Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Gunung Kematian


__ADS_3

Zero bersama yang lainnya pergi menuju gunung kematian untuk menjalankan quest berkategori profesional yang Clarise ajukan.


Quest tersebut menyuruh mereka untuk mencari suatu tanaman obat yang hanya tumbuh di puncak gunung kematian untuk menyembuhkan penyakit ibu Clarise yang dikatakan hanya bisa disembuhkan oleh tanaman tersebut.


Seperti namanya, gunung kematian merupakan tempat yang amat berbahaya, di dalamnya terdapat banyak monster tingkat tinggi dan jebakan-jebakan yang mematikan. Semakin dalam seseorang memasuki tempat tersebut maka tingkat bahaya yang akan dihadapi semakin tinggi, dan puncaknya ada di atas gunung itu sendiri.


Sudah banyak korban yang berjatuhan saat seseorang memijakkan kakinya di gunung itu, hanya mereka yang mempunyai kekuatan yang besar serta keahlian yang tinggi saja yang mampu keluar dari gunung itu dengan selamat.


Setelah membutuhkan beberapa waktu perjalanan dengan menaiki kereta kuda dan dilanjut dengan berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di gerbang masuk gunung kematian.


"Inikah tempatnya?" Zero bersama yang lainnya tertegun memandangi gerbang masuk menuju gunung kematian dilingkupi oleh rune atau sihir penghalang.


Dikatakan oleh Clarise, rune itu dipasang supaya monster di dalamnya tidak keluar. Tentu saja Zero dan yang lainnya bisa memasuki rune itu karena rune itu hanya diperuntukkan untuk monster saja.


"Apa kalian sudah siap masuk ke dalam?" Zero memastikan Charla dan Sherria yang tampak seperti ragu memasuki gerbang itu. Namun pertanyaan Zero segera membuat mereka menelan keraguan itu kembali.


"Ya. Kita sudah siap, Zero-sama," kata mereka serempak.


"Tidak perlu takut, kita semua akan berjalan bersama. Jadi jika ada sesuatu kita akan menghadapinya bersama-sama." Zero memberikan sepatah kata untuk menekan keraguan mereka.


"Yosh, ayo kita masuk." Zero mengangkat kakinya memasuki rune itu duluan yang kemudian diikuti kelima orang di belakangnya.


Semuanya mulai melangkahkan kakinya menyusuri hutan itu menuju ke puncak gunung kematian.


Baru beberapa puluh meter jalan mereka sudah disambut tidak baik oleh segerombolan monster hijau yang mempunyai tampang jelek, tubuh pendek dan berdiri tegak seperti manusia, atau yang biasa disebut Goblin.


Dengan membawa senjatanya masing-masing seperti gada dan pedang pendek, belasan goblin itu mengepung Zero bersama party-nya dari segala sisi.


"Merepotkan." Itu yang Zero katakan saat bertemu segerombolan monster itu.


Zero melihat ke pemimpin goblin itu dan langsung menyerangnya duluan dengan menerbangkannya melalui sebuah pukulan. Aksi Zero yang begitu cepat itu sontak membuat semua orang yang menyaksikan terpana, terutama para goblin yang kini belum bisa mencerna apa yang sudah terjadi.


"Kalian semua habisi mereka, aku sedang malas meladeni monster kecil seperti ini…"


Zero yang malas menghilang dari pandangan mereka lalu bersandar di atas satu pohon yang besar, mengamati mereka dari tempat itu.


"Baik, serahkan pada kita." Mereka menerima perintah Zero.

__ADS_1


Para goblin yang tersisa menjadi takut saat tahu pemimpin mereka kalah dengan begitu mudahnya.


Sebelum mereka bisa lari, Charla, Gladius beserta yang lainnya segera melancarkan serangan menggunakan kemampuan mereka masing-masing.


Charla menggunakan pistolnya, Sherria dan Fluffy menggunakan sihir anginnya, Rimuru menggunakan cairan asam miliknya dan Gladius menggunakan rantainya.


Tak butuh lima menit para monster alami itu tewas di tangan mereka. Zero yang melihat aksi mereka di atas pohon hanya tersenyum kemudian turun menghampiri mereka.


"Ayo, kita lanjut kembali," Zero kembali memimpin perjalanan yang segera diikuti yang lainnya.


Di tengah langkahnya, Zero bersama anggotanya dihadang kembali oleh belasan hewan buas serigala namun mereka bukanlah lawan yang sulit dan dapat dikalahkan hanya dalam hitungan menit saja.


Selanjutnya bukan monster maupun hewan buas yang menghadang mereka, melainkan jebakan-jebakan merepotkan yang biasa dipasang oleh para goblin untuk menangkap mangsanya. Namun meskipun merepotkan mereka bisa melalui semua jebakan itu dan bisa melanjutkan perjalanan.


Saat sampai di kaki gunung, langkah Zero dan yang lainnya lagi-lagi dihentikan oleh monster alami berbadan besar dan mempunyai gigi taring bawah yang panjang serta warna kulit merah padam. Ogre, itulah sebutan untuk monster tersebut.


Dengan membawa kapak dan gada berukuran besar sebagai senjatanya, belasan monster ogre itu menghadang langkah Zero dan yang lainnya dari segala sisi.


"Sepertinya mereka cukup kuat. Kali ini aku akan ikut membantu kalian," kata Zero sambil melemaskan otot-ototnya kemudian memanggil kedua pedangnya bersiap menyerang.


"Manusia, apa yang kalian lakukan di tempat ini?" kata pemimpin ogre berbicara dengan nada tidak suka.


"Kami disini hanya ingin mencari sesuatu di atas gunung itu." Zero menunjuk ke arah puncak gunung yang tampak diselimuti oleh kabut putih, "Jika kalian tidak ingin menyesal lebih baik kalian pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran," saran Zero dengan senyuman merendahkan.


"Berani sekali kau mengusir kami, manusia. Ini wilayah kami, sekali kau berani memijakkan kaki di wilayah ini kau harus mati. Kecuali jika kau masih ingin hidup, aku akan memberimu kemudahan dengan cara menjadi budak kami selamanya, " kata pemimpin ogre itu terdengar angkuh yang kemudian diikuti tawaan merendahkan rekan-rekannya.


"Apa boleh buat, padahal aku sudah berbaik hati pada kalian." Zero mengangkat senjatanya kembali. Yang lainnya segera mengikuti.


"Makhluk rendahan seperti kalian menyuruhku untuk menjadi seorang budak?" Zero tersenyum sejenak lalu menghilang dari pandangan mereka semua dan muncul di belakang pemimpin ogre.


"Jangan membuatku tertawa." Setelah berkata demikian tubuh pemimpin ogre terbelah menjadi beberapa potongan.


Semua rekannya mendadak kesulitan bernafas dengan mulut dan mata terbuka lebar, tidak percaya jika pemimpin mereka akan tewas hanya dalam sekali kedipan mata.


"Apa kalian ingin menyusulnya juga?" Zero tersenyum sinis ke ogre yang tersisa.


Serentak mereka semua menjadi ketakutan melihat sosok yang telah membunuh pemimpin mereka. Sebelum mereka bisa melarikan diri, kaki mereka segera dijerat oleh rantai milik Gladius.

__ADS_1


"Bagus, habisi mereka." Perintah Zero.


Gladius dan yang lainnya segera menghabisi mereka satu persatu tanpa peduli dengan permintaan maaf atau ampunan yang mereka katakan.


Zero mengamati aksi mereka dalam diam sampai seulas senyuman terlukis di belahan bibirnya saat menyadari Charla dan Sherria seiring waktu semakin berani menghadapi monster seperti ini.


Semua ogre yang mengganggu perjalanan mereka pun akhirnya tewas.


Zero melangkah mendekati potongan tubuh pemimpin ogre yang telah tewas, memikirkan sesuatu yang menarik.


"Apa yang Tuan ingin lakukan?" Gladius penasaran melihat Zero seperti tertarik pada pemimpin ogre yang telah tewas itu.


"Menjadikan mereka barang yang berguna." Zero tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Gladius.


Zero lalu melambaikan satu tangannya ke atas dan berkata,


"Create Undead — Bangkitlah."


Dengan Zero berkata demikian, tubuh pemimpin ogre yang telah terpotong menyatu kembali membentuk tubuh yang utuh seperti semula, diliputi aura gelap kini terpancar keluar dalam tubuhnya.


Ketika pemimpin ogre itu membuka kelopak matanya semua yang ada di dalamnya kosong, atau dengan kata lain dia kini tidak memiliki bola mata. Namun meski begitu dia masih bisa mengetahui apa yang ada di sekitarnya.


Charla dan yang lainnya kehabisan kata-kata melihat Zero membangkitkan kembali pemimpin ogre itu. Sedangkan Gladius seorang tidak berhenti takjub akan kemampuan Zero yang begitu menarik baginya.


"Mendekatlah…" Zero memberi perintah pada ogre yang sudah menjadi undead itu. Pemimpin ogre itu menerima perintahnya dan mendekat.


"Mulai sekarang kau yang akan menjadi budakku…" Zero mengulurkan kakinya ke depan kemudian bertitah.


"Ciumlah…"


Pemimpin ogre itu mengangguk dan melaksanakan perintah tuannya. Dia menekukkan tubuhnya, membawa kaki Zero ke bibirnya lalu menciumnya.


Hari itu menjadi awal mula Zero membuat pasukan undead-nya.


Kelak mereka akan berperan besar dalam gelombang besar yang suatu saat akan menggemparkan dunia ini ...


——

__ADS_1


Sorry baru up. Untuk sekarang athor belum bisa fokus nulis, soalnya lagi dibuat pusing oleh dua hal, antara memilih kuliah atau kerja, mengingat sekarang ini merupakan semester terakhir author sekolah.


__ADS_2