karena pada dasarnya tubuh seseorang yang terbentuk oleh energi sihir hanya mampu membangkitkan satu elemen utama saja. Andaikan ingin membentuk satu elemen baru lagi pada tubuhnya hal itu membutuhkan usaha yang tidak biasa dan bahkan taruhannya adalah nyawa.
Berdasarkan yang Scorpion ketahui dari beberapa pengalaman hidupnya hanya sebagian orang saja yang mampu menguasai lebih dari dua elemen, itupun hanya di batas tiga elemen saja. Selebihnya dia tidak pernah melihatnya karena menurutnya itu adalah suatu hal yang mustahil dan sangat sulit untuk dicapai.
Namun di depan matanya sekarang seluruh argumen yang menyatakan bahwa itu adalah hal yang mustahil berhasil terpecahkan dengan begitu mudahnya oleh seorang bocah misterius yang dianggap sebagai makhluk buatan.
Ya, Scorpion menganggap Akira sebagai makhluk buatan karena menurutnya tidak mungkin jika sosok yang melakukan hal yang mustahil itu adalah manusia. Benar-benar tidak mungkin...
Pandangan Scorpion terhadap Akira berubah. Kini Scorpion tidak bisa menganggap remeh lagi bocah di depannya setelah menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
"Hahaha! Sesuai yang aku harapkan dari orang sepertimu makhluk buatan. Kau jauh melebihi ekspektasiku. Kau berhasil memberikan hiburan yang menarik. Seratus poin untukmu." Scorpion mencoba menutupi ekspresi terkejutnya dengan tertawa.
"Makhluk buatan?" Akira terkekeh mendengar istilah itu keluar lagi dari mulut Scorpion.
"Apa sebegitunya kau tidak mau percaya kalau sosok yang ada di depanmu sekarang adalah manusia?" tanya Akira menaikkan satu alisnya.
"Hahaha, kau bercanda, bocah. Mana ada manusia sepertimu." Scorpion masih tertawa, dan bahkan tawaannya semakin lantang.
"Hahaha, benar juga." Akira ikut tertawa mendengarnya.
Tawa mereka menggema di tempat itu, mengalahkan longlongan mereka-mereka yang tengah kesakitan. Beberapa detik kemudian mereka berdua mengerai tawanya dan kembali fokus pada lawan di depannya.
"Kurasa sudah saatnya kita bersenang-senang kembali." Akira tersenyum menantang.
"Benar. Kita lanjutkan kembali permainannya. " Scorpion membalas senyuman Akira dengan cara yang sama.
Keduanya saling melemparkan senyuman selama beberapa saat sebelum seperti biasa Akira bergerak lebih dulu memulai permainan.
Akira bergerak mengitari Scorpion mencoba mencari metode pertarungan lain yang menarik sekalian mengamati setiap celah kelemahannya.
Dari beberapa pertukaran sebelumnya Akira menyadari kalau Scorpion masih belum menggunakan kemampuan penuhnya. Akira masih belum bisa mengukur seberapa besar kemampuannya, tetapi satu hal yang dia yakini pasti kekuatannya jauh lebih kuat dibanding iblis yang sebelumnya dia lawan.
"Fire Ball."
Selagi bergerak Akira melontarkan bola-bola api ke arah Scorpion yang tampak masih belum bergeming di posisinya.
"Percuma." Dalam sekali ayunan tangan, api neraka miliknya melahap api milik Akira.
Akira tidak berhenti disitu saja. Dia terus melontarkan skill-skill lain yang dia punya pada Scorpion biarpun hasilnya sia-sia.
Kali ini Akira tidak lagi menyerang menggunakan fisik tapi lebih memfokuskan serangannya dengan menggunakan skill. Kebetulan dengan statusnya sekarang dia memiliki Mana Point dengan jumlah yang sangat besar dan masih belum setengahnya terpakai. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau ingin membuangnya sedikit?
"Percuma. Kau hanya membuang-buang mana-mu saja bocah," ejek Scorpion selagi menangkis dan menghindari setiap skill yang Akira lontarkan.
"Tidak masalah, asalkan kau terhibur aku tidak masalah." Akira tidak terprovokasi oleh ejekan Scorpion dan terus membuang skillnya.
Harus Scorpion akui Akira memiliki energi sihir yang sangat besar tetapi jika terus dibuang seperti ini yang ada hanya akan percuma.
'Apa yang sebenarnya dia pikirkan,' pikir Scorpion melihat Akira seperti sengaja melakukan itu.
"Cih, merepotkan..."
Memang benar setiap skill yang Akira lontarkan tidak ada satupun yang berhasil mengenai Scorpion tapi hal itu sepertinya cukup membuat Scorpion kerepotan dan lambat laun membuatnya kesal.
Scorpion yang awalnya memilih diam pun akhirnya memutuskan bergerak karena tidak ingin menghabiskan mana-nya terus-menerus untuk menangkis setiap serangan Akira dan lebih memilih menghindarinya.
Akira tidak terus menggunakan skillnya saja. Dia juga sesekali menyerang Scorpion secara langsung seperti tadi sebelum kembali lagi menggunakan skillnya.
Scorpion berdecak kesal melihat Akira seperti memang sengaja membuang-buang mana-nya, "Biar kuperlihatkan bagaimana caranya menggunakan sihir yang benar, bocah. "
Scorpion bergerak mundur kemudian menyatukan kedua telapak tangannya sebelum ketika dia berseru, "Rain of Hell Stones!" Batu-batu api berukuran sedang bermunculan dari langit mengarah langsung pada Akira.
Akira menengadahkan kepalanya dan segera menahan serangan dari batu api tersebut dengan skill pelindungnya.
"Perfect Protective Veil." Sebuah tabir pelindung tak kasat mata melindungi Akira dari hantaman bebatuan tersebut.
__ADS_1
Scorpion membelalakan matanya saat menyaksikan pelindung yang Akira gunakan mampu menahan batu apinya yang setahunya memiliki daya hancur yang kuat.
"Kau bisa menggunakan sihir pelindung juga ternyata. Dan lagi pelindung itu mampu menahan seranganku. Hebat sekali. " Scorpion memuji Akira meski di dalam hatinya dia merasa kesal karena terus dipermainkan. Dia yang awalnya berniat bermain-main dengan Akira kini malah seperti dipermainkan olehnya.
Scorpion tidak tahu sejauh mana kemampuan yang Akira miliki. Melihat kenyataan Akira masih bisa tenang-tenang saja saat berhadapan dengannya menandakan kalau dia memiliki suatu hal yang membuatnya yakin akan menang.
"Apa kau ingin melihat hal yang lain lagi?" Akira menyunggingkan sudut bibirnya.
"Jangan sombong dulu bocah." Scorpion menanggapi ejekan Akira.
"Sepertinya sudah saatnya aku akhiri semua ini, " gumam Scorpion terdengar serius. Setelah itu tidak ada lagi keceriaan di wajahnya. Dia kini tidak lagi memandang Akira sebagai mainan melainkan musuh yang harus dia habisi.
"Kalau kau sudah serius begini aku juga jadi tambah semangat." Tersenyum menantang, Akira memegang erat pedangnya dan bersiap memulai pertarungan yang sesungguhnya.
"Kita ganti permainan kali ini menjadi permainan hidup dan mati, bocah."
Scorpion kali ini bergerak lebih dulu dengan kecepatan penuh, bersiap menyerang Akira menggunakan kedua kunainya.
"Mohon kerjasamanya."
Akira menyambut serangan Scorpion kali ini yang terlihat sangat serius seperti ingin membunuhnya.
Akira terus didesak oleh setiap serangan yang Scorpion kerahkan hingga dipaksa pada posisi bertahan. Melihat hal itu Akira tidak bisa hanya diam saja dan ikut mengerahkan kemampuan penuhnya, mencoba membalikkan keadaan.
Tidak ada lagi keceriaan di wajah mereka berdua. Kedua orang berbeda ras itu benar-benar bertarung serius seolah tidak ingin memberikan kesempatan bagi lawannya menyerang.
Tetapi diantara pertarungan itu, Scorpion terlihat lebih mengungguli karena Akira sekarang tidak sepenuhnya bisa fokus melawan Scorpion lantaran masih terganggu oleh hawa panas sekitar yang menyengat.
Meski begitu, Akira masih bisa memposisikan dirinya di posisi bertahan dengan baik, berusaha agar tidak terluka.
'Sepertinya sudah saatnya aku menggunakan itu...' batin Akira merasa tidak tahan lagi dengan hawa panas sekitar.
Akira berniat melakukan sesuatu untuk membalikkan keadaan tetapi sayangnya Scorpion masih tidak memberinya celah untuk melakukan itu. Scorpion terus menyerang Akira dan terus memaksanya pada posisi bertahan.
Beberapa pertukaran selanjutnya, dalam dua pola gerakan cepat, Scorpion bergerak melompat ke belakang Akira dan melemparkan kunai yang terikat tali itu ke arahnya. Akira segera berbalik dan menghindari senjata itu, namun sayangnya sedikit luka berhasil tertoreh di pipi Akira.
Akira memegangi pipinya yang tergores. Luka yang berhasil tertoreh pada pipinya memang tidak terlalu dalam namun melihat Scorpion seperti puas hanya dengan sedikit luka seperti itu memberikan tanda tanya baginya.
"Kau sudah kalah bocah..."
Akira melihat setetes darah di tangannya, mengerti apa maksud perkataan Scorpion.
"Benarkah?" Akira membalas senyuman Scorpion kemudian maju kembali menyerangnya.
'Kau pikir hal seperti ini bisa mengalahkanku, hah?' Akira terkekeh dalam hatinya. Dia bisa melihat ekspresi kemenangan Scorpion melalui pertukaran serangan kali ini.
Sayangnya ekspresi kemenangan itu tidak bertahan terlalu lama sebelum perlahan digantikan oleh kerutan dahi seperti orang kebingungan diikuti senyumannya memudar.
'Tunggu, ada apa ini? Bagaimana dia tidak terpengaruh oleh racunku? Racun yang dihasilkan oleh senjataku seharusnya bisa melumpuh sistem saraf, tapi kenapa dia masih bergerak secepat ini?' Scorpion dibuat bingung dengan hal itu.
Sampai ketika dia semakin larut dalam kebingungannya, dia tidak sadar kalau Akira kini mulai mengguli pertarungan hingga sejurus kemudian dia mempunyai kesempatan mendaratkan serangan.
"Kau lengah iblis dungu."
Akira berhasil membuat luka yang cukup dalam pada perut scorpion yang langsung membuatnya bergerak mundur.
'Bocah ini... jangan bilang dia kebal terhadap racun.' Scorpion menatap Akira penuh rasa tidak percaya sembari memegangi luka di perutnya yang kini berdarah.
"Apa yang sedang kau pikirkan iblis dungu."
Tidak ingin melewatkan kesempatan, Akira maju kembali menyerang Scorpion.
"Kau sudah mempermainkanku bocah...!" Scorpion memandang Akira dengan tatapan bengis, urat-urat di wajahnya pun mulai terlihat.
Dia tidak bisa menahan diri dan ingin mencabik-cabik tubuh bocah di depannya sekarang yang tampak masih bisa seimbang melawannya?
Akira kini telah berhasil memancing keluar sifat asli seorang iblis.
"Poison bomb." Melompat di udara, Scorpion melemparkan bom-bom racun pada Akira yang segera dihindari olehnya.
Akira segera bergerak menjauhi Scorpion yang terus melemparkan bom racun sambil tersenyum mengejek. Hal itu berhasil memancing kembali emosi Scorpion.
__ADS_1
"Cih, apa boleh buat! Kau sudah membuatku marah bocah!"
Scorpion mengangkat satu telunjuknya sambil berkata, "Poison Mist."
Sejurus kemudian kepulan kabut berwarna ungu muncul, berterbangan di udara mengisi seluruh area tempat itu.
"Sudah saatnya aku mengakhiri permainan ini. Meski hanya sebentar, terima kasih sudah menghiburku, bocah." Scorpion tersenyum dingin memandangi Akira yang tampak sudah berada dalam lingkupan kabut tersebut. Dia sudah sepenuhnya yakin kalau Akira akan kalah setelah dia menghirup kabut tersebut.
"Aku sarankan agar kau tidak bernafas dalam kabut itu, bocah. Karena kabut itu bukanlah kabut biasa. Sekalinya kau menghirup kabut itu, kau akan mati dalam hitungan de...ti...k..." Belum selesai Scorpion memberi saran agar jangan menghirup kabut itu, Akira malah terlihat dengan sengaja menghirup nafas dalam di dalam lingkupan kabut itu.
"Ah~ harum sekali..." Akira memejamkan matanya seolah menikmati aroma kabut beracun itu, membuat ekspresi Scorpion menjadi buruk.
"Kau...bagaimana bisa bertahan setelah menghirup kabut racun neraka ku?" Scorpion tampak sangat terguncang.
"Racun neraka? Kau bilang racun seperti ini akan membunuhku dalam hitungan detik? Jangan membuatku tertawa." Akira terlihat puas sekali melihat ekspresi Scorpion yang semakin buruk.
"Bagaimana bisa semua racunku tidak berpengaruh padamu?"
"Entahlah..." Akira hanya mengangkat bahunya pura-pura tidak tahu.
Tentu saja alasan mengapa Akira tidak terpengaruh oleh racun itu karena khasiat dari air suci ras duyung yang sebelumnya dia minum.
'Ternyata khasiat dari air suci ini sungguhan. Dengan begini aku tidak perlu takut lagi terhadap racun. Bahkan racun terganas pun tidak berpengaruh padaku.' gumam Akira dalam hati.
"Benar apa katamu tadi. Kurasa sudah saatnya kita akhiri pertarungan ini." Akira tersenyum sinis memandangi Scorpion yang masih tidak berhenti terkejut.
"Berserker..." Akira kemudian memperlihatkan wujud berserkernya pada Scorpion yang sekali lagi membuat dirinya terguncang, dan bahkan wajahnya kini sudah tidak lagi berbentuk.
"Kau....Wujud itu... bagaimana bisa..." Scorpion sekilas mengenali wujud berserker milik Akira. Wujud yang sangat ditakuti oleh kaumnya.
"Apa kau ingin tahu apa yang sudah terjadi pada iblis yang aku sebut tadi? " Akira berjalan santai mendekati Scorpion, setiap langkahnya menggetarkan jiwa Scorpion.
"Biar aku kasih tahu, dia kalah telak melawanku setelah melihatku dalam wujud ini. "
Akira melesat kencang mendekati Scorpion. Dalam setengah tarikan nafas, Akira tiba-tiba sudah muncul di depan Scorpion dan mendaratkan satu tendangan pada perutnya hingga membuatnya terpental. Sekali lagi Scorpion menghantam sebuah pilar namun kali ini pilar itu tidak lagi retak melainkan roboh karena hantaman yang dihasilkan sangat keras.
Scorpion tidak bisa percaya kalau bocah yang sejak tadi dia lawan ternyata mempunyai kekuatan sedahsyat ini. Dimulai dari kekuatan fisiknya yang tidak biasa, mampu menguasai lebih dari dua elemen, mempunyai energi sihir yang besar, kebal terhadap racun, sampai sekarang mampu meningkatkan kekuatan fisiknya berkali-kali lipat.
Sekali lagi dia tidak percaya bahwa sosok yang membuatnya terpukul ini sebenarnya adalah manusia.
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi yang jelas aku masih ingat teriakan kesakitan dia pada saat itu." Akira berjalan santai mendekati Scorpion sambil menyeringai, "Ah… kuharap kau juga merasakan hal yang sama dengannya." Seringaiannya semakin lebar.
'Thamuz kalah oleh bocah sepertinya? Apa jangan-jangan dia keluar dari dunia bawah ada kaitannya dengan bocah ini.' Scorpion teringat pada alasan Thamuz saat itu yang mengatakan kalau dia ingin keluar dari dunia bawah untuk membalaskan dendam pada salah satu makhluk yang sudah mengalahkannya.
Membangkitkan tubuhnya kembali, Scorpion menyeka ujung bibirnya yang berdarah dan bersiap siaga menerima serangan selanjutnya dari Akira.
"Hahaha...Jangan samakan aku dengannya, bocah!" Scorpion sudah mengambil kesadarannya kembali. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk terus terkejut. Dia ikut mempersingkat jarak mendekati Akira.
"Asal kau tahu saja bocah, aku beberapa kali lebih kuat darinya, " kata Scorpion terdengar dingin begitupun dengan tatapannya.
"Benarkah?"
Akira melesat dengan kecepatan tinggi hingga sulit dilihat oleh mata Scorpion dan kembali membuatnya terpental hingga merobohkan satu pilar yang lain.
"Kau....!!
Kau yang memaksaku bocah!!!" Scorpion membangkitkan tubuhnya kembali diikuti aura merah kelam kali ini mulai menyelimuti tubuhnya. Aura itu seolah telah menyulut api amarah yang ada di dalam diri Scorpion.
"Kau tidak akan selamat setelah ini, bocah..."
Aura yang dikeluarkan semakin membesar sampai ketika dia berkata, "Aspect of the Devil — Hellfire Mantle." Pakaian Scorpion tiba-tiba diselimuti oleh api berwarna merah kelam.
"Aspect of the Devil — Demonic Essence."
"Aspect of the Devil — Eight-limb of Speed."
Selesai merapalkan kata-kata itu, penampilan Scorpion kali ini berubah total. Terlihat jauh lebih menakutkan.
Matanya kini sepenuhnya mengeluarkan cahaya putih seperti mata Akira sekarang. Aura merah kelam yang terpancar di dalam tubuh Scorpion tidak kalah dengan aura keemasan milik Akira. Dan yang lebih mencolok dari penampilannya sekarang yaitu kobaran api yang kini membakar seluruh tubuh Scorpion memperlihatkan bahwa api itu akan membakar apapun yang menyentuhnya terkecuali pemiliknya.
Scorpion menyeringai menatap bengis Akira,
__ADS_1
"Majulah..."