Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup X


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Terpampang jelas di depan mata, mereka berdua menyaksikan dengan nyata, ras yang paling ditakuti oleh semua makhluk tengah menyiksa manusia dengan begitu kejam.


Ketiga orang manusia yang masih bertahan hidup itu kini dalam kondisi yang sungguh mengenaskan. Mereka bertiga dipasung di batang pohon dengan besi yang ditancap pada kedua tangannya. Tubuh mereka yang setengah telanjang sudah terkoyak-koyak pada setiap bagiannya meliputi darah mengalir di setiap koyakan tersebut. Bagian tubuh lainnya juga seperti jari-jemari, telinga, hidung dan bahkan sampai k*maluannya sudah terlepas dan tidak lagi berbentuk.


Benar-benar kejam...


Akira menurunkan Charla dari pangkuannya. Dia bisa melihat ketakutan yang teramat sangat di matanya. Sejujurnya Akira juga sangat terkejut melihat sosok yang sudah membantai tiga manusia itu. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu makhluk seperti itu di tempat ini.


Pada saat Charla melafalkan satu kata 'iblis', sosok yang sedang menyiksa ketiga orang manusia itu berbalik menatap mereka berdua dengan seringaian membelah di bibirnya, menampilkan deretan gigi-giginya yang runcing seperti siap mengoyak apapun yang masuk ke dalam mulutnya.


Sosok yang tidak lain adalah iblis itu mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan manusia dewasa. Yang membedakannya hanya warna kulitnya sepenuhnya berwarna merah padam, begitupun dengan bola matanya. Selain itu, dia memiliki dua benjolan aneh yang membentuk seperti tanduk di sisi dahinya serta rambut hitam kemerahan terurai sampai ke bahu yang memancarkan kesan menakutkan.


Hanya dengan penampilannya saja sudah cukup membuat Charla bergidik ketakutan.


"Charla apa benar dia iblis?" tanya Akira memastikan.


"K-kemungkinan begitu. Meskipun aku tidak pernah melihatnya, tapi aku mengetahui jelas ciri-cirinya, " jawab Charla yang kini berlindung di belakang Akira.


Sosok tersebut terkekeh melihat Akira bersama Charla. Pandangannya kemudian kembali lagi ke ketiga mainan di belakangnya.


Iblis itu mengeluarkan sesuatu seperti tulang yang membentuk tiga cakar panjang dari balik punggung tangannya lalu mengarahkan tiga cakarnya itu ke kepala tiga orang manusia yang sudah tidak berdaya itu hingga seketika membuatnya hancur.


Charla menyembunyikan wajahnya di bahu Akira karena tidak mempunyai keberanian melihat apa yang iblis itu lakukan sementara Akira menatap iblis itu dengan senyuman tipis.


{3/100} {0 hari| 9 jam| 23 menit| 52 detik}


'Tinggal tersisa tiga orang lagi, termasuk aku sendiri...jadi dia yang akan menjadi boss terakhir di tempat ini, ' gumam Akira dalam hati saat pandangannya sejenak melihat panel kecil di sampingnya.


"Sudah cukup bersenang-senang dengan kalian. Sekarang aku mempunyai mainan baru yang masih segar." Setelah ketiga manusia itu hilang menjadi partikel cahaya, Iblis itu berjalan mendekati Akira.

__ADS_1


"Manusia kecil...gadis demi-human...bagaimana kalian bisa berada di tempat ini?" tanya nya sambil tersenyum selagi berjalan mendekat.


"Iblis jelek. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa makhluk nista sepertimu bisa ada disini?" Akira balik bertanya sambil menyunggingkan sudut bibirnya membentuk senyuman sinis.


Langkah iblis itu terhenti, senyumannya pun memudar dan diganti oleh sebuah tawaan yang lantang, "Hahaha! Manusia kecil, ternyata kau mempunyai cukup keberanian juga berani menghinaku seperti itu!"


"Akira-san...hati-hati...dia pasti sangat kuat," lirih Charla mengingatkan, rasa khawatir terhadap Akira semakin besar.


"Ya. Aku tahu..." Akira menjawab santai.


Saat merasakan sesuatu yang tidak biasa di tubuh Akira, Iblis itu mengerai tawanya. Dia kemudian berkata, "Hm...Sepertinya kau bukan manusia kecil biasa. Aku bisa merasakan energi sihir yang luar biasa terpancar di dalam tubuhmu. Tidak bisa dipercaya, siapa kau sebenarnya?" tanya nya dengan sorot mata yang berubah menjadi tajam.


"Siapa aku? " Akira terkekeh pelan dengan kedua tangan terlipat di dada, bersikap arogan sambil menunjukan senyuman menantang, "Aku adalah pemeran utama di panggung tempat kita berdiri sekarang."


Iblis itu terdiam selama beberapa saat, menatap tajam Akira yang masih tampak santai meski saat ini sedang berada di hadapannya, sebelum sesaat berikutnya dia kembali tertawa lantang, "Hahaha! pemeran utama?! Kau pemeran utama?! Menarik! Benar-benar menarik! Baru kali ini aku bertemu manusia yang begitu lucu sepertimu. Terlebih kau hanyalah seorang manusia kecil!" Iblis itu tertawa sambil memegangi perutnya seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu.


"Oh, ya? Aku cukup tersanjung mendengarnya." Akira mengelus dagunya, senyuman angkuh masih terlukis di belahan bibirnya.


"Sekarang giliranku yang bertanya—atau lebih tepatnya aku ulangi lagi pertanyaanku sebelumnya. Siapa kau? Kenapa makhluk sepertimu bisa berada di tempat ini?" tanya Akira.


"Oh, begitu..." Akira tidak terkejut atau ketakutan sama sekali saat mendengar siapa sebenarnya sosok iblis di depannya ini, membuat Thamuz menatapnya dengan cara yang berbeda.


'Manusia kecil ini lumayan juga nyalinya. Menarik sekali...'


Lain halnya dengan Akira, Charla malah semakin dibuat takut saat mendengar nama dan tugas dari iblis itu. Pasalnya, Charla sebelumnya sempat pernah membaca di salah satu buku terkait persoalan tentang iblis menyangkut keterangan iblis yang mempunyai nama Thamuz. Berdasarkan yang dia ketahui dari buku tersebut, iblis yang satu ini sangatlah kuat, kejam dan menakutkan.


"Lantas, kenapa sekarang kau bisa berada disini?" tanya Akira.


"Tentu saja semua ini gara-gara dia. Dia pasti yang sudah membawaku ke tempat ini, " jelas Thamuz, wajahnya berubah menjadi sangat kesal saat mengingat sosok yang dimaksud.


"Dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Akira berkerut dahi.


"Kau tidak akan pernah tahu, manusia. Meski aku tidak sudi mengakuinya, tapi yang pasti keberadaanya jauh lebih tinggi dari semua ras yang ada di dunia ini, " jelasnya terdengar tidak suka.


"Hm..." Akira kembali dibuat penasaran dengan sosok tersebut. Berbagai pertanyaan mengisi kepalanya.

__ADS_1


"Sudah cukup basa-basinya. Jadi, bagaimana sekarang aku harus menyiksa kalian?" Thamuz mengelus dagunya mengamati bocah manusia dan gadis demi-human di hadapannya dari atas sampai bawah. Jarak mereka sekarang hanya berkisar sepuluh meteran saja.


"Perfect Protective Veil..." Melihat Thamuz seperti bersiap untuk menyerang, Akira menepis segala pertanyaan yang menganggu lalu membuat tabir pelindung untuk melindungi Charla.


Pelindungnya kali ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya sebab Akira menyadari lawannya kali ini tidak bisa dianggap remeh sehingga dia membutuhkan pelindung yang lebih kuat demi bisa meminimalisir kejadian yang tidak terduga.


"Akira-san..." Charla menengadahkan kepalanya menatap punggung Akira cemas.


"Kau diam saja disini, jangan keluar sedikitpun, mengerti?"


"Baik. Hati-hati..." Charla mengangguk menurut.


Akira kemudian melangkahkan kakinya keluar tabir itu sambil mengeluarkan senjata yang menempel di balik punggungnya dan bersiap untuk bertarung.


"Dimulai dari kau dulu ya, manusia kecil. Tapi sepertinya aku sudah bosan menyiksa manusia dengan metode yang sama terus. Lebih baik aku menyiksamu dengan metode yang lain, bagaimana?" Thamuz tersenyum remeh menatap Akira.


"Lakukan sesukamu. Itupun jika kau bisa..." Akira menghunuskan pedangnya ke arah Thamuz.


"Baiklah-baiklah. Bagaimana dengan ini..." Mata Thamuz seketika berkilauan mengeluarkan cahaya merah selama seperkian detik. Pada saat yang sama pupil matanya yang semula polos tiba-tiba membentuk sebuah pola berbintang.


Akira memegangi keningnya, kepalanya terasa pusing untuk sesaat begitu melihat ke titik dimana pupil Thamuz berubah. Charla yang menyaksikan hal itu dari belakang merasakan firasat yang buruk.


"Kena..." Thamuz tersenyum lebar seolah dia sudah menang.


"Apa yang baru saja kau lakukan." Akira segera menyadarkan dirinya kembali.


"Bukan apa-apa..." kata Thamuz masih dengan senyuman yang sama.


'Apa hanya firasatku saja...' pikir Akira saat tadi dia sempat melihat mata Thamuz sesaat berubah namun ketika melihat kembali, matanya sudah kembali seperti semula.


Akira segera menepis pikirannya dan mulai berfokus pada musuh di depannya.


"Kalau begitu kita mulai pertarungannya sekarang."


Tidak ingin memperdulikan apa yang tadi terjadi, Akira melesat lebih dulu menyerang Thamuz.

__ADS_1


__ADS_2