Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Tepat Sasaran


__ADS_3

——————¤¤¤———————


—————STATUS——————


——————¤¤¤———————


Name : Zero


Level : 85


Job : The Expert


Title : Heroes From Hell (1+)


——————


HP : –


MP: 68000/68000


EXP : 432000/1250000


———


BP : 23.340.800


SP : 0


Orb: 553450


——————————————


Str : 585


Agi: 553


Sen: 554


Vit : 577


Int : 588


——————————————


"Aku sudah menghabiskan cukup banyak Battle Point untuk membangun desa itu…" gumam Zero melihat jumlah Battle Point yang tersisa.


"Zero-sama, apa kau mengatakan sesuatu? Battle Poin? Apa itu?" Charla mendengar gumaman Zero dengan jelas mengingat tingkat ketajaman indranya kini meningkat.


"Aku jelaskan juga kau tidak akan mengerti." Zero tidak mengindahkan pertanyaan Charla dan masih fokus mengamati statusnya.


"Jahat… begini-begini aku juga pintar, Zero-sama," gerutu Charla.


"Kalau begitu apa kau bisa melihat ini?" Zero menunjuk panel status di depannya.


"Lihat apa? Aku tidak lihat apa-apa." Charla tidak tahu apa yang Zero tunjuk. Sherria yang berjalan di samping Zero pun sama.


Sementara Fluffy yang mengabaikan mereka bertiga sudah berjalan lebih dulu di depan dengan riangnya sambil mengayun-ayunkan kakinya ke atas ke bawah dan bersiul-siul. Dia tampak sangat menikmati perjalanan ini.


"Kalau kau tidak bisa melihatnya lebih baik diam saja." Suara Zero terdengar malas, tidak ingin membahas hal itu lebih jauh.


"Hmph…" Charla memanyunkan bibirnya sebal mendengarnya. Sherria tersenyum tipis sambil menggeleng pelan melihat ekspresi kakaknya.


Mengabaikan mereka berdua, Zero kembali fokus pada panel statusnya, mengamati sambil bertopang dagu.


'Berdasarkan penjelasan Sistem, satu poin statusku ini setara dengan satu sirkuit sihir.' Zero sudah mencari tahu hal itu sebelumnya.


'Sistem, apa aku bisa membuat sirkuit sihir tanpa perlu menggunakan poin skill?' tanya Zero.


[Tentu. Anda bisa melakukannya]


'Hm...Jadi aku bisa menggunakan cara seperti ini juga untuk terus bertambah kuat.' Zero merasa beruntung atas hal itu.


'Sistem, berapa poin skill lagi agar aku bisa mencapai tingkat Magic Emperor tahap akhir?'


[Anda perlu 800 poin skill untuk bisa mencapai tingkat tersebut]


'Begitu, ya.'

__ADS_1


[Ya]


'Yosh, aku harus mencoba membuatnya nanti.' Zero mendenguskan nafas penuh semangat setelah memutuskan hal itu.


'Selain itu aku juga harus bisa mencapai level 100.' Zero mengingatkan kembali pada tekadnya.


Menutup panel statusnya, Zero mengalihkan fokusnya pada Charla dan Sherria. Zero sudah melihat kalau mereka berdua kini sudah resmi menjadi penyihir kelas satu biarpun masih tahap awal.


"Ada apa, Zero-sama?" Sherria menyadari Zero terus menatapnya dan membuat pipinya memerah.


"Tidak..." Zero tersenyum sekali kemudian kembali fokus ke depan.


"Ah, sudah berakhir, ya…" Zero berhenti melangkah saat tubuhnya kembali menyusut menjadi anak-anak.


"Zero-sama jauh lebih menggemaskan jika dalam wujud seperti ini." Charla terkekeh seperti mengejek melihatnya.


Zero tidak memperdulikan perkataan Charla dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Tuan, lihat!" Fluffy yang memimpin jalan di depan berhenti melangkah saat menemukan sesuatu.


Zero dan yang lainnya segera mempercepat langkahnya menghampiri Fluffy.


"Ada apa, Flo?" tanya Charla.


"Lihat…" Fluffy menunjuk ke salah satu arah menuntun pandangan mereka bertiga.


Hanya Zero dan Charla saja yang bisa melihat sesuatu yang Fluffy tunjuk. Di sana mereka menemukan sebuah desa dan didalamnya terdapat sekumpulan orang yang terlihat tengah berkerumun seperti mengerumuni sesuatu.


"Ayo. Coba kita lihat." Zero yang penasaran mengajak yang lainnya untuk ke sana.


Setibanya di tempat itu mereka mendengar seruan seseorang yang terus mengatakan kata 'tarik' seperti sedang menarik sesuatu.


"Paman, apa yang terjadi?" Charla memutuskan bertanya pada salah satu orang yang berkumpul di tempat itu.


"Apa kalian seorang petualang?" Paman itu mengamati penampilan Charla dan lainnya.


Sebelum Charla menjawab pertanyaan paman itu, Zero sudah lebih dulu memotong dengan intonasi tidak sopan.


"Ya. Segera jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?"


Paman itu menatap tidak suka bocah tidak sopan di depannya. Meski begitu dia tetap menjawab pertanyaannya itu.


"Sudah beberapa minggu kami kekurangan pasokan air karena hal ini. Tidak ada satupun dari kami yang bisa mencabut tombak itu." jelasnya terdengar muram.


Sebuah panel misi muncul setelah paman itu menjelaskan apa yang sedang terjadi.


—Quest for Hero—


Kategori: Utama


Misi: Bantulah desa itu dan hukumlah sosok yang telah membuat mereka semua menderita.


Tingkat kesulitan: B


Reward : Crown Chest + 70000 BP


Kegagalan: -85000 BP


—————————


'Ho~ lumayan juga hadiahnya.' Zero cukup puas dengan hadiah yang didapat dari menyelesaikan quest itu.


"Zero-sama." Charla dan Sherria memberi kode pada Zero agar membantu mereka.


"Baik. Aku akan membantu kalian," kata Zero penuh percaya diri. Perkataannya menarik orang-orang di dekat paman itu.


"Apa maksudnya kau membantu kami bocah. Jangan bercanda." Paman itu semakin tidak suka pada sikap Zero. Dia dan lainnya tentu tidak akan percaya seorang bocah sepertinya bisa melepaskan tombak yang bahkan dengan kekuatan semua orang di desanya saja tidak bisa mengangkatnya.


"Hah~? Padahal aku sudah baik mau membantu kalian. Kenapa sikapmu padaku seperti ini?" Zero menaikkan satu alisnya menantang.


Sebelum paman itu membalas perkataan Zero, Charla dan Sherria segera memberitahukan padanya agar percaya.


"Tolong paman, percayalah padanya. Zero-sama pasti bisa membantu kalian." Charla dan Sherria tidak ingin ada masalah yang terjadi diantara mereka.


"Tapi dia..." Paman itu masih sulit mempercayainya.


Zero menghela nafas sambil menggeleng pelan. Tanpa ingin banyak bacot, Zero segera ke tempat tombak itu tertancap, membelah kerumunan warga yang tengah mengerumuni beberapa orang yang masih berjuang keras mengangkat tombak itu dari tanah.

__ADS_1


Pandangan semua orang segera terpaku pada Zero yang tampak berjalan mendekati tombak itu. Semuanya mengerutkan dahi dan bertanya-tanya apa yang sedang bocah itu lakukan.


Charla dan yang lainnya beserta paman itu mencoba membuktikan apakah Zero mampu melakukannya.


"Tidak bisa."


"Aku sudah tidak kuat lagi."


Kelima orang pria bertubuh kekar yang berusaha mengangkat tombak itu menyerah. Mereka menjatuhkan tubuhnya ke tanah dengan nafas terengah-engah.


Zero berjongkok di depan lima orang pria bertubuh kekar yang menyerah mencabut tombak itu. Dia mengelus dagunya meneliti tombak itu dari dasarnya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Lima orang pria itu menatap bocah di depannya sambil berkerut dahi. Tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.


"Susah, ya? Kasihan sekali..." Zero terkekeh mengejek mereka kemudian berdiri.


"Apa maksudmu berkata begitu?" Kelima orang itu terlihat tidak suka pada bocah di depannya. Sedangkan para penduduk desa masih terpaku mengamati bocah itu, masih dengan pertanyaan yang sama.


"Bukan apa-apa. Aku hanya kasihan pada kalian…" Zero mulai menggenggam tombak itu sebelum sesaat kemudian dia mencabutnya dengan begitu mudah seolah tidak ada beban apapun.


"Mencabut tombak seperti ini saja tidak bisa, kalian seharusnya malu dengan tubuh kalian," ejek Zero kelima orang itu


"EHH!!" Semuanya terkejut dengan aksi bocah itu yang mampu mencabut tombak itu layaknya sedang mencabut lidi yang tertancap di tanah.


Di samping lain, paman itu tidak kalah terkejutnya setelah membuktikan apa yang kedua ras demi-human itu katakan terbukti benar.


"Tuan memang hebat." Fluffy memuji Zero dari kejauhan. Charla dan Sherria tersenyum melihatnya.


Sementara kelima orang yang sudah mati-matian mencabut tombak itu jauh lebih terkejut dari semuanya setelah menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di depannya.


"Bagaimana bisa..." Mereka berlima segera berdiri dan menatap Zero dengan raut penuh keterkejutan. Semua penduduk desa mendekat, mengerumuni Zero dan memandanginya dengan raut ekspresi yang sama.


"Apanya?" Zero mengerutkan dahi memandang mereka semua aneh.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa itu kalimat yang kalian katakan saat seseorang telah membantu kalian?" Zero menyunggingkan sudut bibirnya. Semuanya terdiam masih sulit mencerna apa yang terjadi dan membuktikan apakah mereka tidak sedang bermimpi.


"Sudah jangan banyak tanya. Awas kalian semua minggir, minggir, minggir…." Zero mengusir beberapa orang yang menghalangi untuk menepi ke sisi. Mereka tanpa banyak protes segera menuruti.


"Tombak ini sudah membuat kalian menderita bukan?" Zero melihat tombak di tangannya yang tampak mempunyai kualitas yang sangat tinggi antara class b ke atas.


Semuanya menyaksikan apa yang akan Zero lakukan pada tombak itu.


Zero memejamkan matanya kemudian menggunakan skill God's Perception-nya untuk mencari tahu pemilik tombak itu sekaligus sosok yang telah membuat penduduk desa itu menderita.


"Ketemu…" Zero tersenyum sinis setelah berhasil menemukannya.


Zero memposisikan tombak itu lalu melesatkannya ke arah dimana pemilik tombak itu berada.


"Aku kembalikan tombak jelekmu!" seru Zero saat melesatkan tombak itu.


Zero bersama semua orang yang ada di situ memandangi tombak yang Zero lesatkan terbang menjauh hingga hilang dari pandangan mereka semua.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di dalam sebuah kamar yang mewah, seorang pria dan wanita yang telah selesai berc*nta terbaring di ranjang kasurnya.


'Perasaan apa ini…' Pria itu membangkitkan tubuhnya saat merasakan firasat ada sesuatu yang sedang mendekat.


"Ada apa sayang?" Wanita itu ikut membangkitkan diri.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Dia keluar dari ranjangnya dalam kondisi telanjang tanpa memakai sehelai kain pun lalu berjalan mendekati balkon kamar itu.


"Perasaan ini…" Perasaan itu semakin kuat dirasakan pria itu. Dia melihat keluar ruangan dan mencari tahu sesuatu yang dia rasakan sebelum sesaat kemudian dia menemukan sesuatu yang berkilauan dari langit.


"Jangan-jangan…" Saat pria itu mengetahui perasaan itu, sebuah tombak tertangkap oleh matanya sedang bergerak cepat mendekat ke arahnya.


"Celaka—"


Sebelum pria itu sempat bereaksi, tombak itu sudah lebih dulu menghujam tubuh bagian bawah pria itu hingga membawanya ikut tertancap pada tembok kamar.


"AHH!!" Wanita itu menjerit histeris saat menyaksikan pria yang baru saja berc*nta dengannya kini tewas secara mengenaskan. Tubuhnya yang telanjang menempel di tembok kamar dan tombak miliknya sendiri menghujam tepat di bagian k*maluannya, merenggut nyawa pemiliknya.


Kembali pada posisi Zero.


Zero menjentikkan jarinya lalu membuka mata saat mengetahui tombak yang tadi dia lempar telah kembali ke pemiliknya. Dia kemudian tersenyum puas sambil menunjukkan ibu jarinya menatap semua orang di desa itu.


"Mantap, tepat sasaran…"

__ADS_1


Satu chapt dulu, lagi revisi beberapa chap yang perlu direvisi


__ADS_2