Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sarang Perampok Bulan Merah V


__ADS_3

Di sisi lain, semua anggota perampok Bulan Merah yang ada di tempat itu saling bertanya-bertanya dengan rekan di dekatnya saat mendengar dentingan serta benturan yang sangat yang berasal dari tempat pemimpin mereka berada.


Semuanya segera menemui lokasi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Namun ketika salah satu dari mereka hendak mendorong pintu ruangan itu, mereka menemukan pintu ruangan itu terkunci dan mereka tidak bisa membukanya.


Dor! Dor! Dor!


"Ketua! Apa yang terjadi di dalam?!" teriak salah satu dari mereka sambil menggedor-gedor pintu. Yang lainnya ikut berteriak dan menanyakan hal yang sama.


"Kalian semua dengarkan aku! Pergilah dari tempat ini sekarang juga!" teriak Netero dari dalam ruangan terdengar seperti sedang ada bahaya.


"Apa maksudmu, ketua?!"


"Kenapa kita harus pergi?!"


"Katakan pada kita, apa yang sebenarnya terjadi di dalam?!"


Semuanya tidak mengerti apa yang pemimpinnya katakan dan penasaran bercampur cemas dengan sesuatu yang terjadi di dalam. Mereka yakin berdasarkan apa yang mereka dengar, di dalam ruangan itu pasti sedang ada pertarungan.


"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menjelaskan! Sudah turuti saja perkataanku jika kalian ingin selamat!" Netero berteriak sangat keras berusaha memperingatkan mereka.


"Jangan bercanda ketua! Coba jelaskan siapa yang sedang bertarung di sana?"


"Jika ketua sedang bertarung dengan orang yang sangat berbahaya di dalam, kita semua akan membantu ketua! Kita tidak akan pernah meninggalkan ketua sendirian di sini!"


"Sial! Keras sekali! Pasti ada seseorang yang memasang rune di dalam agar kita tidak bisa masuk ke dalam!"


Mereka bersikeras menolak perintah pemimpinnya dan terus mendobrak pintu ruangan itu agar terbuka.


Jika benar di dalam ada musuh yang berbahaya mereka lebih memilih mati bersama dari pada harus meninggalkan sosok yang sudah memimpin mereka selama ini.


'Apa jangan-jangan ketua sedang bertarung dengan kedua anggota baru yang aku bawa tadi…' pikir pria jangkung merasa bersalah jika itu memang benar.


Kembali pada posisi Zero dan Netero yang masih bertarung dengan sengit.


'Bodoh, kenapa mereka keras kepala seperti itu…' batin Netero geram pada semua anggotanya.


Netero kini sedang dalam situasi dipaksa oleh Zero hingga pada posisi bertahan. Dirinya tidak bisa mengimbangi kekuatan seorang Magic Emperor seperti Zero yang kekuatannya berkali-kali lipat dengannya.


Sekarang Netero percaya jika apa yang Zero sebutkan sebelumnya itu benar, dia bisa menghabisi dirinya dan semua anggotanya seorang diri.


"Aku terkesan dengan kesetiaan semua anggota kelompokmu." Zero tersenyum selagi melontarkan serangan demi serangan pada Netero.


Pukulan yang Zero lepaskan pada pedang Netero benar-benar sangat kuat. Netero sampai tidak bisa menahannya dengan baik dan terus dipukul mundur.

__ADS_1


Berbeda dengan Zero yang terkesan mendengar tekad mereka, Gladius yang bersandar di dekat pintu itu mengernyitkan wajahnya karena tak nyaman mendengar teriakan mereka dan upaya mereka untuk membuka pintu.


'Sial, dia tidak sedikitpun memberiku kesempatan. Padahal aku hanya perlu menyentuh tubuhnya dengan pedangku sekali, dengan begitu aku bisa menang…' Netero kesal karena sama sekali tidak diberi kesempatan oleh Zero untuk melakukan itu. Alih-alih bisa melakukannya situasinya sekarang malah semakin terjepit.


"Kurasa sudah saatnya aku mengakhiri semua ini. Terima kasih karena sudah menghiburku."


Zero tersenyum singkat kemudian dengan cepat bergerak mundur sebelum menghilang dari satu tempat ke tempat lain menggunakan skill teleport-nya.


"Cepat sekali!" Netero tidak bisa membaca gerakan Zero karena kecepatannya tidak bisa diikuti oleh matanya.


Gladius yang bersandar di dekat pintu sampai menegakkan tubuhnya saat menyaksikan bagaimana Zero bergerak. Menurutnya kecepatan yang Zero perlihatkan kini bahkan jauh melebihi kecepatan miliknya. Berdecak kagum dia melihatnya.


Zero terus menghilang dari satu tempat ke tempat lain guna memecah fokus Netero sekalian mencari celah untuk melancarkan serangan.


Netero meneguk ludahnya disertai keringat dingin saat merasa situasinya sekarang tidak baik. Dia merasa kali ini pasti akan menjadi akhir dari pertarungan ini.


Selama beberapa saat Zero memecah fokus Netero, akhirnya dia menemukan ruang yang pas untuk melancarkan serangan yang bisa mematikan lawan.


Segera saja Zero menghilang dan pandangan Netero dan muncul di belakangnya. Netero yang menyadarinya segera berbalik, namun sayang gerakannya kurang cepat dengan Zero yang sudah berpindah tempat ke depannya.


Zero dengan cepat membentuk energi sihir di tangannya menjadi bilah pedang lalu memotong tangan Netero yang memegang pedang.


Sret!


Tangan Netero terputus, terbang di samping Zero beserta dengan pedangnya.


Tubuh Netero seketika menjadi terasa sangat berat hingga dirinya dipaksa berlutut di depan Zero. Darah yang keluar dari tangannya yang terputus mulai membanjiri lantai ruangan.


"Kau kalah…" Zero menghunuskan pedang itu ke leher Netero.


"Tuan memang hebat…" Gladius bertepuk tangan pelan melihat Zero berhasil mengalahkan Netero seiring mendekatinya.


Zero tidak mengindahkan pujian Gladius maupun teriakan orang-orang di depan pintu dan masih fokus pada Netero yang kini terdiam sambil menundukkan kepalanya ke bawah. Dia sepertinya sudah mengakui kekalahannya dan kini hanya bisa pasrah menunggu kematiannya.


Zero mengangkat pedangnya lalu melemparkannya ke samping membuat Netero berkerut dahi.


"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Netero heran.


"Bodoh, dari awal aku tidak berniat membunuhmu maupun kedua orang rekanmu jika kalian tidak mencoba melawanku." Zero terkekeh pelan.


Netero berusaha mengangkat kepalanya untuk menunjukkan senyumannya pada Zero.


"Omong kosong. Kalau begitu kenapa kau membunuh kedua orang rekanku tadi?" Netero mengembalikan perkataan Zero.


"Oh, itu karena kupikir itu cara tercepat untuk memasuki tempat ini," kata Zero sambil berjalan mendekati tangan Netero lalu mengambilnya.

__ADS_1


"Sebelumnya aku berniat menghabisi kalian semua yang ada disini, tapi sekarang aku tidak lagi mempunyai niatan seperti itu setelah melihat kebenaran dari kelompokmu." Zero kembali lagi dan berdiri di depan Netero.


Di sampingnya, Gladius sudah bisa menebak apa yang akan Zero lakukan.


"Alasanku sebenarnya tidak menghabisi kalian karena aku mempunyai penawaran yang menguntungkan bagiku, bagimu dan semua anggotamu." Zero berjongkok di depan Netero dan mengamati tangannya yang terputus.


"Sudah kubilang aku tidak tertarik dengan tawaranmu." Netero menolak sambil terkekeh.


"Gladius, pegang tangannya…" titah Zero tidak memperdulikan penolakan Netero.


Gladius mengikuti perintah Zero dengan memegangi tangan Netero yang terputus. Langsung saja Zero menggunakan kemampuan khususnya untuk menyatukan tangan Netero kembali.


"Kau...Kenapa kau menyembuhkanku?" Netero terkejut dengan aksi Zero dan tidak mengerti kenapa dia melakukan itu padanya.


Zero menjitak kepala Netero dan berkata, "Kau seharusnya berterima kasih padaku. Aku sudah berbaik hati mengembalikan tanganmu."


Netero memandangi Zero dengan wajah yang sulit diartikan. Dia senang tangannya bisa kembali seperti semula tapi dia tidak mengerti apa tujuan Zero melakukan itu padanya


"Jangan berpikir dengan begini aku akan menerima tawaranmu." Netero berpikir itu pasti tujuan Zero.


"Mungkin setelah ini kau akan menerimanya." Zero tersenyum menantang seiring membangkitkan diri.


"Gladius, bawa dua orang yang tadi kau bunuh ke sini," titah Zero memberi tatapan agar Gladius tidak bertanya untuk apa.


"Baik, Tuan." Gladius segera memahami dan melaksanakan perintahnya. Dia membawa dua orang yang tadi dia bunuh dan meletakkannya di samping Zero.


"Apa yang ingin kau lakukan pada mereka?" tanya Netero.


"Tentu saja membangkitkannya kembali." Zero menjawab santai membuat kedua orang yang mendengarnya merajut alisnya tidak mengerti.


"Membangkitkannya kembali? Jangan bercanda! Mana mungkin itu terjadi!" teriak Netero tidak percaya dengan perkataan Zero.


Gladius di samping Zero mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Zero barusan dan memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.


Membangkitkan orang mati? Apa itu sungguh bisa dilakukan? Apa sungguh manusia bisa melakukan hal tabu seperti itu?


Gladius ingin menanyakan semua itu namun untuk sekarang dia mencoba membuktikan kebenaran dari perkataan Zero barusan.


Tidak memperdulikan reaksi Netero dan Gladius, Zero mulai berfokus pada kedua mayat di depannya sebelum memulai proses untuk membangkitkan mereka.


Apa yang terjadi berikut-berikutnya membuat kedua orang yang menyaksikan aksi Zero kehabisan kata-kata. Bukan karena mereka tidak bisa berbicara tetapi mereka kesulitan menerima apa yang terjadi di depannya.


"Mu-mu-mustahil…i-i-ini… apa ini sungguhan? Tidak mungkin...ini pasti bohong, kan. Ini tidak mungkin terjadi..." Netero meragukan apa yang dia lihat sekarang.


Gladius yang berdiri di samping Zero tersenyum lebar sambil melebarkan kedua matanya yang sipit.

__ADS_1


Sosok yang menjadi tuannya ini sungguh-sungguh luar biasa...


__ADS_2