
Cacing raksasa yang semakin membesar itu tiba-tiba meledak dengan begitu dahsyatnya. Sean dan semua anggotanya yang terkena ledakan tersebut tewas seketika. Mereka tentunya tidak menyangka jika akhir dari kemenangan mereka akan berakhir mengenaskan seperti ini.
Sepertinya ini merupakan balasan yang setimpal atas semua rencana licik yang telah dilakukannya tadi.
Ledakan yang begitu dahsyat itu mencakup radius hingga tiga puluh meter. Suara yang dihasilkan dari ledakan tersebut terdengar menggelegar bahkan sampai ke kota sebelah.
Ledakan tersebut juga seketika membuat perhatian semua orang di tempat kejadian kini tertuju pada sebuah cekungan besar yang tercipta dari hasil ledakan tersebut.
Semua orang yang menyaksikan itu jelas saja terkejut. Apalagi para petualang yang mengetahui kalau sumber dari ledakan tersebut ternyata berasal dari binatang jahanam yang sebelumnya sudah susah payah mereka kalahkan.
Meskipun di satu sisi mereka kecewa mengetahui hal itu, di sisi lain mereka merasa beruntung karena tidak berada di sekitar tempat terjadinya ledakan. Di saat yang sama mereka juga turut prihatin pada Sean dan anggotanya yang tewas di sana.
"Gila… apa-apaan barusan itu. Mengejutkan sekali. Untung saja monster itu tidak menjadi bagianku." Michael merasa beruntung atas hal itu. Begitu pula dengan pasukannya.
Di lokasi yang sama, Gladius yang sejak tadi mengamati jalannya pertempuran dari atas benteng kota merasa ingin tertawa ketika melihat perjuangan para petualang untuk menaklukkan binatang jahanam itu berakhir sia-sia.
"Kasihan sekali ya kalian. Padahal kalian sudah mengorbankan banyak nyawa, menghalalkan semua cara, dan berjuang susah payah untuk menaklukkan makhluk itu. Tapi hasilnya…" Gladius terkekeh prihatin atas semua perjuangan mereka yang tidak membuahkan hasil apapun.
Masih di tempat yang sama, Zero yang saat itu berada di atas awan dan tengah menikmati pertarungannya melawan binatang jahanam terkejut saat mendengar ledakan besar yang berasal dari bawah. Segera saja dia menghentikan pertarungannya dan menuju sumber suara karena penasaran.
Saat melihat ke bawah, Zero menemukan kubangan besar tercipta di tempat yang sebelumnya dijadikan sebagai sarana pertempuran para petualang dalam menghadapi binatang jahanam.
"Sulit dipercaya. Jadi ledakan besar itu berasal dari binatang jahanam yang sebelumnya mereka hadapi," kata Zero setelah mengamati situasi di tempat itu. Dia merasa beruntung karena tidak menjadikan binatang jahanam itu sebagai lawannya.
Zero kemudian melirik ke arah tempat para petualang yang sebelumnya sedang beristirahat dan melihat wajah mereka tampak sangat lemas seolah baru saja kehilangan sesuatu.
Zero tertawa prihatin saat menyadari alasan yang membuat mereka menjadi tidak bersemangat seperti itu.
"Kasihan sekali. Padahal kalian sudah berjuang keras untuk mendapatkannya, tapi semuanya malah berakhir seperti ini. Kalian hari ini benar-benar tidak sedang beruntung, ya." Zero tersenyum seolah berniat mengejek mereka walaupun mereka tidak melihatnya.
"Kalian pasti kecewa mengetahui perjuangan kalian sia-sia," kata Zero sambil mengalihkan pandangannya untuk mengamati kubangan besar di bawahnya.
Ketika pandangan Zero tak sengaja melihat ke dasar kubangan, dia menemukan sesuatu yang berkilauan yang sontak membuatnya kegirangan.
"Tidak seperti kalian, ini merupakan hari keberuntunganku." Zero tertawa puas seolah menemukan harta karun yang bernilai di dasar kubangan itu.
Tanpa harus ke sana pun Zero langsung bisa mengetahui kalau sesuatu yang berkilauan di dasar kubangan itu adalah inti binatang jahanam. Sesuatu yang para petualang itu harapkan dari berjuang menaklukkan binatang jahanam.
Zero merasa beruntung karena para petualang itu tidak menyadari kalau inti binatang jahanam itu tidak hancur bersama ledakan tadi. Dia sekarang bisa mendapatkan benda bernilai tinggi itu tanpa perlu bersusah payah.
"Sayang jika tidak diambil…" Zero buru-buru mengambil inti binatang jahanam itu dan kembali ke tempat pertempurannya.
"Sudah berapa lama kita bermain-main seperti ini." Zero melihat langit tampak sudah semakin sore. Saking asiknya bermain-main dengan kelabang raksasa itu, dia sampai lupa waktu.
Selagi menghadapi kelabang raksasa itu pandangan Zero beralih sejenak ke tempat pasukan militer kerajaan yang tengah menghadapi satu binatang jahanam yang tersisa. Dia juga melihat Michael yang tak jauh di sana masih setia mengamati pertempurannya.
"Sepertinya sudah waktunya aku mengakhiri semua ini…" Fokus Zero kembali pada kelabang raksasa yang sejak tadi menjadi lawannya yang tampak sudah tidak dalam kondisi baik-baik saja. Tubuhnya yang keras dan sulit ditembus itu kini sudah banyak yang terluka.
"Kau pasti sudah lelah, kan? Kalau begitu mari kita selesaikan main-mainnya." Zero berniat mengakhiri permainannya itu. Dia mengambil jarak yang pas untuk melancarkan serangan terakhirnya.
"Tadinya aku ingin mengalahkanmu dengan cara yang adil, tapi untuk menghemat waktuku, aku akan menyelesaikannya sekarang…" Seiring menunggu kelabang raksasa itu datang, Zero mengeluarkan pedang terbaik yang dia punya.
Gladius dan Michael yang setia mengamati pertempuran Zero dari awal kali ini menemukan sepertinya Zero akan segera mengakhiri pertempurannya.
__ADS_1
Mereka penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Zero dengan pedang yang ada di tangannya itu untuk mengalahkan kelabang raksasa yang seiring waktu semakin mendekat.
Zero mulai melakukan kuda-kuda menyerang, memposisikan pedangnya dengan tegak menggunakan satu tangan, segaris lurus dengan kelabang raksasa itu.
"Teknik Pedang Kehancuran — Bencana…"
Setelah melafalkan teknik tersebut, Zero mengayunkan pedang itu sampai sebuah tebasan angin yang begitu dahsyat tercipta dan melesat ke arah kelabang raksasa itu.
Begitu tebasan angin itu melewati kelabang raksasa itu seketika tubuhnya terbelah dengan rapi menjadi dua bagian. Dampak lain dari dengan itu juga membuat tanah yang terkena serangan itu ikut terbelah hingga jarak ratusan meter dan berakhir meledakkan sebuah gunung yang juga ikut terkena dampak serangan tersebut.
Orang-orang yang sebelumnya masih terkejut dengan ledakan tadi kini kembali dikejutkan oleh serangan yang Zero lepaskan. Mereka tidak bisa berhenti dibuat kagum oleh semua aksi yang Zero tunjukkan. Sosok yang tengah melayang dengan gagah di atasnya ini benar-benar luar biasa.
"Sesuai dugaanku, makhluk itu pasti bukan tandingannya. Bahkan seratus makhluk seperti itu tidak akan bisa menang jika berhadapan dengannya." Gladius sudah menduga itu sejak awal.
"Pedang yang dia gunakan pasti harta suci…" Michael menunjukkan sedikit antusiasnya saat mengetahui serangan dahsyat itu tercipta dari pedang tersebut. Dia mengukur kekuatan dari harta suci tersebut menurutnya jauh lebih hebat dari semua harta suci yang pernah dia temui.
Zero memasukkan kembali pedang itu setelah berhasil menghabisi lawannya. Serangan yang Zero lepaskan barusan memang dahsyat, tetapi hal itu cukup menguras banyak energi sihirnya.
Zero menghela nafas sekali kemudian menghampiri kelabang raksasa yang perlahan berubah menjadi pecahan kecil untuk mengambil inti binatang jahanam yang ada di dalamnya.
"Hari ini merupakan hari keberuntunganku." Zero tersenyum puas dengan hasil yang didapatkannya hari ini.
Zero memasukkan inti binatang jahanam itu kemudian pergi ke tempat pasukan kerajaan yang masih berusaha menghadapi binatang jahanam yang tersisa.
"Oi, apa perlu aku yang menghabisinya." Zero yang melayang di udara bertanya pada Michael dengan senyuman mengembang.
Michael diam sejenak, menoleh ke arah beruang es itu kemudian menjawab, "Tidak, ini bagianku. Biar aku yang mengatasinya," jawabnya lalu melangkah pergi ke tempat itu.
"Apa kau yakin bisa mengalahkannya?" tanya Zero terkesan mengejek.
Zero yang tadinya berniat menghabisi binatang jahanam itu juga mengurungkan niatnya dengan alasan penasaran ingin mencari tahu kebenaran dari perkataan Michael barusan.
Michael tidak ingin menyerahkan binatang jahanam itu pada Zero karena tidak ingin sumber daya yang ada di dalamnya diambil olehnya.
Michael memang belum pernah melihat inti binatang jahanam seperti itu sebelumnya, tetapi dia yakin sumber daya tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi. Sayang jika harus diberikan pada orang lain.
"Jika kau tidak sanggup menghabisinya dalam tiga puluh menit, aku akan mengambilnya."
"Tidak perlu tiga puluh menit. Tiga menit juga sudah cukup."
Zero yang mendengar jawaban Michael yang terdengar begitu percaya diri tersenyum sembari merajut kedua alisnya, penasaran dengan kebenaran dari jawabannya tersebut.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan..." Zero menunggu pertunjukkan yang akan Michael tampilkan.
Michael yang sejak tadi hanya diam sebagai penonton kini turun tangan menghadapi beruang es itu. Dia berjalan mendekati pasukannya yang sejak tadi hanya bisa mengatasi beruang es itu dari jauh.
Para pasukannya yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi beruang es itu terlihat lega saat melihat kedatangan Michael yang akhirnya mau membantu. Mereka percaya dengan kekuatan Michael makhluk itu pasti bisa dikalahkan.
"Dasar lemah, bodoh, pengecut. Melawan satu monster saja kalian tidak bisa. Kalian benar-benar tidak berguna." Michael memaki-maki pasukannya yang tidak bisa mengatasi binatang jahanam itu meski sudah bekerja sama.
"Maafkan kami komandan. Kami semua memang lemah, bodoh, pengecut, dan tidak berguna!" kata salah satu ksatria suci sambil menunjukkan sikap hormat yang kemudian diikuti oleh yang lainnya.
Mereka tidak terlalu kesal saat mendengar komandan mereka menyebut mereka seperti itu karena kenyataannya memang demikian. Dibandingkan sosok Michael, mereka hanyalah sekelompok pemeran sampingan yang tidak ada apa-apanya.
__ADS_1
"Tolong bantu kami yang tidak berguna ini, komandan!" kata mereka serempak setelah berbaris rapi dan memberikan Michael jalan.
"Memang itu alasanku ada di sini," kata Michael melewati barisan pasukannya menuju ke tempat binatang jahanam itu berada.
"Kalian mundurlah. Aku sudah berjanji padanya untuk menghabisi monster ini secepatnya. Oleh karena itu akan mengeluarkan semuanya sekarang." Michael memberi peringatan pada pasukannya.
"Semuanya?!"
Semua pasukannya yang mengerti dengan maksud perkataan Michael segera menjauh dari tempat itu dan memilih menyaksikan bagaimana komandan mereka beraksi dari jauh.
Zero menjadi tambah penasaran dengan reaksi mereka saat Michael berkata ingin mengeluarkan semuanya.
"Suhu di tempat ini dingin sekali." Michael mendapati sumber dari suhu dingin itu berasal dari tubuh beruang es itu. Kakinya terasa semakin kaku setiap dia semakin dekat dengan beruang es yang sejak tadi duduk diam di posisinya.
Selain itu, di sekelilingnya Michael menemukan banyak sekali duri-duri es berukuran besar yang menunjang dari tanah ke langit dengan di atasnya terdapat pasukannya yang tewas tertusuk. Ketika Michael berada di wilayah itu, duri-duri es itu muncul menyerangnya setelah beruang es itu menghentakkan tangannya ke tanah.
Beruntungnya Michael bisa menghindarinya dengan segera sekalipun kakinya cukup sulit digerakkan karena kaku.
"Jadi ini alasan mengapa mereka tidak bisa mendekatinya." Michael memiliki gambaran mengapa pasukannya sejak tadi tidak bisa mengatasi monster ini.
"Tapi sayangnya itu tidak akan berlaku bagiku..." Michael tersenyum tipis sebelum sesaat berikutnya dia mengeluarkan kekuatannya.
Ledakan kecil disertai gelombang angin yang sangat kuat keluar dari dalam tubuh Michael kemudian diikuti oleh cahaya kekuningan yang memancar keluar dan menciptakan energi panas yang mampu mengatasi suhu dingin di tempat itu.
Semua orang dapat menyaksikan dengan jelas cahaya kekuningan dalam tubuh Michael seiring waktu membesar dan membuat energi panas yang tercipta semakin besar hingga mampu mengalahkan suhu dingin milik beruang es itu. Bahkan energi panas yang tercipta dalam tubuh Michael sampai terasa ke tempat pasukannya yang berada jauh dari tempat itu.
"Mengesankan. Jadi ini kekuatannya…" Zero terkesan melihat kekuatan yang Michael miliki.
Michael kali ini dapat dengan mudah menembus suhu dingin beruang es itu dan bergerak dengan leluasa. Duri-duri es yang bermunculan menyerangnya mencair sebelum sempat mengenai tubuhnya.
"Percuma, seranganmu tidak akan menang melawan energi panasku…"
Beruang es itu tampak terkejut sekaligus panik melihat duri-duri esnya tidak mempan pada Michael. Serangan es lainnya pun tidak ada yang berhasil menyentuhnya. Semuanya dengan mudah dihilangkan oleh energi panas yang keluar dalam tubuh Michael.
"Lebih baik kau tetap diam di situ agar aku bisa menyelesaikan ini secepatnya." Michael menatap rendah beruang es itu.
Ketika belasan meter lagi sampai, Michael memanggil pedang berwarna kuning miliknya yang ternyata merupakan harta suci.
Selagi berjalan, Michael membuat pola gerakkan melingkar menggunakan pedangnya sambil memejamkan mata sebelum sesaat berikutnya dia menghilang dan dalam sekejap berada di belakang beruang es itu.
"Teknik Pedang Matahari — Api Penyucian."
Beruang es itu tidak sempat menghindari serangan dari Michael yang begitu cepat. Tubuhnya yang terkena pedang matahari milik Michael terbakar oleh api berwarna kuning menyala yang dengan cepat merembet ke seluruh tubuhnya.
Para pasukannya bersorak menyaksikan bagaimana Michael menghabisi binatang jahanam itu hanya dalam waktu yang singkat, sama seperti yang Zero lakukan tadi.
Para pasukannya percaya Michael pasti mampu mengatasi makhluk itu namun mereka tidak menduga kalau Michael mampu melakukannya secepat ini.
Para pasukannya tentu tahu dibalik tampang Michael yang seperti tidak hidup, Michael merupakan seorang ksatria suci terkuat nomor dua di kerajaan itu. Dia dikenal oleh sebagian orang dengan julukannya sebagai dewa matahari. Tentu saja julukannya itu didapat dari kekuatan yang dia miliki.
"Luar biasa…"
Zero yang menyaksikan itu untuk pertama kalinya dibuat terkagum-kagum oleh aksi seseorang yang bisa menyaingi kekuatannya.
__ADS_1
Pertempuran gelombang monster di kota itu akhirnya ditutup oleh aksi Michael yang membuat semua orang yang menyaksikan takjub .