
Zero dan Sherria tak sengaja berpapasan dengan Charla saat hendak pulang ke penginapan.
"Zero-sama, Sherria…" panggil Charla sambil tersenyum melihat dua sosok di depannya yang sepertinya baru selesai berkencan.
"Habis dari mana kau, Charla?" tanya Zero.
"Aku habis ditraktir sama Viona-san, Zero-sama."
"Viona?" Zero dan Sherria mengatakan nama itu serempak.
"Siapa dia? Kenalanmu?" tanya Zero.
Charla mengangguk, "Aku baru berkenalan dengannya tadi..." Charla kemudian menjelaskan secara singkat tentang kejadian sebelumnya saat bersama Viona.
"Oh…" Zero hanya ber oh pelan menanggapinya.
"Apa Zero-sama dan Sherria sudah selesai kencannya?" tanya Charla melihat ekspresi adiknya dipenuhi warna menandakan kalau kencan mereka berjalan dengan lancar.
"Ya. Sekarang kita mau pulang," jawab Zero.
"Kebetulan aku juga ini baru mau pulang."
"Ya sudah, ayo kita pulang."
Mereka pun pulang bersama menuju ke penginapan. Zero memimpin di depan sedangkan Charla di belakang penasaran ingin mengetahui hasil kencan tersebut pada Sherria.
"Sherria, bagaimana kencannya tadi? Dari ekspresimu kelihatan sekali pasti kencan tadi sangat berkesan bukan?" tanya Charla pelan.
"Ah, itu… Nanti saja aku ceritakan." Sherria tersenyum merekah dan sedikit malu-malu.
"Harus. Pokoknya kau harus menceritakan semuanya padaku, karena besok giliranku yang kencan bersama, Zero-sama," kata Charla penuh semangat. Dia ikut senang jika memang kencan Zero dan Sherria berjalan sesuai yang diharapkan.
Tak butuh waktu lama berjalan, mereka pun akhirnya tiba di penginapan dan kembali ke ruangannya masing-masing. Zero merebahkan tubuhnya di ruangannya yang tidak ada siapapun karena Fluffy sedang bermain di ruangan Rimuru.
Zero memejamkan mata seiring menghela nafas berulang kali untuk merilekskan tubuhnya kemudian membuka matanya lagi.
"Yang tadi itu...apa benar ada seseorang yang menyebut namaku yang dulu." Zero teringat dengan kejadian saat dirinya tiba-tiba didera kesakitan.
"Aku yakin rasa sakit tadi sama dengan yang aku rasakan waktu itu." Zero meremas sebelah dadanya, mengingat kembali rasa sakit tersebut.
"Lalu siapa yang menyebutkan nama itu…" Ingatan Zero terbawa pada kejadian saat dirinya tak sengaja bertemu dengan sosok yang mirip dengan kekasihnya yang dulu.
"Yui… aku harap kalau itu memang dirimu. Aku harap yang baru saja menyebutkan namaku tadi adalah dirimu…" Zero membayangkan momen-momen menyenangkan yang tidak bisa dia lupakan saat bersama Yui.
Tok Tok Tok
Disaat Zero hanyut dalam bayangannya bersama Yui, terdengar suara pintu ruangan diketuk lalu disusul suara seorang pria yang terdengar memanggilnya.
"Tuan..."
Zero mengenali suara itu sebagai Gladius. Segera dia membangkitkan dirinya dan menyuruh Gladius untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Zero.
"Aku hanya ingin menyerahkan ini, Tuan..." Gladius menyerahkan satu gulungan kertas yang dia bawa.
"Apa ini?" Zero mengambilnya sambil mengernyitkan sedikit dahinya.
"Buka saja. Tuan bisa mengetahuinya langsung." Gladius tersenyum.
Zero mengamati gulungan kertas itu sejenak lalu membuka gulungan yang mengikatnya.
"Quest…" Zero membaca gulungan itu berisikan sebuah permintaan khusus yang ditujukan langsung untuknya.
"Benar. Itu sebuah quest khusus. Aku mendapatkannya dari Clarise-chan sebelum kita tiba di kota ini. Maaf jika baru menyerahkannya sekarang." Gladius berkata sopan dan hormat pada tuannya.
"Ya.Tidak apa-apa." Zero tidak terlalu mempermasalahkannya.
Kembali pada lembar quest di tangannya, Zero membaca secara seksama tentang quest khusus yang harus dia selesaikan itu.
"Lima hari lagi gelombang monster, ya.…" Zero tersenyum, tertarik dengan gelombang monster yang sejak dulu dia nanti-nanti. Apalagi imbalan yang didapat dari menyelesaikan quest khusus tersebut bukan main.
__ADS_1
"Benar. Gelombang monster sebentar lagi, Tuan. Salah satu kota membutuhkan bantuanmu sebagai seorang petualang Diamond Plate." Gladius memperjelas.
"Begitu… Baik, aku akan membahas ini nanti. Kau bisa kembali." Zero mempersilahkan Gladius pergi. Gladius mengangguk dan pergi dari ruangan itu.
"Yosh, ini merupakan gelombang monster pertamaku. Aku harus leveling besar-besaran…" Zero tampak bersemangat sekali menunggu waktu itu tiba.
*~*
Di pagi hari yang cerah ini, Zero akan berkencan dengan Charla sebagai permintaannya. Mereka berdua mengenakan pakaian terbaik dan serasi untuk menambah kesan yang baik bagi kencan pertama mereka.
"Sudah siap?" Zero mengulurkan tangannya.
"Emm!" Charla menyambutnya dengan senyuman merekah.
Mereka berdua pun mulai melakukan kencan.
Sepanjang jalan, mereka saling melontarkan percakapan untuk memperindah suasana kencan mereka. Banyak pasang mata yang sejenak teralihkan oleh kehadiran kedua pasangan yang tampak serasi nan memukau itu.
Banyak pula mata-mata keranjang yang tertarik dengan kecantikan gadis kelinci yang berjalan di samping Zero. Namun mereka segera membuang muka saat Zero menatap tajam mereka. Melalui tatapannya saja mereka langsung tahu seberapa berbahayanya sosok pria yang berjalan di samping Charla. Mereka tidak berani mengusiknya.
Zero mengajak Charla ke berbagai tempat yang menurut Charla bagus. Dari tempat-tempat hiburan sampai tempat berbelanja aksesoris dan pakaian.
Sorenya, Zero membawa Charla ke taman di pusat kota yang sebelumnya pernah dia jadikan tempat kencan bersama Sherria. Kebetulan pengunjung kali ini tidak terlalu ramai jadi mereka bisa mendapatkan tempat yang bagus untuk berkencan di sana.
Di bawah pohon yang rindang, Zero dan Charla duduk di hamparan rumput hijau yang nyaman sambil memandangi pemandangan indah yang disajikan di tempat itu. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Kepala Charla bersender di bahu Zero. Angin semilir menerpa, memberikan suasana sejuk nan menenangkan di hati mereka.
Mungkin ini merupakan momen yang paling menggembirakan menurut Charla. Belum pernah dia sebahagia ini saat bersama seorang pria.
"Charla, boleh aku tidur di pangkuanmu?" Zero meminta izin.
"Hm...Boleh…" Charla mempersilahkan sambil menegakkan kepalanya kembali.
Zero lalu mengubah posisinya dan tidur di pangkuan Charla yang dia jadikan sebagai bantalnya.
"Ah...entah kenapa aku sangat suka tidur dalam posisi seperti ini, Charla." Zero tersenyum memandangi Charla di atasnya.
"Zero-sama seperti anak kecil saja..." Charla terkekeh.
"Kau lupa, ya. Aku memang masih kecil." Zero balas terkekeh.
Perlahan-lahan Zero memejamkan matanya, menikmati sensasi tidur seperti ini dan sentuhan penuh kasih yang Charla berikan. Angin sepoi-sepoi yang tercipta di tempat itu menambah ketenangan bagi mereka yang merasakannya.
"Zero-sama masih ingat tidak saat awal pertama kita bertemu." Charla teringat akan hal itu.
"Tentu saja." Zero menjawab tanpa membuka matanya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Zero-sama di tempat itu."
"Aku juga."
Charla dan Zero saling menceritakan pengalaman mereka saat berada di dalam Menara Agung. Dari pengalaman yang menyebalkan, menakutkan, membahagiakan sampai terakhir ditutup dengan peristiwa yang menyedihkan.
"Ku pikir aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan, Zero-sama," kata Charla terdengar sendu.
Zero hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia juga awalnya merasakan hal yang sama. Tapi berkat apa yang dia dapat di dalam Menara Agung kini dia bisa merasakan momen seperti ini bersama Charla.
"Zero-sama," panggil Charla.
"Hm?" Zero menyahut.
"Aku mencintaimu," kata Charla mengungkapkan perasaannya.
Zero terdiam untuk sesaat lalu tersenyum dan menjawab, "Aku senang mendengarnya." Zero hanya menjawabnya seperti itu.
Charla balas tersenyum lembut. Lagi-lagi dia mendapatkan jawaban yang sama. Meski begitu dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena Charla mengerti pasti ada alasan mengapa Zero hanya menjawabnya seperti itu.
"Charla, aku ingin bertanya sesuatu."
"Iya, tanyakan saja, apa itu?" Tangan Charla kembali mengelus kepala Zero.
"Apa kemarin kau pernah menyebutkan namaku yang dulu?" tanya Zero.
__ADS_1
Charla berhenti mengelus lalu menggelengkan kepala, "Tidak. Aku tidak menyebutkannya dan tidak akan pernah lagi menyebutkan nama itu, karena jika aku menyebutkannya, Zero-sama pasti akan kesakitan seperti waktu itu. Aku tidak mau Zero-sama begitu," jelas Charla.
Zero termenung mendengar jawabannya.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Charla sambil mengernyitkan sedikit dahinya.
"Ah, tidak. Sudah lupakan." Zero mengangkat satu tangannya.
Meski penasaran, Charla mencoba menurutinya.
"Kau kemarin berkenalan dengan gadis bangsawan di kota ini bukan." Zero mengalihkan pembahasan agar Charla tidak memikirkan pertanyaannya barusan.
Charla mengangguk, "Dia gadis yang baik. Baru kali ini aku mempunyai kenalan orang luar yang sesama jenis seperti, Viona-san," kata Charla
"Begitu, ya... Maaf Charla kalau selama ini aku tidak memberimu kesempatan untuk mendapatkan banyak kenalan orang luar."
"Tidak. Zero-sama melakukan itu demi kebaikanku juga," jawab Charla mengerti.
"Zero-sama tahu tidak? Selain baik, Viona-san pandai sekali menggambar, loh," kata Charla.
"Oh, ya?" Zero menanggapi.
Charla mengangguk, "Dan salah satu gambarnya mirip sekali dengan Zero-sama," jelas Charla yang seketika membuat Zero terkejut.
"Maksudmu, mirip denganku seperti apa?" Zero memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.
"Hampir delapan puluh persen mirip seperti Zero-sama. Tapi bedanya pria digambar itu tidak memiliki goresan di matanya, dan tatapan maupun senyumannya sangat lembut. Meskipun mirip tapi aku yakin kalau itu pasti bukan, Zero-sama, " jelas Charla yang semakin membuat Zero terkejut dan segera membuatnya bangkit dari posisi tidurnya.
"Charla dimana dia sekarang?" tanya Zero tanpa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Ke-kenapa memangnya Zero-sama?" Charla sampai ikut terkejut melihat ekspresi Zero yang tiba-tiba berubah .
"Aku ingin bertemu dengannya." Ekspresi terkejut Zero berubah menjadi ekspresi yang dipenuhi antusias. Senyuman mengembang di belahan bibirnya.
Charla mengernyitkan dahinya, tidak mengerti kenapa Zero tiba-tiba menjadi antusias seperti ini. Tapi yang dia tangkap mungkin Zero hanya tertarik dengan gambar itu, bukan dengan penciptanya. Kebetulan dia juga sebelumnya ingin mengenalkan Zero dengannya.
"Charla dimana dia sekarang?" tanya Zero lagi.
Charla menepuk pelan jidatnya, "Ah, maaf, aku lupa menanyakan alamatnya."
Senyuman Zero seketika luntur mendengarnya sebelum mengembang kembali saat mendengar perkataan Charla selanjutnya.
"Tapi Zero-sama bisa bertemu dengannya di restoran yang sebelumnya kita kunjungi."
"Kalau begitu ayo sekarang kita ke sana," ajak Zero yang tampak tidak sabaran. Dia berharap kalau sosok yang Charla maksud ini adalah sosok yang selama ini dia harapkan.
Segera mereka ke tempat restoran yang tadi sempat mereka kunjungi. Sebelumnya Charla tidak menemukan Viona ada di tempat itu, tapi dia berharap kalau Viona kali ini ada di situ. Dia juga tampak antusias ingin mengenalkan Zero padanya.
Dan harapannya itu terkabulkan. Tepat tak jauh di depan restoran tersebut, Charla dan Zero menemukan Viona yang tampak sedang berjalan berlawanan arah di depannya.
"Itu dia, Zero-sama." Charla menunjuk Viona yang kini berjalan mendekat, "Viona-san!" Charla melambaikan tangan padanya.
Meski jaraknya masih jauh, tapi Zero bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang sangat akrab sekali di matanya itu. Gadis yang selama ini masih berdiam di hatinya dan selalu diharapkan kehadirannya.
'Yui... jadi itu benar dirimu...' Zero tersenyum penuh syukur, bersyukur bisa bertemu kembali dengannya.
Di sisi lain, Viona seketika membeku saat mengenali dua sosok yang berjalan menghampirinya.
'Charla… Akira…'
—
Informasi penting!
Terimakasih bagi kalian yang sudah mau baca cerita ini sampai sini.
Maaf, ya mengecewakan, tapi ini keputusan author.
Karena author ingin fokus ke masalah sekolah + UTBK dulu jadi author ingin hiatus untuk sementara (mungkin 1-3 bulan) Sekiranya sampai urusan di sekolah selesai.
Sebenarnya author tidak ingin hiatus, apalagi disaat karya author yang ini sudah mencapai level 10. Tapi mau bagaimana lagi, Author sibuk banget!
__ADS_1
Jika kalian masih mau menunggu tetap simpan novel ini di favorit kalian. Tapi jika kalian tidak mau, silahkan hapus saja.
See you next time...