
Tiga minggu telah berlalu. Pembangunan desa berjalan lancar sesuai yang Zero harapkan. Beberapa bangunan dan tempat tinggal sudah banyak yang selesai, termasuk tempat-tempat yang dia inginkan.
Beberapa lahan tanaman yang mereka tanam pun sudah terlihat ada yang berbuah serta hasil dari beberapa tambang yang dikumpulkan terus melimpah.
Saat ini semuanya seperti biasa sedang berkumpul mendengarkan pidato dari Zero sebelum setelah ini mereka akan mulai kembali bekerja.
"Aku meminta orang-orang yang tadi aku sebutkan untuk maju."
Puluhan orang yang sebelumnya Zero pilih maju menghadap. Mereka yang terpilih dan semua orang di desa itu penasaran apa yang kali ini akan Zero perlihatkan.
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kalian semua…" Zero membuka menu store-nya dan mengambil kantong berukuran sedang yang berisikan seratus pil di dalamnya kemudian memperlihatkannya satu pada mereka.
"Ini adalah pil perombak sihir. Bagi kalian yang tidak memiliki sihir, kalian kali ini bisa memilikinya jika kalian mengkonsumsi pil ini."
Semuanya tidak berhenti takjub dengan apa yang Zero perlihatkan. Jika memang apa yang Zero katakan itu benar tentunya mereka semua menginginkan pil itu mengingat kebanyakan dari mereka yang ada disini tidak memiliki esensi sihir dalam tubuhnya.
Bagi semua orang di dunia ini sihir bisa dianggap sebagai segalanya. Hanya sebagian orang yang beruntung terlahir memiliki sihir dalam tubuhnya. Dengan sihir mereka bisa melakukan hal-hal yang menakjubkan. Contoh sederhananya mereka bisa mempermudah pekerjaan.
Sayangnya Zero tidak bisa membagikan semua pil ini pada mereka semua dikarenakan harga dari satu pil ini terbilang cukup mahal.
"Aku akan membagikan pil ini ke keseratus orang dari kalian yang terpilih." Zero menunjuk seratus orang di depannya yang tampak begitu antusias. Seratus orang itu meliputi laki-laki dan perempuan, baik yang yang masih mudah maupun yang sudah tua.
"Bagi kalian yang menginginkan pil ini juga suatu saat aku akan membagikannya pada kalian. Tapi sebelum itu kalian harus menunjukkan kalau diri kalian pantas mendapatkan pil ini dariku."
Semuanya yang tidak memiliki sihir kini mempunyai harapan yang sama untuk bisa memilikinya. Apa yang Zero katakan barusan akan menjadi motivasi baru bagi mereka untuk berusaha lebih keras lagi.
"Meski begitu, apakah kalian bisa menahan efek dari mengkonsumsi pil ini?"
Rasa antusiasme ke seratus orang itu menurun saat mendengar pernyataan Zero. Mereka tahu pasti efek dari mengkonsumsi pil itu tidaklah baik. Mereka menjadi ragu untuk mencobanya.
"Apa ada yang ingin mencobanya terlebih dahulu." Zero menunjukkan satu pil itu pada mereka, "Tenang saja. Jika kalian mati setelah mengkonsumsi pil ini aku masih bisa membangkitkan kalian…" Deretan kalimat yang terdengar angkuh itu membuat keraguan mereka sedikit berkurang.
"Aku akan mencobanya." Salah satu dari mereka yang tampak tidak ragu angkat tangan kemudian maju mendekati Zero.
Zero memberikan satu pil itu padanya dan melihat apa yang akan terjadi setelah dia mengkonsumsi pil itu.
Selesai mengkonsumsinya, orang itu terjatuh ke tanah dan langsung mengerang kesakitan. Urat-urat di tubuhnya terlihat mengencang sebelum kemudian berubah menjadi warna merah.
"Arrggh!" Orang itu mengerang kesakitan selama beberapa saat membuat mereka yang menyaksikan menelan ludah.
Meski tidak mengalaminya secara langsung, mereka bisa merasakan seberapa sakit efek dari mengkomsumsi pil itu. Mereka kembali menjadi ragu untuk mengkonsumsinya.
Sepuluh menit kemudian, efek itu menghilang. Orang itu kini tidak lagi mengerang kesakitan seperti tadi. Nafasnya memburu keringat bercucuran di seluruh tubuh. Dia kini merasakan ada sesuatu yang baru yang mengalir dalam dirinya, yang pasti dia bisa menebak saat ini dia sudah mempunyai sihir. Dia membangkitkan dirinya kembali.
__ADS_1
Dengan skill baru Deep Eyes yang sebelumnya Zero beli, dia bisa melihat aliran sihir mulai terlihat dalam diri orang itu. Wadah sihir yang berpusat di tengah-tengah perutnya sudah terbentuk meski terbilang masih sangat kecil dan disusul dengan elemen sihirnya juga.
"Kau sudah berhasil mendapatkannya. Mulai sekarang kau bisa menggunakan sihir." Zero memuji orang itu.
"Sekarang kau bisa membuktikannya langsung…" Zero membuka menu inventory-nya kembali dan mengambil satu gulungan sihir tingkat terendah yang sama dengan elemen sihir orang itu lalu menyerahkannya.
"Bacakan mantra sihir ini dan fokuskan pada satu titik di tanganmu." Zero memberi arahan.
Orang itu segera membuka gulungan sihir terendah itu lalu merapalkan mantra sihir yang tertera di sana sambil memusatkan energi sihir dari telapak tangannya.
"Create Water...." Saat orang itu mengarahkan tangannya ke depan, air bertekanan sangat rendah meluncur keluar dari telapak tangannya.
Semua orang yang menyaksikan bertepuk tangan merasa takjub melihat rekan mereka yang semula tidak memiliki sihir kini memilikinya. Orang itu sendiri tidak kalah takjubnya dan yang pasti dia sangat bahagia sekali bisa memiliki sihir..
"Kau hanya tinggal melatihnya lebih keras lagi." Zero memberi pesan pada orang itu.
"Baik, mulai saat ini aku akan berlatih lebih keras lagi. Terimakasih, Tuan." Orang itu memberi hormat kemudian mundur kembali ke belakang.
"Aku ingin mencobanya Tuan!"
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Selepas orang itu mencobanya beberapa orang lainnya dan bahkan hampir semuanya segera berebut ingin mencobanya juga. Mereka ingin bisa menguasai sihir seperti temannya barusan. Biarpun harus mengalami rasa sakit yang menyakitkan terlebih dahulu mereka tampak sudah siap menghadapinya.
"Sisanya aku serahkan pada kalian..." Zero menyerahkan mereka yang sudah memiliki sihir pada Rob dan Droy selaku orang yang mengerti tentang sihir.
Zero bukannya tidak ingin mengambil tugas itu tetapi dia masih mempunyai urusan yang lain terlebih dahulu terkait bangunan-bangunan yang sebelumnya sudah jadi. Alasan lainnya karena dia masih belum mengenal lebih jauh tentang sihir yang ada di dunia ini, jadi dia tidak bisa mengajarkan banyak pada mereka.
Melangkah pergi dari tempat itu, Zero menghampiri Charla dan Sherria. Dia meminta mereka berdua beserta para perempuan yang lainnya untuk ikut ke salah satu bangunan yang sudah jadi.
Di dalam bangunan yang sudah jadi itu terdapat beberapa baris rak buku dan lemari yang masih kosong serta meja dan kursi. Tepat sekali, bangunan yang sudah jadi itu akan Zero ubah menjadi perpustakaan.
Zero membeli semua buku yang ada di menu store-nya lalu menyuruh para perempuan itu untuk menyusunnya dengan rapi.
"Charla, setelah semua ini selesai kau bersama adikmu pergi ke ruanganku," kata Zero sebelum melangkah keluar ruangan, meninggalkan Charla yang kini dipenuhi tanda tanya tentang apa yang akan Zero lakukan.
Selanjutnya Zero melangkah menuju bangunan tempat penyimpanan harta untuk mengecek hasil tambang yang sudah diperoleh dalam tiga minggu ini.
"Hahaha, lumayan juga…" Zero cukup puas setelah menghitung hasilnya.
Zero melanjutkan langkahnya kembali menuju bangunan tempat peternakan.
__ADS_1
"Meskipun ternak yang bisa dipelihara untuk saat ini masih sedikit dan hanya dua jenis unggas serta sapi saja, aku perlu mengembangkan bagian yang ini dari sekarang." Zero melihat tiga ekor sapi dan puluhan ayam dan bebek di dua kandang ternak yang luas itu.
"Andai saja di dalam menu store tersedia hewan-hewan ternak juga, aku bisa mengisi tempat peternakan yang masih kosong ini," gumam Zero sebelum dia kembali melangkah pergi.
Seterusnya Zero mengecek semua bangunan yang sudah jadi seperti tempat peralatan, obat-obatan, rumah sakit, penempaan, penyulingan, hasil panen, pupuk, toilet, tempat belajar untuk anak-anak dan tempat-tempat lainnya.
Sayangnya setelah Zero lihat lebih jauh, bangunan-bangunan yang dibuat oleh mereka semua ternyata masih memiliki banyak kekurangan
"Sepertinya aku membutuhkan orang yang ahli dalam bidang pembangunan…"
Disaat Zero berpikir demikian, dia teringat akan satu ras yang ahli dalam bidang seperti ini.
"Apakah ras seperti mereka ada di dunia ini…" Zero menerka-nerka, "Aku harus menanyakannya nanti."
Selesai mengecek semua bangunan yang sudah jadi, Zero kembali ke ruangannya. Saat memasuki ruangan, Zero menemukan Charla dan Sherria sudah berada di dalamnya tengah terduduk di kasur miliknya.
"Apa kalian sudah menungguku disini sejak tadi?" tanya Zero sambil bersandar di sisi tembok.
"Tidak. Kita baru sampai disini beberapa menit yang lalu," jawab Charla.
"Ada perlu apa Zero sama memanggil kita ke sini?" tanya Charla.
"Mulai sekarang kalian harus mempelajari sihir juga." Zero mengeluarkan dua pil perombak sihir dan menyerahkannya pada mereka.
"Kita juga sebenarnya sudah berniat memintanya langsung pada, Zero-sama. Suatu saat kita juga ingin lebih berguna dan tidak ingin merepotkan Zero-sama lagi." Charla mengambil dua pil itu dari tangan Zero lalu menyerahkannya satu pada Sherria.
"Bagus. Kalau begitu minumlah. Aku akan menunggu kalian di luar." Zero pergi keluar ruangan itu.
Charla dan Sherria sejenak ragu mengkonsumsi pil itu, sebelum keduanya saling berpandangan dan mengangguk, mereka pun menelan bulat-bulat pil itu.
"Argghh!"
Zero mendengar jeritan kesakitan mereka dari luar ruangan. Dia hanya bisa menahan nafas dan berharap mereka berdua baik-baik saja.
Sepuluh menit kemudian, setelah mereka berhenti menjerit, Zero memasuki ruangan itu kembali.
"Zero-sama...kita berhasil melakukannya…"
"Kita berhasil menahannya…"
Charla dan Sherria terbaring lemas di atas kasur. Nafas mereka keluar tidak beraturan diiringi keringat bercucuran membasahi wajah mereka.
"Ya. Aku yakin kalian pasti bisa menahannya." Zero tersenyum ringan melihat mereka berhasil.
__ADS_1
"Mulai sekarang aku akan mengajarkan segala hal tentang sihir pada kalian. Aku akan menjadi guru kalian dan kalian berdua sekarang akan menjadi muridku…"
Like & coment