Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup V


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Pada saat matahari sudah tampak bersiap pulang ke tempat asalnya, Akira bersama Charla turun dari pohon itu dan kembali melanjutkan perjalanan, dan ketika malam hari tiba, Akira bersama Charla berisitirahat.


Mereka berdua kini tengah terduduk di dekat perapian diantara rembulan yang bersinar terang menelusuk hutan yang rindang.


"Apa kau sudah tenang?" tanya Akira sambil menyerahkan sup hangat yang dia beli dari toko sistemnya pada Charla.


Charla hanya mengangguk lalu mengambilnya. Dari ekspresinya sekarang dia terlihat sudah lumayan baikan.


"Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu menangis seperti itu?" tanya Akira setelah sebelumnya dia memutuskan untuk diam dan menunggu Charla sampai benar-benar tenang.


"Bukan apa-apa. Aku hanya teringat pada adikku saja." Charla mencoba tetap tersenyum meski wajahnya masih terlihat sedikit muram, "Terimakasih Akira-san karena sudah menemaniku yang cengeng ini, " lanjutnya sambil terkekeh.


"Ya. Sama-sama."


Akira bisa melihat kalau Charla masih berpura-pura tetap tegar di hadapannya. Dia tidak tahu alasan pasti kenapa dia bersikap demikian.


Sejujurnya Akira merasa tidak puas dengan jawaban Charla dan masih penasaran ingin bertanya lebih jauh lagi, namun melihat Charla seperti tidak ingin menceritakannya, Akira pun memutuskan untuk tidak memikirkannya juga.


Mereka berdua kemudian menyantap makanannya masing-masing, sampai beberapa menit berselang mereka selesai mengisi perutnya dari kekosongan.


"Apa kau masih lapar?" tanya Akira memastikan.


Charla menggeleng pelan,"Tidak. Aku sudah kenyang." dan tersenyum


"Akira-san ingin berpatroli lagi seperti biasa?" tanya Charla.


"Ya. Seperti biasa kau juga tunggu saja disini...


Dan…." Akira membuka menu store-nya dan membeli beberapa cemilan disana, "Kau pasti bosan kalau harus menunggu. Semua cemilan ini akan menemanimu sampai aku kembali." Akira memperlihatkan cemilan-cemilan dari dunia asalnya seperti snack dan makanan ringan lainnya.


"Makanan apa ini? Apa plastik ini bisa dimakan?" Charla bertanya sambil mengambil salah satu snack yang terbungkus plastik. Dia terheran-heran karena baru melihat ada makanan seperti itu.


"Tentu saja bukan plastiknya..." Akira mengambil snack di tangan Charla lalu mengupasnya, " Kau kupas seperti ini dan di dalamnya ada makanan enak yang bisa kau makan..." jelas Akira sambil memperlihatkan isi snack tersebut.


Charla yang penasaran mengambil sedikit isinya dan mencoba mencicipinya.


"Enak!" kata Charla setelah lidahnya merasakan snack tersebut.


"Benarkan?" Akira memperlihatkan senyuman sombong. Charla mengangguk puas mengiyakan.


"Kalau sudah mengerti..." Akira bangkit dari posisinya, "Kau diam disini baik-baik. Aku jamin tempat ini akan selalu aman."


Charla ikut berdiri kemudian mengangguk, "Baik. Hati-hati, Akira-san, " katanya sambil tersenyum.


Akira mengangguk dan berjalan ke salah satu arah sebelum menghilang dari pandangan Charla.


Senyuman Charla perlahan memudar diganti dengan wajah muram setelah Akira pergi dari hadapannya.


*~*


"Issh... apa tidak ada monster atau hewan buas lagi di tempat ini." Akira mendesis kesal saat mengetahui monster dan hewan buas yang dia temui hanya sedikit, tidak cukup untuk meningkatkan levelnya.

__ADS_1


"Night Vision!" Akira menggunakan salah satu skillnya untuk melihat dalam kegelapan. Pandangannya menelusur hutan yang rindang hingga radius ratusan meter. Memang benar, tidak ada lagi satupun makhluk hidup yang tertangkap oleh pandangannya.


Akira menghela nafas," Mungkin mereka sedang istirahat..."


"Cukup sampai disini dulu levelingnya. Aku juga harus istirahat..." Akira memutuskan untuk kembali.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja sampai akhirnya Akira sampai ke tempat semula.


Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini Akira pulang lebih cepat. Api unggun di depan tenda juga tampak masih menyala tetapi Akira tidak melihat Charla ada di sekitarnya.


Dia mungkin ada di dalam tenda, pikir Akira.


Akira membuka katup tenda dan menemukan Charla sudah tertidur disana. Dia terdiam sejenak, menyimpan semua senjatanya terlebih dulu sebelum memutuskan memasuki tenda itu dan merebahkan tubuhnya di samping Charla.


Charla yang merasakan ada kehadiran seseorang tiba-tiba terbangun dan menemukan Akira sudah tertidur di sampingnya. Pandangan mereka berdua bertemu.


"Ah maaf, aku membangunkanmu, ya?"


"A-Akira-san..." ucapnya terbata sedikit terkejut. "Tidak. Aku masih belum bisa tidur." Charla menggeleng pelan.


"Apa aku boleh tidur disini?" tanya Akira.


Charla sedikit ragu sebelum akhirnya mengangguk, "Boleh."


Akira memposisikan tidurnya menghadap langit kemudian bertanya, "Kau akhir-akhir ini lebih banyak diam. Apa ada masalah?"


"..."


Charla terdiam tidak menjawab—atau lebih tepatnya tidak bisa menjawab. Dia ikut memposisikan tidurnya menghadap langit.


"Adikmu...apa terjadi sesuatu dengan adikmu?" Akira menebak alasan Charla akhir-akhir ini tampak muram pasti ada kaitannya dengan adiknya.


"Katakan saja, apa terjadi sesuatu dengannya sebelum kau ada disini?" Akira memperjelas pertanyaannya.


Lagi-lagi Charla tidak menjawab dan membuat Akira menghela nafas. Akira beralih memposisikan tidurnya membelakangi Charla.


"Kalau kau tidak mau menjawab tidak apa-apa." Akira tidak ingin memaksa Charla untuk menjawab pertanyannya, karena dia tahu ada kalanya seseorang tidak bisa menceritakan sesuatu, terlebih sesuatu itu sangat menyakitkan.


"Maaf Akira-san... Bukannya aku tidak mau menjawab... Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya." Charla akhirnya buka suara menjawab pertanyaan Akira.


"Akira-san..." Charla bergerak ke samping, mendekap erat tubuh kecil Akira dan membenamkan wajahnya di punggungnya," Apa aku boleh menangis lagi..." lirihnya sudah mulai terisak.


"Lakukan sesukamu..."


"Terima kasih..."


Charla tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia meluapkan segala emosinya di punggung Akira.


Akira bisa merasakan emosi yang Charla luapkan, meski tidak terlalu memahami apa yang saat ini Charla rasakan namun dia bisa menebak yang pasti itu adalah suatu hal yang menyakitkan.


Selesai puas menangis dan meluapkan segala emosinya barulah Charla mulai menceritakan alasan mengapa dia bersikap demikian.


Charla menceritakan dari mulai sebelum dirinya berakhir di tempat ini. Dia menjelaskan sebelum dirinya berakhir disini ada suatu kejadian yang sangat mengerikan sekaligus menyedihkan yang menimpa desanya.


Saat itu desa tempat tinggalnya dijarah oleh sekelompok perampok besar yang di pimpin oleh salah satu bangsawan. Sekelompok perampok tersebut membumihanguskan tempat tinggalnya, merampas semua yang ada, baik itu harta, nyawa maupun semua orang disana yang bisa dijadikan budak, salah satunya Charla beserta keluarganya.


Charla saat itu berada dalam situasi yang terpojokan. Ayah dan ibunya mengorbankan nyawanya demi melindungi kedua anaknya. Sementara Charla bersama adiknya tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan mereka dan mencoba keluar dari situasi itu dengan selamat.

__ADS_1


Namun naasnya saat itu Charla dan adiknya sungguh tidak bisa kemana-mana. Hingga pada akhirnya Charla pun ikut mengorbankan nyawanya juga demi melindungi adiknya.


Sampai saat ini Charla masih kepikiran dengan keadaan adiknya itu. Apakah dia selamat? Dia tidak bisa memastikannya. Meskipun sekilas sebelum Charla tewas dia sempat melihat adiknya tertangkap oleh salah satu perampok itu. Dan dia berpikir mungkin dia telah gagal menyelamatkannya.


"Penyesalan, amarah, kesedihan dan ketakutan yang saat itu aku rasakan masih terbawa hingga saat ini. Aku tidak tahu bagaimana meluapkan semua rasa itu satu persatu…" kata Charla menutup penjelasannya. Charla kembali menangis selepas menceritakan semuanya pada Akira.


Akira yang sejak tadi mendengarkan, berbalik menghadap Charla. Dia menarik kepala Charla dan membenamkan wajahnya di dadanya, mendekapnya dengan erat.


"Ya... Aku mengerti perasaanmu. Aku juga dulu pernah merasakannya. Bedanya aku tidak bisa mengungkapkan semua itu, dan hanya bisa menelannya kembali, lalu menjadikan semua rasa sakit itu sebagai teman untukku terus melangkah."


Akira ikut menceritakan cerita masa lalunya pada Charla. Cerita yang jauh lebih menyedihkan dari cerita yang Charla ceritakan. Charla hanya bisa merasakan kesedihan yang Akira ceritakan dalam diam, tertegun mengetahui Akira masih bisa bertahan meski dalam kondisi seperti itu.


Malam itu mereka berdua saling menceritakan masa lalunya satu sama lain sampai rasa kantuk menghampiri.


Akira tidur lebih dulu, sementara Charla masih terbangun, sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Selama beberapa saat berpikir membawanya sampai pada satu keputusan. Keputusan yang sudah sejak tadi dia putuskan.


"Akira-san, maaf…sepertinya kita harus berpisah disini..." Charla mengecup kening Akira yang tampak tengah tertidur pulas. Dia lantas berdiri dari posisi tidurnya dan meninggalkan tenda itu, meninggalkan sosok yang beberapa hari ini bersamanya, tidak lagi kembali, benar-benar tidak lagi kembali.


*~*


Paginya saat rasa kantuk telah pergi, Akira membuka matanya. Dia menoleh ke samping dan mendapati Charla sudah tidak ada lagi di sampingnya. Dia berpikir Charla sudah keluar lebih dulu dari tenda itu, akan tetapi setelah Akira keluar tuk mencari keberadaan Charla, dia tidak menemukannya.


"Charla! Kau dimana?" Akira berteriak memanggil Charla namun tidak ada sahutan sama sekali darinya. Akira memutuskan untuk menunggunya saja karena berpikir nanti juga dia kembali.


Selama beberapa saat Akira menunggu, tidak ada tanda-tanda kemunculan dari Charla.


"Apa dia semalam pergi? " Akira bertanya pada dirinya sendiri. Diam-diam dia mulai merasa cemas.


"Dasar bodoh. Apa yang dia lakukan. Kenapa dia pergi tanpa berpamitan dulu padaku?" Akira bangkit dari posisinya dan berniat mencari keberadaan Charla. Dengan cepat Akira berkemas lalu meninggalkan tempat itu.


Akira membuka panel map untuk memperhitungkan kemungkinan keberadaan Charla saat ini. Akira terkejut saat melihat dari panel map itu zona merah sudah mendominasi sebagian wilayah dan zona kuning bermunculan lebih banyak dari biasanya ke segala tempat.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan dalam kondisi seperti ini?" Akira mulai semakin cemas. Dia mempercepat laju kecepatannya.


Sampai satu hari pun berlalu dengan sangat cepat, Akira masih tetap belum menemukan keberadaan Charla.


Akira semakin merasa cemas, namun ketika menyadari kembali misinya kali ini, rasa cemas itu perlahan memudar digantikan oleh rasa pasrah. Karena dia tahu akhir dari misi ini akan seperti apa.


Akira melanjutkan pertualangannya kembali seorang diri, mencoba melupakan Charla dan fokus pada tujuannya sekarang untuk keluar dari tempat ini.


Akira meluapkan emosinya dengan membunuh semua makhluk hidup yang dia temui. Tidak peduli mau itu monster maupun manusia, bahkan semut sekalipun.


Seiring waktu jumlah mereka yang masih hidup terus berkurang hingga pada hitungan belasan. Rasa berharap Charla adalah salah satunya masih Akira rasakan.


Di hari ketujuh, Akira berpetualang seperti biasa, berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya. Sampai kejadian tidak terduga menghentikan langkahnya.


"Lepaskan!!"


"Kumohon lepaskan!"


Akira mendengar suara yang tidak asing di telinganya dengan jelas walaupun jaraknya begitu jauh. Mata Akira melebar saat mengenali pemilik suara tersebut.


"Charla!" Akira mengenali pemilik suara tersebut adalah Charla. Dengan cepat Akira menuju ke sumber suara.


"Charla..." Saat tiba di sumber suara, mata Akira bergetar oleh kemarahan saat matanya menyaksikan dengan jelas Charla sedang dilucuti oleh tiga orang yang tampak b*nal memainkan tubuhnya sambil tertawa. Pemandangan yang tidak senonoh yang berhasil membakar habis emosi Akira.


Dengan membawa amarah di dadanya, Akira melesat dengan sangat cepat ke arah tiga orang itu sambil menatap mereka bertiga bengis.

__ADS_1


"Jangan sentuh dia!"


__ADS_2