Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Membuat Second Origin


__ADS_3

Mulai besok Zero memutuskan akan melatih Charla dan yang lainnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan tujuannya ke ibukota kerajaan. 


Dia ingin membuat Charla dan yang lainnya menjadi kuat seperti dirinya agar di ibukota kerajaan nanti mereka bisa melindungi dirinya sendiri andaikan dihadapkan dengan musuh yang kuat atau situasi yang berbahaya.


Keesokan harinya, Zero meminta pada yang lainnya untuk tidak memasuki ruangannya karena dirinya ingin meningkatkan kekuatannya terlebih dahulu sebelum giliran Charla dan yang lainnya. 


Duduk di atas ranjang kasurnya dalam wujud seorang bocah, Zero membuka panel statusnya untuk mencari tahu seberapa kuat dirinya sekarang. 


——————¤¤¤———————


—————STATUS——————


——————¤¤¤———————


Name : Zero


Level : 85


Job : The Expert


Title : Heroes From Hell (1+)


——————


HP : –


MP: 68000/68000


EXP : 932000/1250000


———


BP : 22.140.800


SP : 0


Orb: 653450


——————————————


Str : 695


Agi: 673


Sen: 664


Vit : 677


Int : 698


——————————————


"Ternyata dengan puluhan inti monster berukuran besar, ditambah dengan poin skill dan satu mutiara emas yang sebelumnya aku dapatkan dari rasa duyung itu, aku hanya bisa membuat sirkuit sampai segini saja. Kupikir aku bisa membuat delapan ratus atau bahkan lebih dengan semua itu. Sepertinya aku perlu menyerap beberapa lagi untuk bisa mendapatkannya," ujar Zero mengamati statusnya. 


Untuk bisa mencapai tingkat Magic Emperor tahap akhir, kata Sistem, Zero membutuhkan setidaknya delapan ratus sirkuit sihir, atau poin skill (dalam istilah statusnya). 


"Ah, iya, benar juga! Aku bisa menggunakan itu!" Zero yang teringat sesuatu segera membuka menu inventory-nya dan mencari sesuatu yang bisa membuatnya mencapai tingkat tersebut lalu mengeluarkannya. 


Zero tersenyum sedikit lebar memandangi sesuatu di tangannya. Benda berbentuk bulat dengan ukuran sedang, memancarkan energi sihir yang sangat kuat. Didalamnya terdapat cahaya merah kelam yang bergejolak serta di sekelilingnya diselimuti aura gelap yang menakutkan. 


Inti Binatang Jahanam, itu nama sesuatu yang ada di tangan Zero. Dia mendapatkan itu setelah berhasil menghabisi Binatang Jahanam bersama para ras duyung kala itu. 


"Kualitas inti Binatang Jahanam ini pasti beberapa kali lebih bagus jika dibandingkan dengan inti monster berukuran besar atau Air Mata Putri Duyung yang sebelumnya aku serap. Dengan ini aku pasti bisa mendapatkan lebih banyak sirkuit sihir." Zero terkekeh puas di ujung kalimatnya sambil mengamati inti Binatang Jahanam di tangannya. 


"Hm...Pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyerap inti Binatang Jahanam ini. Kurasa lebih aku menyerapnya nanti saja."


Setelah puas mengamati Inti Binatang Jahanam dan memasukkannya kembali ke menu inventory-nya, Zero beralih mengamati bagian status MP-nya, kemudian bertanya pada Sistem. 


"Sistem, apa aku bisa menggunakan sumber daya ini untuk meningkatkan kapasitas sihirku?" Zero memperlihatkan beberapa sumber daya (berupa material bebatuan, kristal dan tumbuhan dengan bermacam warna) yang bergeletakan di atas ranjang kasurnya. 


[Tentu. Anda bisa mengembangkan status kekuatan Anda melalui cara apapun]


Zero yang senang mendengar penjelasan Sistem, segera mencoba menyerap beberapa sumber daya yang berguna untuk meningkatkan kapasitas wadah sihirnya, atau MP (dalam istilah statusnya). 


Selesai menyerapnya, Zero membuka statusnya kembali untuk memastikan. 


——————


HP : –

__ADS_1


MP: 72000/72000


EXP : 932000/1250000


——————


"Kurasa segini saja sudah cukup. Sebagiannya lagi lebih baik aku gunakan pada mereka," kata Zero setelah memastikan status MP-nya kini bertambah. 


Zero kemudian bangkit dari posisinya lalu memanggil Charla dan Sherria untuk memasuki ruangannya.


"Kalian sudah menyerap semua inti monster itu, kan?" tanya Zero yang dibalas anggukan mereka berdua. 


"Bagus, karena kalian sudah berhasil menyerap semuanya, sekarang aku akan membantu kalian naik ke tingkatan selanjutnya. Apa kalian sudah siap?" 


"Kami siap, Zero-sama!" jawab mereka serempak. 


"Baik, dimulai dari kau dulu, Charla." Zero memulainya dari Charla sementara Sherria diminta untuk keluar ruangan.


Setelah menutup dua pintu yang ada di ruangan itu, Zero menyuruh Charla untuk duduk bersila memposisikan dirinya di atas ranjang. Zero kemudian mengikuti dengan duduk bersila di belakangnya. 


"Sebelum membuat Second Origin dalam dirimu, aku perlu meningkatkan wadah sihirmu terlebih dahulu," kata Zero seiring merubah wujudnya ke ukuran dewasa. 


"Apa yang harus aku lakukan, Zero-sama? Apa aku hanya duduk diam seperti ini saja?" tanya Charla menoleh sedikit ke belakang. 


Zero menggaruk belakang kepalanya ragu untuk meminta Charla melakukan hal selanjutnya. 


"Etto…apa kau bisa membuka setengah baju belakangmu?" pinta Zero terdengar ragu-ragu. 


"Hah?" Charla yang terkejut berbalik menghadap Zero. 


"Aku tidak salah dengar kan, Zero-sama?" Charla melebarkan matanya dengan seulas senyuman menatap pria tampan di depannya yang tampak malu-malu. 


"Ya…" Zero membuang sedikit wajahnya karena malu meminta hal seperti ini. 


"Ada apa, Zero-sama? Kenapa Zero-sama malu-malu begitu? Kalau Zero-sama yang memintanya aku akan melakukannya. " Charla terkekeh melihat ekspresi Zero yang jarang sekali diperlihatkan olehnya. 


"Siapa yang malu-malu." Rona wajah Zero sedikit memerah menyangkal perkataan Charla. 


"Heh~ Benarkah? Tapi kenapa wajah Zero-sama seperti memperlihatkan demikian…" Charla tersenyum menggoda Zero, merasa gemas melihat sikapnya yang seperti ini. 


"Ahkk, berisik! Sudah cepat lepaskan saja!" Zero memutar paksa tubuh Charla, tidak ingin lagi digoda olehnya. 


"K-kenapa kau melepaskan semuanya?Aku hanya memintamu untuk membuka setengahnya saja." Zero membuka mulutnya dengan mata melebar, apalagi saat melihat bra yang tergeletak di samping Charla. 


"Sudah jangan naif seperti itu, Zero-sama. Ayo lakukan. Apa Zero-sama ingin aku membuka semuanya?" goda Charla terkekeh geli. 


"Tidak perlu!" sergah Zero segera. 


Zero menatap belakang tubuh Charla yang kini telanjang. Saat menyentuhnya, Zero bisa merasakan kulitnya yang putih terasa halus dan nyaman untuk disentuh. Dia tidak berani berpikir apa yang dia rasakan saat menyentuh bagian depannya nanti. 


"Baru kali ini Zero-sama menyentuh tubuhku seperti ini." Charla tersenyum penuh arti. 


Zero tidak merespon perkataan Charla dan mengambil sumber daya (berupa batu berwarna merah) di sampingnya lalu menempelkannya pada punggung Charla, sedangkan tangan yang satu masih menyentuh kulit putih nan mulus milik gadis kelinci itu. 


Zero menghela nafas dan berkata, "Aku akan memulainya."


Charla mengangguk pelan, "Mohon bantuannya…"


Zero memejamkan mata lalu menggeleng keras untuk memfokuskan dirinya dari godaan di depannya. 


"Tahan, ini akan sedikit sakit." Zero memulai prosesnya


"Aku akan berusaha menahannya." Charla bersiap menerima rasa sakitnya. 


Sampai ketika batu merah itu menghilang masuk ke dalam punggungnya dan sesaat berikutnya mengeluarkan cahaya, Charla merasakan rasa sakit yang cukup kuat.


"Arghh!" 


Meskipun kesakitan, Charla berusaha menahannya dan memposisikan tubuhnya dengan benar. 


Rasa sakit itu terus terasa cukup lama. Sherria, Fluffy dan Rimuru yang menunggu di ruangan sebelah bisa mendengar jeritan Charla yang kesakitan itu. Terkhusus Sherria yang akan merasakannya juga menjadi sedikit ragu. 


Hingga tiga jam kemudian rasa sakit itu pun mulai mereda seiring dengan proses penyerapan itu selesai. 


"Akhirnya… " Charla akhirnya bisa bernafas lega meskipun belum stabil. Keringat membasahi punggungnya. 


Zero mengeluarkan sebotol air minuman dalam inventory-nya dan menyerahkannya pada Charla. 


"Kau sudah siap ke proses selanjutnya?" tanya Zero setelah Charla meminum air yang dia berikan. 

__ADS_1


"Ya. Aku sudah siap."


"Baik aku akan memulainya lagi. Karena wadah sihirmu sudah ditingkatkan kali ini aku akan membuat wadah sihir yang baru dalam dirimu."


Zero mengambil satu mutiara emas di kotak kecil sampingnya lalu memasukkannya ke dalam punggung Charla dan memulai prosesnya. 


"Arggh!"


Rasa sakit yang Charla terima dari proses pembuatan Second Origin itu dua kali lebih kuat dibanding yang sebelumnya dan berlangsung selama empat jam lebih. 


Sherria di ruangan sebelah hanya bisa berharap semoga nanti dirinya bisa menahan rasa sakit itu. 


Sesudah proses itu selesai, keringat membanjiri tubuh Charla dan Zero. Nafas mereka pun berhamburan keluar. 


"Aku berhasil menahannya, Zero-sama." kata Charla dengan nafas terputus-putus. 


"Ya. Kau berhasil melakukannya." Nafas Zero pun masih belum stabil. 


Keduanya mencoba menstabilkan tubuhnya dalam posisi bersila kemudian meminum sebotol minuman untuk mengembalikan cairan tubuhnya yang hilang. 


Beberapa menit kemudian mereka akhirnya bisa menstabilkan tubuhnya kembali. 


"Aku sudah berhasil membuat second origin serta beberapa sirkuit sihir dalam dirimu. Sekarang kau resmi menjadi seorang Magic Warrior," kata Zero masih dalam posisi yang sama. 


"Terima kasih, Zero-sama. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk bertambah lebih kuat lagi agar bisa membantumu dan terus berdiri di sampingmu," jawab Charla tanpa berbalik dan memunguti pakaian di sampingnya. 


"Baiklah karena sudah selesai sekarang giliran adikmu." Zero hendak membangkitkan tubuhnya, namun sebelum berhasil melakukannya tangannya segera ditahan oleh Charla. 


"Zero-sama…" Charla membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat memerah. 


"Charla pakai dulu bajumu…" Zero segera memalingkan muka karena tidak berani melihat sesuatu di depannya. 


"Tidak mau…" Charla membawa tangan Zero untuk menyentuh buah dada miliknya yang tidak tertutup sehelai kain pun. 


"Charla, apa yang kau lakukan… " Zero terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Charla. Tangannya benar-benar menyentuh aset miliknya. 


"Yakin masih belum mau melakukannya denganku?" lirih Charla tersipu malu memandangi Zero yang masih membuang muka. 


"Zero-sama, jangan memalingkan wajahmu seperti itu. Apa tubuhku tidak menarik bagimu?" tanya Charla terdengar sedikit tidak suka 


"Bukan begitu, Charla..." Zero mencoba memberanikan diri menatap Charla. Pandangannya hanya terpaku pada bola matanya. 


"Zero-sama...aku ingin melakukannya… " Charla menunduk sedikit wajahnya malu setelah berkata demikian.


Tangan Zero masih menempel di dada Charla. Zero terdiam, tidak tahu bagaimana harus menyikapi situasinya saat ini. Dia tidak bisa menuruti kemauan Charla bukan tanpa alasan. 


"Apa Zero-sama masih berpikir belum bisa melakukannya karena tubuh Zero-sama yang sebenarnya masih anak-anak. Atau tubuhku ini tidak menarik bagi, Zero-sama?" Charla menenggakan wajahnya, meminta penjelasan Zero. 


Yang Charla katakan memang benar. Zero masih belum mau melakukan itu karena masih menganggap dirinya belum cukup umur. Meski dirinya bisa merubah wujudnya ke bentuk orang dewasa tapi tubuhnya yang sebenarnya masihlah seorang bocah yang bahkanbelum genap sepuluh tahun. 


"Yang pertama kau katakan memang benar. Tapi yang kedua tidak, Charla…" Zero melepaskan genggaman Charla yang menempelkan tangannya ke dadanya . 


Zero lalu memeluk Charla dan tangannya beralih mengelus kepala Charla dan telinga kelincinya.


"Kau mempunyai tubuh yang menarik, dan aku menyukainya," lirih Zero di telinga Charla. 


"Zero-sama kumohon…aku ingin melakukannya. Anggap saja ini sebagai permintaan yang Zero-sama janjikan sebelumnya," pinta Charla membalas pelukan Zero. 


Berhenti mengelus kepala Charla dan melepaskan pelukannya, Zero menatap bola mata Charla yang begitu bersungguh-sungguh ingin melakukannya. 


Zero menghela nafas pelan, "Baik, aku akan melakukannya," kata Zero dengan raut wajah serius. 


Mulai sekarang dia tidak ingin lagi menganggap dirinya masih belum cukup umur karena usianya yang sesungguhnya jauh lebih dewasa dari yang terlihat


Zero perlahan membawa tengkuk Charla untuk mendekat ke wajahnya lalu menyatukan bibir miliknya dengan bibir milik Charla. Mereka saling menautkan lidahnya, bermain di dalamnya dan memberikan sentuhan yang erotis melalui bibir mereka yang bersatu.  


Zero mendorong tubuh Charla untuk berbaring selagi terus mencumbuinya. Satu tangannya mulai nakal menjamah buah dada milik Charla sedangkan tangannya yang lain mengelus telinga kelincinya, membuatnya mendesah pelan saat merasakannya. 


Dua menit lebih mereka memuaskan diri dengan bercumbu mesra sebelum Zero melepaskan ciuman itu lebih dulu. 


"Selanjutnya tunggu setelah kita kembali. Aku tidak bisa melakukannya disini. Lagi pula sekarang kau pasti sudah sangat lelah. Istirahatkan dulu tubuhmu." Zero melemparkan senyuman pada Charla lalu bangkit. 


Charla mengangguk, mengerti maksud Zero. Meskipun Zero tidak bisa melakukannya sekarang tapi setidaknya dia senang mendengar Zero mau melakukannya. 


"Janji?" 


"Ya."


——

__ADS_1


(づ ̄ ³ ̄)づ


__ADS_2