
Venom, satu nama itu membuat mereka yang mendengarnya seketika berkeringat dingin. Hal itu terjadi karena mereka mengenali nama tersebut, termasuk dengan aksinya yang membuat nama tersebut tersebar luas sampai dikenal oleh banyak orang.
"Mustahil…"
"Kenapa dia bisa ada di sini…"
"Ini pasti mimpi, kan…"
Ekspresi penuh ketidakpercayaan terlukis jelas di wajah semua orang di ruangan itu saat mengetahui siapa sosok Zero yang sebenarnya. Tidak pernah mereka sangka jika sosok pemuda arogan tersebut ternyata sosok yang selama ini menjadi buronan kerajaan.
"Aku paling suka melihat ekspresi kalian yang seperti ini, terutama ekspresimu, tua bangka. Kau jadi terlihat semakin jelek tahu..." Zero tertawa keras melihat ekspresi mereka saat melihat wujud aslinya.
"Tidak...Tidak mungkin...tidak mungkin kalau itu dia...tidak mungkin... itu pasti bukan dia..." Di antara semua orang yang ada di situ, ekspresi raja terlihat jauh lebih buruk. Bahkan ekspresinya membuat dia jadi terlihat seratus tahun lebih tua dari yang biasanya.
"Tidak mungkin?" Zero terkekeh mendengar kata itu terus keluar dari mulut raja. "Apa perlu aku membuktikannya kalau ini memang diriku?" katanya sambil tersenyum jahat.
"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai pembuktiannya..."
Setelah mengatakan itu, Zero memulai aksinya untuk membantai semua orang yang ada di situ. Dia langsung bergerak menyerang ksatria suci yang tersisa yang tampak sudah bersiap menghadapinya. Belasan undead yang dia keluarkan dan Gladius turut membantunya dalam pembantaian tersebut.
Orang-orang yang ada di ruangan itu menjadi panik tepat setelah para undead dan Gladius mulai menyerang satu persatu dari mereka. Semua orang di tempat itu berusaha menyelamatkan diri tapi sayang usaha mereka tidak ada satupun yang berhasil. Jeritan minta tolong yang mereka teriakan tidak berhasil membuat orang-orang di luar datang untuk menolong mereka.
"Hentikan…kumohon hentikan..." Raja terjatuh lemas karena tidak tahan menyaksikan sebuah pembantai yang begitu mengerikan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya saat ini sedang berlangsung di depan matanya.
"Kenapa malah berakhir seperti ini…" Raja tampak frustasi dengan keadaannya sekarang. Padahal dia meminta Zero ke tempat itu dengan tujuan ingin menjalin hubungan baik dengannya agar suatu saat Zero mau memberikan kekuatannya untuk membantunya, tetapi dirinya kini malah dihadapkan oleh kenyataan yang tidak pernah diharapkan.
*~*
Kekacauan nyatanya tidak hanya terjadi di ruang singgasana raja. Di luar tempat itu juga saat ini sedang terjadi kekacauan besar yang disebabkan oleh kemunculan para undead.
Pelaku dari kekacauan di ibukota kerajaan tersebut tak lain adalah Zero. Kekacauan itu sengaja Zero ciptakan agar ksatria suci yang ada di kota itu sibuk mengurus para undead sehingga dia bisa leluasa membuat kekacauan di dalam kerajaan.
"Kenapa tiba-tiba muncul banyak undead di kota ini? Siapa pelakunya dan apa tujuannya sebenarnya!" kata ksatria suci sambil berusaha mengamankan warga dari serangan para undead.
"Kejadian ini sama seperti yang dialami kota Belius waktu itu. Tapi bedanya undead yang muncul di kota ini jauh lebih banyak dan lebih kuat. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berada di tingkat Ancient," kata ksatria suci yang tengah menghadapi puluhan undead yang menjadi lawannya.
Kurang lebih ada ribuan undead yang muncul di ibukota kerajaan itu. Semua undead itu merupakan monster yang sebelumnya Zero kalahkan di gunung kematian kemudian diubah menjadi pasukannya.
Saat ini para ksatria suci bintang tiga tidak menyadari jika sesuatu yang besar sedang terjadi di dalam kerajaan. Hal itu karena para ksatria suci bintang tiga yang ada di ibukota kerajaan itu terlalu sibuk mengurus undead yang terus bermunculan meski mereka sudah menghabisinya beberapa kali.
"Hei, perlukah kita membantu orang-orang di pusat kerajaan?"
"Tidak perlu, lebih baik kita urus saja yang ada di sini. Lagi pula di sana sudah ada mereka. Kekuatan kita jauh lebih dibutuhkan di sini."
Dalam situasi saat ini para ksatria suci mengira di pusat kerajaan akan aman-aman saja karena ada dua ksatria suci bintang tiga dan sosok Zero di sana yang bisa melindungi tempat itu dari serangan para undead.
"Dan lagi coba lihat itu. Mereka sudah pasti aman-aman saja di sana…" Ksatria suci menunjuk ke arah pusat kerajaan.
Di sana mereka menemukan sebuah rune besar kini terpasang di pusat keraaajan yang mereka duga merupakan perbuatan dari orang-orang di sana agar para undead tidak masuk ke dalam.
Para ksatria suci itu merasa kehadiran mereka tidak terlalu dibutuhkan di tempat itu, jadi mereka memutuskan untuk tidak ke sana dan memilih membantu orang-orang di sekitarnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Namun, di antara mereka ada satu ksatria suci yang merasa perlu mencari tahu situasi di pusat kerajaan setelah sejak tadi dia mendengar suara samar-samar teriakan seseorang yang sumbernya berasal dari sana.
Ksatria suci yang dimaksud adalah Rin. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang harus dia pastikan di sana, dia harus mencaritahunya.
"Kuharap yang kudengar barusan tidak salah…" kata Rin selagi bergerak menuju pusat kerajaan.
Ketika Rin tinggal puluhan meter lagi sampai di tempat itu, dia mencium bau amis yang mengganggu penciumannya.
"Ini bau darah..." Merasakan firasat buruk mengetahui jenis bau itu, Rin pun buru-buru menuju pusat kerajaan untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana.
"Tunggu, ada yang aneh…" Rin mengernyitkan keningnya saat semakin dekat dengan tempat itu, dia tidak menemukan ada undead yang bermunculan ataupun orang-orang yang sedang bertempur, keadaan di pusat kerajaan terasa begitu sepi seolah tidak ada orang di sana.
Di saat Rin hendak memasuki Rune yang orang-orang pikir digunakan untuk melindungi tempat itu dari serangan para undead, tubuhnya malah terpental. Rune itu seperti menolaknya untuk masuk dan itu membuat firasat Rin semakin memburuk.
"Pasti telah terjadi sesuatu yang buruk di dalam. Aku harus cepat-cepat mencaritahunya..." Rin segera mengeluarkan pedangnya untuk menghancurkan rune itu. Butuh beberapa kali serangan sampai akhirnya rune itu pecah dan Rin bisa masuk.
Bau amis yang tercipta di tempat itu kali ini tercium dengan jelas oleh Rin sampai akhirnya dia menemukan sumber bau amis itu berasal. "Sesuai dugaanku, aroma amis darah ini pasti berasal dari mayat seseorang yang masih segar. Pertanyaannya, siapa yang telah melakukan hal sekeji ini…"
Selama dirinya berlarian menyusuri tempat itu, Rin menemukan banyak mayat yang bergeletakkan sepanjang jalan seperti sudah terjadi pembantaian massal.
"Tidak salah lagi, apa yang terjadi di sini ada kaitannya dengan kekacauan yang terjadi di kota..." pikir Rin saat merasa demikian.
"Pelaku di balik semua ini pasti sengaja membuat kekacauan di kota untuk membuat semua ksatria suci yang ada menjadi lengah sehingga dia bisa masuk ke jantung kerajaan seperti ini. Dia pasti sudah merencanakan ini sejak awal..." Rin berspekulasi dengan semua hipotesis yang dia punya.
Tak ingin memikirkannya lebih jauh, Rin segera menuju ke ruang singgasana raja untuk memastikan kondisi orang-orang di sana.
Setibanya di sana, bau amis yang begitu menyengat langsung menusuk hidungnya saat pertama kali dia membuka pintu.
Pemandangan yang sungguh mengerikan itu bahkan membuat Rin terasa ingin muntah namun dia mencoba menahannya.
"Apa semua orang di tempat ini sudah tewas…" Rin tidak menemukan siapapun di ruangan itu yang masih hidup.
Rin berjalan memasuki ruangan itu untuk mencari tahu petunjuk tentang siapa pelaku dari pembantaian ini dan apa tujuannya sebenarnya.
"Bahkan dua ksatria suci yang mengawal raja tidak ada yang selamat, ya." Rin menemukan mayat kedua ksatria suci yang dimaksud.
Setelah melihat-lihat semua mayat yang terhampar di sana, alis Rin mengerut ketika dia menyadari sesuatu. "Tidak ada mayat raja di sini. Di mana dia?" Rin tidak menemukan mayat raja tergeletak di sana.
"Itu berarti raja masih hidup."
Untuk memastikan, Rin segera pergi dari ruangan itu menuju ruangan tempat raja. Dia menghela nafas lega saat menemukan raja bersama keluarganya masih hidup dan tengah berkumpul di sana meski wajah mereka tampak dipenuhi oleh rasa takut dan Rin menyadari alasannya.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja." Rin menghampiri raja dan keluarganya. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Rin meminta penjelasan dari raja.
Raja melongo ketika melihat kemunculan Rin di tempat itu. Dia menatap anak dan istrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan seolah ingin mengartikan sesuatu kemudian balik menatap Rin.
Raja dengan terbata-bata menjelaskan kejadian yang terjadi di tempat itu. "Venom, bocah yang selama ini menjadi buronan itu, dia tiba-tiba datang ke tempat ini dan membantai kita semua," jelasnya berhenti sejenak untuk melihat anaknya dan kembali melanjutkan. "Beruntungnya petualang itu berhasil menyelamatkan kita dan meminta kita untuk bersembunyi di sini..." lanjutnya terdengar tidak meyakinkan di bagian kalimat tersebut.
"Sudah kuduga kalau dia pelakunya." Rin membuang nafas gusar.
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Rin.
__ADS_1
"Dia... dia sedang dikejar oleh petualang yang telah menyelamatkan kita," jelas raja seperti sedang menahan ekspresi ketakutannya.
"Petualang siapa yang Yang Mulia maksud?" Rin tidak paham.
"Petualang yang hari ini ingin aku beri hadiah itu. Kalau tidak salah namanya Zero. Petualang itu kini sedang berusaha menangkap bocah itu di luar..." Terdengar seperti ada kebohongan dalam ucapan raja namun Rin tidak menyadarinya.
*~*
"Rencana kita berjalan sesuai yang diharapkan. Dengan ini aku berhasil mendapatkan sebagian wilayah kerajaan ini." Zero dan Gladius saat ini sedang berlarian dari satu atap ke atap lain, pergi menjauh dari pusat kerajaan setelah berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
"Tadinya aku berpikir lebih baik meminta seperempat wilayah kerajaannya saja, tapi kurasa untuk sekarang segini dulu sudah cukup," kata Zero tersenyum puas dengan hasil yang dia dapat.
"Saya tidak menyangka jika ternyata kerajaan yang Tuan maksud itu berada di wilayah kerajaan ini. Padahal saya kira Tuan memiliki kerajaan yang jauh lebih besar dari tiga kerajaan yang ada." Gladius baru mengetahui hal itu tadi.
"Kau sudah mendengarnya kan kalau aku baru tinggal di dunia ini beberapa bulan yang lalu. Tidak mungkin aku mempunyai kerajaan sebesar itu. Maka dari itu sekarang aku ingin membangunnya."
Gladius hanya menanggapinya dengan senyuman.
Aksi Zero tadi menurut Gladius merupakan yang terbaik di antara semua aksi yang pernah dilakukannya bersama Zero selama ini. Dia masih teringat bagaimana Zero memperlakukan sosok tertinggi di kerajaan itu dengan cara yang paling buruk. Jujur dia sangat suka dengan aksinya kali ini.
"Aku puas sekali dengan ekspresi tua bangka itu. Aku yakin dia pasti tidak akan berani memberitahukan ke siapapun kalau kejadian di tempat itu terjadi karena diriku. Terlebih dari yang kulihat, dia terlalu menyayangi nyawanya sendiri dan anak istrinya. Dia tidak mungkin rela berkorban untuk kepentingan orang lain, " kata Zero terdengar puas saat teringat kejadian sebelumnya saat dirinya mengancam raja untuk menandatangi beberapa persyaratan yang dia inginkan.
"Tuan tidak perlu khawatir akan ketahuan. Jika dia memiliki niat sedikit saja untuk mengatakannya, dia dan semua keluarganya akan mati saat itu juga." Gladius meyakinkan Zero akan kemampuan harta sucinya.
"Ya, kau memang bisa diandalkan, Gladius. Aku mulai bisa menerimamu sekarang. Setidaknya kau masih bisa aku manfaatkan," kata Zero. Gladius mendengus pelan sambil tersenyum menanggapinya.
"Omong-omong Tuan, apa persyaratan yang dikatakan oleh Tuan tadi itu tidak salah?" Gladius membahas persyaratan yang Zero ajukan pada raja.
"Yang mana?" Zero tidak tahu yang mana yang Gladius maksud.
Gladius lalu memberitahukannya.
"Jika kau ingin rantai yang melilit jantungmu dan keluargamu ini lepas, suruh orang-orangmu untuk menangkapku. Tapi dengan catatan kau tidak boleh memberitahukan identitasku sebagai petualang. Kau hanya boleh menangkapku dalam wujud asliku. " Setidaknya itu yang dikatakan oleh Zero pada raja tentang persyaratan yang Gladius maksud.
"Itu memang benar." Zero membenarkan.
"Bukan itu yang aku maksud, Tuan." Gladius menggaruk kepalanya karena kurang tepat mengartikan maksudnya.
"Lalu?" Zero menaikkan satu alisnya.
"Tuan tahu kan kalau rantai ini hanya bisa dipakai sekali dan tidak ada persyaratan yang bisa membuatnya lepas," jelas Gladius
"Oh, benar juga. Aku baru menyadarinya. Sepertinya aku sudah jahat dengan memberikan harapan palsu pada mereka. " Zero tertawa saat menyadari hal itu.
Selama Zero dan Gladius menapaki atap perumahan untuk menjauh dari pusat kerajaan, mereka bisa dengan jelas melihat situasi kota yang saat ini masih kacau oleh kemunculan para undead.
"Bagaimana dengan semua undead ini, Tuan. Apa Tuan akan terus membiarkannya seperti ini?" tanya Gladius mencari tahu apa yang ingin Zero lakukan selanjutnya.
Zero berhenti di salah satu atap rumah dan memandangi semua pasukan undeadnya yang tampak berhasil merepotkan para ksatria suci dan prajurit di bawah.
Zero terdiam, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Gladius tadi. "Apa kau ingin ikut bermain pahlawan-pahlawanan denganku?" Zero terpikirkan ide yang menarik sekaligus menguntungkan baginya.
__ADS_1
"Kelihatannya tidak buruk..." Gladius tersenyum merasa tidak ada salahnya untuk mengikuti apa yang ingin Zero lakukan.