
"Ah... Akhirnya…" Zero menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang kasur yang memiliki kualitas kenyamanan terbaik. Dia melipat kedua tangannya ke belakang kepala yang kemudian disandarkan pada bantal yang empuk.
"Kenapa kalian masih ada disini?" Zero melihat Charla dan Sherria ikut duduk di atas ranjang tersebut.
"Karena kita ingin tidur disini bersamamu, Zero-sama." Charla tersenyum berseri menatap Zero.
"Tidak boleh." Zero membuang muka, menolak permintaan mereka.
"Eh~ Kenapa begitu?" Senyuman Charla menghilang.
"Tentu saja karena ini kamarku," tegas Zero.
"Hmph…" Charla menggembungkan pipinya sebal. Sedangkan Sherria tersenyum hambar.
"Selain kalian berdua, hanya Flo saja yang boleh tidur disini denganku." Zero menunjuk Fluffy yang masih terpukau mengamati ruangan itu.
"Benarkah, benarkah?" Fluffy menghampiri Zero ketika mendengar hal itu. Zero mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Uppa!" Fluffy yang senang langsung masuk ke dalam ranjang kasur itu lalu melompat-lompat di atasnya.
"Kalian seperti biasa tidur berdua." Zero menunjuk Charla dan Sherria secara bergilir.
"Ehh~ Curang. Kenapa hanya Flo saja. Aku juga ingin tidur bersama, Zero-sama. Boleh, ya, boleh, ya..." Charla menarik-narik tangan Zero merengek meminta untuk tidur bersama.
"Ditolak." Zero tidak mau memperdulikannya dan memilih memejamkan mata.
"Ayolah…"
"Ditolak."
"Ayolah, kita kan biasa tidur bersama."
"Ditolak."
Setelah beberapa kali ditolak akhirnya Charla menyerah.
"Nee-san sudahlah, kita tidur berdua saja." Sherria tersenyum kaku sambil menarik tangan kakaknya untuk berdiri dari ranjang tersebut.
"Hmph! Zero-sama pelit." Charla mendengus kesal pada Zero yang masih memejamkan mata sebelum berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
Charla menjulurkan lidahnya sekali pada Zero lalu membanting pintu dan keluar dari ruangan itu. Sherria tersenyum hambar melihat tingkah kakaknya sebelum menyusulnya dari belakang.
Zero meyunggingkan senyum tipis sambil membuka sebelah matanya menanggapi kekesalan Charla.
"Tuan, kenapa hanya aku saja yang diperbolehkan tidur bersamamu?" tanya Fluffy memandangi kedua gadis yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Cuit, cuit." Rimuru yang berada di pelukannya seperti ingin menanyakan hal yang sama.
Zero menegakkan tubuhnya dan tersenyum menatap Fluffy, "Bukan apa-apa. Lagian sayang kan kalau kamar yang sudah aku pesan tidak dipakai," ujarnya.
"Oh, begitu…" Mulut Fluffy membentuk pola segitiga.
"Ya..."
"Mm...Kalau begitu aku ingin main dengan mereka dulu, ya." Fluffy meminta izin. Sebagai jawaban, Zero hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Fluffy kemudian turun dari ranjang itu lalu menghampiri kamar Charla dan Sherria yang berada bersebrangan dengan kamar tersebut.
Di dalam kamar itu kini hanya menyisakan Zero seorang yang tengah berkutat memikirkan berbagai hal menyangkut apa-apa saja yang harus dilakukan untuk selanjutnya.
"Aku harus bisa secepatnya mempelajari semua hal yang ada kota ini," pikir Zero sebelum membangkitkan tubuhnya dan berjalan ke balkon ruangan. Dia bisa melihat dengan jelas keadaan kota masih ramai dipenuhi hiruk pikuk orang-orang.
Saat pandangannya menelisik lebih jauh ke pelosok kota, Zero tak sengaja menemukan seorang wanita sedang dikerumuni beberapa orang pria di suatu tempat yang sangat sepi.
Sejurus kemudian tiba-tiba panel quest muncul di depan Zero menyuruhnya untuk menolong wanita itu.
Zero menghela nafas karena malas untuk melakukannya, tetapi dia tidak ada pilihan lain secara itu adalah quest wajib.
Zero menyusutkan tubuhnya kembali menjadi anak-anak kemudian mengeluarkan topeng dalam inventory-nya lalu memakainya dan langsung bergerak dengan cepat menghampiri wanita itu.
Tanpa disadari oleh Zero, seorang pria berambut putih yang saat itu sama-sama sedang mengamati keadaan kota dari balkon bawah, melihat aksinya yang mampu bergerak dengan begitu cepat. Dia tersenyum sebelum mengikutinya dengan kecepatan yang tidak kalah cepat dengannya.
"Ahh! Hentikan! Kumohon hentikan!"
"Hahaha!"
"Lepaskan!"
Saat tiba di sana, Zero melihat wanita itu sudah mulai digerayangi dan bajunya pun sudah berhasil dilucuti oleh para pria berhidung belang yang terus tertawa mempermainkan tubuh wanita itu.
"Hentikan..." Zero muncul dari balik bayangan dan berjalan ke hadapan mereka.
Suara Zero membuat mereka seketika berhenti dan spontan memalingkan pandangan ke arahnya.
"Bocah?" Semuanya berkerut dahi saat menemukan seorang bocah bertopeng sedang berdiri santai di hadapan mereka seolah tidak ada rasa takut sama sekali.
"Kenapa kau bisa muncul di tempat seperti ini, bocah?" Pria itu mendekatkan wajahnya tepat beberapa senti di wajah Zero.
"Tentu saja untuk menghukum kalian." Zero mencengkram wajah pria itu lalu membantingnya ke tanah hingga tewas.
Aksinya itu sontak membuat para b*jingan itu ketakutan setengah mati.
Naasnya, sebelum mereka bisa melarikan diri, Zero sudah lebih dulu menghabisi semuanya dengan sangat cepat tanpa menghasilkan suara sedikitpun.
Wanita itu yang awalnya sudah sangat ketakutan menjadi semakin ketakutan saat menyaksikan aksi bocah bertopeng tersebut. Apalagi ketika melihat bocah bertopeng itu berjalan menghampirinya, saat itu juga wanita itu langsung pingsan.
"Ahh…padahal aku hanya mau meminta imbalan saja, kenapa harus pingsan segala..." Zero menggaruk belakang kepalanya diiringi helaan nafas.
"Apa boleh buat…" Zero mengambil pakaian wanita itu yang sudah dilucuti lalu menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Tunggu…" Ketika Zero hendak pergi meninggalkan tempat itu dia merasa ada seseorang yang sedang mengamatinya.
"Siapa disana." Namun ketika dia mengeceknya orang itu sudah tidak ada bersamaan dengan keberadaannya menghilang tanpa jejak.
Tidak ingin memikirkannya dulu, Zero kembali ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di kasur yang nyaman.
"Siapa tadi itu..." Zero memikirkan sosok yang membuntutinya tadi untuk sesaat sebelum memikirkan hal lain.
"Di kota ini ternyata ada juga orang-orang seperti mereka…" kata Zero sambil tersenyum tipis sampai beberapa detik kemudian dia mulai memejamkan matanya dan masuk ke dalam dunia mimpinya.
*~*
__ADS_1
Keesokan harinya, Zero terbangun saat mentari menerpa wajahnya. Dia dan yang lain segera bersiap-siap karena hari ini mereka akan mendaftarkan diri menjadi petualang.
"Flo, kau jangan pernah melepaskan cincin ini saat berada di depan para petualang, mengingat energi sihirmu amatlah besar, " saran Zero memegang cincin yang sejak awal selalu tersemat di jari Fluffy.
Cincin yang Zero sematkan itu sudah diatur untuk menekan energi sihir yang begitu besar dalam diri Fluffy hingga membuatnya berada di tingkat penyihir kelas satu. Semua itu Zero lakukan karena dia tidak ingin keberadaan Fluffy menarik banyak perhatian.
Tentu saja Zero juga memakai cincin itu mengingat energi sihir dalam dirinya terlalu mengerikan untuk diperlihatkan di hadapan banyak orang.
Meskipun energi sihirnya ditekan, Zero maupun Fluffy bisa mengatur energi sihir yang mereka punya semaunya.
"Charla apa semuanya sudah siap?" tanya Zero.
"Sudah, Zero-sama." Charla memasukkan pistolnya di saku khusus yang memungkin orang-orang tidak bisa melihatnya.
"Sherria, apa semuanya sudah siap?"
Sherria mengangguk sebagai jawaban.
"Yosh, kalau semuanya sudah siap, ayo kita berangkat."
"Ya!"
Zero bersama yang lainnya berangkat keluar dari penginapan menuju guild petualang.
Sepanjang perjalanan, Zero dan yang lainnya mendengar kabar yang menghebohkan dari orang yang berlalu lalang tentang kematian beberapa orang pria dan kesaksian seorang wanita yang saat itu pingsan di tempat kejadian.
Satu hal yang membuat kabar itu heboh yaitu tentang bocah bertopeng yang wanita itu jelaskan menjadi sosok yang telah menghabisi mereka semua.
'Bodoh, seharusnya semalam aku lenyapkan saja jasad mereka sekalian.' Zero menggaruk belakang kepalanya menganggap dirinya telah ceroboh.
Charla dan lainnya yang mendengar kabar itu mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Zero dan menebak kalau itu pasti ulah dirinya.
Mengabaikan kabar itu, Zero dan lainnya masih terus melangkahkan kakinya menuju guild petualang yang berdiri di pusat kota.
Di tengah perjalanannya, Zero melebarkan sedikit matanya saat bertemu dengan salah satu ksatria suci yang dia kenal.
"Dia…" Seorang wanita berambut pendek dengan zirah lengkap melewati dirinya. Pandangan mereka bertemu selama sepersekian detik.
Wanita berambut pendek itu ikut melebarkan matanya saat sekilas menatap ke arah goresan mata milik Zero.
"Mata itu...Perasaan mencekam ini..." Ksatria suci wanita yang dikawal beberapa orang berhenti melangkah saat merasakan aura mencekam yang sama begitu berpaspasan dengan pria yang baru saja melewatinya.
Dia pun sontak berbalik melihat Zero dan berseru,"Satu pria, dua gadis demi-human dan gadis kecil yang ada disana kuperintahkan berhenti!" serunya.
Mendengar diri mereka dipanggil, Zero berhenti melangkah diikuti Charla dan yang lainnya. Zero menarik nafas dalam berharap tidak ada masalah yang akan terjadi selanjutnya.
Ksatria suci dan beberapa pengawalnya menghampiri Zero dan menghalangi jalannya.
"Ya. Ada apa? Apa ada masalah?" Zero tersenyum ringan memandangi mereka yang menghalanginya.
Ksatria suci itu tidak menjawab melainkan langsung menghunuskan pedangnya tepat di leher Zero.
"Jawab pertanyaanku..." kata ksatria suci itu dingin dan membuat Zero terdiam kaku.
'Sial, apa dia mengenalku...' umpat Zero.
__ADS_1