
"Besar sekali…" Charla dan yang lainnya lagi-lagi teralihkan oleh kemunculan belasan monster tumbuhan dengan ukuran yang sangat besar di pusat kota.
"Semoga Zero-sama baik-baik saja…" Charla dan Sherria beberapa kali melirikkan matanya melihat Zero yang melayang di tengah-tengah monster itu.
"Tenang saja, Sherria-chan, Charla-chan. Tuan pasti bisa menghadapi mereka semua. Sekarang fokus saja pada monster tumbuhan di depan kita, " kata Gladius yang percaya dengan kemampuan Zero. Charla dan Sherria mengangguk mengikuti arahannya.
'Dia bahkan bisa menghabisi semua monster tumbuhan itu seorang diri dengan sangat mudah, jadi apa yang perlu dikhawatirkan,' pikir Gladius melihat Zero yang kini sedang melayang dengan gagahnya di hadapan para monster tumbuhan yang besar itu setelah sebelumnya selesai menghabisi ratusan monster tumbuhan sendirian.
"Sekarang yang mana dulu yang harus aku habisi." Zero mengamati belasan monster tumbuhan di depannya yang mempunyai bentuk tidak biasa.
Selain tinggi dan besar monster tumbuhan di hadapan Zero kali ini berbeda dengan yang sebelumnya karena mempunyai satu mata di tengah-tengah kelopaknya yang terbuka. Akar yang menjalar keluar dari tubuhnya dan melayang di sekitarnya seolah sudah siap melilit siapa saja yang berani berdiri di dekatnya.
"Yang mana saja boleh, yang penting semuanya segera selesai." Zero bersiap memainkan aksinya kembali dengan terbang ke tempat yang lebih tinggi untuk mencari posisi yang bagus.
Setelah menemukannya, Zero mulai menarik tali busurnya dan melesatkan satu demi satu anak panah untuk menghabisi belasan monster tumbuhan di depannya. Pisau-pisau yang mengelilinginya pun ikut melesat menyerang monster tumbuhan disaat anak panah tersebut berhasil mengenainya.
Sayangnya serangan dari anak panah dan pisau yang Zero lesatkan banyak yang dapat dihindari atau ditangkis oleh akar yang menjalar di sekeliling monster tumbuhan. Walaupun ada beberapa yang berhasil mendarat tetapi itu tidak terlalu berbekas pada monster tumbuhan.
"Ah...Kelihatannya kalian agak sedikit merepotkan." Zero mengakui kemampuan monster tumbuhan.
"Apa boleh buat, aku akan menggunakan cara itu." Zero menyunggingkan senyumannya, terpikirkan cara terbaik untuk menghabisi semua monster tumbuhan di depannya.
Zero segera melesat ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh monster tumbuhan kemudian menghilangkan busur hitam di tangannya dan beralih memanggil busur berwarna perak.
Matchless Bow namanya, yang berarti busur panah tanpa tanding dengan class S. Busur panah ini didapatkan dari Legendary Chest yang saat itu Zero buka. Kualitas Matchless Bow sendiri tiga kali lebih bagus jika dibandingkan dengan Justice Bow yang barusan Zero pakai. Kekuatannya tidak perlu lagi dijelaskan, sudah pasti menakjubkan!
Selain busur panah, Zero juga memanggil senjata lain yaitu tombak penghancur bumi andalannya.
"Flo sepertinya waktu itu aku terlalu berlebihan, ya…" Zero menoleh ke arah Fluffy berada karena teringat dengan pertarungan melawannya sewaktu di Menara Agung. Saat itu Fluffy pernah merasakan kombinasi serangan dari tombak berwarna emas itu.
Zero menggeleng pelan sambil memutar-mutar tombak tersebut di sebelah tangannya seiring mengalihkan pandangannya ke bawah kemudian mengecilkan tombak tersebut hingga seukuran anak panah.
Selanjutnya Zero mengaitkan tombak kecil itu ke tali busurnya dengan kuat lalu melesatkannya ke arah dimana monster tumbuhan itu berkumpul.
"Arrow-Spear Join Attack! — The Conqueror!"
Tombak yang dilesatkan melalui busur panah itu melesat kencang, membawa kilatan berwarna merah serta angin dan gemuruh yang menggetarkan langit.
"Full Size!" Ketika jaraknya cukup dekat, Zero mengembalikan tombak itu ke ukuran semula.
Tombak itu pun dengan ganasnya menghujam tanah tepat di tengah-tengah semua monster tumbuhan itu berkumpul.
Bumm!!
Swuush!!
Suara yang dihasilkan kali ini sangat besar, membuat para penduduk desa yang tinggal beberapa kilometer dekat dengan kota itu mendengarnya, bahkan gelombang angin yang dihasilkan sampai menyapu bersih bangunan-bangunan di sekitarnya.
Charla dan yang lainnya menyipitkan matanya saat hembusan angin menerpa mereka dan spontan membuat mereka bergerak mundur. Ketika melihat ke arah sumber angin berasal mereka tercengang begitu menyaksikan sebuah cekungan yang sangat besar terbentuk melalui serangan barusan.
__ADS_1
Di tengah-tengah cekungan itu terlihat sebuah tombak berwarna emas menancap dengan kokoh. Sedangkan di atasnya seorang pria bersayap hitam tengah melayang dengan gagah .
"Zero-sama hebat…"
"Tuan berhasil mengalahkan mereka semua…"
"Emm! Tuan yang terhebat!"
"Sudah kubilang bukan, Tuan pasti bisa menghadapi mereka semua."
Semuanya mengungkapkan perasaannya saat menyaksikan serangan dahsyat yang Zero lepaskan barusan.
'Kakak, sepertinya kalian semua bukan tandingannya. Mau bagaimana lagi, soalnya dia benar-benar menakjubkan…' Gladius tersenyum penuh kekaguman memandangi Zero yang melayang di ketinggian.
"Huahh...ancur semua... Sepertinya aku terlalu berlebihan." Zero menggaruk kepalanya sambil terkekeh pelan.
Lalu menggeleng keras, "Bodo amat. Yang penting semuanya selesai dengan cepat."
Zero pun turun ke bawah untuk mengambil tombak yang tadi tertancap kemudian mendekati tumbuhan parasit yang tidak terkena dampak serangan barusan.
Tidak ada lagi monster tumbuhan yang menjaga pohon besar itu, kini semuanya sudah selesai dan Zero bisa dengan tenang mengambil sumber daya yang ada di dalam tumbuhan parasit itu.
Zero kembali ke mode asalnya dan memasukkan busur panah berwarna perak itu kembali ke tempatnya. Dengan menggunakan tombaknya, Zero membelah pohon besar itu dalam sekali ayunan lalu mengembalikannya juga.
"Wahh…lucky…" Zero melihat kristal berwarna merah dengan ukuran besar di dalam tumbuhan parasit itu kemudian mengambilnya.
"Ahh!!"
"Sherria!"
Disaat Zero sedang terkagum-kagum mengamati kristal tersebut, jeritan itu seketika merubah ekspresinya.
"Apa yang terjadi dengan mereka…" Zero yang cemas sesegera mungkin melesat ke tempat Charla dan yang lainnya.
Sampai setibanya disana, Zero melebarkan matanya terkejut saat menyaksikan banyak darah yang berceceran di tanah.
"Sherria…" Zero tercengang saat mengetahui darah yang berceceran itu berasal dari tangan Sherria yang terputus. Sedangkan tangannya yang terputus tampak tergeletak tak jauh di sisinya.
"Apa yang terjadi?" Zero buru-buru menghampiri Sherria yang berada di pangkuan Charla dan tengah diobati oleh Fluffy dan Rimuru.
"Maaf, Zero-sama. Ini salahku. Ini semua salahku…ini semua salahku..." kata Charla diliputi air mata yang mengalir di pipinya.
Sebelumnya...
Setelah puas terkesan mengamati Zero, Charla dan yang lainnya memusatkan pandangannya kembali ke beberapa monster tumbuhan yang tersisa.
Tanpa ingin menunda waktu, Charla dan yang lainnya segera menghabisi mereka semua.
"Hah...Akhirnya selesai juga…" Charla menghela nafas lega setelah berhasil menghabisi monster tumbuhan yang terakhir.
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidak ada lagi. Ayo, kita ambil kristal di dalamnya," ajak Gladius mendekati tiga tumbuhan parasit yang berjejer di depannya. Charla dan yang lainnya turut mengikutinya dari belakang.
Gladius membelah salah satu tumbuhan parasit menggunakan rantainya sementara Sherria dan Fluffy membelah sisanya menggunakan sihir anginnya.
"Kalian tunggu saja di sini. Biar aku saja yang mengambilnya." Charla menyuruh Rimuru dan Fluffy untuk diam kemudian menghampiri salah satu tumbuhan parasit untuk mengambil kristal yang tertanam di dalamnya.
Sedangkan Gladius dan Sherria mengambil kristal di tumbuhan parasit sisanya.
"Wah~ Indahnya…" Mata Charla berbinar saat memandangi kristal hijau di tangannya.
"Rimuru-chan, Flo, lihat…" Charla menunjukkan kristal itu seiring melangkah mendekati mereka berdua diikuti Sherria di sampingnya.
Namun baru empat langkah jalan, Charla dikejutkan oleh kemunculan monster tumbuhan yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan langsung bergerak menerkamnya.
"Ahh!" Charla sontak menjerit membuat Gladius di belakangnya yang masih mengamati kristal itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
"Nee-san!"
Sebelum monster tumbuhan itu berhasil menerkam Charla menggunakan gigi-gigi tajamnya, Sherria di sampingnya sudah lebih dulu mendorongnya hingga akhirnya dirinya yang berakhir diterkam oleh monster tumbuhan itu.
"Sherria!!"
Semuanya segera bereaksi saat melihat tangan Sherria digigit dan dibawa terbang oleh monster tumbuhan itu bersama dengan tubuhnya.
Charla yang paling dekat dengannya langsung mengeluarkan pistolnya dan menembak monster tumbuhan itu agar melepaskan adiknya. Gladius di belakangnya segera mengeluarkan rantainya untuk mengatasi monster tumbuhan itu. Fluffy dan Rimuru pun ikut andil membantu menyelamatkan Sherria.
Sampai ketika monster tumbuhan itu kalah, Sherria akhirnya berhasil terlepas dari gigitan monster tumbuhan itu. Namun sayang, meskipun nyawanya selamat, tangannya yang tergigit harus terputus.
Sherria terbanting ke tanah bersama dengan tangannya.
"Sherria!" Charla dan yang lainnya segera menghampirinya.
Charla membawa Sherria ke pangkuannya. Rimuru dengan segera menghentikan darah yang keluar dari tangan Sherria menggunakan cairan slime yang dipadatkan kemudian dibantu oleh Fluffy.
"Nee-san…" Suara Sherria terdengar lemas. Wajahnya pucat pasi dikarenakan darah yang keluar dari tangannya tidak sedikit.
"Sherria, maafkan aku! Ini salahku! Ini salahku! Gara-gara aku, kau jadi seperti ini!" Charla menangisi kondisi adiknya.
"Sherria..." Fluffy dan Rimuru ikut menangis melihat kondisinya.
'Merepotkan...' Gladius menghela nafas pelan sembari menatap mereka datar, memperlihatkan sikap malas.
"Sherria…"
Semuanya serempak mengalihkan pandangannya pada Zero yang muncul di hadapan mereka dengan wajah tercengang
"Apa yang terjadi?" Zero buru-buru menghampiri Sherria yang berada di pangkuan Charla dan tengah diobati oleh Fluffy dan Rimuru.
"Maaf, Zero-sama. Ini salahku… ini semua salahku…ini semua salahku..." kata Charla diliputi air mata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1