Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Membangun Desa II


__ADS_3

Zero membawa belasan orang lainnya menuju keluar desa. Dia ingin mengatasi masalah kabut yang menyelimuti luar desa ini yang pastinya akan sangat merepotkan jika tidak segera diatasi.


Berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari kepala desa dan yang lainnya kabut ini ternyata sudah ada sejak mereka tinggal di desa ini. Alasan mereka tidak bisa menghancurkan sumber dari kabut ini karena dipengaruhi oleh dua faktor. Dan kedua faktor ini mempunyai pengaruh yang baik bagi desanya.


Zero bersama yang lainnya kini tengah menuju ke sumber kabut berasal. Dengan menggunakan skill God's Perception-nya dia bisa mengetahui keberadaan sumber kabut ini tanpa perlu meminta bantuan yang lain.


Semakin dia mendekati sumbernya semakin tebal pula kabut itu terlihat membuat nafas mereka menjadi terasa sesak. Untuk itu Zero memutuskan menyuruh mereka untuk menggunakan masker yang dia beli sebelum melangkah lebih dalam lagi.


Sesampainya di sana Zero menemukan sumber dari kabut itu ternyata berasal dari sebuah pohon yang besar yang tampak terus mengeluarkan kepulan asap dari celah-celah batangnya.


"Ini dia sumbernya, Tuan," kata salah satu dari mereka yang mengetahui tentang sumber kabut itu.


Zero melihat pohon besar itu sudah berusia ratusan tahun dan tampak sudah tidak memiliki daun lagi selain hanya menyisakan kayu dan ranting yang sudah lapuk.


"Kalian bilang kabut ini berbahaya bagi kesehatan kalian, tapi kenapa kalian tidak menghancurkannya?" tanya Zero menoleh ke arah mereka.


"Alasan kami tidak menghancurkannya yang pertama karena, berkat kabut inilah desa kami bisa tenang dari gangguan orang-orang luar. Dan yang kedua, berkat kabut ini selama ini desa kami selalu terselamatkan dari gelombang monster yang sering terjadi dua kali dalam setahun di dunia ini," jelasnya


"Gelombang monster?" Zero bereaksi saat mendengar istilah itu.


"Benar, Tuan. Saat gelombang monster terjadi, saat monster-monster bermunculan, kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi mereka selain mengandalkan kabut ini," jelasnya terdengar dilema.


"Begitu, ya. " Zero manggut-manggut memahami alasannya. Dia akan mencari tahu informasi tentang gelombang monster nanti, untuk sekarang dia ingin fokus pada masalah kabut ini dulu.


"Jadi di satu sisi selama ini kalian terselamatkan oleh kabut ini, namun di sisi lain kabut ini juga membuat kalian menderita."


"Benar, Tuan," jawab mereka serempak terdengar muram.


Zero menghela nafas mendengarnya. Selama ini kabut Ini menjadi permasalahan yang rumit bagi mereka. Tapi tidak untuk sekarang.


"Baiklah, mulai sekarang kalian tidak perlu khawatir lagi. Karena desa ini sekarang adalah milikku, aku akan menjamin keselamatan kalian semua. Jadi berbanggalah. Aku akan menghancurkan sumber masalah kalian selama ini sekarang," jelas Zero terdengar berwibawa.


"Terimakasih, Tuan!" jawab mereka serempak terlihat senang mendengarnya.


Zero kemudian melangkah mendekati pohon besar itu, dan dalam sekali pukulan, pohon itu hancur berkeping-keping membuat mereka yang menyaksikan terpana.


Begitu pohon itu hancur, Zero menemukan sebuah lacrima berbentuk bola yang tampak terus mengeluarkan asap. Dalam sekali lihat saja sudah bisa ditebak kalau lacrima itu merupakan sumber dari kabut itu berasal.


'Sepertinya memang ada orang yang sengaja menempatkankannya disini. Dan benda ini sudah ada dalam pohon ini lama sekali..." Zero mengamati lacrima yang terus mengeluarkan asap di tangannya.


'Apa jangan-jangan…' Zero teringat akan cerita Kakek Ryu pada saat dirinya masih berada di dalam Menara Agung. Dia berpikir mungkin bisa jadi Kakek Ryu adalah orang yang telah menempatkan lacrima ini di dalam batang pohon tersebut.


Dugaannya semakin kuat saat mengetahui kepala desa ini mirip sekali dengan kakek Ryu yang juga merupakan sosok yang mirip dengan kakeknya.


"Begitu, ya...." Zero terkekeh, mengambil satu kesimpulan,"Jadi sewaktu dia diusir dari kerajaan dia memutuskan membangun desa di hutan ini," gumam Zero berdasarkan apa yang dia ketahui.

__ADS_1


"Menarik..." Zero menghancurkan lacrima tersebut hingga menjadi pecahan kecil, "Ini takdir yang menarik…" Kemudian tersenyum lebar atas takdir yang terjadi padanya kali ini.


*~*


Setelah menghancurkan sumber asap yang berasal dari lacrima itu, Zero segera menghilangkan semua kabut yang menyelimuti hutan tersebut. Dengan dibantu Fluffy, dia mampu menghilangkan semua kabut itu dengan cepat tanpa perlu menghabiskan banyak waktu.


"Yosh, kau boleh bermain dengan yang lain lagi sekarang." Zero tersenyum sambil mengelus-elus rambut Fluffy.


"Emm!" Fluffy mengangguk lalu berlari ke arah teman-temannya dan kembali bermain dengan mereka.


Setelah Fluffy pergi dari hadapan Zero, belasan orang yang tadi mengikutinya berjalan menghampirinya.


"Tuan, kami sudah menemukan beberapa tempat yang semalam Tuan katakan," kata salah satu perwakilan dari mereka.


"Bagus, bawa aku kesana,' titah Zero.


Mereka semua segera membawa Zero ke salah satu tempat yang memiliki ciri yang sesuai dengan yang semalam Zero sebutkan.


Bersama dengan yang lainnya Zero dibawa oleh mereka memasuki gua kecil yang merupakan tempat yang dia inginkan tersebut. Gua tersebut tidak terlalu dalam dan juga tidak terlalu dangkal. Sesuai dengan pilihannya.


"Kalau boleh tahu, apa yang ingin Tuan lakukan di tempat ini?" Salah satu dari mereka mewakili rasa penasaran beberapa orang lainnya.


"Kalian bisa melihatnya nanti…"


Sesampainya di ujung gua, Zero memperlihatkan sesuatu yang akan mengejutkan mereka semua.


Mereka yang menyaksikan aksi Zero menyentuh-nyentuh ruang kosong hanya berkerut dahi, tidak mengerti dengan apa yang sedang dia lakukan dan hanya bisa mengamatinya dalam diam.


Selesai melakukan transaksi sebuah panel lain muncul di samping Zero.


{Pilih tempat yang sesuai dengan yang Anda inginkan}


Dengan menggunakan jarinya, Zero lalu menarik sebuah hologram berupa tambang emas yang dia beli lalu menempatkannya pada salah satu tempat di ujung gua itu.


Tiba-tiba cahaya keluar dari tempat yang dia pilih sebelum sesaat berikutnya tambang emas yang dia beli tadi muncul di sana.


Semuanya serempak membuka mulut dan matanya, tercengang melihat apa yang ada di depannya sekarang.


Sebuah terowongan kecil yang menjorok ke bawah dengan lingkupan kayu diatasnya yang membentuk setengah lingkaran terlihat di ujung gua itu. Gerobak mini di depan terowongan yang terhubung dengan rel menguhubungkan jalan gerobak mini itu menuju ke dasar tanah.


Saat salah satu dari mereka mencoba mengukur ke dalam terowongan itu, dia tidak bisa mengukurnya dan juga dia tidak bisa masuk ke dalamnya disebabkan ukurannya yang kecil.


"Tuan, sebenarnya apa ini?" Mereka tidak tahu sesuatu yang ada di depannya sekarang.


"Oh, itu tempat untuk menambang emas." jawab Zero sambil melipat tangan di dadanya bersikap arogan.

__ADS_1


"Emas?" Mereka saling berpandangan dengan seulas senyuman kebahagian.


"Ya. Tambang emas ini akan memproduksi emas murni sebanyak 100 gram per harinya. Dan masa produksi dari tambang emas ini hanya akan berlangsung sampai satu tahun saja," jelas Zero yang membuat senyuman mereka melebar serta sinar mata mereka berbinar-binar oleh ketakjuban.


"Emas murni?"


"100 gram?"


"Satu tahun?"


Semuanya tidak bisa menutupi kebahagiaannya saat mendengar tiga hal itu.


"Hahaha! Kenapa? Apa kalian tidak percaya?" Zero menanggapi ketakjuban mereka meski sebenarnya dia juga ikut takjub saat mengetahuinya. Bahkan dalam hatinya saat ini dia sedang bersorak gembira, karena dengan sumber daya ini dia sekarang bisa menjadi kaya raya. Hahaha!


"Kami percaya, Tuan!" Semuanya langsung percaya karena sosok yang melakukan semua ini adalah Zero. Makhluk luar biasa yang bahkan sudah mereka anggap seperti dewa.


"Baguslah. Mulai saat ini tempat ini akan menjadi sumber daya utama bagi kerajaanku—ah tidak, maksudku kerajaan kita." Zero tersenyum ke arah mereka.


"Ya!!" seru mereka.


"Baik, sekarang aku tugaskan mulai saat ini kalian berdua yang akan menjaga dan mengelola tempat ini." Zero menunjuk dua orang diantara mereka.


"Siap, Tuan!"


"Jika ada kendala atau apapun itu kalian boleh meminta bantuan yang lainnya. Ingat mulai sekarang kalian harus memantau tambang emas ini setiap waktu. Dan siapkan beberapa wadah untuk menampung emas tersebut. Mengerti?"


"Mengerti, Tuan!" jawab kedua orang itu serempak.


"Bagus kalau kalian sudah mengerti. Sekarang bawa aku ke tempat yang lainnya." Zero memberi perintah pada mereka yang belum mendapatkan tugas.


Dengan segera mereka membawa Zero ke salah satu gua lainnya. Saat berada di dalamnya Zero kembali membuka menu store-nya dan membeli sumber daya lain berupa tambang permata.


Harga dari tambang permata sendiri tiga kali lipat dari tambang emas. Tentu saja itu sebanding dengan harga nilai permata yang dihasilkan.


Zero menempatkan tambang permata itu di salah satu tempat di ujung gua.


Bentuknya sendiri sedikit berbeda dengan tambang emas. Jika lingkupan setengah lingkaran tambang emas terbuat dari kayu, lingkupan setengah lingkaran tambang permata terbuat dari besi, begitupun dengan gerobak mininya.


Zero menjelaskan pada mereka kalau apa yang ada di depannya sekarang adalah tambang permata.


"Tambang permata ini akan memproduksi 20 permata perharinya dengan nilai satu permatanya setara dengan 100 gram emas murni. Dan masa produksinya akan berakhir sampai sembilan bulan."


20 Permata?


Mereka menjadi sangat takjub dan bahagia mendengar hal itu. Dengan sumber daya ini membangun kerajaan bukanlah hal yang mustahil lagi. Sekarang mereka semakin percaya jika suatu saat desa kecil mereka ini memang akan berubah menjadi kerajaan, bahkan kerajaan paling makmur di seluruh dunia

__ADS_1


Terlebih Zero tidak hanya membangun masing-masing satu sumber daya saja. Dia membangun masing-masing tiga dan ditempatkan di dalam gua yang tersebar di segala titik di dalam hutan itu yang tak jauh dari desa.


Like & coment


__ADS_2