Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Rasa Ketertarikan


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan orang yang memakai pakaian serba tertutup di sana? Aku merasakan ada sesuatu yang luar biasa dari pedang yang dia bawa." Zero mengalihkan perhatiannya pada pedang yang terbalut kain putih yang terselip di pinggang sosok pahlawan tersebut.


"Oh, dia adalah pahlawan Pedang Iblis. Hanya dari namanya saja semua orang pasti akan langsung tahu kalau dia mempunyai pedang yang amat berbahaya. Konon katanya, satu goresan saja sudah cukup untuk menumbangkan lawannya. Oleh karena itu, Tuan harus berhati-hati jika suatu saat nanti melawannya," jelas Gladius terdengar serius.


Mendengar betapa mengerikannya kemampuan pedang tersebut tidak membuat Zero takut. Dia malah merasa tertantang untuk mengujinya.


"Jika memang demikian, pastinya dia akan menjadi lawan yang merepotkan. Aku akan mengikuti saranmu." Zero menyunggingkan sudut bibirnya ke arah pahlawan Pedang Iblis, menunjukkan ekspresi penuh ketertarikan.


Namun beberapa detik berikutnya, senyumannya luntur saat dia menyadari sesuatu.


'Tunggu, perasaan ini...' Zero merasakan sesuatu yang tidak asing saat mengamati lebih jauh sosok tersebut, "Kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengannya, ya. Padahal kalau tidak salah, aku baru pertama kali ini melihatnya,' itu yang Zero rasakan. Akan tetapi, dia tidak tahu di mana dia merasakan perasaan itu.


"Dan yang terakhir, dia adalah pahlawan Musim Gugur. Dia merupakan satu-satunya pahlawan wanita di kerajaan ini..." Gladius kembali melanjutkan penjelasannya.


Zero mencoba melupakan perasaan itu dan kembali fokus mendengarkan informasi dari Gladius tentang pahlawan yang terakhir. Bersamaan dengan itu, ketiga pahlawan itu mulai berjalan ke lantai atas.


Saat berada di lantai atas, ketiga pahlawan itu mendadak berhenti ketika melihat ke arah Zero karena merasakan ada sesuatu yang menarik dalam dirinya.


Pahlawan Topeng Emas tersenyum dari balik topengnya sedangkan pahlawan Pedang Iblis melebarkan sedikit matanya saat melihat sosok Zero seolah ada sesuatu antara dirinya dengan Zero.


Sementara pahlawan Musim Gugur hanya mengamati Zero sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja. Pedang Iblis dan anggotanya ikut melakukan hal yang sama.


Selain Topeng Emas, kedua pahlawan itu lebih memilih mengamati Zero dari jauh, tidak ingin terlibat langsung dengannya. Sebaliknya, Topeng Emas bersama anggotanya memilih untuk mendekati Zero.


Hampir semua petualang di atas kini memusatkan perhatiannya pada mereka, penasaran dengan apa yang ingin pahlawan Topeng Emas itu lakukan dengan sosok yang sebelumnya sedang mereka perbincangkan.


"Sepertinya aku tidak perlu menunggu nanti untuk mencari tahu kebenaran dari omonganmu tadi," kata Zero pada Gladius saat melihat Topeng Emas dan anggotanya kini mendekat.


"Benar, ini momen yang pas untuk melakukannya." Gladius sangat senang karena bisa melihat sesuatu yang menarik yang akan terjadi di antara kedua orang ini.


"Hei, kau pasti orang baru kan di sini. Boleh aku tahu siapa namamu?"


Topeng Emas bersikap sopan saat berdiri di depan Zero, mengabaikan Gladius yang tersenyum ramah padanya. Para anggotanya yang berjumlah enam orang, menatap Zero dan Gladius dengan penuh siaga.


"Sebelum kau menanyakan nama seseorang, seharusnya kau memberitahukan namamu terlebih dahulu." Zero menunjukkan sikap angkuhnya.


"Ah, maaf. Sayangnya aku tidak bisa memberitahukan namaku, tapi kau bisa memanggil nama pahlawanku." Topeng Emas mencoba terlihat baik di depan Zero. Dia menekan satu kata 'pahlawan' dalam kalimatnya untuk mencari tahu bagaimana reaksi Zero saat mendengarnya.


"Oh, begitu, ya. Kalau kau tidak bisa memberitahukan namamu berarti aku juga tidak bisa memberitahukan namaku." Zero menolaknya sambil tersenyum halus, tetapi senyumannya malah terlihat menyebalkan di mata mereka.


Senyuman topeng emas sesaat menghilang begitu melihat reaksi Zero ternyata meleset jauh dari perkiraannya.


Kedua pahlawan yang mengamati mereka dari jauh tidak menyangka Zero akan berani bersikap seperti itu di depan Topeng Emas. Sepemikiran dengan petualang-petualang yang ada di sana.

__ADS_1


"Eh~ Sayang sekali, padahal aku hanya ingin berkenalan denganmu. Tidak boleh, ya…"


Tepat di bagian akhir ucapannya, sebuah kunai tiba-tiba melayang di depan Zero. Namun kunai itu berhasil dengan cepat dihentikan oleh Gladius.


"Itu bahaya tahu…" Gladius tersenyum dingin pada seorang wanita yang baru saja melemparkan kunai itu yang tidak lain merupakan salah satu anggota Topeng Emas.


Aksi wanita itu mengundang perhatian semua orang di lantai atas. Bahkan suasana di tempat itu mendadak menjadi hening. Petugas yang menjaga ketertiban di sana tidak tahu bagaimana harus mengambil tindakan jika terjadi keributan di antara mereka.


"Apa yang baru saja kau lakukan?" Topeng Emas bertanya pada wanita itu dengan intonasi dingin.


"Maaf, Ketua. Aku hanya tidak suka cara dia menolak permintaanmu padahal ketua sudah memintanya secara baik-baik," ungkapnya.


Anggotanya yang lain pun sebenarnya merasakan hal yang sama, tetapi mereka tidak ingin bertindak gegabah seperti yang dilakukan wanita itu.


"Tapi kau tidak perlu sampai seperti itu, kan? Itu sama saja kau memberikan kesan yang buruk tentang party kita padanya dan juga semua orang yang ada di sini." Suara Topeng Emas terdengar mengintimidasi, membuat wanita itu menelan ludah karena takut.


"Dengar, sekali lagi kau melakukan itu, lebih baik kau keluar dari party-ku," ancam Topeng Emas.


"M-maafkan aku yang bodoh ini, ketua. Aku berjanji tidak akan melakukannya. Jadi tolong jangan keluarkan aku dari party ini." Wanita itu bersujud, memohon pada Topeng Emas.


Topeng Emas mengabaikannya dan kembali memusatkan perhatiannya pada Zero.


"Maafkan apa yang baru saja anggotaku lakukan. Dia terkadang suka sensitif seperti ini." Topeng Emas kembali mencoba bersikap baik di depan Zero.


"Sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin berkenalan denganmu karena kau terlihat menarik bagiku," jelasnya sambil mengelus dagu, bergaya sedikit elegan.


"Oh, ternyata hanya karena itu. Sayangnya aku sama sekali tidak tertarik dengan kalian. Apalagi dengan orang sepertimu." Zero menunjukkan senyuman angkuh paling menyebalkan yang pernah mereka lihat.


Jawabannya tentu saja mengejutkan semua orang di tempat itu. Zero bersikap seolah dirinya lebih tinggi dibandingkan sosok yang kini berdiri di depannya.


Gladius yang mengamati percakapan mereka, dalam hatinya kegirangan melihat bagaimana cara Zero memperlakukan sosok yang dipuji-puji oleh banyak orang itu.


Para anggota Topeng Emas tampak kesal dengan pemuda congkak yang berdiri di depannya. Namun sayangnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ingin seperti salah satu anggota wanitanya tadi.


"Aku sudah berusaha bersikap baik padamu, tapi kenapa kau malah bersikap seperti ini padaku. Apakah kau tidak ingin menjalin hubungan baik denganku?" Nada bicara Topeng Emas kali ini sedikit berbeda, terdengar lebih dingin. Dia mulai kesal dengan perlakuan Zero yang seolah menganggapnya bukan siapa-siapa.


"Coba sebutkan, apa untungnya bagiku mempunyai hubungan denganmu, baru aku akan mempertimbangkannya lagi." Zero tidak berhenti memprovokasi Topeng Emas, menikmati setiap perubahan sikapnya.


'Apa aku tidak terlalu berlebihan memancing emosinya. Kelihatannya sekarang dia semakin kesal padaku,' batin Zero melihat Topeng Emas yang kali ini terdiam.


"Dia berani juga memperlakukan Topeng Emas sampai seperti itu. Kurasa dia sudah bosan hidup."


"Ya, dia bodoh sekali karena berani bersikap seperti itu di depan Topeng Emas."

__ADS_1


"Coba lihat, anggota party-nya saja sampai sekesal itu padanya."


"Sebentar lagi dia akan menyesali tindakannya barusan."


Para petualang mengomentari aksi Zero yang menurut mereka salah.


Di samping itu, kedua pahlawan yang menyaksikan pertikaian mereka mencari tahu siapa sosok Zero yang sebenarnya. Mengapa dia berani bersikap demikian pada sosok yang jelas-jelas mempunyai kedudukan yang tinggi dibandingkan dirinya.


"Sudah cukup, aku tidak memilik banyak waktu denganmu. Kau cari saja orang lain yang ingin berkenalan denganmu. Kau seorang pahlawan, kan? Pastinya banyak petualangan di sini yang ingin menjalin hubungan baik denganmu."


Zero melangkah pergi, meninggalkan Topeng Emas yang masih terdiam dan sedang menahan emosinya. Baru kali ini dia diperlakukan serendah ini oleh seseorang, apalagi di depan banyak orang.


Para anggotanya tampak sudah tidak bisa menahan emosinya lagi dan ingin sekali menghajar Zero seperti yang dilakukan anggota wanitanya tadi.


"Ayo Gladius, kita pergi dari sini."


Mendengar ajakan tuannya, Gladius berjalan mengikutinya dari belakang. Dia sudah cukup puas melihat apa yang barusan Zero lakukan.


"Tuan memang hebat. Aku takjub dengan cara Tuan memperlakukan pahlawan itu barusan. Sepertinya dia sekarang sudah mulai terpancing..." Gladius memuji. Zero hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.


'Baiklah, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya.' batin Zero.


Sebelum Zero dan Gladius dapat menuruni tangga, mereka segera dicegat oleh semua anggota Topeng Emas yang tampaknya sudah termakan emosi dan berniat memberikan pelajaran pada Zero.


"Kau berani juga ternyata memperlakukan ketua kita sampai seperti itu. Aku memujimu untuk itu, tetapi kau harus membayar perlakuanmu," kata pria berbadan besar sambil menatap Zero dan Gladius seperti sedang menatap kotoran.


"Minggir..." Zero mengayunkan satu tangannya, mementalkan semua anggota Topeng Emas yang menghalangi jalannya ke bawah.


Para petualang di bawah yang sebelumnya tidak tahu apa yang terjadi di atas terkejut saat melihat beberapa petualang di atas tiba-tiba melayang terjatuh ke bawah, terlebih mereka mengenali petualang-petualang itu.


Aksi Zero yang mampu mementalkan mereka hanya dalam sekali ayunan tangan membuat semua orang yang menyaksikannya terpana. Kali ini tidak hanya suasana di lantai atas yang mendadak hening, melainkan seisi guild itupun juga.


Para petugas yang menjaga keamanan dan ketertiban di sana tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi pertikaian antara kedua petualang pangkat atas tersebut. Mereka terlalu pengecut sampai memilih untuk diam saja dan berharap semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk di guild itu.


Zero dan Gladius dengan santainya berjalan menuruni tangga tanpa mempedulikan perhatian seisi guild yang kini tertuju padanya.


Kedua pahlawan yang sejak tadi mengamati mereka semakin penasaran ingin menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Saat tiba di bawah, Zero dan Gladius berpapasan dengan Topeng Emas yang sudah menunggu kedatangannya.


———


Di chapter selanjutnya akan ada pengumuman...

__ADS_1


__ADS_2