Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Fluffy Marah


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Para pasukan yang ditugaskan untuk mengecek desa tempat dimana salah satu ksatria suci yang tewas menancapkan tombaknya, terkejut saat menemukan desa itu sudah hangus dan hanya menyisakan puing-puing bangunannya saja.


"Apa ada seseorang yang menghancurkan desa ini?" Para pasukan melangkah masuk ke dalam dan mengamati kondisi desa tersebut.


"Kemungkinan dia pelaku yang telah membuat komandan tewas," terka salah satu pasukan.


"Mungkin."


"Benar, bisa jadi." Rekannya pun berpikiran sama.


"Pfft…" Salah satu rekannya yang lain tiba-tiba cekikikan seperti ingin tertawa.


"Ada apa? Apa ada yang lucu?" tanya rekan di dekatnya.


"Ya, lucu sekali...Aku tidak tahan ingin tertawa saat tadi tidak sengaja mendengar dia tewas dalam kondisi seperti itu."


"Pfft...Benar, aku juga..."


Beberapa rekannya yang lain mulai cekikikan menahan tawanya saat ikut tak sengaja mendengar informasi tersebut.


"Hentikan, tidak baik membicarakan orang yang sudah mati," kata pemimpin pasukan disitu yang seketika membuat mereka diam, "Mungkin itu hukuman untuknya karena dia sudah membuat desa ini menderita," lanjutnya.


"Benar, hanya karena salah satu penduduknya tak sengaja menumpahkan setetes minuman ke bajunya, dia sampai bertindak segitunya." Semuanya setuju dengan apa yang dikatakan pemimpin pasukan itu.


Mereka jelas sekali tidak suka dengan sosok ksatria suci yang seharusnya mengayomi dan melindungi rakyat malah membuat mereka menderita.


Para pasukan itu terus mengamati lebih jauh kondisi desa tersebut sampai ke pelosok-pelosoknya untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan informasi.


"Dimana penduduk desa ini? Apakah mereka semua tewas?"


"Aku tidak menemukan satupun mayat mereka."


"Kemungkinan mereka berhasil melarikan diri saat desa ini diserang."


"Syukurlah kalau begitu."


Para pasukan itu tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk tentang pelaku dari balik semua kejadian ini selain hanya bangunan yang sudah hancur menjadi puing.


*~*


Zero mengamati peta tuk membandingkan keberadaannya sekarang dengan tempat tujuannya.

__ADS_1


"Hm...tinggal beberapa ratus kilometer lagi. Sepertinya butuh satu sampai dua hari lagi untuk sampai ke kota itu…" gumam Zero setelah memperkirakan jarak yang tersisa.


"Apa kalian lelah?" Zero menoleh ke masing-masing gadis yang berjalan di sampingnya.


"Sedikit..." Charla tersenyum lemas, menunjukkan kalau dia lelah.


Zero menghela nafas pelan kemudian menengadahkan kepalanya atas melihat langit yang tampak sudah sore.


"Kita akan beristirahat di depan." Zero memutuskan mencari tempat untuk beristirahat setelah melihat matahari sudah siap tenggelam.


Di tengah langkahnya mencari tempat beristirahat, Zero merasakan kehadiran beberapa orang di depannya sampai akhirnya mereka pun bertemu dengan sekelompok perampok yang sudah sejak tadi bersembunyi dari balik pepohonan.


Charla dan Sherria segera berlindung ke belakang Zero saat melihat kemunculan mereka. Sementara Fluffy merubah raut wajahnya menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Oi, untuk apa kalian takut. Kalian sendiri saja sudah cukup untuk menghabisi mereka semua." Zero menoleh ke arah mereka berdua yang ketakutan.


"Tapi... kita berdua belum pernah melakukannya, Zero-sama." Mereka berdua tidak berani membunuh seseorang seperti yang biasa Zero lakukan.


"Apa boleh buat…" Zero memaklumi alasan mereka.


Zero mengalihkan pandangannya ke depan, menatap sekumpulan orang-orang bodoh itu dengan tampang malas sambil menguap.


"Lihat, tidak sia-sia kan kita menunggu disini sejak tadi," kata salah satu perampok yang membawa kapak tersenyum lebar melihat Zero dan lainnya.


"Satu bocah ingusan dan tiga gadis demi-human cantik…" Perampok yang membawa arit menjilat bibirnya saat melirik ke arah Charla dan Sherria.


"Tunggu, sepertinya gadis yang itu bukan seorang demi-human." Perampok bertangan kosong menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan gadis cilik berambut putih itu.


Dia menunjuk ke arah tanduknya berada, "Coba lihat, dia mempunyai dua tanduk di sisi dahinya. Aku belum pernah melihat ada demi-human sepertinya. Kemungkinan dia ras yang cukup langka. Kita bisa mendapatkan uang yang banyak jika berhasil menjualnya."


Semuanya sepakat dengan apa yang rekannya katakan.


"Tuan, apa mereka mengejekku?" tanya Fluffy tidak mengerti dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ya. Mereka sedang membicarakanmu, Flo." Zero tersenyum melihat Fluffy. Dia menemukan suatu ide yang menarik untuk menghukum mereka semua.


"Apa yang mereka katakan?" tanya Fluffy terdengar tidak suka.


"Apa kau yakin ingin mendengarnya?"


Fluffy mengangguk sebagai jawaban.


Zero tersenyum licik lalu membisikkan sesuatu di telinga Fluffy, "Mereka bilang kau jelek, bau dan pendek, Flo..." lirihnya berbohong.

__ADS_1


"Benarkah?" Fluffy melebarkan matanya terkejut.


"Benar. Mereka juga tadi bilang aku bocah ingusan." Zero berpura-pura seperti orang yang sedang kesal.


Charla dan Sherria tersenyum hambar mendengar kebohongan yang Zero utarakan pada Fluffy. Mereka tidak tahu bagaimana harus menyikapinya.


Sedangkan Fluffy mendengus marah setelah mendengar pernyataan Zero. Dia menatap sekelompok itu dengan tatapan penuh kesal.


"Apa aku boleh menghukum mereka, Tuan?"


"Tentu. Lakukan sesukamu." Zero tersenyum lebar.


Fluffy mengangguk lalu melangkah ke depan sambil terus mendenguskan nafas kesal.


"Zero-sama, kenapa kau berbohong seperti itu padanya..." Charla berbisik di telinga Zero.


"Sudah kita lihat saja apa yang akan dia lakukan." Zero terkekeh pelan, menunggu aksi seru yang akan terjadi di depannya.


"Kalian, berani-beraninya..." Fluffy berdiri tiga meter di depan mereka semua sambil menunjukkan ekspresi tidak suka.


Para perampok itu saling melemparkan senyuman merasa beruntung bisa mendapatkan tangkapan yang bagus dengan begitu mudah.


"Ada apa, adik kecil? Apa kau ingin bermain-main dulu dengan kita? Kalau begitu paman bisa menemanimu sebentar. Tapi janji setelah ini kau harus ikut bersama paman." Para perampok itu tertawa pelan melihat gadis cilik di depannya.


Tanpa mengindahkan tawaan mereka, Fluffy mulai menarik nafas panjang membuat oksigen sekitar seketika menipis sampai mereka semua yang ada di depannya kesulitan bernafas. Yang terjadi berikutnya ketika Fluffy menghembuskan nafasnya, angin besar keluar menggulung mereka ke atas.


"Ahh! Apa ini!"


"Apa-apaan bocah ini!" Semuanya menjadi panik saat berada dalam gulungan itu. Mereka tidak menyangka jika gadis cilik itu ternyata memiliki kekuatan yang begitu menakutkan .


"Hahaha! Rasakan itu!" Zero tertawa lepas sambil berjalan mendekati Fluffy diikuti Charla dan Sherria di belakangnya.


"Kerja bagus, Flo." Zero mengusap-usap rambut Fluffy yang kemudian dibalas senyuman berseri.


"Sudah abaikan mereka. Kita lanjutkan cari tempat istirahat," ajak Zero melangkah ke samping mengabaikan mereka yang masih tergulung di pusaran angin itu. Fluffy dan lainnya mengikuti Zero dari belakang sambil melirik sekali ke arah mereka.


Setelah melewati mereka lima langkah, mereka yang tergulung jatuh ke bawah saling bertumpukkan dan tidak bisa bergerak.


"Aduh…bocah sialan..." Mereka mengaduh kesakitan, mengumpat kesal pada bocah yang melewatinya barusan.


'Masih hidup rupanya...' Zero tersenyum sinis saat menoleh sekali ke arah mereka.


Dia lalu mengangkat satu tangannya ke atas sebelum ketika mengepalnya naga petir tiba-tiba melesat turun dari langit melenyapkan mereka tanpa sisa.

__ADS_1


__ADS_2