
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Lima hari sudah mereka berpetualang bersama, menghadapi berbagai rintangan dan menemui bermacam-macam orang, yang pasti orang-orang yang mereka temui bukanlah orang baik, diantaranya seperti dulunya adalah seorang perampok, pencuri, pembunuh dan sebagainya.
Masing-masing dari mereka bertahan hidup di tempat ini dengan berkelompok, dan kehidupan mereka selalu berakhir saat bertemu dengan Akira. Tentu saja Akira membunuh mereka bukan tanpa sebab, dia tidak akan membunuh mereka jika mereka tidak memulainya duluan.
Charla selalu mengikuti Akira kemanapun dia pergi. Berpetualang bersama Akira di satu sisi membuatnya senang, mengingat di kehidupan sebelumnya dia sama sekali belum pernah menapaki dunia luar, namun di sisi lain dia juga merasa takut karena di setiap langkahnya selalu dipenuhi dengan darah.
Tetapi akhir-akhir ini Charla sering merasa terbebani karena kehadirannya selalu membuat Akira kerepotan, atau lebih tepatnya menganggap dirinya sebagai beban. Hal itu lantaran setiap permasalahan yang terjadi selalu berkaitan dengan dirinya, mereka-mereka tidak akan pernah mengganggu jika bukan karena tertarik dengan kehadirannya.
Tidak seperti yang Charla pikirkan, Akira tidak pernah menganggap Charla sebagai beban. Jujur dia malah merasa senang karena bisa berpetualang dengan seseorang, tidak lagi sendiri, dan yang pasti orang tersebut bukanlah manusia munafik seperti yang dia kenal di kehidupan sebelumnya.
Hari-hari yang Akira lalui bersama Charla diam-diam menumbuhkan kembali rasa yang sudah pernah dia lupakan. Senyuman Charla selalu mengisi hari-harinya, berbincang dengannya membuat kehidupannya sedikit mempunyai makna, tingkah Charla juga seolah mengingatkannya pada seseorang, seseorang yang sudah dia coba lupakan namun tetap tidak bisa.
Sayangnya perasaan itu tidak akan bisa tumbuh sempurna dan seketika layu saat Akira menyadari misinya kali ini menghadapkannya pada dua pilihan yang sulit, antara bertahan atau melepaskan.
...
"Hanya tersisa empat puluh tiga orang lagi, yang berarti empat puluh satu masih bertahan di tempat ini." Akira mengelus dagu selagi mengamati panel-panel yang melayang di sampingnya.
{43/100} {4 Hari| 12 jam | 21 menit | 15 detik}
"Sebagian wilayah sudah berada dalam zona merah, diikuti zona oren yang lingkupannya semakin besar. Sementara zona kuning seperti biasa masih berpindah-pindah, bermunculan ke segala tempat." Akira mengamati panel map yang wilayahnya sebagian sudah mengecil. Posisinya di map sekarang menunjukan dirinya sedang berada di titik zona putih.
"Kemungkinan besar mereka sekarang pasti sedang berada di wilayah ini...ini...dan ini…" Akira menentukan tiga titik di panel map yang menurutnya terdapat mereka-mereka yang masih hidup.
Selesai melakukan pengamatan, Akira kemudian berdiri dalam posisinya yang sejak tadi terduduk, meregangkan tubuhnya sejenak dan berjalan mendekati Charla yang sedang berjongkok, sibuk mengamati semut yang berjalan berbaris.
"Kau sedang apa, Charla?" tanya Akira selagi berjalan mendekati Charla.
Charla menoleh saat mendengar suara Akira, "Tidak sedang apa-apa..." Dia lalu berdiri sambil menampilkan senyuman menatap Akira.
"Ayo kita pergi dari tempat ini, " ajak Akira.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Charla yang dibalas desisan malas Akira.
"Apa kau tidak bosan bertanya seperti itu terus setiap ingin pergi? Aku juga tidak tahu ada dimana kita sekarang ini. Pokoknya ikuti saja aku jika kau masih ingin hidup." Akira mengomeli.
"Maaf...aku hanya ingin tahu saja…" Charla memanyunkan bibirnya terlihat sebal.
Akira mengibaskan tangannya malas dan berjalan ke salah satu arah, "Baik-baik...kuharap ini untuk terakhir kalinya kau bertanya seperti itu."
Charla mendengus pelan sebelum mulai mengikuti Akira.
Mereka berjalan menyusuri hutan yang wilayahnya sedikit terbuka. Setiap harinya mereka akan sering berpindah-pindah tempat demi menghindari zona merah atau oren yang seiring waktu terus mendekat.
Langkah mereka terhenti saat mendengar ada suara gaduh seperti orang yang sedang bertikai. Merasa penasaran Akira melangkah ke sumber suara tersebut berasal dan menemukan ada dua kelompok tengah beradu mulut.
Akira bersama Charla bersembunyi dari balik pohon mengamati situasi mereka.
__ADS_1
"Kalau bukan gara-gara kelompokmu, kelompok ku tidak akan berakhir seperti ini!" seru salah satu pemimpin kelompok yang semua anggotanya membawa kapak. Mereka tampak bengis menatap pedas kelompok yang satunya yang jaraknya berkisar sepuluh meter.
"Bicara apa kau! Justru kelompokmu lah yang pertama kali mencari masalah!" Seru salah seorang pemimpin yang membawa arit tidak mau kalah.
"Hah? Bukannya kelompokmu yang mulai lebih dulu!" Perkataan pemimpin kelompok kapak disetujui oleh kelompoknya, Benar Benar! Benar!
"Berhenti mengelak! justru kau yang duluan memulainya!" Pemimpin kelompok arit juga tidak mau kalah, begitupun dengan kelompoknya, Benar! Benar! Benar!
Di sisi lain, Akira bersama Charla mengawasi mereka dari kejauhan.
"Akira-san apa yang akan kau lakukan?" tanya Charla.
"Kita amati saja mereka lebih dulu, " jawab Akira.
"Lebih baik kita pergi saja dari sini, " ajak Charla.
"Tidak. Aku masih ingin melihat pertikaian mereka. Sebentar lagi akan semakin seru...
Dan akan lebih leluasa kalau kita melihat mereka dari atas…" Akira dengan cepat bergerak memangku Charla.
"Kya~! Tunggu, apa yang—" Mulut Charla segera disumpal oleh Akira yang kemudian dengan cepat berpindah ke salah satu dahan pohon yang besar.
"Kita amati mereka dari sini..." Akira menurunkan Charla dari pangkuannya.
"Bikin kaget saja…" Charla mengelus dadanya terkejut melihat aksi Akira yang tiba-tiba.
Kembali ke pertikaian kedua kelompok tadi.
"Sudah kubilang ini semua gara-gara kelompokmu!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Ahh!!Sudah hentikan omong kosong ini!" Seketika mereka yang bergaduh berhenti bersuara, "Takdir telah mempertemukan kita kembali, dan ini mungkin saatnya kita menyelesaikan permasalahan kita disini!" Pemimpin kelompok kapak mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.
"Benar apa yang dia katakan. Kita akan selesaikan permasalahan kita disini! " Pemimpin kelompok arit mengikuti. Kedua belah pihak bersamaan mengangkat senjatanya dan bersiap untuk menyerang.
"Kita semua tidak akan tenang jika belum membalas perbuatan kalian. Maju kalian semua!!" Kelompok kapak maju lebih dulu.
"Begitupun dengan kita!!" Kelompok arit bersiap menyambut.
"Ha!!!"
Kedua belah kelompok saling menyerang, kapak dan arit saling berbenturan. Masing-masing kelompok ini beranggotakan sama, yaitu sepuluh orang. Kelompok terbanyak yang baru pertama Akira temui.
Akira dari kejauhan tersenyum tipis sambil terduduk santai melihat kekonyolan mereka. Sementara Charla seperti biasa tidak suka melihat pertumpahan darah, jadi dia lebih memilih duduk dengan menghadap ke belakang.
"Akira-san, apa kau menyukai hal-hal seperti ini?" Charla bertanya. Dari nadanya terdengar dia tidak suka.
"Ya. Aku sangat suka melihat kebodohan mereka." Akira terkekeh pelan tanpa memperdulikan ekspresi Charla yang kini tampak muram selagi mengamati pertarungan kedua belah pihak itu. Satu-dua dari mereka ada yang tumbang, menghilang menjadi partikel cahaya.
__ADS_1
"Jika dipikir-pikir mereka bisa mendapatkan senjata dari mana? Dan kenapa mereka selalu berkelompok?" gumam Akira mengamati.
Dia pun bertanya, "Charla, apa kau kesini bersama rekanmu?"
"Tidak. Hanya aku sendiri," jawab Charla.
'Apa hanya dia saja yang kesini seorang diri?' pikir Akira sambil menoleh sebentar ke arah Charla.
"Sebelum kesini Apa kau membawa sesuatu?" Akira kembali bertanya.
Charla sejenak terdiam tidak menjawab, sedikit terkejut mendengar pertanyaan Akira. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik dadanya dan menyerahkannya pada Akira tanpa sedikitpun menoleh.
"Benda itu sudah ada sejak aku kesini, " jelasnya.
Akira mengambil sesuatu yang Charla berikan. Sesuatu yang Charla berikan ternyata berupa sebuah kalung dengan bandul membentuk sebuah hati.
"Kalung?"
"Ya. Akira-san bisa membuka bandulnya. Disana ada gambarku bersama adikku, Cheria."
Akira mengikuti arahan Charla dan benar, disana ada gambar mereka berdua sewaktu masih kecil. Mereka berdua sedang berpose ria dengan wajah polosnya, mengenakan pakaian senada dan bergandeng tangan dengan senyuman merekah.
Satu hal yang membuat Akira merasa aneh dari gambar tersebut yaitu kenapa adiknya Charla terlihat berbeda? Berdasarkan apa yang Akira lihat, adiknya Charla ternyata adalah seorang demi-human berjenis rubah dengan telinga, buntut dan rambut berwarna oren, sangat berbeda dengan Charla.
"Charla, kenapa adikmu terlihat berbeda denganmu?" Akira mengungkapkan rasa penasarannya.
"Karena dia bukan adik kandungku. Orang tuaku dulu menjadikan dia sebagai anak angkatnya...Meskipun dia hanya adik angkatku, tetapi aku sudah menganggap dirinya seperti adik kandungku sendiri..." jelas Charla. Terdengar seperti ada jejak-jejak kesedihan yang mendalam dari balik ucapannya.
'Sherria...apa kau selamat...? Semoga saja kau selamat dan baik-baik saja disana...' batin Charla teringat pada sosok adiknya sebelum dirinya berakhir di tempat ini.
"Begitu..." Akira mengangguk memahami sambil menatap Charla yang tampak muram. Sesaat berikutnya Akira melihat setetes air mata mengalir di pipi Charla.
"Charla, kenapa kau menangis?" tanya Akira sambil merajut alis.
Charla mengusap air matanya berusaha terlihat tegar, "Ah, bukan apa-apa..." Chara mencoba tetap tersenyum menatap Akira meskipun air matanya saat ini mulai mengalir deras di pelupuk matanya.
"Eh, kenapa ini? Kenapa aku menangis?"
Akira menghela nafas melihat kepura-puraan Charla yang tidak pandai menutupi apa yang sedang dia rasakan.
Akira mengusap air mata Charla lantas menarik lehernya dan membenamkan wajahnya di pundaknya.
"Menangislah... menangis bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan suatu cara terindah untuk mengungkapkan sesuatu yang tak bisa kau ungkapkan..." kata Akira dengan penuh kelembutan mencoba menenangkan Charla.
"Baik..." jawab Charla sambil terisak. Air matanya membasahi pundak Akira. Dia meluapkan semua perasaannya disana.
Akira tidak ingin bertanya lebih dulu kenapa Charla bisa menangis seperti itu. Dia mempersilahkan Charla untuk menangis sepuasnya di pundaknya sampai dia kembali tenang.
Pandangan Akira kembali ke pertarungan kedua kelompok tadi yang tampak telah usai.
"Kita lanjutkan pertarungan ini di neraka...." Kata si pemimpin kelompok kapak yang terkapar setelah tubuhnya tersayat di bagian titik vitalnya
"Hahahah, dengan senang hati..." Pemimpin kelompok arit pun dalam kondisi yang sama.
__ADS_1
Kedua belah pihak tidak ada yang selamat. Tubuh mereka semua akhirnya memudar, berubah menjadi partikel cahaya dan lenyap dari pandangan Akira.