
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Sebelum berakhir di tempat ini Scorpion merupakan seorang iblis yang jarang keluar dari tempat persembunyiannya. Dia selalu mengucilkan diri dan tidak pernah lagi berurusan dengan dunia luar. Hanya sebagian dari kaumnya yang mengenal sosok Scorpion seperti apa. Salah satunya yaitu raja iblis dunia bawah, Azazel.
Azazel sangat mengenal sosok Scorpion karena dulu dia pernah menjadi teman seperjuangannya. Pada masanya Scorpion merupakan seorang iblis dunia atas. Dulu dia dikenal sebagai iblis pembawa bencana yang pernah mengguncangkan dunia, kehadirannya pada saat itu bagaikan malapetaka bagi semua makhluk.
Karena suatu alasan yang tidak pernah diketahui oleh kebanyakan orang, saat itu Scorpion memutuskan untuk tinggal di dunia bawah dan memilih untuk hidup menyendiri, menjauhkan diri dari lingkungan luar. Seiring berjalannya waktu namanya sudah tidak lagi dikenal banyak orang. Mungkin saat ini hanya sebagian kaumnya saja yang mengetahui siapa dirinya, dimana tempat tinggalnya dan apa yang sedang dilakukannya.
Hari-hari Scorpion lalui seperti biasa, sampai pada suatu ketika salah satu iblis yang mengenalnya datang menghampirinya dan secara to the point langsung menawarkan tugas yang begitu membuatnya terkejut. Ya, iblis itu tidak lain adalah Thamuz, salah satu teman seperjuangannya juga.
Thamuz saat itu secara mengejutkan menawarkan diri meminta Scorpion untuk menggantikan tugas yang sudah lama dia pegang dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh akal, mengingat Thamuz selama ini sangat setia dengan tugas tersebut.
Meski awalnya Scorpion tidak mau menerimanya karena berbagai alasan yang tidak masuk akal namun setelah beberapa kali dibujuk dan ditawari beberapa hal pada akhirnya Scorpion mau mengambilnya. Di sisi lain kebetulan saat itu dia sudah bosan berlama-lama tinggal menyendiri dan membutuhkan hiburan.
Namun sayangnya ketika baru satu-dua hari dia menjalankan tugas tersebut dan menikmati hiburan yang sudah lama tidak dia rasakan, tanpa pernah dia harapkan tiba-tiba dia dipindah tempatkan ke tempat yang tidak dia kenal. Tetapi dia kenal siapa yang sudah melakukan hal ini padanya, yang pasti dia adalah salah satu makhluk yang sangat dibenci oleh kaumnya.
Hingga akhir cerita dia berakhir di tempat ini dan dipertemukan dengan satu makhluk misterius yang menyerupai manusia kecil yang dia pikir sebagai makhluk buatannya.
Scorpion tentu sulit menerima kenyataan bahwa sosok makhluk kecil yang saat ini memaksanya untuk bertarung serius adalah manusia.
*~*
Dentingan senjata terus beresonansi di tempat itu saat keduanya saling beradu.
Selama beberapa saat kedua belah pihak saling melontarkan serangan, belum ada satupun dari mereka yang berhasil menorehkan luka selain hanya sobekan kecil yang tadi berhasil Akira toreh pada pakaian Scorpion.
"Bocah, coba beritahu aku, apa maksud perkataanmu tadi?" Meski mencoba untuk tidak memikirnya lagi tetapi rasa ingin tahu itu terus muncul di pikiran Scorpion.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya? Apa kau pernah bertemu dengannya?"
Akira tidak menjawab atau merespon sedikitpun pertanyaan Scorpion. Dia terus menyerang dan sesekali mengambil jarak untuk mengambil nafas. Hal itu mulai memancing emosi Scorpion.
"Bocah jawab pertanyaanku."
Scorpion meningkatkan serangannya, mencoba menekan Akira menggunakan kedua kunainya agar dia mau buka mulut setelah sejak tadi terdiam.
Meskipun serangan Scorpion kini meningkat namun Akira masih bisa menangani setiap serangan itu karena dia kini masih belum mengerahkan seratus persen kemampuannya.
"Aku disini bukan untuk menjawab pertanyaanmu bodoh. Aku disini untuk menghiburmu. Bukankah sebelumnya kau bilang kau membutuhkan hiburan, hah?" ejek Akira selagi bertukar serangan dengan Scorpion. Dia terlihat senang sekali memancing emosinya.
"Begitu, ya..."
"Benar apa katamu. Aku membutuhkan hiburan, bukan jawaban yang tidak pasti. Kuharap kau bisa menghiburku lebih lama lagi, bocah." Merasa percuma memaksa Akira untuk menjawab pertanyaannya, Scorpion menelan emosinya kembali dan berfokus pada Akira yang tampak masih mampu seimbang melawannya.
"Tenang saja. Aku mengerti bagaimana cara menghibur orang sepertimu, " kata Akira selagi menangkis setiap serangan yang Scorpion lepaskan.
Scorpion masih belum bisa mengukur seberapa kuat bocah yang sedang dia hadapi. Namun satu hal yang dia ketahui energi sihir yang terpancar di dalam tubuh Akira terlalu mengerikan. Sudah lama dia tidak merasakan energi sihir sebesar ini. Dia sungguh sulit percaya akan kenyataan bahwa pemilik energi sihir yang begitu besar ini ternyata adalah seorang manusia kecil seperti Akira.
Sama halnya dengan Scorpion, Akira juga masih belum bisa mengukur kekuatan lawannya. Harus dia akui lawannya kali ini cukup merepotkan.
Beberapa pertukaran selanjutnya, mereka bergerak mundur memperlebar jarak. Keduanya saling melemparkan senyuman seolah menikmati pertarungan kali ini.
__ADS_1
"Sudah saatnya aku lebih serius lagi."
Akira bergerak lebih dulu, kali ini dia tidak lagi menyerang secara frontal seperti tadi. Akira mengaitkan senjatanya pada salah satu pilar dan berayun memutar seperti kera, berpindah dari satu pilar ke pilar lainnya tuk mencoba memecah perhatian Scorpion, sebelum dalam satu hentakan kaki yang berpusat pada tembok pilar, dia melesat cepat dengan pedang terhunus bersiap menyerang Scorpion.
Scorpion yang menyaksikan aksi Akira sejenak terpana sampai ketika dia menyadari Akira tiba-tiba melesat ke arahnya dia pun spontan memposisikan senjatanya segera.
Tring!
Saat kedua senjata itu beradu, Scorpion tidak bisa menahan daya serang yang Akira lepaskan. Dia pun akhirnya dipaksa mundur, terpental hingga menghantam sebuah pilar. Hantaman kali ini jauh lebih kuat dari yang tadi, membuat keretakan yang cukup besar disana. Tidak seperti sebelumnya, Scorpion kali ini merasakan rasa sakit pada tubuhnya.
"Tidak buruk." Akira memandangi Scorpion yang meringis kesakitan dengan seulas senyuman kemenangan.
Melihat serangannya masih belum bisa mengalahkan Scorpion, Akira bergelantungan kembali pada pilar dengan cara yang serupa. Dia bergerak lihai dari satu pilar ke pilar lainnya sambil mencari celah sebelum menyerang.
"Menarik... Sepertinya sekarang akan semakin menarik..."
Scorpion membangkitkan tubuhnya kembali dan bergerak dengan pola acak demi menutup celah bagi Akira untuk menyerang selagi terus mengamati gerak-geriknya.
Scorpion merasa kesulitan mengikuti gerak Akira yang melayang seperti itu di udara. Dia tidak bisa menguasai pertarungan karena sulit menjangkau Akira yang terus berpindah-pindah.
Scorpion berdecak kesal, "Apa boleh buat. Jika kau memang mau bermain dengan cara seperti itu, aku akan dengan senang hati melayaninya. " Setelah berkata demikian, Scorpion melemparkan kunainya ke salah satu pilar.
Kunai milik Scorpion sebenarnya terikat oleh sebuah tali panjang yang melilit tangannya dan tersembunyi dari balik pergelangan bajunya. Seperti senjata milik Akira, senjata milik Scorpion juga bisa melakukan hal seperti yang sedang Akira lakukan sekarang.
"Kau pikir hanya kau saja yang bisa melakukan itu?"
Akira terkejut melihat Scorpion bisa melakukan hal yang sama dengannya. Dia tidak terlalu memperhatikan senjata Scorpion tadi, jadi dia tidak tahu kalau senjata milik Scorpion ternyata memiliki tali.
"Oh, ya?" Menantang Scorpion, Akira meningkatkan geraknya lebih jauh lagi.
Keduanya saling berputar-putar, berpindah dari satu pilar ke pilar lain diantara tiga pilar utama di tengah tempat itu sebelum bertukar serangan di udara dan kembali lagi bergelantungan seperti semula.
Beberapa menit berselang, keduanya saling melakukan konsep pertarungan yang seperti itu namun masih belum ada yang menguasai pertarungan. Keduanya benar-benar berimbang.
Merasa bosan terus bertarung seperti ini, Akira akhirnya memutuskan turun lebih dulu. Scorpion yang merasakan hal yang sama pun ikut turun. Mereka bergerak mundur mencoba mengatur nafasnya yang mulai memburu.
{Fatigue: 32}
'Tingkat kelelahanku sudah mencapai batas pertama, ' batin Akira mengamati sesaat panel di sampingnya.
"Kenapa berhenti? Sudah selesai main-mainnya?" tanya Scorpion terkesan mengejek.
Akira menggeleng pelan, "Tidak. Permainan seperti tadi tidak terlalu menghibur menurutku. Lebih baik kita cari permainan lain saja." Dia tersenyum di ujung kalimatnya.
"Hahahah, benar juga. Kalau begitu coba tunjukkan permainan seperti apa yang menurutmu bisa menghiburku." Scorpion tersenyum menantang.
"Kalau itu maumu..." Akira bergerak kembali menyerang menggunakan senjatanya yang kemudian disambut seperti biasa oleh Scorpion dengan cara yang sama.
Keduanya saling bertukar serangan selama beberapa saat sebelum Akira mulai mengubah pola geraknya lalu melonpat tinggi dan melepaskan salah satu skillnya pada Scorpion.
"Fire Ball." Bola-bola api keluar dari mulut Akira mengarah pada Scorpion.
"Ho~?" Scorpion tersenyum, tidak mencoba menghindari serangan itu melainkan melakukan cara yang sama seperti Akira.
"Hellfire." Dalam satu kibasan, api berwarna merah kelam keluar dari tangan Scorpion dan mengarah pada api milik Akira.
__ADS_1
Saat kedua api itu bertabrakan, api merah kelam milik Scorpion melahap api milik Akira dan saat itu juga api itu langsung mengarah padanya. Beruntungnya Akira bisa dengan cepat menghindar meski sedikit pakaiannya terkena api itu.
"Celaka."
Merasakan ada bahaya, Akira segera melepas bajunya dan membuangnya ke tanah. Dia sangat terkejut saat menyaksikan baju yang dia lepas perlahan tapi pasti terbakar habis hanya dengan secuil api? padahal setahunya baju itu adalah baju tahan api yang tidak bisa dibakar. Bagaimana bisa?
"Kau cukup pintar juga, bocah." Scorpion terkekeh melihat ekspresi terkejut Akira. Di satu sisi dia merasa terkesan melihat Akira bisa langsung menyadari bahaya yang dihasilkan dari apinya.
"Api apa yang kau gunakan barusan?" tanya Akira dengan raut wajah terkejut.
"Apa kau tidak mengenalnya..." Scorpion mengeluarkan api berwarna merah kelam tadi di tangannya lalu memperlihatkannya pada Akira.
"Ini adalah api neraka. Api yang mampu membakar segalanya. Sekalinya api ini mengenai tubuhmu kau akan berubah menjadi debu, bahkan untuk seujung lilin sekalipun seperti yang kau lihat barusan. Jadi berhati-hatilah..."
Setelah berkata demikian, Scorpion melemparkan api itu pada Akira namun kali ini Akira bisa menghindarinya dengan sempurna. Dia tidak ingin kejadian serupa terulang dan mencoba meningkatkan kewaspadaannya lebih jauh.
"Panas…" gumam Akira tersenyum pahit saat merasakan hawa panas menyengat tubuhnya lantaran sekarang dia tidak memakai baju itu lagi. Keringat pun mulai keluar membasahi di tubuhnya.
"Ada apa bocah? Kau terlihat seperti sedang kepanasan, " ejek Scorpion melihat keringat mulai bercucuran di pelipis Akira.
"Benarkah? " Akira mencoba tetap terlihat tenang di hadapan Scorpion meski saat ini dia sedang menahan hawa panas yang menyengat tersebut.
"Jika api tidak mempan bagaimana dengan ini..." Akira mengangkat satu tangannya ke atas dan ketika dia berseru,
"Lightning Dragon!" Sebuah petir membentuk naga turun dari langit menghantam Scorpion disusul suara guntur yang menggelegar.
Meski terlambat menyadarinya tapi Scorpion berhasil menghindari petir tersebut dengan cepat tanpa terluka.
"Ups, hampir saja." Scorpion melihat bekas dari petir tersebut yang cukup berbahaya andaikan tidak berhasil dihindari.
"Kau bisa menggunakan dua elemen ternyata." Scorpion memandangi Akira dengan senyuman pahit seperti sulit mempercayainya
"Dua elemen ya..." Akira merasa ingin tertawa mendengar hal itu.
"Kau bisa melihatnya langsung." Akira memposisikan tangannya bersiap menggunakan skill-skill miliknya yang lain yang mungkin akan membuat Scorpion terbungkam dengan perkataannya barusan.
"Water Slicer. " Tebasan air terbentuk mengarah cepat ke arah Scorpion.
Scorpion dengan cepat pula bertindak.
"Hellfire Wall." Api merah kelam membentuk sebuah tembok menahan tebasan air itu
'Apa?Tiga elemen?' Raut wajah terkejut mulai terlukis di wajah Scorpion. Dan raut wajahnya semakin jelek saat menyaksikan skill-skill yang Akira lepaskan selanjutnya.
"Wind Arrow." Panah angin terbang ke arah Scorpion tapi berhasil tertahan lebih dulu oleh tembok api miliknya.
"Ice lancer. " Beberapa tombak es melesat cepat mencoba menembus tembok api itu meski hasilnya tetap sama.
"Stone Hammer. " Palu besar yang terbuat dari batu muncul tak jauh di kepala Scorpion dan dengan cepat menghantamnya. Kali ini Scorpion tidak bisa mengandalkan tembok apinya dan segera bergerak menghindar.
Scorpion memandangi Akira penuh rasa tidak percaya, "Yang benar saja! Bagaimana bisa kau menguasai lebih dari dua elemen?" teriak Scorpion tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
Menurut Scorpion menguasai dua elemen adalah hal yang masih dibilang wajar namun melihat kenyataan Akira mampu menyerangnya menggunakan lebih dari dua elemen jelas sangat membuatnya terguncang.
Akira menanggapi reaksi Scorpion dengan tawaan sebelum tawanya berhenti diganti dengan senyuman.
__ADS_1
"Entahlah…Mungkin karena aku makhluk istimewa."