Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Bingung Kasih Judul


__ADS_3

Sherria menangis di pelukan Zero setelah mengingat semua kejadian saat dimana desanya dijarah. Orang tua, kerabat serta kakaknya saat itu menjadi korban. Sherria menceritakan semuanya pada Zero sambil menangis karena tak kuasa menahan kesedihan dari semua yang telah terjadi.


Zero tidak ingin berbicara dulu dan membiarkan Sherria untuk menangis sepuasnya di pelukannya sampai dirinya tenang.


"Maaf Zero-sama, karena gara-gara diriku Nee-san…Nee-san..." Sherria tidak bisa melanjutkan perkataannya. Air mata masih mengalir tanpa henti di pipinya.


"Jadi kau sudah mengingatnya." Zero mengelus-elus rambut Sherria tuk mencoba membuatnya tenang. Dia tidak memperkirakan jika efek dari pil tadi langsung membawa Sherria pada ingatan terburuknya.


"Ya, Zero-sama, maaf, ini semua salahku…Nee-san mati karena gara-gara diriku..." Sherria terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian itu.


"Tak perlu minta maaf. Semua itu bukan salahmu." Zero mencoba menenangkan Sherria.


"Tidak, itu semua salahku." Sherria masih keukeuh kalau itu salahnya.


Zero menggerakkan tangannya, menegakkan tubuh Sherria lalu menatapnya dalam-dalam.


"Sudah jangan menangis, ini semua bukan salahmu." Zero mengusap air mata yang mengalir pelupuk mata Sherria.


"Tapi…"


"Cukup…" Zero menempelkan satu jarinya pada mulut Sherria menyuruhnya berhenti, "Ada yang ingin aku katakan padamu." Wajah Zero menjadi serius.


"Baik." Sherria mengangguk.


"Sebelumnya apa kau tahu bagaimana caranya aku bisa mengenal kakakmu? Dan apakah kau pernah mendengar tentangku darinya?" tanya Zero.


"Tidak, Zero-sama. Nee-san belum pernah menceritakan tentangmu padaku dan juga setahuku dia jarang berurusan dengan orang-orang luar," jelas Sherria berdasarkan yang dia ketahui. Setahunya kakaknya jarang sekali keluar desa, namun ketika mendengar cerita Zero tadi dia merasakan ada yang janggal.


"Mungkin kau tidak akan percaya. Sebelum aku berada di dunia ini, di dunia yang tak kau kenal aku pernah bertemu dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya. Aku juga sudah mendengar tentang dirimu dan kejadian itu darinya." Zero menceritakan semua kejadian pada saat dirinya bertemu dengan Charla di Menara Agung tanpa satupun ada yang ditutupi pada Sherria.


Sherria yang mendengarkan tidak tahu harus percaya atau tidak, tapi ketika melihat kenyataan Zero bisa mengenal dirinya dan kakaknya sudah pasti semua itu memang benar.


"Dengar Sherria, apa kau tahu kenapa aku mencarimu?" tanya Zero.


"Emm…" Sherria menggeleng pelan.


"Kau mungkin akan terkejut dan tidak percaya mendengar ini…" Zero menghela nafas sejenak, menatap serius Sherria kemudian menjawab, "Aku mencarimu karena ingin kau membantuku untuk mencari mayat kakakmu. Aku bisa menghidupkannya kembali," jelas Zero yang membuat Sherria terkejut dan tidak percaya, karena setahunya menghidupkan kembali orang yang sudah mati adalah suatu hal yang mustahil.


"Tidak mungkin. Itu jelas tidak mungkin, Zero-sama. Itu sama saja dengan menentang takdir." Sherria menggelengkan kepalanya tidak bisa percaya.


Menentang takdir? Zero ingin tertawa mendengar itu. Dengan keabadian yang dia dapatkan dan sihir reawakening yang sudah dia kuasai tidak ada lagi yang namanya takdir baginya. Kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti sekarang. Karena takdir itu sendiri kini sudah berada di genggamannya.


"Aku sudah menebaknya, kau pasti tidak percaya." Zero tersenyum ringan sambil mengusap jejak air mata yang masih menempel di kelopak mata Sherria.


"Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai perkataanku, tapi apa kau bisa membantuku mencarinya?" Kata-kata Zero terdengar meyakinkan bagi Sherria seolah Zero memang tidak sedang mengada-ada.


Di satu sisi Sherria tentu sulit mempercayai jika ada seseorang yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati, tapi di sisi lain dia berharap kalau itu memang ada.


"Baik, Zero-sama. Aku akan membantumu." Sherria menaruh harap pada perkataan Zero.


"Akan kupastikan kau akan bertemu lagi dengan kakakmu." Zero mencoba menghibur Sherria.

__ADS_1


"Sudah, kita tidur lagi. Kita lanjutkan bahas hal ini besok." Zero merebahkan tubuhnya kembali. Sherria mengikuti.


Zero tidak langsung tertidur. Sepanjang waktu dia berkutat memikirkan banyak hal tentang apa yang sudah terjadi selama satu hari dirinya berada di dunia ini. Dimulai dari kejadian saat dirinya membantai habis mereka yang sedang berperang sampai dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan Sherria begitu cepatnya.


"Aku harap hari esok akan berjalan dengan baik…" gumam Zero sebelum akhirnya dia tertidur.


*~*


Mentari pagi menelusup masuk ke dalam tenda, membangunkan Zero seorang yang saat itu masih tertidur sedangkan Sherria sudah keluar dari tenda itu lebih dulu.


Zero bangkit dan keluar dari tenda. Dia menemukan Sherria tengah memandangi api unggun yang sudah padam.


"Pagi, Sherria..." Zero menyapa.


Sherria berbalik dan membalas sapaan Zero, "Pagi, Zero-sama." Tersenyum ringan melihatnya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Zero dengan mata masih setengah terbuka sambil sesekali menguap.


"Oh, bukan apa-apa." Sherria berdiri.


"Apa semalam kau tidur dengan nyenyak?" Zero berjalan menghampiri Sherria.


"Iya." Sherria mengangguk.


"Baguslah. Kejadian itu jangan pernah kau pikirkan lagi, dan ingat, semua itu bukan salahmu." Zero mengingatkan.


"Baik, Zero-sama. Aku akan mencobanya."


Zero mengeluarkan kapsul berisikan bangku yang muat untuk dua orang kemudian mengeluarkan makanan seperti biasa untuk sarapan.


Sherria mengambil sup itu dengan hati-hati lalu duduk di samping Zero.


"Omong-omong, apa kau tahu dimana itu?" tanya Zero selagi memakan makanannya.


"Aku hanya tahu nama desanya saja, Zero-sama. Kalau tidak salah..." Sherria berusaha mengingatnya, "Kalau tidak salah namanya desa Falmath." dia akhirnya mengingatnya.


"Hmm...Sepertinya kita membutuhkan yang namanya peta untuk mencari desa itu, " kata Zero. Dia lalu melanjutkan menghabiskan makanannya.


Tak lama kemudian mereka selesai sarapan dan sudah siap melanjutkan perjalanan.


"Ayo kita cari tempat tinggalmu." Zero bangkit dari posisinya. Sherria mengikuti.


Melangkah ke depan, Zero lalu mengeluarkan Fluffy dari cincin samuderanya.


"Mulai sekarang kita tidak perlu jalan kaki lagi. Kita akan terbang bersamanya." Zero mengelus-elus kepala Fluffy, memberikan sentuhan yang nyaman.


"Tolong bantuannya, Flo." Sherria ikut mengelusnya juga. Merasa takjub. Sherria dalam hatinya masih tidak menyangka bisa bertemu dengan hewan sehebat ini yang setahunya sudah punah apalagi sekarang dia bisa menyentuhnya secara langsung.


Setelah puas mengelus-elus bulu halus Fluffy, mereka berdua menaiki punggung Fluffy lalu terbang ke ketinggian.


"Bagaimana rasanya bisa terbang seperti ini?" Zero bisa melihat senyuman di wajah Sherria yang tampak terpesona oleh keindahan alam di bawahnya.

__ADS_1


"Ini luar biasa, Zero-sama." Sherria terkagum-kagum bisa melihat hamparan pepohonan hijau serta sungai yang mengalir dari ketinggian. Dalam hidupnya dia tidak pernah berpikir akan merasakan terbang bebas layaknya burung seperti ini.


Sensasi terpaan udara serta bulu halus di punggung Fluffy memberikan perasaan nyaman yang tidak bisa dilukiskan. Perasaan itu seolah menghilangkan trauma yang selalu menghantuinya selama ini sejak dirinya menjadi seorang budak. Tanpa sadar air mata mengalir di pipi Sherria memperlihatkan betapa bahagianya dirinya saat ini.


Semua itu berkat Zero. Dia telah hadir sebagai sosok pahlawan dalam hidupnya.


*~*


#Kerajaan Blue Diamond


Di dalam sebuah ruangan singgasana kerajaan, seorang raja bersama para menterinya tengah berkumpul di satu tempat. Pandangan mereka semua tertuju pada delapan orang perajurit yang tengah berlutut di hadapan sang raja yang tengah terduduk angkuh di singgasana.


Salah satu dari mereka memberitahukan informasi tentang perang yang terjadi kemarin.


Prak!


Sang Raja menggeprakkan sisi singgasananya sambil berdiri.


"Lelucon apa ini? Kalian bilang semua kekacauan yang terjadi pada perang itu semuanya karena ulah seorang bocah? Belum lagi kalian bilang ada naga di tempat itu. Jangan bercanda di depanku." Sang Raja tidak terima dengan informasi yang dia dengar.


"B-benar, Yang Mulia. Kami sungguh tidak berbohong. Kami melihatnya secara langsung." Salah satu perajurit berusaha membenarkan. Mereka juga sebenarnya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat pada saat itu.


'Tunggu dulu...Apa waktu itu aku memang tidak salah lihat. Jangan-jangan sebelumnya dia juga yang sudah menghancurkan lacrima itu,' batin salah satu menteri yang saat itu ikut mengamati situasi perang dan sempat melihat ada seorang bocah di sana.


"Kemungkinan dia bukan manusia Yang Mulia."


"Benar, Yang Mulia. Buktinya dia mampu membantai kedua belah pihak hanya dengan seorang diri saja."


Para prajurit itu mencoba membela diri, berusaha membenarkan informasi yang dia sampaikan.


Disaat mereka sedang sibuk membicarakan informasi tersebut, seorang prajurit yang lain memasuki ruangan menyampaikan informasi lain.


"Yang Mulia, kapten telah datang," kata prajurit itu.


Sejurus kemudian seorang wanita berzirah lengkap dengan pedang di pinggangnya memasuki ruangan. Penampilannya membuat mereka yang menyaksikan tercengang.


"Apa yang terjadi padamu?" Salah satu menteri bertanya namun wanita itu mengabaikannya dan berjalan ke hadapan Sang Raja lalu berlutut memberi hormat.


"Yang mereka katakan benar, Yang Mulia. Kemungkinan bocah itu bukan manusia. Dia menyebut dirinya sebagai venom. " Wanita itu memberi informasi yang dia dapat.


"Venom…" Semuanya saling berpandangan mendiskusikan arti dari istilah nama tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Sang Raja bertanya.


"Aku sempat bertarung dengannya, Yang Mulia. Diantara semua orang yang terkurung di sana hanya aku seorang saja yang selamat. Tapi sebagai gantinya…" Wanita itu membelai rambut pendeknya, "Dia...dia… telah membuat rambutku menjadi seperti ini." Wanita itu terlihat marah.


"Kau menyebut bocah itu sebagai Venom." Raja memastikan.


"Benar. Dia sendiri yang menyebut dirinya demikian." Wanita itu membenarkan.


"Siapa dia sebenarnya…apa alasan dia mengacaukan perang itu..." Raja itu duduk kembali di singgasananya dan mulai memikirkan sosok yang akan menjadi ancaman yang besar tersebut.

__ADS_1


"Venom...nama yang menakutkan…" gumam salah satu menteri yang sempat melihat bocah itu.


"Menarik, sepertinya akan terjadi sesuatu yang sangat besar tahun ini."


__ADS_2