Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Mencari Keuntungan


__ADS_3

"Kau urus itu nanti. Aku masih mempunyai sesuatu yang ingin aku tawarkan padamu. Dan soal kristal ini aku tidak jadi menjualnya." Zero memasukkan kembali kristal itu dan lanjut ke pembahasan yang lain. Dia masih mempunyai item-item lain yang ingin ditunjukkan pada Gildart.


"Baik, sekarang apa yang ingin Tuan tunjukkan?"


Gildart dan Gladius serta kelima orang yang sejak tadi hanya jadi nyamuk sudah siap untuk kembali takjub dengan apa yang akan Zero perlihatkan.


Zero mengambil item lain dari menu inventory-nya dan menunjukkannya pada Gildart.


"Kau mengenal item ini, kan?" Item yang ada di tangan Zero yaitu berupa sebuah kapsul.


"Ya. Aku mengenalnya, Tuan. Itu pasti kapsul sihir. Aku sebenarnya menjualnya juga." Gildart tidak terlalu terkejut melihatnya karena item itu cukup umum diketahui orang-orang meski jarang ada yang memilikinya. Gladius dan yang lainnya pun berpikiran sama.


Kapsul sihir terbuat dari lacrima yang diisi oleh esensi sihir ruang dan dihaluskan lalu dibentuk menjadi sebuah kapsul. Biasanya satu kapsul sihir akan diisi oleh satu barang mati yang memudahkan seseorang untuk dapat membawanya kemana-mana.


"Lalu, berapa harga dari satu kapsul sihir ini?" tanya Zero.


"Harga dari satu kapsul sihir ini sama dengan sepuluh keping emas namun jika didalamnya diisi oleh barang akan dijumlahkan dengan harga barang itu sendiri. Biasanya seperti itu, Tuan," jelas Gildart.


"Oh...Lumayan juga harganya." Zero merasa beruntung mendengar harganya tidak mengecewakan.


Jika di menu store-nya harga dari satu item itu biasanya di kisaran antara seratus sampai lima ribu battle poin, tergantung dari barang yang ada di dalamnya. Sedangkan satu kapsul sihir yang masih kosong dijual dengan harga sepuluh koin emas.


"Kau bilang satu kapsul sihir yang masih kosong dijual dengan harga sepuluh keping emas, kan?" Zero memastikan.


"Benar." Gildart membenarkan.


'Meski di dalam menu store tidak ada kapsul sihir yang masih kosong tetapi aku bisa mengeluarkan barang yang ada di dalamnya untuk mengambil wadahnya saja,' Zero mengetahui ada cara seperti itu.


'Aku hanya perlu mencari kapsul sihir dengan kualitas harga yang murah untuk mendapatkan wadahnya yang memiliki harga nilai yang tinggi. Hahaha, ini akan sangat menguntungkan. Aku bisa kaya raya hanya dengan memasarkan item seperti ini.'' Zero tersenyum licik, memikirkan hal yang cerdik.


Gladius di sampingnya menaikkan sedikit alisnya penasaran dengan apa yang Zero pikirkan tetapi dia tidak ingin bertanya terlebih dahulu dan memutuskan diam.


"Apa Tuan ingin menjualnya?" Gildart bertanya pada Zero yang sedang melamun dan tersenyum-senyum sendiri.


Zero mengambil kesadarannya kembali dan fokus pada Gildart di depannya, 'Untuk sekarang aku akan menjual yang ada isinya terlebih dahulu,' batinnya mengutarakan tujuannya.


"Ya. Aku mempunyai banyak item seperti itu dengan berbagai macam barang di dalamnya. Jadi kau sebutkan saja barang seperti apa yang kau butuhkan." Zero tersenyum tipis sambil memainkan kapsul di tangannya.

__ADS_1


"Sebagai contohnya…" Zero melempar kapsul di tangannya ke salah satu tempat dan sebuah tenda yang sudah jadi muncul di sana.


"Mungkin kau bisa menjual kapsul sihir berisi perlengkapan untuk berpetualang seperti itu yang pastinya akan sangat dibutuhkan bagi seorang petualang. Aku mempunyai kapsul sihir berisi tenda, api unggun atau perlengkapan tidur dan sebagainya." Zero mencoba membuat Gildart tertarik untuk membelinya.


"Aku akan membelinya beberapa, Tuan. Kalau ada aku membutuhkan kapsul sihir berisi..." Gildart mengatakan kapsul sihir yang dia inginkan.


Meski dirinya tidak terlalu tertarik tetapi Gildart membutuhkan item seperti itu di tokonya mengingat item seperti itu memang dibutuhkan bagi para petualang.


"Aku akan memberikannya padamu nanti sekalian dengan item yang kubeli," kata Zero hendak mengalihkan pembahasannya lagi.


Namun sebelum Zero hendak melanjutkannya, Gildart sudah lebih dulu memotong, "Maaf, Tuan. Kalau boleh tahu seberapa banyak item bernilai yang Tuan miliki. Dan juga sepertinya Tuan mempunyai sesuatu yang lebih menakjubkan dari ini." Gildart penasaran dengan item-item milik Zero dan menginginkan sesuatu yang lebih menakjubkan dari item yang sebelumnya Zero tunjukkan.


"Banyak sekali. Kenapa? Apa perlu aku sebutkan satu persatu?" Zero terkekeh sombong menanggapi keingintahuan Gildart.


"Boleh, Tuan." Gildart mengangguk pelan mempersilahkan.


Zero terdiam sesaat lalu menjawab, "Aku mempunyai banyak item bernilai seperti potion class tinggi, obat-obatan, senjata, bermacam buku teknik, gulungan sihir…" Zero menyebutkan satu persatu yang dijual di menu store-nya.


Gildart mendapatkan sebuah ide yang cemerlang dan sangat menguntungkan setelah Zero menyebutkan semua item yang dia miliki.


"Usul? Apa itu?" Zero mengernyitkan dahinya.


"Bagaimana kalau Tuan bekerja sama denganku. Aku bisa memberikan sebagian sahamku jika Tuan mau menjual semua item milik Tuan di toko ku." Gildart berpikir dia bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar jika menjalin kerjasama dengan Zero.


Sebagian sahamnya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan item-item yang Zero sebutkan.


"Mmm… " Zero merapatkan bibirnya mengamati Gildart dan usulannya secara bersamaan.


"Tidak mau," tolak Zero.


Sejak tadi Zero sudah mengetahui karakter Gildart yang penuh dengan siasat dan haus akan keuntungan yang besar. Untuk itu dia menolak karena tidak bisa mempercayai rubah tua sepertinya.


Zero juga melihat meski diancam sekalipun tua bangka ini pasti mempunyai bermacam cara untuk memperoleh tujuannya.


"Kenapa tidak mau, Tuan? Tuan bisa mendapatkan keuntungan yang besar, secara toko milikku ini selalu ramai dipenuhi orang-orang. Aku tidak minta hasil terlalu banyak untuk item yang Tuan jual disini. Cukup delapan persen saja." Gildart berusaha meyakinkan Zero.


Daripada mendapatkan sebagian saham miliknya lebih baik dia membuka toko sendiri karena dengan begitu dia bisa mendapatkan hasil tanpa harus dibagi, begitu pikir Zero.

__ADS_1


Apalagi dengan menarik pelanggan. Itu bukanlah suatu hal yang sulit bagi Zero.


"Tetap tidak mau. Untuk sekarang aku tidak ingin mengurus hal ini dulu, tapi nanti setelah kerajaanku selesai aku akan memikirkannya lagi." Ini alasan lain mengapa Zero menolaknya.


Gildart hanya bisa menghela nafas mendengarnya. Harapannya untuk meraup keuntungan yang besar lagi-lagi kandas.


"Sebenarnya dimana kerajaan Tuan itu?" Gildart penasaran sekaligus tertarik dengan kerajaan yang Zero maksud karena menurutnya di sana pasti terdapat banyak sekali sumber penghasil uang seperti yang sebelum-sebelumnya Zero perlihatkan.


"Kau sungguh ingin mengetahuinya?" tanya Zero tersenyum datar. Untuk beberapa alasan dia ingin menunjukkannya pada Gildart dan Gladius.


"Iya, Tuan." Gildart mengangguk cepat.


"Kau juga pasti ingin mengetahuinya, kan?" Zero menoleh ke Gladius yang sejak tadi memilih diam.


"Aku ingin mengetahui kerajaan Tuanku." Gladius tersenyum ramah.


"Baik, aku akan memperlihatkannya pada kalian." Zero mengeluarkan sebuah peta dari menu inventory-nya lalu merentangkannya di meja.


"Disini…" Zero menunjuk ke satu titik merah yang sudah ditandai.


"Ini?" Gildart dan Gladius mengerutkan dahinya saat melihat tempat yang Zero tunjuk hanya bergambarkan hutan belantara.


"Ya. Kenapa, apa kalian tidak percaya?" Zero terkekeh ringan. Dia sudah menebak pasti mereka akan tidak percaya jika di tempat itu terdapat sebuah kerajaan yang saat ini sedang dibangun.


"Aku tidak melihat apapun selain hutan belantara di tempat ini. Apa sungguh disini kerajaan, Tuan?" Gildart dan Gladius memperlihatkan ekspresi heran.


"Tentu. Aku sudah merubah sebagian hutan itu menjadi kerajaan dan untuk sekarang aku masih belum ingin menunjukkannya ke dunia luar," ujar Zero.


"Apa Tuan yakin membangun kerajaan di tempat itu mengingat itu masih termasuk wilayah kerajaan Blue Diamond. Tuan bisa mendapatkan hukuman jika membangun kerajaan di tempat itu tanpa sepengizinannya," ujarnya.


"Tentu saja aku sudah mengetahuinya dan juga mempunyai solusi terbaiknya." Zero tersenyum percaya diri membuat mereka merajut alisnya tidak mengerti dengan arti senyuman yang Zero tunjukkan.


Zero menggulung peta itu kembali seiring berkata, "Karena kau sudah melihatnya, kau tidak boleh membocorkan informasi ini pada siapapun. Baik tentangku maupun kerajaan yang sedang kubuat." Zero memasukkan peta itu kembali ke dalam inventory-nya.


"Jika sekali saja kau berani melakukannya. Ancaman tadi benar-benar akan aku lakukan." ancam Zero yang membuat Gildart kembali merasakan rasa takut.


"Tenang saja, Tuan. Rantai penghakimanku akan selalu ada di jantungnya. Aku sudah menanamkan janji di dalamnya, jika dia berani bermacam-macam denganmu rantai itu akan membunuhnya." kata-kata Gladius semakin membuat Gildart ketakutan

__ADS_1


__ADS_2